SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 64. Membujuk Papi


__ADS_3

Saat sampai di rumah, mami melihat papi yang sedang asyik menontoon televisi di ruang keluarga. Angel menghampiri suaminya itu. Duduk tepat di samping kanan Topan.


Topan memandangi istrinya dengan dahi berkerut. Wajah Angel selalu mengukir senyuman. Topan yakin ada sesuatu yang membuat mami begitu bahagia.


"Mami kelihatan sangat bahagia, apa yang membuat Mami begini?" tanya Papi.


Mami memeluk Papi dan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Papi melihat Mami dengan wajah keheranan. Tidak biasa istrinya bersikap manja begini.


"Kamu kenapa, Mi? Sikap kamu dari pulang tadi begitu mencurigakan," ujar Papi.


"Pi, apa kamu masih belum mau datang ke rumah Langit untuk minta maaf. Tadi mami ke sana. Suasana rumah itu hangat. Mami betah banget. Kalau saja tidak malu, ingin mami menginap. Senja itu menerima Mami dengan tangan terbuka. Langit memang tidak salah memilih pasangan."


Mendengar ucapan Mami, pandangan Papi menerawang. Entah apa yang dia pikirkan. Mami mengerti jika Papi Topan sebenarnya ingin dekat cucunya, tapi egonya masih besar untuk datang meminta maaf.


Papi merasa sebagai orang tua, anaklah ang harus datang memnta maaf. Padahal jika saja Papi mau menurunkan sedikit egonya, mungkin semua akan lebih baik.

__ADS_1


"Pi, Pelangi itu pintar, jika Papi dekat dengan bocah itu, rasanya menyenangkan. Dan perlu papi ketahui, saat ini Senja sedang hamil cucu kita lagi. Kalau menurut prediksi dokter kembar. Apa Papi tidak ingin melihat tawa dan tangis cucu kita nantinya?"


Papi Topan memandangi istrinya. Tersenyum getir. Dia telah mendengar dari orang suruhannya jika Senja sedang hamil saat ini. Melihat Pelangi, Papi jadi teringat jika dulu pernah ingin mencelakai bayi itu. Itulah salah satu alasan kenapa Papi belum bisa dekat dengan cucunya itu. Rasa bersalah pada dirinya akan makin besar saat melihat senyum bocah itu.


"Aku malu, Mi. Aku ...." Papi tidak bisa meneruskan ucapannya. Dia yakin istrinya itu akan terkejut jika mengetahui dirinya pernah mencoba ingin membunuh janin dalam kandungan Senja.


Mami menggenggam tangan suaminya. Dia bertekat akan membujuk Papi setiap hari sampai pria itu mau datang meminta maaf ke Langit dan Senja. Mami telah membayangkan masa tuanya akan dihabiskan dengan bermain bersama cucu-cucunya.


Mami yakin dalam hatinya, Papi juga ingin bermain dengan Pelangi. Buktinya, saat mengetahui Pelangi darah daging Langit, Papi sangat bahagia.


Tante Riri sudah merasa tidak tahan melihat kelakuan ponakannya Mawar. Setiap hari ada saja tingkatnya yang membuat Riri menjadi naik darah. Namun, dia selalu menahan amarahnya.


Tante Riri melihat Mawar mondar mandir di ruang keluarga sambil memperhatikan foto pernikahannya dengan Langit. Semua foto mereka masih terpasang di rumah. Mawar tidak mengizinkan untuk menurunkan semua itu.


Tante Riri ingin tahu apa yang saat ini ada dipikiran sang ponakan. Dia berjalan mendekati Mawar yang sedang menatap foto pernikahan mereka.

__ADS_1


"Kenapa dari tadi kamu menatap foto pernikahanmu itu?" tanya Tante Riri.


"Aku ingin kembali dengan Langit," jawab Mawar.


"Semua itu tidak mungkin Mawar. Kalian telah bercerai. Lebih baik kamu lupakan saja Langit dan memulai lembaran baru dengan mencari pasangan yang mencintai kamu dan menerima kamu apa adanya."


Mawar memnalikan badannya menghadap Tante Riri. Matanya menatap tajam ke arah wanita Itu. Tante Riri yang melihat tatapan Mawar menjadi sedikit merinding. Mawar sepertinya sudah sangat terobsesi dengan Langit.


"Aku tidak mau pria lain. Aku maunya Langit. Aku harus mendapatkan dia kembali!" ucap Mawar dengan penuh penekanan.


Setelah itu, Mawar berjalan menuju kamarnya. Dalam hati Tante Riri, dia berdoa semoga Mawar bisa sadar jika cintanya pada Langit itu bukanlah cinta, tapi obsesi. Semoga Mawar bisa melupakan Langit dan memulai lembaran baru.


Sementara itu, Mawar yang berada di dalam kamar bermaksud ingin mendatangi rumah mantan mertuanya.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2