SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 45. Penahanan Mawar.


__ADS_3

"Jadi, kamu berencana mau memenjarakan Mawar atas tuduhan pencemaran nama baik?" tanya Dokter Surya kepada Langit.


Pandangan Langit sekarang fokus ke arah Senja yang sedang bermain dengan Pelangi di taman belakang rumahnya Dokter Surya. "Iya, Dok," jawab Langit sambil mengalihkan pandangan jadi ke arah Dokter Surya lagi.


Dokter Surya pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Lelaki yang sudah sangat baik kepada pasangan Langit dan Senja itu mendukung keputusan Langit. Jika memang jalan yang Langit ambil itu jalan terbaik, maka Dokter Surya akan mendukungnya.


"Kalau begitu, terima kasih banyak Dokter sudah menjaga Pelangi selama aku mengumpulkan bukti-bukti untuk membebaskan Senja dari penjara." Langit berdiri, dia sudah akan pamit dan membawa Pelangi.


"Tidak perlu sungkan, kalau perlu apa-apa kalian bisa langsung menghubungi aku." Dokter Surya ikut berdiri dan mengantar Langit yang berjalan ke arah Senja dan Pelangi.


Langit memberi tahu Senja kalau mereka akan kembali ke hotel sekarang juga. Di sana Langit dan Senja berpamitan serta mengucapkan terima kasih untuk ke sekian kalinya kepada dokter Surya yang sudah sangat berbaik hati kepada mereka berdua.


Dokter Surya mengantar Langit dan Senja sampai mereka masuk mobil dan meninggalkan area rumahnya. "Aku pasti akan merindukan Pelangi," katanya lirih dan kembali masuk ke dalam rumah.


Niat hati ingin menjemput Pelangi kemarin sore, ternyata malah Langit ketiduran sampai tengah malam. Jadilah baru terealisasi pagi ini. Mereka tidak langsung kembali ke rumah Dokter Surya yang ada di luar kota, melainkan kembali ke hotel lagi. Semalam Langit sudah memberi tahu Senja jika hari ini Langit berniat melaporkan Mawar ke kantor polisi dan menuntut Mawar atas tuduhan pencemaran nama baik.


Sebenarnya Langit tidak ingin ada kejadian seperti ini. Dia ingin perpisahannya dengan Mawar itu berakhir secara baik-baik dan tidak ada keburukan di antara mereka, tapi sepertinya tidak bisa. Mawar tidak bisa diajak berpisah baik-baik dan Mawar malah menghancurkan semuanya. Langit rasa, dia sudah terlalu baik kepada Mawar. Sehingga kali ini, Langit tidak akan meloloskan Mawar begitu saja.


"Kamu serius, mau menjebloskan Mawar ke penjara?" Senja tiba-tiba memberikan pertanyaan yang membuat Langit harus teringat pada Mawar. Aslinya, Langit kurang suka membahas Mawar di depan Senja. Sayangnya, kali ini Senja duluan yang memulainya.


Kepala Langit mengangguk. Bibirnya juga berkata, "Iya, aku serius. Mawar sudah tidak bisa didiamkan lagi. Dia harus menerima akibat dari perbuatannya."

__ADS_1


"Semoga Mawar bisa belajar mengenai kesalahannya dari sebuah konsekuensi yang akan dia terima akibat perbuatannya," sahut Senja.


Langit lebih dulu mengantar Senja dan Pelangi ke hotel. Setelah itu, barulah Langit akan membuat laporan ke kantor polisi. Langit tidak akan mengulur-ulurnya lagi. Lebih cepat lebih baik dan tentunya kehidupan mereka akan lebih damai jika Mawar berada di dalam tahanan.


Usai mengantarkan Senja dan putrinya kembali ke hotel, Langit segera bergegas ke kantor polisi seperti yang dia katakan tadi. Kali ini, Langit membuat laporan dan menuntut Mawar atas tuduhan pencemaran nama baik. Kebetulan polisi yang kemarin mengatasi kasusnya Senja paham mengenai masalah apa yang sedang melanda Langit.


