
Langit yang tidak terima istrinya dituduh atas tindakan yang tidak Senja lakukan, dia pun bergegas menyusul Senja ke kota tempat keluarganya berada. Tentu saja Langit membawa serta Pelangi. Tidak mungkin dia meninggalkan putrinya sendirian di rumahnya dokter Surya. Tadi Langit sudah memberi tahu dokter Surya mengenai musibah yang menimpa Senja, dan dokter Surya bilang agar Pelangi diantarkan ke rumahnya saja.
Sesuai apa kata dokter Surya, sebelum Langit mencari bukti tentang kebohongan Mawar tentang tuduhannya pada Senja, dia lebih dulu mengantar Pelangi ke rumah dokter Surya. Setelah menempuh waktu selama beberapa jam, sampailah Langit di rumah dokter Surya.
"Maaf merepotkan ya, dok," kata Langit tidak enak karena merasa sudah merepotkan dokter Surya terus.
"Tidak apa-apa, kamu fokus saja kepada Senja. Dia sangat butuh kamu sekarang," balas dokter Surya berbaik hati.
Langit langsung pamit dari sana. Dengan berat hati dia harus berjauhan dengan putrinya lagi. Dalam benak Langit, dia sudah terpikirkan salah seorang pengusaha yang bisa membantunya untuk membuktikan Senja tidak bersalah. Berbekal keberanian dan kenekatannya, Langit meminta pengusaha itu buat membantunya.
Sekarang, Langit ketemuan dengan pengusaha itu di apartemennya. Kebetulan sekarang waktu juga sudah malam, jadi sudah di luar jam kerja.
"Maaf, aku harus merepotkan kamu seperti ini," kata Langit sedikit berbasa-basi.
"Tidak apa-apa, dulu kamu juga pernah membantuku. Anggap saja ini sebagai rasa balas budi saya kepadamu. Jadi kita satu sama, seimbang," jawab pengusaha tadi.
Pengusaha yang dimintai tolong oleh Langit tadi berusaha meyakinkan Langit jika dia tidak merasa keberatan kalau harus membantu Langit dan Senja. Terlebih lagi dulu Senja juga pernah membantu pengusaha itu di saat dia kehilangan dokumennya di sebuah kafe setelah rapat dan dokumen itu ditemukan oleh Senja lalu dikembalikan kepadanya.
"Untungnya tadi kamu langsung memberi tahu aku mengenai kejadian ini. Jadi aku bisa langsung meminta bantuan dari temanku yang kebetulan bekerja di perusahaan Papamu untuk menyalin data yang digunakan oleh mantan istrimu sebagai bukti pelaporan ke pihak kepolisian." Pengusaha tadi menepuk bahu Langit, meyakinkan Langit jika semuanya akan baik-baik saja.
Mereka berdua bekerja semalaman untuk memeriksa beberapa dokumen yang mungkin saja salah. Dugaan Langit ternyata memang benar, Mawar memalsukan bukti yang dia serahkan kepada pihak kepolisian. Setelah bekerja semalaman, akhirnya Langit dan pengusaha yang membantunya itu menemukan perbedaan antara dokumen laporan keuangan tahunan dan dokumen yang direkayasa oleh Mawar.
Beberapa berkas sudah berhasil dicetak. Langit melihat jam dinding yang ada di dalam apartemen pengusaha tadi. Ternyata sekarang sudah pukul enam pagi.
__ADS_1
"Kamu akan langsung membawanya ke kantor polisi?" tanya pengusaha yang membantu Langit tadi.
"Iya, aku harus segera ke kantor polisi untuk membebaskan Senja. Aku takut kalau Senja dipaksa mengaku oleh mereka dan mendapat perlakuan buruk dari mereka," jawab Langit.
"Aku hanya ingin mengingatkan, jangan lupa makan dan istirahat. Kamu itu tumpuannya Senja, kamu tidak boleh tumbang. Kamu harus selalu kuat bahkan di saat kondisi apa pun." Sebuah wejangan diberikan oleh pengusaha tadi kepada Langit.
