SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 73. Bertemu Mawar


__ADS_3

"Ada pasien bernama Mawar? Kami orang tuanya, kami ingin menjenguk putri kami," ucap Papa Edwin.


Perawat itu pun mengiyakan lewat gerak kepalanya. "Tapi Bapak dan Ibu harus menemui dokter yang merawatnya terlebih dahulu untuk memastikan apakah pasien bisa menerima pengunjung atau tidak," jelas perawat tadi. "Mari saya antarkan ke bagian resepsionis, biar Bapak dan Ibu bisa lebih jelas lagi."


Laki-laki dan perempuan paruh baya yang mengaku orang tuanya Mawar tadi pun mengikuti ke mana perginya perawat tadi yang katanya ingin membawa mereka ke meja resepsionis. Tibalah mereka di meja resepsionis, perawat tadi langsung memberi tahu rekan kerjanya jika sepasang suami istri tadi ingin bertemu dengan pasien bernama Mawar.


"Mari saya antar ke ruangan dokter," ajak perawat di bagian resepsionis.


Orang tua Mawar pun mengucap terima kasih kepada perawat yang sudah membantunya. Mereka kembali diajak ke ruangan dokter yang selama ini menangani Mawar. Setibanya di depan ruangan dokter, perawat bagian resepsionis tadi mengetuk pintunya. Tak lama, terdengar suara sahutan dari dalam.


Mereka pun langsung masuk dan disambut baik oleh dokter psikiatri yang dari awal sudah menangani masalah kesehatan mentalnya Mawar.


"Kami ini, orang tuanya Mawar, dok," ucap papanya Mawar.


"Oh, baik. Bapak sama Ibu, ke sini mau bertemu Mawar 'kan? Tunggu sebentar ya, saya baru saja meminta tolong kepada perawat yang mengurus Mawar untuk membantunya mandi. Kalau nanti sudah selesai, saya akan membawa kalian ke kamarnya," jelas dokter tadi.


"Apa kondisi Mawar sampai separah itu, dok? Sampai-sampai, mandi saja harus dibantu?" tanya mamanya Mawar dengan sangat sedih dan prihatin mendengar kondisi putrinya.


"Kalau dibilang parah, sebenarnya tidak, Bu. Namun, Mawar memang harus diawasi karena gangguan bipolar yang dia alami itu mudah sekali berubah-ubah dalam jangka pendek. Maka dari itu, kami menugaskan perawat untuk mengawasinya setiap melakukan kegiatan apa pun."


Kedua orang tua Mawar paham akan penjelasan sang dokter. Mereka harap, nanti mereka bisa berbincang-bincang dengan putri mereka tanpa adanya sebuah hambatan.

__ADS_1


Dokter perempuan tadi pun kembali menjelaskan mengenai terapi apa saja yang harus Mawar ikuti agar penyakit bipolar disorder I yang dia idap itu bisa berkurang.


"Apa penyakit ini bisa disembuhkan, Dok?" tanya Mama Renti.


"Bipolar sendiri, itu adalah salah satu penyakit mental yang tidak dapat disembuhkan, Bu. Namun, bisa berkurang seiring berjalannya perawatan yang diterima pasien. Kenapa kami bilang tidak bisa disembuhkan? Itu karena di saat emosi pasien sudah hampir terkontrol, bisa saja berubah menjadi-jadi seperti sebelumnya."


Mamanya Mawar meneteskan air mata mendengar ini. Sebagai orang tua, tentu saja dia sedih mendengar putrinya tidak bisa sembuh dari penyakit mentalnya.


Sang dokter bilang kalau mereka sudah bisa menemui Mawar. Sampailah mereka di kamar tempat Mawar dirawat. Ketika orang tuanya Mawar masuk ke dalam kamar rawatnya, Mawar bisa mengenali mereka. Bahkan Mawar langsung memeluk mamanya.


"Aku kangen sama Mama," ucapnya sambil meneteskan air mata.


Papanya Mawar pun turut prihatin, dia memeluk tubuh dua perempuan yang menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Dokter yang menangani Mawar pun turut prihatin melihat pemandangan ini.


Mawar menggelengkan kepalanya. Mereka kini sama-sama duduk di atas ranjang yang selama ini menjadi tempat tidur putrinya. Ibunya Mawar memperlihatkan kain berwarna biru kepada Mawar.


"Itu apa, Ma?" tanya Mawar penasaran.


"Mama bawakan makanan kesukaan kamu. Tadi Mama sudah tanya dokter, katanya kamu boleh makan makanan yang Mama bawa," jawabnya. Perempuan itu segera membuka kain dan beberapa kotak makanan.


Mawar senang, dia pun memakan dengan lahap makanan yang dibawakan oleh mamanya. Perempuan paruh baya itu mengusap kepala putrinya, dia masih belum menyangka kalau Mawar akan menjadi salah satu pasien di rumah sakit jiwa.

__ADS_1


"Cepat membaik ya, Sayang. Biar kamu juga bisa secepatnya keluar dari sini," kata mamanya Mawar.


"Iya Ma, aku juga pengen cepetan keluar. Aku pengen ketemu Langit," ucap Mawar.


"Kamu harus sadar, Mawar. Langit itu sudah memiliki kehidupannya sendiri," sahut papanya Mawar.


Semua makanan yang ada di atas kasur, dilempar ke lantai oleh Mawar. Kedua mata perempuan itu berubah jadi mengerikan. Membuat mama dan papanya juga ketakutan.


"Langit cuma milik aku! Nggak ada yang boleh memiliki Langit selain aku!" sentaknya.


l


Kedua orang tua Mawar kaget saat melihat putrinya mengamuk secara tiba-tiba. Perawat tadi memanggil dokter dan mengajak kedua orang tuanya Mawar keluar dari sana. Dokter segera menyuntikkan obat penenang untuk Mawar dan memborgol tangannya agar tidak berontak. Tak hanya itu, Mawar juga dikunci di dalam kamar rawatnya.


"Mawar kenapa, dok? Kenapa dia berubah?" tanya mama dengan kuatir.


"Seperti itulah penderita bipolar disorder I, Bu. Dia tidak bisa mendengar hal yang membuatnya emosinya meluap-luap," jelas sang dokter membuat papanya Mawar menyesal sudah berkata seperti tadi.


Mama memeluk tubuh Papa. Tidak mengira anaknya akan mengalami hal seperti ini. "Semua ini karena Langit," ucap Mama dengan Lirih.


"Kenapa Langit, Ma? Semua juga salah kita. Selalu saja menuruti apa maunya, sehingga dalam pikiran Mawar apa pun keinginannya harus dia dapati," ujar papa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2