
Di salah satu restoran,
"Apa ini memang satu-satunya cara? Apa tidak sebaiknya kamu membicarakan secara langsung dengan putramu?" tanya seorang petugas kesehatan yang mengenal Topan secara baik.
Topan menggelengkan kepalanya, dia merasa kalau idenya ini bahkan lebih baik daripada dia harus bicara dengan Langit. Belum tentu Langit dan Senja akan memperbolehkan dirinya melakukan apa yang dia inginkan meski Topan memintanya secara baik-baik.
"Ini lebih baik daripada aku harus bicara dengan Langit secara langsung," balas Topan.
"Baiklah kalau memang ini satu-satunya cara buat mencari tahu kebenarannya. Aku akan membantumu sebisaku."
"Jangan lupa, ingat-ingat dengan jelas wajah ini." Topan memberikan selembar foto kepada petugas kesehatan tadi.
Hari ini, Topan sengaja mendatangkan beberapa petugas kesehatan yang resmi dan berlisensi untuk datang ke sekolah tempat cucunya menimba ilmu. Tentu saja Topan sudah mendapat izin dari pihak kepala sekolah untuk itu.
Lagi pula, mereka tidak hanya akan dites darahnya saja tapi juga akan mendapatkan vitamin dan makanan empat sehat lima sempurna secara gratis. Semua itu dibiayai oleh Topan.
Papinya Langit melakukan itu bukan tanpa alasan. Melainkan karena Topan ingin mencari tahu mengenai kebenaran apakah Pelangi memang benar cucunya atau bukan. Makanya papinya Langit rela melakukan ini tanpa memikirkan berapa banyak biaya yang sudah dia keluarkan.
Beberapa petugas kesehatan tiba di sekolahan. Sebelum melakukan tes darah, mereka lebih dulu melakukan sosialisasi mengenai pentingnya kesehatan dan kebersihan yang harus mereka jaga sejak dini.
Seperti mencuci tangan pakai sabun, tidak memakan makanan yang sudah terjatuh, tidak berbagi makanan dengan murid lain karena itu bisa menularkan penyakit. Mereka harap, anak-anak itu paham tentang apa yang dikatakan oleh petugas kesehatan yang sedang berdiri di depan.
Sekarang sampailah sesi di mana para petugas harus mengambil sampel darah para murid. Orang yang dimintai tolong oleh Topan tadi memerhatikan dengan jelas wajah gadis kecil yang sama dengan yang di foto. Dia segera memanggil gadis itu untuk duduk di depannya.
"Anak cantik, pintar banget kamu tidak takut," kata petugas kesehatan tadi.
Pelangi sebenarnya takut, tapi dia mencoba menahannya. Apalagi di saat ada beberapa teman-temannya yang menangis karena kesakitan. "Papi bilang, nggak boleh cengeng," jawab Pelangi pelan.
"Wah, pasti Papinya jagoan," sambung petugas tadi masih berusaha membuat Pelangi relaks. "Tadi pagi sarapan apa di rumah?" tanyanya lagi seraya menyiapkan jarum suntik tanpa sepengetahuan Pelangi karena takutnya anak itu takut jika melihat jarum.
__ADS_1
"Sarapan sama nugget buatan Bunda," jawabnya.
"Oke, sekarang tutup mata sebentar ya." Petugas tadi sudah siap mengambil sampel darah pada lengan Pelangi.
Pelangi menurut saja, dia tahu sebentar lagi akan disuntik. Kedua mata Pelangi terpejam erat-erat. Tak lama, Pelangi merasa ada sesuatu yang direkatkan ke lengan bagian dalamnya.
"Sudah selesai," kata petugas kesehatan tadi yang kebetulan berprofesi sebagai seorang dokter.
Pelangi melihat lengannya yang sudah diplaster, lalu pandangan Pelangi kembali mengarah ke dokter paruh baya yang mungkin lebih pantas disebut kakek.
"Kakek dokter sudah selesai?" tanya Pelangi sedikit bingung.
"Sudah, kenapa memangnya?" tanyanya ikut bingung.
"Kakek dokter nyuntiknya pinter, nggak kerasa sakit sama sekali." Pelangi tersenyum kepada petugas kesehatan tadi sambil mengacungkan satu jempolnya kepada dokter yang membantu Topan itu.
