
"Bunda, Papi, ayo! Cepetan!" seru Pelangi dari dalam mobil.
Sesuai janji Langit dan Senja kemarin kalau hari ini mereka akan melakukan liburan keluarga bersama-sama. Hanya mereka berlima. Benar, calon bayi yang dikandung oleh Senja pun dihitung dua. Maka dari itu, mereka akan liburan berlima saja. Kemarin Langit juga sudah mengajak Topan dan Angel, tapi mereka bersikeras tidak mau ikut dengan alasan kalau mereka tidak ingin mengganggu kebersamaan keluarga Langit dan Senja.
"Sebentar, Sayang!" seru Langit dari dalam rumah.
Di dalam mobilnya, Pelangi sudah kesal karena kedua orang tuanya sangat lama. Itu menurut Pelangi tentunya. Namun, tanpa Pelangi tahu, saat ini Senja dan Langit sedang mempersiapkan makanan ringan buat Pelangi untuk bekal mereka di perjalanan nanti.
Lebih baik membawa bekal sendiri ketimbang nanti Pelangi rewel di jalan dan malah membuat perjalanan terganggu. Itulah yang ada di dalam pikiran Senja.
"Papi, nanti keburu siang!" teriak Pelangi lagi.
Tidak sampai tiga puluh detik usai teriakan Pelangi, Langit sudah keluar dari dalam rumah sambil membawa box berisi persediaan makanan buat mereka semua. Tak beda jauh dengan Senja, ibu hamil itu berjalan di belakang Langit sambil membawa satu botol besar berisi air putih.
Setelah box sudah dimasukkan ke dalam mobil, Langit pun ikut masuk. Tentunya dia akan menjadi sopir untuk keluarganya sendiri. Sesuai keinginan Pelangi, mereka hari ini akan pergi ke puncak karena Pelangi merengek ingin melihat deretan pohon cemara di sisi kanan dan kiri jalan.
Apa boleh buat? Langit dan Senja tentu akan menurutinya. Walaupun Langit sedikit khawatir akan kondisi Senja, takut kalau istrinya mabuk karena kondisi jalanan yang berkelok-kelok. Namun Senja mengatakan, kalau dia akan mencoba kuat demi putri mereka.
"Kita berangkat sekarang!" seru Langit agar Pelangi tidak cemberut lagi.
Jalanan menuju puncak itu sudah sangat dihapal oleh Langit. Terlebih dulu Senja juga sudah pernah tinggal di Puncak ketika Senja menginap di villa milik dokter Surya. Jadi perjalanan mereka kali ini, tidak akan ada hambatan. Itulah yang mereka harapkan, semoga saja.
__ADS_1
Selama berjam-jam, mobil dipenuhi oleh suara musik yang ceria. Banyaknya lagu anak-anak agar suasana anak-anaknya lebih terasa. Pelangi tampak bahagia sepanjang jalan. Bibirnya tidak berhenti ikut menyanyikan lirik lagu yang diputar.
"Papi, bisa tolong matikan lagunya nggak?" tanya Pelangi, tapi sebenarnya dia berharap jika Langit akan mematikan lagunya.
"Memangnya kenapa, Sayang? Kamu bosan sama lagunya?" tanya Senja.
Pelangi menggelengkan kepalanya sambil menatap Senja yang menoleh ke arahnya sekilas. "Ini sudah ada pohon cemara, Bunda," kata Pelangi.
Langit pun segera mematikan lagunya. Di saat itu, Pelangi segera menyanyikan lagu Naik-Naik Ke Puncak Gunung seraya menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Senja dan Langit pun tidak mengira jika putrinya akan seperti ini.
"Kiri kanan, kulihat saja, banyak pohon cemara ...," nyanyi mereka bertiga bersama-sama.
Langit dan Senja ingin meninggalkan kesan baik buat Pelangi. Jadi mereka memilih ikut bernyanyi agar memori dalam otak Pelangi mengenai hubungan keluarganya saat kecil, itu hanya diisi dengan hal-hal baik.
