SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 79. Langit Yang Merindukan Senja.


__ADS_3

Tak terasa telah dua bulan usia si kembar saat ini. Kedua orang tua Langit saat ini sedang berada di luar negeri, mengurus perusahaan mereka yang ada di sana.


Sebenarnya Papa dan Mamanya Langit keberatan meninggalkan cucu mereka, tapi perusahaan juga sangat membutuhkan kehadiran Topan. Dengan uang bantuan yang diberikan Langit, orang tuanya mencoba untuk membangun kembali perusahaan yang hampir bangkrut.


***


"Mas ...," panggil Senja.


Senja melirik seisi kamarnya saat tidak menemukan Langit suaminya, di ranjang. "Mas Langit kemana, ya?" tanya Senja. dengan diri sendiri.


Senja melirik ke ranjang bayi mereka, Bintang dan Kejora, kini usia si kembar sudah berjalan dua bulan dan kehadiran si kembar semakin mempererat hubungan rumah tangga mereka.


Senja menurunkan kakinya dari ranjang kemudian berjalan keluar dari kamar untuk mencari suaminya, tujuan pertama Senja adalah ruang tamu, jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua malam, dan Langit tidak ada disana.


"Mas, kamu di mana?" panggil Senja sedikit keras.


Lagi-lagi Senja memanggil namun tidak ada jawaban dari Langit, sampai akhirnya Senja memilih untuk mencari suaminya itu di dapur.


"Sayang?"


Senja membalikkan badannya dan mendapati Langit yang masih menggunakan piyama tidur sama seperti Senja, pria itu menghampirinya.


"Kamu mau kemana?" tanya Langit yang membuat Senja menatap heran pada suaminya itu.


"Aku harusnya yang nanya, Mas dari mana?"

__ADS_1


Mendapat pertanyaan seperti ini membuat Langit bingung sendiri. Padahal Langit sebenarnya baru saja dari kamar mandi melakukan ritual senam lima jari.


Langit tetaplah hanya manusia biasa, semenjak kelahiran anak kembar mereka, Langit memilih puasa. Bahkan, sampai sekarang dia tidak ingin berbuka puasa karena tidak tega dan takut menyakiti Senja.


"Ehm-"


"Hayo jujur," kecam Senja berusaha menyudutkan suaminya itu.


"Tidur yuk, Sayang!" seru Langit.


Senja tidak bergerak, dia langsung melebur ke pelukan Langit dan memeluk kencang tubuh suaminya itu. "Mas, kalau mau kamu bilang aja, aku nggak akan nolak," ucap Senja dengan lirih.


Langit mengerjap sejenak, rupanya Senja sudah tahu apa yang dia lakukan. Padahal Senja masih wanita yang sama, dia bisa menebak isi hati seseorang dari ekspresinya.


"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu kan juga baru melahirkan."


"Nggaklah, jangan menggoda!"


"Yakin?" tanya Senja lagi.


Tangan Senja yang sudah lama tidak bergerak itu menelusuk masuk ke dalam celana piyama suaminya dan benar saja Langit tidak memakai pakaian dalam disana, sehingga mudah bagi Senja menggapai benda panjang milik suaminya. Senja jadi tersenyum.


"Sshh! Jangan mengujiku, Senja. Kamu bisa membangunkan jerry," ucap Langit.


Langit mendesis akibat sentuhan itu, mau bagaimana lagi suaminya itu hanya pria normal biasa yang akan tergoda dengan rangsangan terlebih itu dari istrinya sendiri.

__ADS_1


"Kamu yakin?" Langit mengangkat Senja dan menggendongnya ala koala.


Senja mengalungkan tangannya di leher Langit, kemudian menatap suaminya itu dalam sebelum mencium bibirnya. Langit membuka mulutnya membiarkan lidahnya dan lidah istrinya saling bertemu dalam ciuman itu.


"Kurang meyakinkan ya ajakanku?" tanya Senja balik.


Langit tersenyum lebar, dia membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kama, Langit menidurkan Senja di ranjang. Kemudian melucuti piyama Senja satu persatu sehingga wanita itu kini dalam kondisi polos.


Langit melirik kedua bayi kembarnya memastikan mereka tidur agar tidak melihat adegan kedua orang tuanya. Setelah di rasa cukup aman, pria itu melorotkan celananya dan melepas bajunya sehingga kini dia dan istrinya sama-sama dalam kondisi tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh.


Langit tidak langsung ke intinya dia memilih menciumi wajah istrinya, turun ke leher kemudian memberi bekas merah di bagian dadanya.


"Siap?" tanya Langit.


Senja mengangguk atas pertanyaan itu. Langit mencium kedua dada istrinya kemudian turun ke perut sebelum akhirnya melebarkan kedua kaki istrinya.


Dengan pelan Langit memasukkan jerry ke dalam sarangnya. Pria itu menundukkan badannya agar bisa menggapai wajah Senja istrinya.


"Aku mencintaimu, Sayang."


"Aku juga!"


Akhirnya Langit bisa berbuka puasa setelah dua bulan lebih menahan hasrat karena cinta dan mengingat kondisi Senja dan juga bayi kembarnya.


...****************...

__ADS_1




__ADS_2