
Mami makin mendekati dirinya pada Langit. Digenggamnya tangan pria itu. Langit masih diam terpaku, tidak mengerti dengan perubahan sikap Mami yang secara tiba-tiba.
"Lang, maafkan Mami. Mulai hari ini mami ingin kamu dan Senja serta Pelangi tinggal bersama kami. Bukankah tadi kamu berkata jika Senja sedang hamil. Mungkin akan lebih baik jika dia tinggal dengan Mami."
"Kenapa Mami tiba-tiba berubah begini?" tanya Langit dengan wajah keheranan.
Mami yang telah jatuh cinta dengan Pelangi berharap Senja dan Langit menerima tawarannya. Masalah dia akan bisa menerima Senja, itu bisa dipikirkan nanti. Yang jelas dia ingin bersama Pelangi. Syukur-syukur Senja hanya mengizinkan Pelangi tinggal dengannya tanpa dia harus ikut.
"Atau jika Senja tidak mau tinggal dengan Mami, biar saja Pelangi yang menginap di sini. Ini juga untuk kebaikan Senja yang sedang hamil. Dia tidak akan begitu repot mengurus Pelangi. Bukankah hamil muda tidak boleh capek?"
Langit tertawa mendengar ucapan Maminya. Dia melepaskan genggaman tangan Mami. Bukannya Langit mau melawan orang tuanya, tapi dia melihat Mami Angel masih belum ikhlas menerima Senja.
"Mami, aku ataupun Senja tidak pernah merasa repot menjaga Pelangi. Dari ucapan Mami, aku tahu jika Mami belum sepenuhnya ikhlas menerima Senja. Aku rasa sudah cukup percakapan kita ini. Mami akan tetap dengan pendirian, jika Mami belum bisa meneima Senja. Hanya meninginkan Pelangi. Seharusnya Mami sadar, tanpa Senja tidak akan ada Pelangi!" ucap Langit dengan penuh penekanan.
Langit lalu melangkah menuruni tangga tanpa pedulikan lagi maminya. Dia tidak akan pernah kembali sebelum mami dan papinya meminta maaf pada Senja.
Langit mengajak Pelangi pulang. Anaknya itu membawa semua yang dibeli neneknya. Langit telah mencoba membujuk untuk meninggalkan semua.
__ADS_1
"Kenapa harus ditinggalkan, bukankah nenek membeli semua ini untukku, Pi?" tanya Pelangi.
"Nanti kita beli lagi," ucap Langit mencoba membujuk lagi.
"Aku mau yang ini," ucapnya hampir menangis.
Langit akhirnya mengizinkan Pelangi membawa semuanya. Mami tersenyum melihat dari lantai atas. Langit yakin Senja pasti akan mengerti nantinya.
Senja menunggu dengan gelisah, karena tidak biasanya Langit pulang telat setelah menjemput putri mereka. Ketika dihubungipun ponselnya tidak aktif.
Begitu melihat mobil Langit memasuki halaman rumah, Senja langsung keluar rumah menyambutnya. Langit melihat itu menjadi merasa bersalah. Dia tadi sengaja mematikan ponsel agar Senja tidak bertanya dan menghubunginya.
Langit memeluk istrinya dan mengecup dahinya. Dia hanya diam tidak menjawab. Pria itu menarik napas dalam. Tidak ingin berbohong. Langit akan mengatakan di dalam rumah.
"Kita masuk dulu. Baru aku ceritakan," ujar Langit.
Pelangi keluar dari mobil dengan banyak tentengan. Senja memandangi dengan wajah kaget. Dia pikir Langit belanja sebelum pulang sehingga sampai rumah telat.
__ADS_1
"Kamu beli apa, Mas? Apa karena ini telat pulangnya?" tanya Senja. Wanita itu mengambil paper bag yang dibawa anaknya.
Senja kaget melihat isi paper bag itu. Banyak sekali belanjaan, yang semuanya buat Pelangi. Tidak biasanya Langit membelikan sesuatu buat Pelangi tanpa dirinya, pikir Senja.
"Bunda, semua ini nenek yang beli. Nenek baik banget ya, Bunda," ucap Pelangi. Senja memandang ke arah Langit setelah mendengar ucapan Pelangi.
Langit mengajak istrinya itu duduk. Pelangi juga mengikuti. Langit mengecup dahi Senja sekali lagi. Rasa bersalah itu makin menyesakkan dadanya.
"Maafkan, aku!" ucap Langit.
"Maaf untuk apa, Mas?" tanya Senja tidak mengerti.
"Mami tadi datang ke sekolah Pelangi. Meminta izin sekolah untuk membawa dia jalan-jalan. Jadi aku menjemputnya tadi di rumah Mami. Maafkan Mami karena lancang mengajak Pelangi jalan-jalan tanpa izin kamu," ujar Langit lirih.
Senja tampak kaget. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. Bukankah baru kemarin saat di restoran kedua orang tua Langit menolak kehadiran putrinya itu. Namun, mengapa tiba-tiba sikap mereka berubah.
...****************...
__ADS_1