
Tangan Mawar terkepal kuat-kuat mendengar kabar yang baru saja dia ketahui. Wajahnya memerah bak dilalap si jago merah. Gemuruh di dadanya terus meluap-luap hanya karena kebenaran yang menghampirinya secara tiba-tiba. Namun ini bukan karena hanya, melainkan karena kabar yang dia dengar itu memang membuatnya naik darah.
Mawar emosi, dia ingin membanting apa saja yang ada di sekitarnya sekarang. Saking emosinya perempuan itu, tangannya yang mengepal bahkan sampai gemetar menahan amarah yang tidak terkendali. Sorot matanya benar-benar mengerikan, seolah-olah Mawar siap menerkam siapa saja yang salah bicara dengannya hari ini.
Suara gemelutuk giginya bahkan sampai terdengar dengan jelas. Mawar sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Hingga akhirnya perempuan itu membanting semua peralatan rias yang ada di atas meja riasnya.
Bukan hanya itu saja, Mawar juga melemparkan botol parfum berbentuk kaca ke arah cermin yang setiap hari dia pakai untuk melihat wajahnya. Cermin riasnya retak, untung saja tidak sampai pecah dan mengenai wajah ayunya. Kalau cermin itu sampai pecah lalu menggores wajahnya, Mawar bakal rugi besar karena perbuatannya sendiri.
Kemarahan sudah menguasai Mawar. Bahkan setelah dia menghancurkan semua peralatan riasnya dan melempar cerminnya sendiri hingga retak, Mawar masih belum juga lega. Sekarang dia menjerit amat kencang guna melampiaskan kekesalan dan kemarahannya yang bercampur menjadi satu.
"Kenapa aku harus mendengar dan mengetahui kenyataan ini?" tanya Mawar entah kepada siapa. Karena yang Mawar tahu, dia hanya ingin meluapkan emosinya saja setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Usai meluapkan kemarahannya, Mawar tiba-tiba tertawa sendiri. Mungkin cicak yang ada di dalam kamarnya Mawar itu ikut tertawa karena melihat tingkah Mawar yang pastinya terlihat aneh.
Mawar malah terkesan seperti orang sakit mental, setelah marah-marah lalu tertawa-tawa. Untungnya Mawar sedang ada di dalam kamarnya dan posisinya sendirian. Andai kata Mawar berada di tempat lain dan sedang ada banyak orang, pasti Mawar sudah ditertawakan dan dianggap aneh oleh orang lain.
Mawar merasa kepalanya pusing. Dia hampir saja terjatuh. Mawar segera membawa dirinya duduk di atas ranjang. Wanita itu tidak mau kalau tubuhnya tiba-tiba ambruk begitu saja. Mawar memejamkan matanya cukup lama. Sekarang Mawar berusaha meredakan emosinya.
"Kenapa aku baru tahu sekarang? Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku dari awal kalau ternyata perempuan yang menjadi masa lalunya Langit itu ternyata adalah Senja?" tanya Mawar lagi kepada siapa saja yang bisa menjawab. Sayangnya di dalam kamarnya tidak ada siapa-siapa.
"Pantas saja saat itu Langit memandangi wanita itu dengan pandangan yang berbeda."
Guna meredakan emosinya yang meletup-letup bagai air mendidih, Mawar sekarang melakukan teknik pernapasan. Dia menarik napasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Dengan begini, maka emosi Mawar jadi sedikit berkurang.
__ADS_1
Meski dia masih tetap marah, tapi tidak menggebu-gebu seperti tadi.
"Kenapa Langit juga tidak pernah bilang kepadaku kalau Senja itu mantannya?" Ada banyak sekali pertanyaan di dalam benak Mawar sekarang ini mengenai kebenaran tentang hubungan Langit dan Senja saat dulu.
Walau status Mawar sekarang adalah mantan istrinya Langit, tapi perasaan sayangnya untuk Langit masih belum luntur. Malah yang ada, Mawar terobsesi untuk bisa mendapatkan Langit lagi. Mawar belum bisa menerima kenyataan jika Langit sudah menceraikan dirinya.
"Pokoknya, aku nggak boleh keduluan sama Senja. Aku harus lebih dulu mendapatkan Langit lagi," kata Mawar penuh ambisi.
