SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 46. Rumah Kecil


__ADS_3

Keadaan di meja makan seketika berubah menjadi canggung karena kedatangan Langit. Papanya Langit hanya diam, selera makannya hilang seketika karena putranya sendiri. Langit tidak peduli akan hal itu, dia tetap melanjutkan makannya sampai habis.


"Papi dan Mami tidak makan?" tanya Langit.


Dia menatap kedua orang tuanya.


"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan." Papanya Langit sepertinya sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan disampaikan oleh putranya.


Semua makanan yang ada di piringnya Langit sudah habis. Tangannya mengambil lap yang sengaja disediakan untuk setiap satu kursi. Tak lupa, Langit juga menghabiskan minumannya terlebih dulu.


"Mawar sudah aku jebloskan ke penjara barusan," kata Langit membuat kedua orang tuanya kaget.


Kedua mata Langit kini menatap ke arah papi dan maminya. Langit tampak senang bisa melihat mereka ketakutan.


Bukannya Langit mau menjadi anak durhaka. Dia hanya ingin menakuti Papi dan Maminya.


"Papi sama Mami tenang saja, aku tidak akan menjebloskan kalian ke dalam penjara juga," ucap Langit membuat maminya bernapas lega.


Sebenarnya Langit tidak berencana buat menakut-nakuti papi dan maminya. Langit hanya ingin tahu jika apa yang dilakukan oleh mereka berdua itu sudah sangat kelewatan dan keterlaluan. Sebagai anak, tentu saja rasa sayang Langit untuk papi dan maminya itu selalu ada. Hanya saja, Langit merasa lelah pada sikap mereka yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan.


"Aku sudah memaafkan Papi sama Mami atas kejadian yang menimpa Senja kemarin. Aku tahu, pasti ini semua idenya Mawar. Bukan murni ide kalian. Terlebih lagi, aku tidak ingin Senja semakin dibenci oleh kalian jika aku benar-benar menjebloskan kalian ke dalam penjara." Langit mengutarakan isi hatinya mengenai ini. "Untuk kali ini aku bisa memaafkan kalian, tapi tidak untuk lain kali," kata Langit tegas, tanpa bentakan tapi sangat menusuk di dada kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Langit hanya diam mematung bagaikan patung pajangan di meja makan. Terlebih untuk papanya Langit, hanya mengedipkan mata saja, sepertinya tidak bisa.


"Terima kasih untuk makanannya," kata Langit sebelum dia benar-benar pergi dari rumah orang tuanya.


Kabar mengenai ditangkapnya Mawar atas tuduhan pencemaran nama baik itu berhasil membuat kedua orang tua Langit terdiam. Tentu saja mereka takut jika Langit benar-benar tega ikut melaporkan mereka sebagai komplotannya Mawar, bisa hancur reputasi mereka berdua di dunia bisnis.

__ADS_1


***


Berhari-hari tinggal di rumahnya dokter Surya, membuat Langit jadi berpikir kalau dirinya tidak akan selamanya tinggal di rumah ini. Apalagi dia tidak sendiri, ada Senja dan Pelangi juga. Langit mulai berpikir, mungkin lebih baik dia membeli rumah kecil-kecilan saja yang bisa ditempati oleh mereka bertiga.


Berawal dari pemikiran itu, Langit jadi mewujudkan mimpinya. Berbekal dari uang tabungannya, Langit berhasil membeli rumah yang tidak terlalu besar. Rumah itu terdiri dari dua kamar tidur, dua kamar mandi ruang tamu, dapur dan di teras depan ada lahan untuk parkir mobil.


"Aku baru bisa membeli rumah begini untuk kita tinggal," kata Langit sambil merangkul bahu Senja. "Aku harap, semoga kamu betah ya."


Senja tersenyum kepada Langit, dia mengecup pipi kiri Langit sekilas. Membuat wajah lelaki itu memerah. Langit tahu, Senja tidak akan keberatan kalau mereka tinggal di sini untuk sementara.


"Aku tidak masalah, mau rumahnya besar atau kecil. Bahkan kalau kamu ngajak aku ngontrak juga, aku tidak masalah. Karena yang terpenting itu, aku berada di dalam rumah itu bersama kamu," balas Senja membuat Langit kembali tersipu.


