SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 12. Aku Harus Kuat


__ADS_3

Tiada yang dapat aku lakukan selain bisa mengikhlaskan ketika kau pergi dan membuatku menjadi orang yang tiada artinya hidup di dunia ini. Aku mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan yang sedang menimpa.


Moving on bukan artinya aku melupakan semua hal yang terjadi di antara kita. Ini artinya aku menerima apa yang terjadi, dengan ikhlas, dan melanjutkan hidupku." - Nina Ardianti, Restart.



Senja akhirnya keluar dari ruangan Langit. Wanita itu tidak langsung kembali ke meja kerjanya, melainkan pergi ke kamar mandi. Dadanya rasanya sangat sesak setelah berbicang sedikit dengan Langit, pertemuannya kembali dengan laki-laki itu membuat luka enam tahun silam seakan kembali lagi, dia bisa merasakan sakit yang luar biasa.


Wanita berhijab itu menghentikan langkahnya di wastafel, dia menundukkan kepalanya dalam dengan tangan yang bertumpu di pinggiran wastafel. Air matanya keluar begitu saja mengingat kejadian di dalam ruangan Langit tadi, dia berusaha untuk bersikap tidak perduli dengan laki-laki itu, padahal dalam hatinya banyak sekali yang ingin dia sampaikan. Termasuk soal anaknya, tapi Senja memilih untuk bungkam saat ini.


"Kenapa? Kenapa kita harus bertemu lagi?" monolog Senja merasa frustasi. Untung saja di kamar mandi tidak ada orang, hanya ada Senja.


Wanita itu mengusap air matanya, dia tidak boleh menumpahkan semuanya di sana. Jika nanti tiba-tiba ada yang masuk, dia akan diberi banyak pertanyaan. Akhirnya Senja berusaha untuk mengendalikan dirinya, menghentikan tangisannya dan berusaha tenang. Dia juga merapikam tatanan hijabnya sedikit, memastika kalau tidak ada tanda-tanda dia habis menangis di wajahnya.


"Huft! Kamu harus kuat Senja. Jangan lemah seperti ini, perlihatkan kepada Langit kalau saat ini kamu sudah melupakannya." Senja menyemangati dirinya sendiri.


Setelah itu, dia keluar dari kamar mandi. Masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Senja tidak boleh membiarkan pekerjaannya terbengkalai hanya karena habis bertemu dengan Langit.


* * *


Di sisi lain, Langit masih tidak percaya kalau dia baru saja bertemu dengan Senja. Tetapi, laki-laki itu sedikit dibuat kesal dengan Senja, menurutnya dipertemuan pertama ini sikap wanita itu kepadanya sangatlah dingin. Padahal Langit ingin hubungan mereka tidak canggung seperti tadi.


Setelah Senja keluar dari ruangannya tadi, dia sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaan yang harus pria itu lakukan. Padahal dia harus mempelajari banyak hal karena dia baru memegang perusahaan ini, tapi rasanya saat ini Langit ingin segera pulang ke rumah dan beristirahat. Mungkin dengan seperti itu dia akan melupakan pertemuannya dengan Senja sebentar saja.


"Kenapa sikapmu padaku jadi dingin seperti itu, Senja?" gumam Langit sambil memijat pangkal hidungnya untuk meredakan kepalanya yang sedikit pusing.

__ADS_1


Kemudian, Langit menyenderkan kepalanya ke punggung kursi. Mengela napas panjang, sambil menatap langit-langit ruangannya. Dia kembali mengingat hari di mana dia dipaksa untuk memutuskan meninggalkan Senja, sampai akhirnya dia berakhir pergi ke luar negeri. Saat itu tidak banyak yang bisa dilakukannya, rasa bersalah juga sangat menghantui pikiran dan hatinya selama di luar negeri. Dia ingin memberitahu Senja, tapi tidak bisa karena semua aksesnya untuk menghubungi wanita itu sudah diputus oleh orang tuanya.


Saat-saat seperti itu, membuat Langit merasa sangat frustasi. Dia merasa seperti laki-laki brengsek yang menelantarkan seorang wanita begitu saja, padahal Langit tahu kalau Senja rela melakukan apapun demi dirinya. Senja selalu mendukung baik dalam suka maupun duka, tapi yang bisa dia berikan hanyalah duka, Langit malah meninggalkannya ke luar negeri.


