
Orang bilang darah itu lebih kental dari air. Tapi sering kali hanya air yang ada ketika kita butuh. Sementara darah entah ada di mana.
Lucu rasanya ketika ikatan darah itu tak lagi memiliki arti, jika nyatanya bersama orang asing jauh terasa lebih aman dan menyenangkan hati.
Nyeri di hati Langit tidak dapat digambarkan. Namun, pria itu sadar semua salahnya. Senja yang mengikuti Pelangi dari belakang, menghentikan langkahnya saat melihat Langit yang berada dihadapkannya.
"Langit ...," ucap Senja dengan lirih.
Langit juga terpaku melihat wajah Senja dari dekat. Tidak percaya akhirnya dapat bertemu kembali. Dengan perasaan yang sangat berbeda.
"Senja, maafkan aku ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Langit. Lidahnya terasa kelu. Tidak tahu harus berkata apa.
Senja juga hanya bisa diam terpaku. Tidak menjawab ucapan Langit. Keduanya tampak larut dalam pikiran masing-masing. Hingga keheningan itu dipecahkan oleh suara Pelangi.
"Bunda, Daddy mau ajak jalan-jalan," ucap Pelangi.
Senja mengalihkan pandangannya dari Langit dan tersenyum dengan putrinya. Dia juga mendekati Pelangi dan Dokter Surya. Wanita itu tampak bicara sebentar dan akhirnya Dokter Surya dan Pelangi pergi dari hadapan Senja dan Langit.
__ADS_1
Setelah Dokter Surya pergi sedikit menjauh, Senja mendekati Langit. Dia tersenyum pada pria yang masih bertahta dihatinya.
"Apa Kabar, Langit? Pasti ada hal penting yang membawa kamu sampai ke sini?" tanya Senja.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Kita bicara di taman yang dekat sini saja," ucap Senja.
Wanita itu berjalan tanpa memandangi Langit lagi. Dia melangkah diikuti Langit dibelakangnya. Pria itu juga tidak bisa berkata apa-apa. Dia saat ini sedang berpikir tentang apa yang akan dikatakan dengan Senja nanti.
Sampai di taman, Senja langsung duduk. Langit juga mengikutinya. Beberapa detik mereka hanya diam, tanpa ada yang bersuara.
Langit merubah duduknya menghadap ke Senja. Diraihnya tangan wanita itu. Langit menggenggam dan mengecupnya.
"Senja, aku tahu kata maaf yang aku ucapkan tidak akan cukup untuk mengobati luka yang telah aku torehkan. Namun, hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini. Jika saja aku bisa memutar waktu, pasti aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dan Pelangi." Mendengar nama Pelangi di sebut Langit, Senja menjadi kaget.
"Apa yang kamu ketahui mengenai Pelangi?" tanya Senja dengan suara datar.
Langit menarik napasnya. Lidahnya kembali terasa kelu. Pertanyaan Senja terdengar seperti pernyataan yang menohok ulu hatinya.
__ADS_1
"Aku tahu jika Pelangi itu ternyata putriku," ucap Langit pelan. Namun, suaranya masih dapat ditangkap oleh Senja. Wanita itu tampak tersenyum miring tanda tidak terima.
"Putrimu ..? Apa kamu yakin jika dia putrimu? Kemana kamu saat aku harus menanggung beban, hinaan dan cacian saat hamil tanpa suami? Kemana kamu saat aku kesakitan ketika akan melahirkan? Kemana kamu saat aku harus mencari nafkah sambil menjaganya? Kemana kamu ...."
Ucapan Senja terhenti karena Langit membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Langit dan Senja tidak dapat menahan air mata. Keduanya terisak menahan tangis.
"Aku tau kata maaf ini tidak'kan mampu menembus kesalahanku kemarin, namun aku tak akan putus ada untuk meminta maaf kepadamu sampai kamu memaafkanku. Maafkan aku bila aku telah banyak mengukir luka di hatimu, maaf pula jika aku telah banyak meneteskan air mata yang keluar dari matamu. Yang ku lakukan hanya bisa meminta maaf bila aku tidak bisa memahamimu, memahami keinginanmu. Tapi yang perlu kamu tahu, bahwa hanya kaulah yang ingin ku jadikan satu-satunya menjadi pendimping hidupmu, dan aku benar-benar menyayangimu," ucap Langit.
Dengan suara terbata Langit menceritakan semuanya. Jika dia di luar negeri juga tersiksa, tapi dia tidak bisa kembali karena paspor di tahan. Pria itu juga mengatakan pernikahannya karena ingin kembali ke Indonesia atas janji kedua orang tuanya.
Langit juga tidak lupa mengatakan jika saat ini dia telah menjatuhkan talak pada Mawar. Tidak lupa Langit mengatakan jika dia dan Mawar hanya menikah di atas kertas.
"Beri aku dan Pelangi waktu untuk dapat menerima kamu kembali, Langit. Terutama Pelangi karena dia hanya mengenal satu pria yaitu Dokter Surya. Beri waktu buat Pelangi untuk mengenal kamu terlebih dahulu. Lagi pula akta cerai kamu belum di tangan. Aku nggak mau ini akan jadi masalah. Kamu baru mentalak secara lisan."
Senja mengatakan semua yang harus dia jalani selama kehamilannya. Dokter Surya-lah yang selalu ada untuk membantunya. Senja harap Langit bisa memaklumi jika Pelangi dekat dengan pria Itu, karena hanya pria itu yang dikenalnya sebagai Daddy.
Langit akhirnya setuju dengan keputusan Senja untuk secara perlahan mendekati Pelangi. Setelah bicara dari hati ke hati selama dua jam, akhirnya Langit memutuskan kembali ke Villa tempat dia menginap dan akan datang lagi besok untuk mencoba mendekati putrinya secara pelan.
...****************...
__ADS_1