SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 70. Permintaan Maaf Papi


__ADS_3

Pagi minggu, seperti biasa Senja dan Langit menemani Pelangi bermain di taman. Saat sedang asyik bermain, asisten rumah tangga mengatakan jika ada tamu.


Langit dan Senja serta Pelangi meninggalkan taman belakang rumah, menemui tamu. Keduanya kaget saat melihat siapa yang datang.


Langit dan Senja duduk bersama kedua mertuanya di sofa ruang tamu mereka. Tampak semuanya gugup.


"Senja, apa kedatangan kami mengganggu," ucap Mami.


"Tidak, Mi. Aku bahkan senang mami dan Bapak bisa datang," ucap Senja sedikit gemetar. Dia tidak menyangka jika mertua laki-lakinya mau berkunjung.


Senja menatap ke arah kedua mertuanya yang juga melihat ke arahnya dengan tatapan menyesal. Tidak pernah terlintas dalam benak Senja, kalau Topan dan Angel akan memberikan tatapan yang seperti sekarang ini. Entahlah, Senja juga tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas bagaimana tatapan mereka tapi Senja tahu, ini tatapan yang belum pernah dia dapatkan dari kedua orang tua Langit.


"Papi minta maaf karena selama ini Papi sudah jahat dan banyak salah ke kamu, Senja. Maafkan atas semua kata-kata kasar yang keluar dari mulut Papi," kata Topan tulus dari hati. Ucapannya yang tiba-tiba itu membuat Senja dan Langit kaget.


Mendengar Topan meminta maaf kepadanya, membuat Senja tentu saja kaget. Bahkan Senja berulang kali mencubit lengannya sendiri secara diam-diam hanya untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar barusan memang terucap dari mulut papi mertuanya.


"Mami juga sekali lagi meminta maaf, karena dulu Mami sudah memandang kamu sebelah mata. Padahal Mami juga seorang perempuan, harusnya Mami lebih mengerti bagaimana perasaan kamu." Angel pun turut meminta maaf kepada menantu satu-satunya yang ternyata memiliki hati teramat baik tapi dulu pernah disia-siakan oleh Topan dan Angel.


Angel melakukan ini agar Papi tidak canggung meminta maaf. Jika Papi sendiri saja yang minta maaf, pastilah dia akan tambah canggung.


Senja menoleh ke arah Langit, seolah meminta pendapat dari suaminya mengenai sikap kedua orang tuanya. Tak lama, Langit pun menganggukkan kepalanya dan memberi isyarat kepada Senja untuk segera menerima permintaan maaf dari kedua orang tuanya seperti yang Senja inginkan.


Langit tahu Senja telah memaafkan kedua orang tuanya sebelum mereka meminta maaf.


"Aku sudah lama memaafkan Mami sama Pak Topan. Setelah aku menjadi ibu, aku paham bagaimana perasaan seorang ibu dan peran sebagai orang tua. Tentu saja menjadi orang tua itu tidak mudah dan pastinya menginginkan yang terbaik untuk buah hati mereka. Jadi, aku paham bagaimana perasaan Pak Topan sama Mami," sahut Senja yang juga tulus dari hati.

__ADS_1


"Tapi kamu beneran 'kan? Sudah memaafkan kami, terutama Papi?" tanya Topan kepada menantunya.


"Sudah kok," jawab Senja seraya menganggukkan kepalanya.


Topan senang mendengarnya, dia bersyukur karena Senja ternyata perempuan yang sangat baik. Topan saja selama ini yang terlalu takut kalau Senja akan menggerogoti hartanya kalau Senja bersama Langit. Angel juga ikut lega, akhirnya suaminya bisa berbaikan dengan menantunya itu.


"Kalau kamu sudah memaafkan Papi, harusnya kamu manggil Papi dengan Papi seperti kamu memanggil Mami. Biar lebih terasa kalau kamu memang sudah membuka hati untuk kami terutama papi," pinta Topan kepada Senja.


Senja pun menganggukkan kepalanya. Senja berusaha memanggil mereka berdua dengan sebutan yang mereka inginkan, tapi masih terasa sedikit kikuk karena memang belum terbiasa. Mungkin kalau Senja bicara dengan Langit, dia bisa dengan lancar mengucapkan mami dan papi. Namun kali ini, Senja berada di hadapan mereka secara langsung dan tidak sedang bicara berdua saja bersama Langit.


"Iya, Papi," ucap Senja masih belajar untuk terbiasa.