Hanya kata-kata seperti barusan saja bisa membuat Langit klepek-klepek tak keruan. Mungkin karena yang mengatakannya itu Senja, perempuan yang dia cintai.


"Ya sudah, ayo kita masuk!" ajak Langit.


"Kamu suka?" tanya Langit.


"Aku suka, karena disinilah aku akan tinggal dengan lelakiku dan anak-anakku," balas Senja.


Untuk yang ke sekian kalinya, Senja membuat Langit tersipu bagai seorang remaja yang baru saja mengalami jatuh cinta. Karena barang bawaan yang harus mereka tata juga tidak banyak, jadilah mereka mengerjakannya berdua.


Beberapa petugas katering berdatangan untuk mengantar makanan. Di hari pertama Senja dan Langit pindah, mereka sengaja mengundang tetangga terdekat untuk melakukan syukuran. Tak lupa, Dokter Surya juga diundang.


Acara syukuran pun berlangsung dengan sangat khidmat. Untungnya, Langit dan Senja sudah perkenalan ke pihak kepala desa dan RT di hari kemarin, jadi hari ini tidak perlu lagi ke rumah petugas desa setempat.


"Selamat ya, akhirnya kalian bisa memiliki rumah sendiri. Kalau sudah begini 'kan, kalian tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi." Dokter Surya turut berbahagia melihat Langit bisa memberikan tempat berteduh untuk istri dan putrinya.

__ADS_1


"Terima kasih juga, selama ini Dokter sudah sangat baik kepada kami," balas Langit tulus.


Perbincangan mereka masih berlanjut. Keduanya kini sedang membahas tentang pekerjaan Langit yang baru. Langit bilang kalau dia betah bekerja di perusahaan itu. Dan hari ini, katanya pemimpin perusahaan itu sedang berhalangan datang. Jadi hanya perwakilannya saja tadi yang datang.


Dokter Surya pamit pulang, meninggalkan Langit, Senja dan Pelangi di rumah baru mereka. Pelangi sepertinya kelelahan, buktinya anak gadisnya Langit dan Senja itu sudah terlelap. Langit membawa Pelangi ke kamarnya. Sementara Langit, dia juga mengajak Senja beristirahat.


Kehidupan Senja dan Langit mungkin perlahan-lahan akan membaik. Karena sekarang Langit sudah bekerja di perusahaan milik temannya. Meski belum sebesar perusahaan papanya, tapi Langit bersyukur karena setidaknya dia memiliki tempat untuk mencari nafkah.


Pagi-pagi sekali, Senja sudah sibuk di dapur. Perempuan itu menyiapkan sarapan buat suami dan putrinya. Senja juga akan menyiapkan bekal makan siang untuk Langit. Dia ingin menjadi istri yang romantis buat suami tercinta.


"Kamu cantik banget pagi ini, Sayang," kata Langit sambil memeluk pinggang Senja yang sedang berada di dapur.


"Sayang, kamu jangan peluk-peluk aku begini dong. Aku bau bawang, nanti kemeja kamu ikutan bau bawang, Sayang." Senja mengingatkan kalau sekarang dirinya masih dalam kondisi bau bumbu.


"Aku tidak masalah," balas Langit.


Setelah memberikan satu kecupan di pipi Senja, Langit berjalan ke arah meja makan. Senja mengikutinya dan meletakkan sarapan untuk sang suami. Langit melihat ke sekitar tapi dia tidak menemukan Pelangi. Pasti putrinya itu masih terlelap di kamarnya. Jadilah mereka hanya sarapan berdua saja.


"Ini bekal makan siang kamu ya," kata Senja.


"Makasih, Sayang," balas Langit tulus.


Sarapan pun selesai. Senja mengantar Langit sampai depan rumah. Langit melambaikan tangannya ke arah istrinya sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil. Alasan Langit membeli rumah ini juga karena jarak dari rumah ke kantor itu tidak terlalu jauh, paling hanya menghabiskan waktu lima belas menit.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2