
Mata Angel terbuka selebar-lebarnya melihat kelakuan Mawar yang sepertinya sudah sangat dikuasai oleh emosi. Asisten rumah tangga yang sedari tadi ada di dapur pun, berlari secepat mungkin ke arah ruang keluarga karena takut terjadi apa-apa. Hanya saja, asisten rumah tangga itu menghentikan langkahnya saat melihat Angel memberi isyarat agar dirinya tidak ikut campur dan menunggu di sana saja.
"Mawar, kamu itu perempuan yang cantik. Tidak mungkin ada laki-laki yang bisa menolak kamu," kata Angel berusaha membujuk mantan menantunya.
"Tapi buktinya Langit menolak aku! Mami bilang, tidak akan ada laki-laki yang bisa menolak aku, tapi kenyataannya Langit meninggalkan aku demi perempuan itu!" sentak Mawar yang sudah dikuasai emosi.
Angel merutuki bibirnya sendiri karena malah mengatakan hal yang membuat Mawar jadi semakin marah.
"Mami yakin, kamu akan bisa dengan mudah mendapatkan pengganti Langit. Laki-laki yang akan mencintai kamu lebih dari Langit. Harusnya kamu bersyukur lepas dari Langit, dia laki-laki yang tidak baik untuk kamu. Buktinya dia bisanya cuma melukai kamu 'kan. Kamu terlalu berharga kalau harus menjadi pasangannya Langit." Angel dengan sengaja menjelek-jelekkan putranya sendiri, berharap dengan begini nanti Mawar akan paham dan mencoba merelakan Langit begitu saja.
Mawar bukannya setuju dengan apa yang Angel katakan, tapi malah semakin marah. Emosinya semakin meluap-luap. Pandangan Mawar sekarang tertuju pada tongkat golf yang tersimpan di sebuah guci keramik. Mawar berdiri, berjalan ke arah Angel dan itu membuat Angel takut. Namun ternyata, Mawar mengambil tongkat golf tadi lalu memecahkan guci dan apa saja yang ada di sana.
Angel ketakutan, dia berlari ke arah asisten rumah tangganya dan memintanya untuk menghubungi Topan dan polisi. Namun belum sampai asisten rumah tangga itu menekan nomor 112, Mawar sudah lebih dulu merebut ponselnya.
"Mawar, kamu tenang dulu." Angel yang sudah ketakutan, dia berusaha menenangkan Mawar.
Angel memberi isyarat kepada asisten rumah tangganya untuk memberi tahu satpam, sopir dan semua yang bekerja di rumah. Untungnya Mawar tidak menghalangi asisten rumah tangga itu.
Di luar, satpam segera menelepon nomor darurat dan minta untuk dikirimkan polisi ke rumah segera. Usai meminta bantuan dan mengabari Topan, satpam rumah bergegas menghampiri Angel yang sendirian di dalam rumah menghadapi Mawar.
"Aku mau jadi istrinya Langit lagi! Tidak ada yang boleh menikah dengan Langit selain aku!" sentak Mawar.
"Kamu tenang dulu ya, kita bicara baik-baik," bujuk Angel.
Satpam rumah berusaha mengamankan Mawar tapi Mawar mengancam kalau dia akan melukai Angel jika satpam rumah tadi berani mendekatinya. Sehingga Angel pun meminta satpam rumahnya mengalah.
__ADS_1
"Telepon Langit sekarang juga! Suruh dia ke sini!" titah Mawar.
Beberapa polisi yang mendengar Mawar membuat keributan, sudah sampai di rumah Topan. Mereka sengaja mematikan sirine agar Mawar tidak tahu kehadiran mereka. Takutnya kalau Mawar tahu, nanti malah membuat Mawar berbuat nekat.
Mawar benar-benar tidak tahu kalau dia sudah dikepung oleh beberapa petugas polisi yang berjalan mengendap-endap di belakangnya. Saat Mawar akan memukul Angel pakai tongkat golf, satu orang polisi berhasil memukul tangannya hingga membuatnya gagal. Mawar seketika diborgol dan dibawa ke kantor polisi.
Angel yang syok, dia terjatuh ke lantai dan menangis usai menghadapi kegilaan Mawar. Asisten rumah tangga di sana, berusaha menenangkan Angel. Tak lama, Topan datang dan memeluk istrinya yang terisak-isak. Topan meminta kepada pihak kepolisian agar Mawar dihukum seberat-beratnya.