"Terima kasih banyak atas perhatiannya." Langit sangat bersyukur karena pengusaha itu sangat perhatian dan baik kepadanya, padahal mereka sebenarnya tidak terlalu dekat. Hanya saja, Langit dan Senja pernah membantunya. Jadi pengusaha itu merasa berhutang budi kepada Langit dan Senja.
Setelah semua berkas dicetak, Langit mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena sudah dibantu. Langit pun segera pamit, dia ingin secepatnya tiba di kantor polisi.
Pukul setengah delapan pagi, Langit sudah ada di kantor polisi. Dia membawa berkas tadi dan memperlihatkannya kepada polisi yang menangani kasusnya Senja. Langit meyakinkan polisi tadi bahwa berkas itu asli dan bukti yang dibawa Mawar itu semuanya palsu.
Polisi meninjau lebih dulu berkas-berkas yang dibawa oleh Langit. Selama berjam-jam Langit menunggu kepolisian memeriksa berkas yang dia bawa. Langit tadi juga sempat bertemu Senja sebentar karena dia tidak bisa lama-lama mengunjungi Senja. Langit menunggu di ruang tunggu dalam kantor polisi.
"Aku khawatir banget sama kamu, Senja." Tanpa malu, Langit memeluk Senja di depan para polisi yang ada di sana.
Senja jadi tidak enak, dia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Langit. Mereka pamit dari sana, Langit juga berterima kasih karena polisi sudah percaya dan membebaskan Senja.
"Pelangi sama siapa kalau kamu semalaman mencari bukti tentang kasusku?" tanya Senja yang baru saja teringat mengenai Pelangi, putri mereka.
"Pelangi ada sama dokter Surya," jawab Langit agar Senja tidak khawatir.
Langit mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya. Dia ingin memberi perhitungan kepada mereka karena sudah melakukan perbuatan ini kepada Senja.
__ADS_1
"Kita mau ke mana?" tanya Senja saat dia tahu jika Langit tidak mengambil jalan menuju ke rumah dokter Surya.
"Kita mampir ke rumah orang tuaku sebentar," jawabnya enteng.
Senja diam saja, dia tidak banyak bertanya meski sebenarnya dalam benaknya dia takut bertemu orang tuanya Langit.
Setibanya di rumah, Langit meminta Senja tetap di mobil. Langit masuk sendirian, dan kebetulan Mawar juga ada di sana. Mereka sedang membahas mengenai keberhasilan mereka yang sudah memenjarakan Senja.
"Aku harap, kalian membatalkan pesta kalian karena Senja sudah bebas." Kedatangan Langit yang secara tiba-tiba, membuat Mawar dan kedua orang tua Langit kaget.
Mereka bertiga berdiri menatap ke arah Langit. Semuanya kaget, bahkan wajah Mawar sudah memerah antara malu, marah dan segala perasaan yang membuatnya tidak tenang jadi bercampur di dalam benaknya.
"Kamu itu sudah dibutakan oleh perempuan itu, Langit." Papinya Langit masih berusaha memfitnah Senja.
"Kalian yang keterlaluan. Kalian yang sudah dibodohi oleh Mawar. Bukti yang diberikan Mawar ke kepolisian kemarin itu semuanya palsu, hasil rekayasa." Langit pun tak mau kalah begitu saja meski pada orang tuanya sendiri.
Suasana di dalam ruang keluarga rumah orang tuanya Langit berubah jadi panas. Padahal tadi awalnya dipenuhi canda tawa karena menertawakan Senja yang ada di penjara. Kini jadi berbalik, mereka dibuat takut karena kedatangan Langit yang secara tiba-tiba.
"Aku berhasil menemukan bukti mengenai Senja yang tidak bersalah. Aku tidak akan segan-segan buat memenjarakan kalian atas tuduhan palsu dan pencemaran nama baik." Tak segan-segan Langit mengancam Mawar, bahkan kedua orang tuanya sendiri.
"Sudah nggak waras kamu, berani mengancam kedua orang tuamu sendiri demi perempuan tidak tahu diri itu," balas papanya Langit dengan wajah dipenuhi amarah.
...****************...
__ADS_1