SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 15. Maafkan aku, Senja!


__ADS_3

Kadang aku terlalu bodoh untuk jatuh cinta. Tetapi, terlalu naif untuk menjauh.Ajari aku cuek, seperti yang kamu lakukan padaku setiap saat.



Senja sejak tadi hanya diam, wanita itu lebih memilih untuk melihat ke jendela. Ucapan Langit membuat hatinya semakin gelisah, entah apa lagi yang akan laki-laki itu rencanakan. Padahal, Senja sudah berusaha untuk menjaga jarak dengan Langit, tapi malah Langit yang terus berusaha mendekatinya.


"Akhirnya sudah sampai. Ayo kita turun, sepertinya investor itu sudah menunggu kita," ucap Langit sambil melepaskan sabuk pengamannya.


Senja hanya menjawab dengan anggukan ringan, setelah itu dia juga melepas sabuk pengaman dan sedikit merapikan hijabnya. Kemudian dia turun dari mobil.


Langit berjalan lebih dulu, sedangkan Senja mengekor di belakang. Di saat seperti ini Langit berlagak seperti atasan, sedangkan tadi dia sangat berbeda. Senja sedikit bingung dengan sikap laki-laki itu, dia berharap kalau Langit terus bersikap seperti ini.


Saat ini mereka berada di salah satu restoran yang ada di tengah kota, restoran ini terkenal sangat bagus, jadi tidak heran jika Langit memilih tempat ini untuk bertemu dengan rekan bisnis. Apalagi ini pertemuan pertama mereka, jadi Langit ingin memberikan kesan yang baik.


"Selamat siang, Pak Hendra," sapa Langit saat sudah sampai di meja pesanannya. Laki-laki itu mengulurkan tangan pada seorang pria paruh baya yang sudah duduk tenang di sana.


"Oh, Pak Langit rupanya." Hendra menerima jabatan tangan Langit dengan sangat ramah.


"Maaf karena membuat anda menunggu."


"Tidak masalah, lagipula saya juga baru sampai juga. Mari silahkan duduk." Hendra terlihat sangat ramah kepada Langit meskipun ini pertemuan pertama mereka.


Senja juga menjabat tangan Hendra, dia sudah mengenal baik pria itu. Hendra memang sangatlah baik dan ramah dengan semua orang, tidak heran jika dia mempunyai banyak rekan kerja.


Setelah itu, mereka bertiga berbicara dengan santai. Langit sangat senang bisa mengenal Hendra, dia ingin melakukan banyak kerja sama dengan pria itu. Beberapa projek baru juga mulai mereka bicarakan, baik Langit maupun Hendra juga menginginkan untuk melakukan kerja sama baru yang akan membuat perusahaan semakin maju kedepannya.

__ADS_1


Senja sendiri hanya mendengarkan percakapan dua laki-laki itu, tapi sesekali juga sedikit menyahut. Mendengar percakapan itu membuat besar harapan Senja agar kerja sama antara Hendra dan Langit berjalan dengan lancar, karena dengan seperti itu nanti dia akan mendapatkan bonus. Siapa yang tidak akan suka jika mendapatkan bonus? Siapapun orangnya pasti akan suka.


"Senang bisa berbincang banyak dengan anda, tapi sepertinya kita harus mengakhiri percakapan santai ini," ucap Hendra, "Setelah ini saya harus menghadiri rapat. Jadi, maaf jika saya harus pergi lebih dulu."


"Tidak masalah. Lagipula kita juga sudah berbicara banyak, kita juga bisa melanjutkan pembicaraan ini lain waktu. Saya juga senang karena Pak Hendra mau untuk meluangkan waktu istirahat untuk bertemu dengan saya." Langit tersenyum setelah mengatakan itu. Dia sudah sangat cukup berbincang banyak dengan Hendra.


"Baiklah kalau begitu, kita harus sering bertemu kalau begitu," ucap Hendra dengan kekehan di akhir kalimat.


"Tentu saja."


Setelah itu, Hendra menyalami Langit dan Senja bergantian. Kemudian pria paruh baya itu pergi meninggalkan tempat. Sepeninggal Hendra, rasa canggung tiba-tiba saja kembali menyerang Langit dan Senja.


"Kita balik kantor sekarang? Ini juga sudah melebihi jam istirahat," ucap Senja sopan.