Tak selang berapa lama, Langit membelokkan mobilnya ke sebuah villa sisi jalan yang dekat dengan beberapa kafe, tempat oleh-oleh, kios buah dan tentunya itu tempat strategis untuk menuju ke wisata satu ke yang lainnya. Langit segera mengajak keluarganya turun, dia menemui pengurus villa dan langsung diberikan kunci villa karena memang Langit sudah pesan dari kemarin dan sudah memberikan pembayaran di awal.
Langit memindahkan semua barang-barang mereka sendirian ke dalam villa. Sedangkan Senja dan Pelangi, mereka memilih menikmati kebun bunga yang ada di belakang villa. Langit memang sengaja tidak memperbolehkan istri dan putrinya membantunya karena Langit tidak ingin melihat mereka kelelahan.
Mereka akan berlibur di sana selama tiga hari. Langit sudah mendapatkan izin dari atasannya untuk melakukan liburan bersama keluarga. Untuk Senja sendiri, dia tidak terlalu sulit mendapatkan izin dari guru di sekolahnya.
Hari semakin malam, cuaca semakin terasa menusuk ke tulang. Mereka sama-sama memakai pakaian tebal untuk menghangatkan tubuh mereka. Dibantu oleh pihak pengelola villa, keluarga kecil Langit akan mengadakan pesta makan sate ayam.
__ADS_1
Senja sudah bilang dari kemarin, dia ingin makan sate yang ada di puncak. Karena tidak tega akan istrinya yang sedang mengidam, tentu saja Langit akan menuruti keinginan sang istri tercinta.
"Memangnya papi bisa bakar sate ayam, Pi?" tanya Pelangi yang melihat Langit sedikit kesulitan.
"Bisa dong, Sayang," sahut Langit yang sedang mengipasi sate ayam.
Saat ini, mereka sedang mengelilingi bara api untuk membakar sate ayam. Hitung-hitung sebagai penghangat alami untuk mereka agar tidak terlalu dingin. Karena posisinya mereka berada di luar. Namanya juga bakar-bakaran, tidak mungkin ada di dalam ruangan.
"Kamu coba deh, pasti enak." Senja memberikan satu tusuk sate kepada Pelangi agar putrinya itu mau mencoba.
Pelangi awalnya tidak mau, karena tidak yakin buatan Langit enak dimakan. Namun akhirnya, Pelangi juga mau mencoba dan bilang kalau itu rasanya enak. Mereka jadi menghabiskan malam itu untuk menyantap sate ayam beserta lontong yang juga disiapkan oleh pihak pengelola villa.
Setelah semua sate dibakar, Langit membantu putrinya main ayunan. Di samping villa itu memang ada tempat permainan anak dan salah satunya ayunan. Pelangi tertawa bersama Langit. Bahkan gadis kecil itu juga berlari ke arah Senja kalau makanannya habis.
Kemudian ke arah Langit lagi jika ingin main ayunan. Terus seperti itu sampai beberapa kali. Hingga akhirnya Langit merasa lelah dan membiarkan Pelangi main ayunan sendirian. Lagi pula, posisi ayunan tadi juga ada di depan karpet tebal yang digelar di sana.
"Bahagianya aku, memiliki putri secantik, sesehat, seceria dan sepandai Pelangi," gumam Langit seraya merangkul bahu Senja untuk menyalurkan rasa hangat antara dirinya untuk sang istri.
"Aku juga nggak nyangka, kita akan melewati malam ini di sini. Bahkan dulu, aku tidak berani memimpikan untuk menghabiskan hari-hari bersama kamu," balas Senja.
Perempuan itu merebahkan kepalanya ke bahu suaminya. Sepasang suami istri yang sebentar lagi akan dikaruniai buah hati kedua itu, sama-sama tersenyum melihat keceriaan dan kebahagiaan yang melanda mereka di hari ini dan hari-hari sebelumnya.
__ADS_1
...****************...