
Perkataan mamanya membuat Langit jadi sedikit terpukul. Jauh di dalam lubuk hati Langit, sebenarnya dia tidak tega mengancam kedua orang tuanya demi membela Senja. Namun setelah dipikir-pikir lagi, kedua orang tuanya juga sudah kelewatan.
"Jangan terlalu menyalahkan aku, Mi. Aku menjadi seperti ini juga karena ulah Mami dan Papi yang terus memancing aku untuk berbuat hal yang tidak kalian sukai." Langit menguatkan hati ketika mengatakan ini kepada kedua orang tuanya.
"Dasar, anak kurang ajar!" sentak papinya Langit sambil menunjuk wajah putranya sendiri dengan wajah yang diselimuti kemarahan.
Pandangan Langit kini berpindah ke arah Mawar yang tampak ketakutan. Langit tersenyum dengan sebelah bibirnya, dia senang ketika melihat Mawar terintimidasi olehnya begini.
"Perlu kamu ingat dengan jelas, kalau aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku katakan." Langit kembali mengingatkan Mawar mengenai ancamannya tadi.
"Kenapa kamu harus melakukan sejauh ini, Langit?" Nada bicara Mawar sudah berubah, dia terlihat takut akan ancaman dari Langit.
"Orang jahat seperti kamu, memang harus diberi pelajaran," balas Langit sinis. "Silakan kalian lanjutkan pesta kalian. Mungkin ini terakhir kalinya kalian bisa berpesta bersama-sama."
Tanpa banyak kata, Langit langsung meninggalkan kediaman orang tuanya begitu saja. Dia tidak lagi memedulikan kecemasan dan ketakutan Mawar. Malah yang ada, Langit terlihat senang karena sudah bisa membuat Mawar ketakutan seperti tadi. Langit sangat puas melihat raut wajah Mawar memerah bagai kepiting rebus.
Sesampainya di mobil, Langit kembali memasang tampang normal bagai orang yang sedang tidak marah. Langit tidak ingin membuat Senja khawatir padanya.
"Ada barang yang kamu ambil atau ada barang kamu yang ketinggalan di rumah?" tanya Senja kepada suaminya.
Langit menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mengucapkan salam kepada Mami sama Papi saja," jawab Langit berbohong.
"Oh, begitu." Senja mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi Langit.
Senja melirik ke arah Langit saat suaminya itu sedang sibuk dengan setir mobilnya. Dalam hati, sebenarnya Senja kurang percaya kepada suaminya. Pasalnya, Senja tahu mengenai situasi apa yang terjadi antara Langit dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Hubungan Langit dan kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja. Jadi tidak mungkin kalau Langit datang ke rumah hanya untuk menyapa mereka. Batin Senja.
Senja hanya bisa membatin saja, dia tidak enak jika harus menanyakannya langsung kepada Langit. Rasa takut menyinggung perasaan Langit menghampiri perasaannya. Senja tidak ingin membuat suasana hati Langit jadi semakin buruk.
"Kita mau langsung pulang ke rumahnya dokter Surya setelah kita menjemput Pelangi?" tanya Senja sengaja mengalihkan pembicaraan agar Langit juga lupa akan masalah yang barusan dia hadapi.
"Enggak." Langit menggeleng-gelengkan kepalanya, membuat Senja mengerutkan keningnya.
"Lalu?" tanya Senja memastikan, karena dia tidak tahu akan dibawa ke mana oleh Langit.
Kepala Langit menoleh ke arah Senja. Lelaki itu membuat Senja sedikit bingung. Apalagi saat Langit tersenyum melihat wajah cantiknya Senja.
"Kita makan dulu, lalu kita ke hotel terdekat," jawab Langit membuat Senja mendelik ketika mendengar kata hotel.
"Kita ke hotel dulu?" tanya Senja pelan-pelan.
"Langit, kita hanya tidak bersama selama satu malam. Kamu tidak perlu terburu-buru mengajak aku ke hotel, kita bisa melakukannya di rumahnya dokter Surya nanti kalau kita sudah tiba di sana," kata Senja.
