
Usia si kembar saat ini telah memasuki tiga bulan. Senja dan Langit tampak makin bahagia.
Langit yang baru pulang kerja langsung duduk di samping istrinya. Dia menyodorkan sebuah undangan pertunangan.
"Undangan siapa ini, Mas?" tanya Senja.
"Dokter Surya. Kebetulan tadi bertemu di restoran saat aku ada rapat."
"Dokter Surya mau menikah?" tanya Senja lagi.
"Bukan, baru tunangan. Dia dijodohkan dengan anak teman ibunya. Seorang dokter juga. Menurut Dokter Surya dia baru bertemu sekali. Sayang, apa kamu dan dokter Surya pernah menjalin hubungan?" tanya Langit.
Langit teringat jika Senja dan Surya pernah begitu dekatnya. Dia ingin tahu, apa mereka pernah menjalin hubungan.
"Antara aku dan Mas Surya itu hanya teman biasa. Pelangi saja yang menganggapnya sebagai daddy karena dari dalam kandungan dokter Surya lah yang merawatnya."
"Syukurlah kalau memang tidak ada hubungan. Semoga sampai pelaminan dengan yang sekarang.Dan diberi kebahagiaan," ucap Langit, berdoa dengan tulus.
Dalam hatinya Senja juga mendoakan kebahagiaan buat Surya. Senja sengaja menyembunyikan jika Dokter Surya pernah melamarnya untuk dijadikan istri agar Langit tidak cemburu. Dia tahu pria itu sangat posesif. Apa lagi sejak memiliki si kembar.
__ADS_1
Namun, Senja beruntung memiliki Langit. Pria itu selalu memanjakan Senja dan menjadikan dirinya Ratu.
Senja juga merasa beruntung menjadi istri Langit karena memiliki kedua mertua yang baik dan sangat menyayanginya. Kedua orang tua Langit saat ini berada di luar negeri. Mereka memang sering ke luar negeri mengurus usahanya.
***
Hari minggu pagi.
"Kamu lapar?" tanya Langit.
Langit berjalan ke arah istrinya yang baru saja duduk di sofa sampingnya. Senja tampak kelelahan. Diia baru saja menidurkan si kembar di kamar, sudah tiga bulan semenjak Senja melahirkan, dan dia masih belum membutuhkan tenaga pembantu untuk mengurus si kembar dan Pelangi.
Banyak perubahan sifat dari dirinya, mungkin terkena Baby Blues atau sebagainya, tapi terkadang Langit gemas sendiri kepada istrinya itu, yang akhir-akhir ini terlihat tambah manja.
"Aku carikan orang buat bantu kamu, ya?"
"Jangan, Mas. Aku cuma mengatakan capek bukan untuk meminta pembantu. Masih bisa aku tangani semuanya," ucap Senja dengan mencoba tersenyum.
"Baiklah, tapi seperti yang sering aku katakan, jika kamu butuh bantuan katakan saja." Senja menganggukkan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1
Langit baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Pria itu memang sering membawa pekerjaan ke rumah, itu semua dilakukan agar dia bisa pulang awal. Dia meraih puncak kepala istrinya dan mengelusnya sejenak.
"Aku masak buat kamu, ya." Langit berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas.
Sementara itu Senja, menyusulnya juga masuk ke dapur. Dia langsung memeluk suaminya dari belakang disaat suaminya tengah fokus memasak.
"Buat apa, Mas?" tanya Senja dengan suara manja. Selalu saja begini. Jika Senja mengeluh capek, Langit akan memanjakan dirinya.
"Nasi Goreng."
"Emang bisa?" tanya Senja, sepertinya meragukan.
Langit hanya tersenyum dan membuat nasi goreng dari bahan yang dia dapat di kulkas. Walaupun sibuk dengan pekerjaannya, Langit juga memiliki skill masak karena sebelum menikahi Senja. Dia merupakan seorang perjaka yang mandiri.
Melihat suaminya sibuk memasak, Senja memilih menyalakan televisi dan menonton acara gosip di pagi hari. Dia juga sempat melihat jam dinding yang menunjukkan angka sebelas siang, yang berarti ini bukan sarapan lagi, tapi sudah makan siang namanya. Kebetulan pembantu yang biasa masak minta izin karena ada keluarganya yang pesta.
Suara penggorengan beradu membuat kebisingan di tengah keheningan rumah tersebut bersamaan dengan aroma nasi goreng yang sudah selesai di masak oleh Langit.
Setelah selesai masak, Langit membawa sepiring kehadapan istrinya. Pelangi di sekolah karena ada kegiatan.
__ADS_1
Senja menyantap masakan Langit dengan lahapnya. Pria itu bahagia karena makanan yang dia masak di makan dengan lahap sama Senja.
...****************...