SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 60. Kemarahan Langit.


__ADS_3

"Pelangi ...," teriak Langit lagi. Dia tidak akan memaafkan kedua orang tuanya jika mereka sampai menyakiti Pelangi.


Langit mencari keliling rumah itu, tapi Pelangi tidak juga tampak. Pria itu bertanya dengan pelayan. Mereka mengatakan jika anaknya tadi bersama Mami Angel.


Ketika Langit akan melangkah menuju kamar mami, terdengar teriakan dari lantas atas memanggil namanya. Langit melihat Pelangi.


"Papi ...," teriak Pelangi dari lantai atas. Lantai di mana kamar Langit berada. Pria itu langsung berlari menaiki tangga. Sampai dihadapan putrinya, Langit langsung memeluk erat Pelangi.


Langit sangat takut ada yang terjadi dengan putrinya itu. Saat ini Senja sedang hamil, dia tidak ingin istrinya itu menjadi kuatir jika Pelangi mengalami sesuatu.


"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Langit. Dia memperhatikan seluruh tubuh putrinya. Tidak ada tanda-tanda terjadi sesuatu pada putrinya itu.


Saat Langit masih memeluk putrinya, Mami keluar dari kamarnya. Pria itu tidak dapat menyembunyikan kemarahannya. Dia menatap mami dengan mata menyala.


"Sayang, kamu bisa tunggu Papi di bawah. Papi mau bicara dengan nenek," ucap Langit.

__ADS_1


"Baik, Pi. Nenek, aku ke bawah dulu," ujar Pelangi. Dia mendekati Mami dan menyalim tangan wanita paruh baya itu.


"Nenek temani kamu hingga turun ke lantai bawah, ya?" tanya Mami dengan penuh kelembutan.


"Nggak perlu, Mi. Pelangi bisa turun sendiri. Aku mau bicara dengan Mami."


Langit meminta Pelangi turun ke lantai bawah dan menunggunya di ruang keluarga. Pria itu berpesan agar putrinya berhati-hati. Setelah Langit melihat putrinya sedikit menjauh, dia mendekati Maminya.


"Apa maksud Mami menjemput Pelangi ke sekolah?" tanya Langit dengan penuh penekanan. Dia masih mencoba menahan amarahnya.


Mendengar ucapan Maminya, Langit tampak makin emosi. Dikepalkan tangan menahan emosi. Dia tidak percaya dengan apa yang Mami katakan. Bukankah kemarin mereka tidak mengakui kehadiran Pelangi.


"Tentu saja itu salah Nyonya besar Angel. Apa Nyonya lupa jika kemarin tidak mengakui kehadiran Pelangi. Mengatakan dia anak haram!" ucap Langit penuh penekanan. Dia masih menahan suaranya agar tidak di dengar Pelangi.


"Mami mengatakan semua itu karena belum mengetahui kebenaran tentangnya. Saat ini kami telah yakin dia cucu kami."

__ADS_1


Langit tampak tersenyum sinis. Apa yang telah dilakukan Papinya sehingga bisa yakin Pelangi adalah cucu mereka.


"Sekalipun dia darah dagingku, dan cucu Mami, bukan berarti bisa membawanya seenak hati. Pelangi itu sejak dalam kandungan hanya diurus dan dijaga Senja. Seharusnya sebelum membawa Pelangi pergi, Mami meminta izin Senja!"


Mami hanya diam saja. Dia telah mengetahui semuanya dari orang suruhan Papi Topan. Hanya satu yang masih tertutup rapat hingga kini, tentang Papi Topan yang ingin mencelakai Senja. Hanya Papi seorang yang tahu.


"Mami tidak bisa membawa Pelangi jika Mami belum bisa menerima Senja. Hingga usia lima tahun Senja menjaga Pelangi, mencari nafkah seorang diri buat kebutuhan Pelangi. Jadi yang paling berhak atas Pelangi itu adalah Senja. Aku saja tidak berani membawa Pelangi tanpa izin bundanya," ujar Langit. Dia menarik napas untuk meredakan emosi. Setelah itu Langit meneruskan ucapannya.


"Jika Senja tahu, anaknya dibawa pergi pasti akan menjadi pikiran bagi Senja. Aku tidak mau Mami membawa Pelangi lagi. Aku takut semua memengaruhi kehamilannya saat ini. Ada dua bayi dalam kandungannya. Jika terjadi sesuatu, aku tidak akan memaafkan Mami!" ucap Langit mulai emosi.


Mami tampak kaget mendengar ucapan Langit. Namun, setelah itu dia tampak tersenyum. Mami mendekati Langit.


"Apa benar Senja sedang hamil bayi kembar?" tanya Mami. Wajahnya tampak bahagia. Langit menjadi heran melihat perubahan sikap Mami yang sangat ceoat.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2