SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 55. Positif.


__ADS_3

Setelah semua kesalah pahaman yang terjadi bisa diselesaikan, Bu Riri pamit akan periksa kesehatan ke dokter. Begitu juga dengan Senja dan Langit.


"Bu, aku masih ingin mengobrol lebih lama lagi. Apakah lain waktu aku masih bisa bertemu dan mengobrol lagi?" tanya Senja sebelum akhirnya mereka berpisah.


"Tentu saja, Senja. Nanti kamu bisa hubungi Ibu jika ingin bertemu. Simpan saja nomor ponsel ibu," ujar Ibu Riri. Setelah itu dia menyebutkan nomor ponselnya.


Mereka berpisah menuju ruangan dokter masing-masing. Sampai di ruang dokter kandungan, kebetulan nama Senja yang dipanggil. Mereka langsung masuk keruangan.


Dokter kandungan yang akan memeriksa Senja ternyata temannya Langit. Mereka tidak sengaja bertemu di rumah sakit ini.


"Silakan duduk, Lang. Siapa nama istrimu. Cantik banget. Kok mau denganmu," ucap Dokter itu. Dia mengulurkan tangan pada Senja.


Senja dan dokter itu saling menyebutkan nama. Ternyata nama dokter itu Syifa. Dia sangat cantik dan masih muda.


"Ada yang bisa saya bantu? Coba katakan keluhannya Ibu Senja."


"Panggil nama saja, Dokter. Biar lebih akrab," ucap Senja.


"Baiklah, Senja. Apa yang menjadi keluhan kamu saat ini?"


"Aku merasa seminggu ini sering pusing dan mual. Dan belum datang bulan juga di bulan ini. Aku pikir pasti lagi hamil."


"Untuk memastikan semua kita tespek dan cek darah. Karena cek darah lebih sempurna hasilnya."

__ADS_1


"Terserah apa yang terbaik bagi Dokter saja."


Dengan bantuan bidan, Dokter Syifa mengambil sampel darah Senja. Langit yang melihat istrinya saat diambil darah menjadi takut.


Durasi dalam pengambilan sampel darah (cek darah) dan menunggu hasil uji laboratoriumnya pasien hanya membutuhkan waktu kurang dari 90 menit saja.


Sementara menunggu hasil dari cek darah, Langit dan Senja kembali ke kantin. Langit memesan makanan yang banyak buat istrinya.


"Buat siapa makanan sebanyak ini, Mas?" tanya Senja melihat pesanan Langit datang. Ada soto, sate, gado-gado dan nasi goreng.


"Aku sengaja pesan banyak dan berbeda-beda. Biar kamu bisa mencicipi semuanya."


"Hhaaa ...," ucap Senja kaget. "Nggak mesti harus pesan sebanyak ini, Mas."


Setelah dua jam, akhirnya Langit dan Senja kembali ke ruang praktik dokter Syifa. Hasil Laboratorium telah ada di tangan Dokter itu.


Syifa mempersilakan keduanya duduk. Tadi Senja telah melakukan tespek dan hasilnya positif.


"Dari hasil tespek sudah dapat terlihat jika hasilnya, Senja positif hamil. Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Selamat ya Lang," ucap Syifa.


Langit tampak bahagia mendengar ucapan Dokter Syifa. Dia langsung memeluk dan mengecup pipi Syifa, membuat wajah istrinya memerah karena malu. Langit melepaskan pelukan setelah beberapa saat. Dia kembali menatap dokter Syifa. Bertanya banyak hal.


"Kenapa kamu menggunakan tes darah juga bukan hanya urine seperti yang pernah aku ketahui?" tanya Langit.

__ADS_1


"Kelebihan dari tes darah jika dibanding tes urine adalah: Tes darah dapat mendeteksi kehamilan lebih awal sejak konsepsi, jika dibandingkan dengan tes urine. Tes ini dapat mengukur konsentrasi hormon hCG dalam darah. Ini berguna untuk mengetahui apakah ada masalah pada kehamilan." Dokter Syifa menjelaskan dengan sabar.


"Hasilnya bagaimana, apakah ada kelainan pada kehamilan Senja?" tanya Langit lagi.


"Dari hasil yang aku lihat, Senja sehat tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Langit cemas.


"Sepertinya istrimu Senja bukan hanya hamil satu bayi."


"Maksudnya?" Langit bertanya lagi dengan wajah makin cemas.


"Kenapa kamu jadi tekat mikir begini Langit. Kalau bukan hamil satu bayi berarti kehamilan kembar," ujar Dokter Syifa sambil tertawa.


"Kembar?"


"Ya, karena hasil lab menunjukan hasil hCG istrimu sangat tinggi. Tingkat hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) yang lebih tinggi bisa menjadi ciri-ciri kehamilan anak kembar."


Langit tidak bisa menggambarkan lagi rasa bahagianya saat ini. Dia kembali memeluk istrinya sebagai luapan kegembiraannya. Mengecup wajah Senja berulang kali. Dokter Syifa juga ikutan tersenyum melihat tingkah temannya itu.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2