
Papa dan Mama Mawar akhirnya datang juga ke Indonesia setelah beberapa kali dihubungi Tante Riri. Awalnya mereka mengira ini akal-akalan adiknya yang telah bosan menunggu Mawar.
Renti, mama Mawar meminta Tante Riri kembali saja ke luar negeri jika bosan bersama Mawar. Jangan mengarang cerita jika Mawar depresi, itu yang dikatakan mama Mawar.
Kedua orang tua itu percaya setelah dokter Surya meyakinkan. Dokter Surya tahu semuanya dari tante Riri.
"Coba saja Mawar lebih memilih Surya dari Langit, pasti dia tidak akan berakhir di rumah sakit jiwa dan penjara," ucap Mama Renti dengan lirih.
Papa Edwin hanya terdiam dan menghela napas dalam. Dia tidak bisa menolak saat Mawar minta dijodohkan dengan Langit. Senja mengancam akan bunuh diri jika kedua orang tuanya tidak menuruti keinginannya.
"Mau apa lagi, Ma. Mawarnya suka sama Langit bukan Surya. Dari kecil dia memang telah menyukai Langit."
"Tapi saat sekolah menengah dia sempat dekat dengan dokter Surya. Apa sih kurangnya Dokter Surya dari Langit. Padahal kita harus membayar mahal agar Langit mau menikahi Mawar, tapi akhirnya dia penjarakan anak kita. Kenapa Papa tidak tarik saja semua saham di perusahaan orang tuanya," ucap Mama Renti dengan mengomel.
"Cinta itu tidak bisa dipaksakan, Ma. Anak kita cinta dengan Langit bukan Surya."
__ADS_1
"Padahal Riri aja yang baru mengenal dokter Surya, mengatakan jika dia pria yang baik. Namun, Mawar tidak juga tertarik. Lihat sekarang dia menjadi kepala rumah sakit ternama. Apa dia masih menyukai Mawar?Apa benar dia dia saat ini sedang tertarik dengan wanita lain?" tanya Mama Renti pada dirinya sendiri.
"Sudahlah, Ma. Jangan pernah berpikir untuk menjodohkan Mawar lagi, nanti tambah depresi anak itu."
Beberapa saat Mama Renti terdiam, merenungi nasib anaknya. Hingga dia tersadar dari lamunan, saat melihat jalanan yang ditempuh.
"Papa benar, ini nggak salah jalan?" tanya seorang perempuan paruh baya kepada suaminya yang mengemudikan mobil menuju ke sebuah rumah sakit jiwa.
"Benar, Ma. Menurut maps, jalannya memang lewat sini kok," jawab sang suami.
Setelah maju beberapa kilo meter, akhirnya rumah sakit jiwa yang mereka cari ketemu. Ternyata memang tidak salah jalan. Hanya tempatnya saja yang terpencil dari mana-mana karena meminimalisir terjadinya pasien kabur dan mengganggu warga sekitar.
Sepasang suami istri itu, satu persatu turun dari mobil. Mereka ingin menemui putri mereka yang divonis memiliki penyakit gangguan mental.
Beberapa orang perawat terlihat berlalu lalang di lorong rumah sakit. Bukan hanya perawat, melainkan juga ada beberapa pasien yang ada sekitar rumah sakit. Ada yang berjemur, ada juga yang bermain ayunan dan masih banyak lagi ragamnya.
__ADS_1
Semua pasien yang diperbolehkan keluar secara bebas itu adalah pasien yang memiliki harapan untuk sembuh dari penyakit mereka. Bahkan jika dilihat sekilas, mereka tidak seperti orang terkena gangguan mental. Mereka terlihat sehat secara fisik.
"Ini permen buat kalian."
Pasangan suami istri tadi kaget ketika ada seorang laki-laki muda dengan setelan pakaian pasien menghadang di depan mereka. Tentu saja mereka takut, tapi tak lama seorang suster juga datang dan memohon kepada mereka agar menerima permen tadi. Dengan sangat terpaksa, pasangan suami istri itu menerima permen dari laki-laki muda itu. Setelah permennya diterima, laki-laki itu pun segera pergi dari sana.
"Suster!" panggil laki-laki yang datang bersama istrinya tadi.Yang tidak lain adalah Papanya Mawar.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu.
"Ada pasien bernama Mawar? Kami orang tuanya, kami ingin menjenguk putri kami," ucap laki-laki paruh baya tadi.
Mama Mawar hanya terdiam melihat pasien-pasien di sana. Ada yang berlarian seperti anak kecil dan ada yang menangis ditemani perawat. Mama tidak bisa membayangkan jika Mawar juga melakukan hal yang sama.
...****************...
__ADS_1