SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 47. Ulang Tahun Senja.


__ADS_3

Langit bekerja dengan semangat karena dia harus buktikan pada temannya jika dia bisa dipercaya memimpin perusahaan. Dani, teman Langit akan memberi sebagian saham perusahaan jika pria itu mampu mengembangkan perusahaan miliknya.


Perusahaan itu baru dibangun Dani. Dia percaya dengan kemampuan Langit. Lagi pula pria itu telah banyak mengenal pengusaha terkenal yang bisa diajak kerjasama.


Telah dua minggu, sejak Mawar dipenjarakan. Langit hanya sekali datang sebagai saksi. Setelah itu, dia tidak tahu perkembangan kasusnya. Pria itu sedang konsentrasi dengan pekerjaan dan proses cerai. Pengacara Langit mengatakan jika proses cerainya akan lebih cepat. Satu minggu lagi akta cerai keluar.


Hari ini Langit sengaja pulang lebih awal. Dia berencana mengajak Senja, istrinya makan malam merayakan ulang tahun wanita yang paling dia cintai itu.


Tepat jam lima sore, Langit baru saja sampai di rumah. Dengan kunci yang dia bawa Langit masuk dengan membawa kotak berisi kue tar. Sebuket bunga dan di dalam buket itu terdapat satu kotak berisi cincin.


Ketika masuk, Pelangi yang melihat Langit ingin berteriak memanggil Papinya, tapi Langit langsung melarang dengan isyarat. Pria itu mendekati putrinya.


"Bunda mana?" tanya Langit dengan suara pelan.


Pelangi menunjuk ke dapur. Langit lalu membuka kotak kue. Mengeluarkan kue tar yang bertuliskan nama Senja. Melihat ada kue, Pelangi langsung melompat kegirangan.


"Hore, siapa yang ulang tahun, Papi?" tanya bocah kecil itu sambil melompat. Senja yang mendengar suara teriakan Pelangi langsung menuju ruang keluarga. Wanita itu takut terjadi sesuatu dengan putrinya.


Senja melihat Langit yang membawa kue. Lalu wanita tersenyum. Mendekati Langit dan putrinya.

__ADS_1


"Kamu mau buat kejutan ulang tahunku, Sayang?" tanya Senja. Wanita itu memeluk pinggang suaminya.


"Rencananya buat kejutan sih, tapi Pelangi pakai acara teriakan segala. Kamu jadi tahu'kan!" ucap Langit dengan wajah cemberut. Senja makin tersenyum melihat suaminya.


Pelangi hanya memandangi kedua orang tuanya dengan wajah yang penuh tanda tanya. Mendekati Langit. Saat ini hubungan Pelangi dan Langit sudah makin membaik. Anak dan ayah itu telah akrab .


Setiap malam pun, Pelangi akan tertidur jika Langit telah membacakan dongeng. Bocah cilik itu juga akan makan dengan lahap kalau Langit yang suapi.


"Papi, itu kue ulang tahun siapa? Untuk aku?" tanya Pelangi dengan menarik tangan Langit.


Senja menganggukan kepalanya. Langit pun ikut menjawab dengan anggukan. Wanita itu tersenyum melihat wajah suaminya yang kusut karena kejutannya tidak berhasil.


"Terima kasih, Sayang. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Ini ulang tahun terindah yang pernah aku rasakan. Di usia aku yang memasuki 25 tahun, aku merasa hidupku ini telah begitu sempurna. Ada kamu dan Pelangi dalam hidup ini."


Langit makin merapatkan tubuhnya. Memeluk pinggang istrinya. Lalu mengecup dahi wanita yang paling dia cintai itu.


"Biasanya, pada hari ulang tahun, orang akan memberikan begitu banyak harapan. Namun, di hari ulang tahunmu, aku hanya akan mengucapkan dua kata, yaitu tidak pernah dan selalu. Istriku, aku mohon untuk selalu berada di sisiku dan jangan pernah tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu. Selamat ulang tahun. Aku mencintaimu karena kamu memiliki hati yang begitu tulus. Kesabaranmu tidak terbatas dan kamu berikan untuk pria yang tidak sempurna seperti aku. Aku beruntung memilikimu. Selamat ulang tahun, istriku," ucap Langit kembali mengecup dahi Senja.


Setelah mengecup dahi Senja, Langit lalu mengecup bibir wanita itu. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi menuntut. Pria itu melu*mat bibir istrinya. Luma*tan itu berhenti saat mendengar teriakan dari Pelangi.

__ADS_1


"Papi jahat," teriak Pelangi sambil menangis.


Langit mendekati putrinya. Mencoba bertanya, kenapa anak itu menangis. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Langit dan menggendong putrinya.


"Kenapa Papi makan bibir Bunda?" tanya Pelangi lagi. Pertanyaan bocah itu membuat Langit dan Senja saling pandang dan tertawa.


Barulah kedua orang tua Pelangi itu paham apa yang ditangisi anak mereka. Ternyata dia mengira kalau Langit menggigit bibir Senja. Setelah mengerti Senja dan Langit berusaha membujuk Pelangi.


"Sayang kita makan malam di luar. Kamu nggak perlu masak. Berdandan yang cantik saja," ucap Langit.


Langit ingin membawa Senja dan Pelangi ke restoran langganan keluarganya. Makanan di sana begitu enaknya, sesuai selera Langit. Dia juga akan memberikan buket dengan cincin di restoran nantinya.


'


***


Di tempat lain, kedua orang tua Langit juga akan pergi makan malam berdua ke restoran langganan mereka. Merayakan hari pernikahan mereka.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2