"Tolong maafkan aku, Senja. Apa kamu semarah itu kepadaku sampai sikapmu sangat dingin tadi?" Langit kembali bermonolog sambil membayangkan wajah Senja yang tadi sangat datar dan sangat acuh.


* * *


Ini sudah saatnya untuk jam pulang kantor, Langit sengaja melewati di mana ruang kerja Senja. Tapi, dia tidak bisa menemukan wanita itu, padahal pegawai yang lain juga belum pulang. Tidak mungkin kalau Senja pulang lebih awal, mungkin saja wanita itu sedang sibuk melakukan hal lain.


Karena tidak mungkin Langit menunggu Senja kembali ke meha kerjanya, laki-laki itu memutuskan untuk pulang saja. Tidak mungkin kalau dirinya berdiri lama di sana, bisa-bisa banyak yang akan bergosip tentangnya, apalagi ini hari pertamanya kerja.


Sesampainya di mobil, Langit langsung melonggarkan dasinya. Laki-laki itu menyandarkan punggungnya dengan nyaman di kursi mobil, seharian di duduk di depan layar komputer membuat punggungnya sedikit kaku.


Sesampainya di rumah, Langit langsung masuk dengan langkah cepat. Mawar yang berada di dapur langsung menyusul suaminya, wanita itu tampak sangat siap untuk meyambut kedatangan Langit.


"Kamu sudah pulang rupanya. Masakanku belum selesai, jadi tolong tunggu sebentar lagi ya," ucap Mawar sambil berusaha untuk mensejajarkan diri dengan Langit yang terus saja melangkah tanpa memperdulikannya.


"Bagaimana hari pertama kamu? Semuanya lancar? Sepertinya kamu kelihatan lelah, pasti banyak perkajaan yan--"


"Tolong tinggalkan aku sendiri dulu! Jangan banyak bicara," bentak Langit. Dia menghentikan langkahnya, menatap nyalang Mawar sambil mengangkat tangan ke udara sebagai tanda peringatan.


Mawar yang mendapat bentakan pun langsung diam seketika, wanita itu mundur satu langkah dari hadapan Langit. Dia terkejut dengan sikap Langit, dia memang sering tidak dianggap oleh laki-laki itu. Tapi, Langit tidak pernah membentaknya seperti ini.


"Maafkan aku. Sepertinya aku terlalu bersemangat," ucap Mawar pada akhirnya. Wanita itu menundukkan kepalanya karena ketakutan mendapat tatapan tajam dari suaminya.

__ADS_1


Tidak memperdulikan permintaan maaf dari Mawar, Langit lebih memilih untuk kembali melangkah untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian dia menutup pintu kamar cukup kasar sampai Mawar terkejut.


"Aku akan menyelesaikan masakanku dulu, setelah itu kita makan bersama ya." Mawar sedikit berteriak dari balik pintu kamar. Setelah itu, dia kembali ke dapur dengan langkah gontai.


Mawar bingung dengan perubahan sikap Langit yang semakin aneh kepadanya, padahal dia sudah berusaha bersikap dengan baik. Tak mau memikirkan hal itu lagi, lebih baik Mawar meneruskan masakannya agar bisa merebut hati Langit kembali.


Sedangkan di dalam kamar, Langit sedang uring-uringan. Laki-laki itu melepas jasnya dan membuangnya ke sembarang arah, dia juga membuka lebar jendela kamarnya.


"Arkhh! Kenapa semua ini terjadi," teriak Langit frustasi. Dia juga menjambak rambutnya sebentar.


Mawar yang mendengar teriakan dari dalam kamar langsung mematikan kompornya dan berlari masuk ke dalam, dia khawatir kalau terjadi sesuatu dengan Langit.


"Kamu kenapa, Langit?" tanya Mawar dengan nada khawatir. Dengan langkah pelan dia mendekat pada Langit yang masih di dekat jendela.


Tidak mendapat jawaban apa pun dari Langit, Mawar mencoba untuk menyentuh bahu suaminya pelan.


"Kamu kenapa?" tanya Mawar sekali lagi.


"Kamu tidak tau apapun, jadi diam saja. Jangan pedulikan aku," jawab Langit dengan sangat ketus.


"Tapi ...."


"Sudahlah. Pergi dari sini! Aku ingin sendiri saat ini."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2