SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 63. Permintaan Maaf Mami


__ADS_3

"Mami, silakan duduk!" ucap Senja lagi. Dia menarik napas menetralkan debaran jantungnya. Senja tidak mengira jika ibu mertuanya akan datang.


Senja menyalami tangan mertuanya lalu mencium. Setelah itu mempersilakan Mami duduk kembali. Senja juga meminta pelayannya membuatkan minuman dan membawa kue.


"Silakan minum, Mi. Hanya ada ini di rumah," ucap Senja. Segelas es sirup dan sepiring kue ada dihadapan mami. Tampak wanita paruh baya itu gugup. Senja telah bisa menguasai kegugupan.


"Langit belum pulang?" tanya Mami memulai perbincangan.


"Mungkin lagi di jalan atau sedang di sekolah Pelangi."


Mendengar Senja menyebut nama Pelangi membuat Mami teringat akan tujuannya datang ke rumah Langit. Mami telah bertekad akan meminta maaf pada Senja dan Langit. Wanita itu benar-benar telah jatuh cinta dengan Pelangi. Baru bertemu dan jalan bareng tiga hari lalu, tapi rasa kangennya telah membuncah.


"Senja, mami mau minta maaf karena pernah memisahkan kamu dan Langit. Saat itu, Langit masih muda. Kami tidak ingin dia asyik pacaran hingga melupakan sekolah. Langit satu-satunya anak kami sehingga harapan kami hanya ada padanya."


Mami menjeda ucapannya, mengingat saat dia memisahkan Langit dan Senja. Seandainya dia tahu ada bayi dalam kandungan Senja, mungkin akan berpikir untuk memisahkan.

__ADS_1


Sebagai seorang wanita, mami tahu bagaimana perasaan Senja yang harus hamil tanpa suami. Membesarkan bayi seorang diri.


Mami berdiri dan mendekati Senja. Duduk di samping menantunya itu. Mami meraih tangan Senja dan menggenggamnya.


"Mungkin tidak mudah bagi kamu untuk memaafkan kesalahan Mami, tapi mami akan menunggu sampai kapanpun kata maaf itu keluar dari mulutmu. Mami akan melakukan apa saja yang kamu mau, asal kamu memaafkan mami," ucap Mami dengan suara sendu.


Tanpa Senja dan Mami sadari, Langit telah pulang dan berdiri mendengar dan melihat apa yang mami lakukan. Langit meminta Pelangi untuk tutup mulut. Sebenarnya tadi Pelangi hampir saja berteriak memanggil neneknya.


"Mami, saat aku menerima Langit sebagai suamiku, saat itu sebenarnya aku telah memaafkan semuanya. Aku ikhlas dengan jalan takdir yang pernah aku jalani. Lagi pula semua bukan salah Mami. Jika aku menjadi Mami, aku juga akan berusaha mencarikan jodoh yang terbaik untuk anakku. Semua yang terjadi dalam hidupku, adalah kehendak darinya. Aku juga berdosa, karena melakukan hubungan sebelum nikah," ucap Senja.


"Terima kasih, Senja. Langit tidak salah memilih kamu menjadi istrinya. Kamu sangat baik. Wajah dan hatimu sama cantiknya."


Mami lalu memeluk Senja. Langit membiarkan Pelangi mendekati mereka. Bocah cilik itu ikutan memeluk tubuh bundanya. Mami Angel yang melihatnya, langsung tersenyum.


"Pelangi, kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Mami.

__ADS_1


"Sudah, Nek. Nenek kapan datangnya? Apa nenek kangen aku?" tanya bocah itu dengan polosnya.


"Iya, Sayang. Nenek kangen banget. Udah nggak tahan ingin mendengar ceriwisnya kamu!"


Mami Angel lalu memeluk Pelangi. Langit berjalan menuju sofa dan memilih duduk di seberang mami. Wanita paruh baya itu memandangi putranya. Langit memberikan senyuman terbaiknya.


Setelah berbincang sebentar, Langit pamit buat mandi sebelum mereka menyantap hidangan makan malam. Pelangi dimandikan mami Angel.


Makan malam kali ini tampak begitu nikmatnya. Baik mami maupun Pelangi makan dengan lahapnya.


Mami pulang saat jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Mami meminta izin pada Senja, untuk dapat mengunjungi mereka jika mami kangen. Dalam hati mami, dia akan mencoba membujuk Papi agar dapat meminta maaf dan ikut mengunjungi anak cucunya ini.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2