SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 49. Pelangi Darah Dagingku.


__ADS_3

Baik mami maupun papinya Langit sangat terkejut mendengar ucapan putranya. Bagaimana mungkin dia memiliki anak dari Senja. Bukankah Langit berada di luar negeri selama ini?


"Anak kandung dari mana? Selama ini kamu berada di luar negeri," ucap Papi Topan.


Langit tersenyum sinis ke arah orang tuanya. Mereka pasti akan menyangkal anak Senja ini adalah anak kandungnya. Namun, Langit tidak akan goyah. Tanpa tes DNA, dia yakin itu anaknya karena dia mengenal betul siapa Senja.


Langit sudah menduga jika orang tuanya pasti akan menyangkal kehadiran Pelangi. Itulah yang menjadi alasannya, kenapa Pelangi tidak pernah dikenalkan dengan mereka.


"Tentu saja anak kandungku dari Senja!"


Kedua orang tua Langit saling pandang. Tampak raut kurang suka dari wajahnya. Mami Langit berdiri dan mendekati putranya itu.


"Apakah kamu sangat mencintai Senja sehingga menjadi bodohnya? Kamu mengakui anak orang lain sebagai anak kandungmu. Itu hanyalah anak tiri. Jadi kamu jangan bodor hingga mengatakan pada semua orang anak kandungmu. Sama saja kamu menjelekan diri sendiri. Memiliki anak di luar nikah! Kamu sadar, sama saja kamu mengakui memiliki anak haram dari Senja" ucap Mama Angel.


Langit tampak kurang suka dengan ucapan Maminya. Sampai mengatakan putrinya anak haram. Yang salah di sini Langit. Dia yang membujuk Senja melakukan hal bodoh dulunya.

__ADS_1


Senja yang melihat ada sedikit kejanggalan dari tempatnya duduk, langsung berdiri dan mendekati. Betapa kagetnya wanita itu melihat siapa yang dihampiri suami dan putrinya.


Melihat kedatangan Senja, Papi Langit ikutan berdiri. Memandang sinis ke arah wanita itu. Senja hanya pura-pura tidak mengetahui. Dia mendekati Langit dan mengambil Pelangi dari gendongan suaminya itu.


"Aku bawa Pelangi. Aku tidak mau dia melihat dan mendengar sesuatu yang tidak pantas dia dengar."


Senja melangkah ingin menjauh dari Langit dan kedua orang tuanya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan dari Papi Langit yang begitu menyakitkan hatinya.


"Apa kamu ingin menaikkan kelas sosialmu dengan cara licik begini. Meminta Langit mengakui anak harammu sebagai anak kandungnya. Tidak hanya cukup membuat Langit bercerai dengan istrinya saja!" ucap Papi dengan penuh penekanan.


Wanita itu membalikkan badannya. Memandang dengan mata merah menahan amarah. Langit juga terbawa emosi. Saat Senja ingin bicara dia mencegahnya.


"Bawa saja Pelangi menjauh. Dia lapar. Ini biar jadi urusanku," ucap Langit. Dia mengusap lengan istrinya untuk menenangkan. Senja hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Dengar Pak Topan yang terhormat. Tidak ada anak haram di dunia ini. Semua sama sucinya. Itu anakku. Darah dagingku. Jika kalian tidak mau mengakui dirinya sebagai cucu, cukup begitu. Jangan kalian menghina anakku. Itu sama aja menginjak harga diriku!"

__ADS_1


Langit menarik napasnya. Dia sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Ucapan papinya sudah keterlaluan. Jika saja bukan orang tuanya yang mengucapkan itu, Langit sudah pasti akan memberikan bogem mentah ke wajah pria itu.


Langit kembali menarik napasnya. Dia tidak ingin melakukan hal yang akan disesali seumur hidup.


"Yang salah itu aku. Karena membujuk Senja melakukan hubungan terlarang saat kami masih sekolah. Sudah cukup penderitaan Senja selama ini. Hamil dan membesarkan anakku seorang diri. Jangan kalian tambah penderitaannya dengan kata-kata yang menyakitkan. Jika memang tidak suka. Cukup bicara denganku. Semua salahku!" ucap Langit


Papi juga mulai tampak emosi. Mami Angel mendekati suaminya. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Beruntung mereka berada di ruang VIP, hanya ada sedikit pengunjung di sana.


"Makan saja cintamu pada wanita itu. Sampai kapanpun tidak pernah aku mau memiliki menantu dan cucu dari wanita itu. Apa lagi belum tahu kepastiannya. Aku bukan kamu yang bisa dibodohi wanita itu!" ucap Papi.


"Jika Papi tidak bisa menerima Senja dan Pelangi, maaf, aku juga tidak akan pernah kembali. Dia darah dagingku. Tidak akan aku biarkan telantar!"


Setelah mengucapkan itu, Langit beranjak pergi dari tempat kedua orang tuanya berdiri.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2