SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 48. Bertemu


__ADS_3

Senja berdandan sangat cantik sekali. Dengan gaun berwarna merah muda, wajahnya tampak bersinar seperti remaja. Saat keluar dari kamar, Langit yang melihat penampilan istrinya tampak sangat bahagia.



"Bunda cantik banget ya, Sayang," ucap Langit sama Pelangi.


"Aku juga cantik, Pi," ucap Pelangi. Senja tersenyum melihat putrinya yang cemburu karena Langit memujinya.


Semenjak mereka tinggal di rumah sendiri dan Dokter Surya ke luar negeri, Pelangi sangat dekat dengan Langit. Suaminya itu selalu berusaha mengambil hati anaknya. Sehingga Pelangi bisa cepat menerima Langit.


"Anak Papi paling cantik di dunia. Tiada tandingan," ucap Langit. Dia langsung memeluk putrinya. Pelangi membalas dengan memeluk Langit dan mengecup kedua pipi papinya itu.


"Kita pergi sekarang?" tanya Senja.


"Iya, Sayang."


Langit menggendong Pelangi dan membawa masuk ke mobil. Setelah Senja masuk, Langit mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali pria itu melirik ke samping. Senja yang menyadari suaminya suka curi pandang, menggenggam tangan kiri suaminya.Langit lalu mengecupnya.


Sampai di halaman restoran yang di tuju Langit keluar dari mobil dan menggendong Pelangi yang duduk di belakang. Pria itu mengambil buket bunga dan menyerahkan dengan Pelangi.


"Apa ini, Lang?" tanya Senja tersipu. Baru kali ini di hari ulang tahunnya diberikan buket bunga yang sangat wangi.


"Dalam buket itu ada hadiah. Nanti di buka saat di dalam restoran aja."


Senja mengangguk sebagai jawaban. Dia memeluk lengan Langit memasuki restoran. Pria itu telah memesan meja untuk mereka. Pelayan restoran mengantarnya.


Setelah itu Langit memesan makanan buat mereka. Pelangi yang tidak betah duduk, berdiri sambil bermain lato-lato.

__ADS_1


"Sayang, sudah main lato-latonya. Berisik, Nak!" seru Senja.


Langit yang begitu menyayangi Pelangi, tidak pernah melarang apa pun yang anaknya itu lakukan. Dia membiarkan saja apa yang bocah itu lakukan.


"Biar saja, Sayang. Namanya juga anak-anak," ucap Langit.


Langit dan Senja asyik mengobrol, dan tidak menyadari Pelangi yang beranjak pergi. Bocah cilik itu pergi mencari lato-latonya yang jatuh dan menggelinding entah kemana.


Bocah itu berjalan sambil mencari. Hingga melihat lato-latonya tepat berada di kaki seorang wanita paruh baya. Pelangi yang senang banget, berlari ingin mengambilnya.


Pelangi berjongkok mengambilnya. Menyadari ada. bocah, wanita itu tersenyum. Pelangi membalas dengan tersenyum manis.


"Maaf, Oma. Aku mau ambil lato-lato aku yang ada di dekat kaki, Oma." ucap Pelangi dengan nada sopan.



"Biar Oma yang ambil," ucap wanita itu. Lalu menunduk mengambil lato-lato yang berada tepat di bawah kakinya. Wanita itu lalu memberikan pada Pelangi.


"Terima kasih, Oma," ucap Pelangi lagi.


"Anak pintar. Sopan banget kamu. Mana Papa dan Mamanya," tanya wanita itu.


Pelangi membalikan badan menunjuk ke arah meja di mana Langit dan Senja duduk. Saat dia menunjuk itu, tampak Langit yang berjalan tergesa menuju putrinya.


"Sayang, Papi kira kamu kemana. Kalau mau pergi itu ngomong biar Papi dan Bunda tidak kuatir," ujar Langit. Dia memeluk putrinya.


"Aku ambil lato-lato aku yang jatuh Papi. Oma itu yang menolong mengambilnya," ujar Pelangi.

__ADS_1


Saat Langit ingin mengucapkan terima kasih, matanya beradu pandang dengan wanita yang menolong Pelangi. Keduanya terdiam.


"Mami, Papi ...," ucap Langit. Pria itu kaget karena ternyata kedua orangtuanya yang menolong mengambil mainan Pelangi.


Papi dan Mami Langit saling pandang. Melihat Pelangi yang memeluk putranya itu. Keduanya dalam hati bertanya, siapa anak itu?


"Papi, aku lapar," ucap Pelangi memecahkan kesunyian. Langit membalas dengan tersenyum.


"Iya, Sayang. Bunda juga pasti lapar."


Langit menggendong putrinya itu. Pria itu tersenyum dengan kedua orang tuanya. Mami Angel memandangi Pelangi tanpa kedip.


"Anak siapa dia?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir wanita yang Langit panggil Mami itu.


"Tentu saja anakku!" ucap Langit.


"Jadi wanita yang kau cintai itu telah memiliki anak. Apa yang ada dipikiran kamu? Wanita yang telah memiliki seorang anak kau kejar hingga meninggalkan istrinmu. Menjandakan istri demi seorang janda!" ucap Papi.


Langit tersenyum getir mendengar ucapan Papinya. Dia memeluk Pelangi dengan erat. Langit maju sedikit makin dekat dengan meja kedua orang tuanya.


"Senja bukan janda. Dia tidak pernah menikah. Pernikahan pertamanya adalah denganku. Satu lagi yang perlu Papi dan Mami ketahui, Pelangi ini putri kandungku. Cucu kalian berdua," ucap Langit dengan penuh penekanan.


Bagai disambar petir, kedua orang tua Langit kaget mendengarnya. Mereka berdua saling pandang.


"Anak kandungmu ...?" tanya Mami dengan suara gemetar.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2