Jadilah polisi itu menerima laporan Langit dan melakukan pemeriksaan berkas satu kali lagi. Langit menunggu polisi memeriksa berkas-berkas kemarin yang dia berikan sebagai bukti atas tidak bersalahnya Senja.


Dua jam kemudian, surat perintah penangkapan dan penggeledahan atas saudari Mawar telah dikeluarkan karena tindakan Mawar memang terbukti sebagai pencemaran nama baik.


Pihak kepolisian menuju ke rumah yang dihuni oleh Mawar. Langit pun juga ikut, meski dia tidak diperbolehkan dekat-dekat dengan polisi bersenjata itu. Langit hanya ingin menonton bagaimana paniknya Mawar ketika dia digandeng oleh polisi yang memborgol tangannya.


"Kami ingin bertemu dengan saudari Mawar. Apa Ibu Mawarnya ada di rumah?" tanya polisi tadi kepada asisten rumah tangga yang masih kaget ketika mendapati polisi datang.


"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya panggilkan Nyonya dulu," balas asisten rumah tangga sendiri.


Tak lama, asisten rumah tangga tadi benar-benar keluar bersama dengan Mawar. Betapa kagetnya Mawar ketika dia melihat polisi datang. Tadi asisten rumah tangganya hanya bilang kalau ada tamu untuk Mawar, sehingga Mawar tidak berekspektasi bahwa tamunya itu beberapa orang polisi.


"Saudari Mawar, Anda akan kami tahan atas tuntutan mengenai tuduhan pencemaran nama baik yang Anda lakukan kepada saudari Senja." Polisi tadi langsung mengeluarkan borgol dari dalam saku celananya.


Mawar tentu saja berontak, dia tidak mau ikut ke kantor polisi. Sayangnya, Mawar tidak bisa lepas. Tenaga polisi tadi jauh lebih kuat dari tenaga Mawar. Meski perempuan itu sudah berusaha semampunya.

__ADS_1


"Kami mohon kerja samanya, jika Anda menghalangi proses penangkapan maka Anda akan mendapatkan tuntutan lebih dari pencemaran nama baik."


Di luar, Langit tersenyum senang melihat mantan istrinya benar-benar ditangkap oleh polisi. Langit yakin, pihak kepolisian tidak akan membebaskan Mawar dengan mudahnya.


Mawar pun tidak sengaja melihat Langit. Lelaki itu menontonnya yang sedang diseret-seret oleh polisi. Mawar menatap Langit dengan tatapan penuh dengan penderitaan. Namun, sayangnya Langit tidak akan mudah percaya kepada Mawar. Langit tahu, Mawar hanyalah akting.


"Kamu, berani-beraninya kamu memperlakukan aku seperti ini." Mawar berkata kasar kepada Langit, tapi bagi Langit itu bukanlah apa-apa.


"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku," balas Langit sambil tersenyum sinis.


Polisi tadi langsung membawa Mawar ke kantor polisi untuk diselidiki lebih lanjut. Sementara Langit, dia akan menemui kedua orang tuanya di rumah. Langit sudah berencana untuk melakukan ini, jadi tidak bisa dia tunda lagi sampai besok.


Sesampainya di rumah, Langit menemui papa dan mamanya yang ternyata sedang menikmati acara makan siang berdua. Tanpa merasa bersalah atau malu, Langit pun duduk di salah satu kursi meja makan. Tindakan Langit ini menyita perhatian kedua orang tuanya.


Langit pun bertingkah seperti biasa. Bagaikan orang yang tidak sedang bersitegang dengan orang tuanya. Padahal suasana di meja makan sudah tidak seperti semula. Sekarang hawanya bahkan terasa lebih panas.


"Ada angin apa kamu ke sini? Apa kamu tidak memiliki sopan santun? Kamu sedang menjadi orang asing sekarang di rumah ini." Papanya Langit sengaja bicara lebih dulu untuk menyambut kepulangan putranya.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan sama Mama sama Papa. Namun karena berhubung kalian sedang makan, maka aku juga akan menikmati makan siangku terlebih dulu," balas Langit enteng.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2