Langit melihat jam tangannya sebentar, kemudian laki-laki itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Detik berikutnya, Langit langsung menoleh pada Senja. Hal itu membuat Senja merasa sangat bingung dan mengerutkan dahinya samar.


"Ba-baiklah."


Selesai mengatakan itu, Langit lebih dulu berdiri dari kursi. Laki-laki itu berjalan dengan santai sambil tersenyum, Senja yang menyadari hal itu merasa sangat aneh melihatnya. Entah apa yang saat ini ada di dalam pikiran Langit.


Saat sudah di luar restoran, Langit tidak menuju ke tempat parkir. Senja yang menyadari hal itu langsung menegur, "Tapi ini bukan arah untuk ke tempat parkir?"


Langit yang berjalan sedikit di depan langsung menoleh. "Iya, aku tau. Kamu hanya perlu untuk mengikutiku."


"Tapi ...."

__ADS_1


"Sudahlah. Ikut saja denganku."


Senja tidak tahu harus membantah seperti apa lagi, pada akhirnya dia hanya bisa menurut dan mengikuti langkah Langit. Jika sudah seperti ini, bisa dipastikan kalau pekerjaan Senja di kantor akan kembali menumpuk karena tidak dikerjakan.


"Aku tau kalau di dekat sini ada taman yang bagus. Aku ingin memperlihatkan pada kamu," ucap Langit pelan sambil berbalik menatap Senja.


Senja yang mendengar hal itu hanya mengangguk canggung, kemudian tersenyum. Sebenarnya tidak ada gunanya juga Langit mengajaknya ke sana, Senja akan merasa semakin gugup jika terus bersama laki-laki itu. Tapi saat ini Senja tidak bisa berbuat banyak, dia hanya menurut dan terus mengikuti langkah Langit.


Tak lama setelah itu, mereka akhirnya sampai juga di taman yang dimaksud oleh Langit. Senja akui memang taman itu sangatlah bagus, banyak berbagai bunga yang ditanam, berbeda dengan taman lainnya. Saat berada di sana, hati Senja seakan menghangat, sudah sangat lama dia tidak datang ke tempat seperti itu. Sejak memiliki anak, wanita itu melupakan untuk menikmati waktu bagi dirinya sendiri.


"Bagimana? Taman di sini sangat nyaman, kan?" tanya Langit. Laki-laki itu tersenyum tipis saat mengetahui kalau sebenarnya Senja sangat menyukai tempat itu.


"Ya, lumayan," jawab Senja apa adanya.


Tiba-tiba saja Langit langsung menggandeng tangan Senja, sontak saja hal itu membuat Senja merasa sangat terkejut. Akan tetapi, entah kenapa bibir dan tubuhnya enggan untuk memberontak, alhasil dia hanya menurut saja saat Langit terus mengajaknya berjalan. Ternyata dia menghentikan langkahnya di sebuah kursi taman yang menghadap langsung pada kolam buatan.


"Duduklah. Kita bersantai sebentar di sini," ucap Langit sambil melepaskan tangan Senja, kemudian duduk lebih dulu.


Senja masih bergeming, wanita itu sedikit ragu untuk duduk bersebelahan dengan Langit. Tetapi, pada akhirnya harus Langit lagi yang bertindak, laki-laki itu menarik tangan Senja lembut dan membuatnya terduduk di sampingnya.


"Sudah sangat lama kita tidak seperti ini. Apa kamu tidak merindukan momen seperti ini?" tanya Langit membuka pembicaraan. Laki-laki itu menoleh pada Senja, ternyata wanita itu hanya menatap lurus kedepan. "Apa kamu masih belum bisa melupakan kejadian enam tahun silam?"


Senja masih diam, wanita itu masih memikirkan jawaban yang tepat. Sampai akhirnya Senja menoleh pada Langit, lalu berkata, "Tanyakan pada semua wanita yang pernah mengalami hal yang sama seperti aku. Apa mereka bisa melupakan kejadian yang sangat menyakitkan itu? Mungkin saat ini aku sudah memaafkanmu sekarang. Tapi untuk melupakan? Maaf, karena sepertinya memori otakku ingin menyimpannya dalam waktu yang lama, entah kapan aku bisa melupakannya."


Langit terdiam, laki-laki itu merasa sangat bersalah. "Tolong maafkan aku, Senja. Tidak bisakah kita mulai ini dari awal?"

__ADS_1


"Entahlah, Langit."


...****************...


__ADS_2