***
Di kantor polisi, Mawar diinterogasi oleh seorang detektif yang dari awal memang sudah menangani kasusnya. Meski sekarang Mawar berada di ruang interogasi dengan kondisi tangan diborgol, dia sama sekali tidak menganggap hal ini sangat serius.
"Untuk urusan apa Anda datang ke kediaman Pak Topan?" tanya detektif tadi seraya menatap laptopnya dan menunggu jawaban Mawar.
"Mereka sudah bukan mertua Anda lagi, tapi mereka sudah menjadi mantan mertua," kata detektif tadi mengingatkan Mawar.
"Ah, iya. Mereka sudah menjadi mantan mertua," sahut Mawar. Tiba-tiba tawanya berubah menjadi tangisan.
Mawar menangis tanpa air mata mengingat bahwa Langit sudah bukan menjadi suaminya. Bahkan Mawar sampai memukul-mukulkan kepalanya ke meja. Membuat detektif tadi kaget dan berusaha menghentikan tindakan Mawar.
"Tolong, Anda harus tenang supaya Anda bisa menjawab pertanyaan saya," kata detektif yang bertugas.
"Langit, kenapa kamu milih perempuan itu? Padahal kata Mami kamu, aku perempuan yang sangat cantik dan nggak mungkin ada laki-laki yang bisa menolak aku," ujar Mawar sambil menangis.
"Pak polisi, tolong telepon Langit. Minta dia ke sini, bilang kalau aku akan berubah menjadi perempuan baik buat dia," pintanya sambil menatap ke arah detektif tadi.
__ADS_1
Mawar tidak mendapatkan jawaban, dia merebahkan kepalanya ke meja sambil meracau memanggil-manggil nama Langit tanpa henti. Detektif tadi merasa kalau penyelidikan ini tidak akan berjalan dengan lancar sehingga dia memilih untuk menyudahinya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya rekan detektifnya.
Kepala detektif yang menginterogasi Mawar tadi menggeleng berulang-ulang. "Sepertinya dia sudah terserang gejala bipolar. Sikapnya selalu berubah-ubah dalam sekejap. Lebih baik, kita membawanya ke psikiater untuk mengetahui tentang kesehatan mentalnya," kata detektif tadi.
"Baik, kita bawa dia ke psikiater sekarang. Jangan buang-buang waktu. Pelapor ingin kita menyudahi kasus ini dengan cepat agar tidak ada kejadian terulang."
Mawar pun dibawa ke psikiater yang bekerja di sebuah rumah sakit jiwa dan posisinya jauh dari keramaian kota. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, psikiater tadi menyatakan bahwa Mawar divonis mengidap penyakit mental, bipolar disorder tipe I. Kondisi di mana Mawar membutuhkan perawatan intensif dan dianjurkan untuk rawat inap.
"Apa kami harus menyiapkan kamar khusus?" tanya psikiater tadi kepada detektif yang mengantar Mawar ke rumah sakit jiwa.
"Siapkan kamar khusus untuknya dan berikan dia satu perawat khusus juga!"
Psikiater tadi segera memberikan formulir kepada detektif tadi untuk mengisi identitas tahanan yang akan dirawat inap di rumah sakit ini. Kamar khusus itu sebutan dari kamar untuk tahanan yang mengalami gangguan jiwa. Karena rumah sakit itu memang bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menampung tahanan yang mengalami gangguan mental.
Setelah kamar disiapkan dan formulir juga selesai diisi, Mawar segera dibawa ke kamar khusus untuknya. Tentunya kamar untuk tahanan dan tidak, itu dipisah agar tidak terjadi hal-hal tak diinginkan. Mawar diberi suntikan obat tidur agar dia berhenti meracau. Tangannya juga diborgol supaya tidak mengamuk dan menyebabkan keributan yang merepotkan.
Pihak polisi telah menghubungi Tante Riri. Wanita itu tadi telah menyerahkan semua keputusan pada kepolisian. Riri langsung menghubungi orang tua Mawar dan mengatakan apa yang terjadi pada wanita itu.
Di sanalah Mawar berakhir, di sebuah rumah sakit jiwa karena penyakit mental yang dia idap. Siapa sangka, kalau ternyata Mawar memang terkena gangguan jiwa. Tante Riri yang melihat keadaan Mawar sangat sedih karena ponakannya menjadi seperti itu.
...****************...
__ADS_1