Mawar berdiri dari duduknya. Perempuan itu mencari di mana letak ponsel pintarnya. Dia berniat menelepon anak buahnya untuk mencari keberadaan Senja.
"Aku harus memberi peringatan kepada Senja supaya dia tidak mendekati Langit lagi. Pokoknya, aku harus membuat Senja menjauh dari Langit." Mawar tampak menggebu-gebu saat membayangkan dirinya bisa memberi peringatan secara langsung di depan Senja.
Perempuan itu masih mencoba menghubungi ketua dari anak buahnya. Sampai tiga panggilan, masih belum juga tersambung dan itu membuat Mawar kembali marah. Kekesalan kembali menggerogoti hati Mawar karena orang yang akan dia hubungi tidak bisa juga.
Kemarahan yang menguasai hati Mawar sekarang membuat perempuan itu langsung menyambar tas tangannya yang sedari tadi memang tergeletak di atas kabinet. Mawar berlalu begitu saja. Perempuan itu berjalan ke arah garasi. Dia mengendarai mobilnya, meninggalkan area rumahnya tanpa berpamitan akan ke mana.
Selama di perjalanan, Mawar masih mencoba menghubungi anak buahnya. Beberapa kali, Mawar juga memukul setirnya karena panggilannya belum juga dijawab.
"Ke mana sih sebenernya dia ini?" tanya Mawar lagi untuk yang ke sekian kali.
Mawar tidak menyerah, dia masih mencoba menelepon anak buahnya dan kali ini panggilannya diterima. Emosi Mawar yang sempat meluap, jadi semakin tak terkendali.
"Hallo, Bos," sapa orang di seberang telepon.
__ADS_1
"Kamu ke mana saja? Telinga kamu budek atau bagaimana? Aku telepon dari tadi, nggak ada jawaban!" sentak Mawar penuh emosi.
"Maaf, Bos. Tadi HP saya tertinggal di mobil," jawab orang di seberang sana.
"Aku ke tempatmu sekarang," kata Mawar sebelum akhirnya dia mematikan sambungan teleponnya.
Mawar mempercepat laju mobilnya. Tak sampai sepuluh menit, Mawar sudah tiba di markas tempat anak buahnya berkumpul. Setibanya di sana, Mawar langsung disambut. Namun karena suasana hatinya sedang tidak bagus, jadi Mawar mengabaikan sambutan mereka.
"Maaf, Bos. Karena keteledoran saya, Bos jadi susah payah ke sini," kata ketua dari anak buahnya Mawar.
Mawar melambaikan tangannya sebagai tanda bahwa dia tidak menerima basa-basi dalam bentuk apa pun. Mawar segera duduk di kursi yang sudah dia siapkan. Mawar mengutak-atik ponselnya lagi. Perempuan itu mengirimkan foto Senja kepada ketua dari anak buahnya.
"Aku mau, kalian kerja cepat. Cari perempuan itu secepatnya, sebar para anak buahmu untuk mencari perempuan itu. Aku tidak mau mendengar ada kata kalian gagal menemukannya," kata Mawar kepada ketuanya.
Laki-laki yang memakai setelan rapi, kemeja dan lengkap dengan jasnya itu menatap layar ponselnya. Dia memandangi foto yang dikirimkan oleh Mawar.
"Siap, Bos. Kami akan secepatnya menemukan perempuan ini," jawab pemimpin dari anak buahnya Mawar. Laki-laki itu juga langsung membagikan foto Senja ke obrolan grup para anak buahnya.
Mawar berdiri dari duduknya. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Ini uang bensin untuk kalian, sisanya akan aku bayar setelah kalian berhasil menemukan dia." Mawar memberikan satu amplop coklat kepada laki-laki yang menjadi pemimpin tadi.
"Baik, Bos. Nanti kalau kami sudah mengetahui keberadaannya, kami akan segera menghubungi Bos," jawabnya seraya menerima amplop coklat yang berisi uang tunai tadi.
Mawar pergi dari sana. Dia akan menunggu kabar dari para anak buahnya mengenai keberadaan Senja. Mawar berharap, dia yang lebih dulu menemukan Senja daripada Langit.
__ADS_1
...****************...