Topan dan Angel senang mendengarnya. Lega sudah rasanya karena Senja benar-benar meyakinkan mereka bahwa semua perseteruan mereka telah berlalu.


"Mulai sekarang, kamu tidak perlu sungkan lagi sama Papi. Sama halnya Papi memperlakukan Langit seorang putra, maka Papi akan menganggap kamu bagaikan putri Papi sendiri." Topan berkata dengan penuh ketulusan dari hati, membuat Senja merasa kalau dia seolah-olah mendapatkan energi baru yang sudah lama hilang dari tubuhnya. Entahlah, mendengar dirinya akan dianggap seperti seorang putri oleh Topan, membuat Senja senang bukan kepalang.


Rasa syukur terus terucap dari dalam hati Senja maupun Langit. Senja senang, akhirnya perseteruan antara Langit dan kedua orang tuanya juga berakhir. Senja tidak ingin menjadi alasan Langit dan kedua orang tuanya musuhan.


Sedari awal, memang hubungan seperti inilah yang Senja inginkan. Saling tertawa bersama dan berbaikan. Bukanlah perseteruan yang menguras emosi dan tenaga.


"Oh ya, kalian sudah membeli barang-barang untuk calon bayi kalian kalau lahir nanti?" tanya Topan kepada Senja dan Langit.


"Sebagian sudah ada yang kami beli, sebagian lagi ada yang dulu punyanya Pelangi, Pap," jawab Langit jujur apa adanya.


"Loh, punyanya Pelangi memang masih ada? Masih bisa dipakai? Masih bagus?" tanya Topan beruntun.

__ADS_1


Langit tersenyum, dia senang karena laki-laki yang dia panggil papi sedari kecil, menanyakan hal yang bahkan tidak berani dia bayangkan sebelumnya.


"Masih ada yang tersisa meski cuma sedikit, Pap. Masih bisa dipakai juga." Langit berusaha menenangkan papinya agar tidak heboh membahas mengenai perlengkapan bayi.


"Pokoknya nanti kalau semisal kalian butuh apa-apa, tinggal kontak Papi saja. Pasti akan Papi bantu, tidak usah takut tentang ini dan itu." Topan mewanti-wanti putra dan menantunya agar bisa mengandalkan dirinya sebagai orang tua.


Topan ingin menjadi orang tua yang lebih berguna untuk Langit dan Senja guna menebus kesalahannya yang sudah lalu. Walaupun Topan juga tidak yakin, apakah yang akan dia lakukan nanti bisa menebus kesalahannya atau tidak. Namun, yang namanya masa lalu akan tetap menjadi masa lalu, dan seseorang hidup untuk masa depan.


Bukan untuk terpaku di masa lalu. Walaupun sulit, antara Topan, Senja dan Langit tentu saja akan berusaha mengikhlaskan segala yang pernah terjadi karena waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi.


"Sebelumnya, aku mau bilang terima kasih sama Papi karena sudah menerima aku sebagai menantu di keluarga Papi," ucap Senja setelah semua orang diam sekian lama.


Topan pun tersenyum kepada Senja. Aura kebapakan dalam diri Topan seketika terlihat di mata Senja, dan ini tidak membuat Senja takut berhadapan dengan Topan. Berbeda dengan dulu, Senja pasti akan gemetar hebat setiap kali bertatap muka dengan Topan.


"Tidak perlu bilang begitu, lagi pula kalau harus ada yang bilang terima kasih di sini, Papi adalah orangnya. Karena kamu mau menerima Langit, laki-laki yang banyak sekali kekurangan. Bahkan Langit memiliki orang tua seperti Papi dan Mami." Topan pun mengingatkan Senja untuk tidak terlalu minder menjadi menantu di rumahnya.


Tangan Langit bergerak ke arah bahu Senja, dia mengusap-usap istrinya agar Senja bisa mencerna ini semua. Memang tidak mudah bagi Senja memaafkan orang lain yang statusnya sebagai mertuanya dan orang itu pula yang dulu sudah pernah berkata-kata tidak mengenakkan kepadanya.


"Oh ya, bagaimana kalau semisal kalian liburan berdua? Biar nanti Pelangi, Papi sama Mami yang jaga," ucap Topan memberi usul.


Senja menoleh ke arah Langit. Dari tatap matanya, Senja sepertinya sedang bertanya kepada suaminya.


"Kebetulan, kami memang besok mau liburan sekeluarga. Papi sama Mami mau ikut?" tanya Senja menawarkan.


"Tidak usah, kalian saja yang liburan." Topan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2