Langit seketika menoleh ke arah Senja. Lelaki itu mengernyitkan dahinya tidak paham apa yang dikatakan oleh istrinya. Lumayan lama Langit memikirkan apa yang dimaksud oleh Senja. Sampai tak lama, Langit tertawa terbahak-bahak. Senja jadi bingung melihat reaksi Langit yang seperti itu.
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Senja bingung.
"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa memikirkan hal liar juga," celetuk Langit membuat pipi Senja memerah.
Ada semburat merah di wajah Senja, semua itu karena perempuan itu mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. "Bukannya kamu yang lebih liar pikirannya? Buktinya kamu mau langsung mengajak aku ke hotel setelah makan," balas Senja tak mau dianggap berpikiran liar sendirian.
__ADS_1
Di dalam mobil kini dipenuhi oleh suara tawa dari Langit. Senja semakin tak dapat memahami suaminya. Berulang-ulang Senja menanyakan mengenai hal apa yang ditertawakan oleh Langit sekarang ini.
"Astaga, kamu itu lucu. Aku ngajak kamu ke hotel itu karena aku capek, Senja. Aku ingin istirahat dulu sebentar sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke rumahnya dokter Surya yang ada di luar kota. Kamu 'kan tahu, kalau aku semalaman mencari bukti tentang kamu yang tidak bersalah. Ya, tentunya aku dibantu oleh salah satu pengusaha yang aku kenal juga untuk mengumpulkan bukti-buktinya. Dan dari kemarin, aku belum beristirahat sama sekali. Jadi aku capek, aku ingin istirahat," jelas Langit panjang kali lebar mengenai niatnya yang ingin mengajak Senja ke hotel setelah makan.
"Ah, begitu? Hehehe ...," cengir Senja sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia jadi malu kepada suaminya karena sudah ketahuan memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak sedang dipikirkan oleh Langit.
"Makasih, kamu sudah berbuat banyak dan sudah bekerja keras untuk membebaskan aku. Sebagai balasannya, saat di rumah nanti aku akan membuatkan kamu makanan enak," ucap Senja tulus dari hati.
Langit mengangguk, dia mengacak-acak puncak kepala Senja pakai tangan kirinya. Tindakan Langit berhasil membuat jantung Senja berdetak tak keruan.
"Tapi kalau semisal kamu kangen sih, bolehlah nanti sekali saja," kata Langit ambigu, membuat Senja berpikir keras.
"Apa yang sekali saja?" tanya perempuan itu dengan polosnya.
"Itu tadi, yang kamu pikirkan," jawab Langit sedikit berbisik di dekat telinga Senja.
Bisikan Langit barusan kembali membuat Senja panas dingin. Senja hanya nyengir kuda sambil menatap suaminya. "Kita lihat saja nanti ya? Yang terpenting, kamu bisa istirahat," katanya pelan sambil merekatkan gigi atas bawahnya.
Langit tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi istrinya yang menurutnya menggemaskan. Tak segan-segan, Langit bahkan mencubit pipi Senja guna melampiaskan rasa gemasnya.
"Kita mau makan di mana?" tanya Langit mengalihkan pembicaraan agar Senja tidak salah tingkah lagi. Namun ini juga sebagian dari pertanyaan serius dari Langit.
"Eum, bagaimana kalau di restoran hotel saja? Biar kamu juga nggak bolak-balik parkir mobilnya. Biar sekalian di satu tempat gitu," usul Senja. Siapa tahu Langit akan setuju padanya.
"Boleh juga. Oke, kalau begitu kita langsung cari hotelnya saja." Langit menyetujui usulan Senja. Lagi pula, apa yang dikatakan oleh Senja juga tidak salah. Malah itu lebih praktis.
__ADS_1
Langit tahu beberapa nama hotel bintang lima di sekitar sana. Hingga akhirnya, Langit membelokkan mobilnya ke sebuah hotel terkenal yang fasilitasnya juga pastinya mewah. Senja hanya ikut saja.
...****************...