"Oh ya? Kamu saja yang jagoan karena tidak takut." Tangan dokter tadi bergerak ke arah kepala Pelangi, dia mengacak-ngacak rambut Pelangi membuat gadis kecil itu jadi tertawa.
Dokter tadi berhasil mengambil satu helai rambut Pelangi. Dia masukkan rambut tadi ke sebuah plastik lalu dia satukan dengan sampel darah milik Pelangi. Khusus dua itu, dia pisahkan dan dia beri tanda bahwa itulah yang dia cari sebenarnya.
Setelah satu jam berlangsung, para petugas kesehatan pun selesai. Semua anak juga sudah dites dan nanti hasilnya akan diberikan secara tertulis dalam tiga hari mendatang.
Dokter tadi kembali ke laboratorium tempatnya bekerja. Sampel darah dan rambut milik Pelangi tadi langsung dia tes. Untuk milik Langit sendiri, Topan memberikan sikat gigi bekas milik Langit yang Topan dapatkan di dalam kamar mandinya Langit.
Topan juga berhasil menemukan helaian rambut milik Langit dari sisir yang berada di dalam laci meja riasnya Langit. Dengan itu, maka Topan akan tahu apakah Pelangi memang benar-benar cucunya atau bukan.
Dua hari berlalu, Topan mendapatkan kabar dari kenalannya yang dia mintai tolong kemarin. Topan bergegas ke laboratorium, diantar oleh sopirnya. Bahkan Topan sampai meninggalkan rapat ketika mendengar hasil tes DNA-nya sudah keluar.
Topan berlarian dari lobby menuju ke ruang kerja kenalannya untuk menagih hasil tes DNA antara Langit dan Pelangi.
__ADS_1
"Mana hasilnya?" tanya Topan seraya menengadahkan tangan kanannya.
"Ini, lihatlah sendiri," ucap dokter itu seraya menyerahkan amplop coklat berisi hasil tes mereka berdua.
Dokter bagian laboratorium yang kemarin mengambil sampel darahnya Pelangi itu bilang bahwa hasilnya sembilan puluh sembilan persen akurat.
"Jadi, gadis kecil itu memang anaknya Langit? Itu artinya, dia memang cucu kandungku?" tanya Topan kembali memastikan.
"Ya, gadis kecil itu memang cucumu. Dia anak kandungnya Langit," jawab dokter laboratorium itu dengan wajah senang.
Topan rasa, usahanya mengeluarkan biaya sedemikian banyak untuk mengadakan tes golongan darah ke sekolah tempat Pelangi bersekolah tidaklah sia-sia. Nyatanya dia mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Tidak sia-sia aku keluar banyak biaya," ucap Topan membuat kenalannya tertawa.
"Terima kasih karena kamu sudah mau membantu," kata Topan kepada kenalannya itu.
Dokter tadi hanya mengangguk. "Aku melakukan ini bukan semata-mata karena aku ingin membantu kamu, tapi karena bayaran yang kamu janjikan cukup tinggi," katanya membuat Topan tertawa terbahak-bahak mendengar candaannya.
Setelah mengetahui bahwa Pelangi memang cucu kandungnya, rasanya Topan ingin mengajak Pelangi jalan-jalan dan membelinya apa saja yang Pelangi inginkan. Mulai dari pakaian, mainan, buku, makanan atau apa pun itu yang cucunya mau.
"Aku harus memberi tahu istriku kalau Pelangi benar cucu kandung kami," ucap Topan sambil membayangkan ekspresi istrinya kalau tahu tentang kebenaran ini.
"Apa kamu sebahagia setelah mengetahui Pelangi benar cucu dari putramu?" tanya dokter tadi sambil tertawa.
"Jelas, aku bisa mengajaknya jalan-jalan ke sana sini dan membelikan apa pun yang dia inginkan. Aku akan memanjakan dia layaknya seorang putri. Dari semua ini yang paling bahagia adalah istriku Angel. Dua hari ini dia sampai tidak selera makan menunggu kabar dari hasil tes DNA ini."
Topan membayangkan kalau nanti dia pergi bersama Pelangi dan membelikan banyak sekali apa yang Pelangi sukai. "Apalagi saat dia memanggilku Kakek.”
"Ngomong-ngomong, kemarin dia memanggilku Kakek," celetuk dokter tadi membuat Topan cemburu.
__ADS_1
...****************...