SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 37. Panggil Papi Langit.


__ADS_3

Pelangi berjalan dengan malas karena matanya yang masih mengantuk. Saat melihat ada dokter Surya, matanya langsung terbuka lebar dan menjadi semangat. Gadis cilik itu langsung berlari ke arah Surya.


"Daddy ...," ucap Pelangi dengan berteriak.


Surya yang melihat Pelangi berlari langsung mendekati bocah itu dan menggendongnya. Pelangi lalu mengecup kedua pipi pria itu. Langit hanya melihatnya dengan perasaan sedih.


Luka tidak berdarah. Itu yang saat ini dirasakan Langit. Anak kandungnya lebih menyayangi pria lain. Namun, Langit tidak bisa menyalahkan Pelangi atau Senja. Semua salah dirinya. Jika saja dia tidak pergi meninggalkan Senja, tentu putrinya itu tumbuh dan besar bersama dirinya.


Senja yang ingin mengangkat satu tas, beradu pandang dengan Langit. Dia melihat mata Langit yang berkaca melihat keakraban Pelangi dan Surya. Wanita itu mengerti dan bisa memahami apa yang dirasakan Langit.


Surya membawa satu tas dengan tetap menggendong Pelangi. Langit mendekati Senja dan mengambil alih tas yang dibawa Senja.


"Maafkan Pelangi. Dia tidak bermaksud membuat kamu sedih. Anak itu belum mengerti atas sikapnya itu," ucap Senja pelan, tidak ingin di dengar Pelangi dan Surya.


"Tidak apa, Senja. Itu bukan salah Pelangi. Semua salahku. Jika saja aku tidak meninggalkan kamu, tentu saja perasaan Pelangi padaku lebih kuat. Lebih sayang denganku."


Senja tersenyum menanggapi ucapan Langit. Tidak dipungkiri jika hingga saat ini, dirinya masih mengingat semua yang dia jalani sejak hamil hingga melahirkan.


Sampai di halaman Villa, sebelum masuk ke mobil, langkahnya terhenti. Dia memandangi Pelangi yang berada digendongannya.


"Pelangiku, kamu mau ikut dengan mobil Daddy atau Papi Langit?" tanya Dokter Surya.

__ADS_1


Pelangi memandangi Surya dengan dahi berkerut dan bibir yang manyun. Dia berpikir jika pria itu salah bicara.


"Daddy, itu bukan Papiku. Dia Om Langit," ucap Pelangi.


Mendengar ucapan Pelangi, Surya dan Senja saling pandang. Kemudian keduanya serempak memandang ke arah Langit. Pria itu hanya membalas dengan senyuman. Hatinya terasa sangat nyeri saat Pelangi hanya memanggilnya Om.


"Kamu sudah memiliki Daddy. Nggak ada salahnya kamu memanggil Papi. Karena Langit itu Papinya Pelangi juga," ujar Surya.


Pelangi masih belum bisa menerima ucapan Surya, dia lalu memandangi Senja. Berharap jawaban Senja bisa diterima pikirannya.


"Bunda, kenapa aku harus memanggil Papi Langit?" tanya Pelangi dengan suara cadel khas anak-anak.


Senja berjalan mendwkati Pelangi, berdiri tepat di samping Dokter Surya. Mencoba membari pengertian pada putrinya itu.


"Aku mau Papi seperti teman-temanku. Yang tinggal bareng."


Langit berjalan mendekati putrinya saat Pelangi mengatakan hal itu. Ini kesempatan baginya. Itu yang terpikirkan dalam otaknya.


"Kalau memang kamu ingin Papi tinggal serumah denganmu, akan Papi lakukan. Jadi kamu mulai saat ini harus panggil Papi."


Pelangi hanya diam tidak menanggapi ucapan Langit. Dia masih belum bisa buat mengerti.

__ADS_1


"Sekarang Daddy mau tanya. Kamu mau ikut dengan Daddy atau Papi Langit?" Dokter Surya sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Aku ikut Daddy aja."


"Kalau begitu, mari kita masuk ke mobil lagi. Nanti keburu malam di jalan."


"Aku mau Bunda juga ikut di mobil Daddy," ucap Pelangi. Semua kaget mendengar ucapan bocah itu, karena berpikir salah satu dari Pelangi atau Senja yang aman menemani Langit.


"Sayang, Bunda harus ikut ke mobil Papi untuk menemani Papi," ucap Senja.


"Aku maunya Bunda ikut ke mobil Daddy Surya. Tidak boleh ke mobil Om Langit!" ucap Pelangi.


Langit yang mengerti posisi Senja, mendekati wanita itu. Ikutlah ke mobil Surya. Nanti Pelangi menangis kalau tidak ada kamu. Aku tidak apa sendirian," ucap Langit meyakinkan Senja.


Dengan langkah ragu, Senja masuk ke mobil Surya. Perlahan mobil berjalan meninggalkan halaman Villa.


Cinta seorang ayah akan selalu tersembunyi di dalam hatinya dan senyumannya.Terkadang, dalam bersedih, ayah lebih banyak diam karena memang tak pandai untuk menangis. Maafkan ayah karena tak bisa seperti ayah teman-temanmu yang lain. Akan tetapi, ayah berjanji untuk memberikan segala yang terbaik yang bisa ayah persembahkan, sebelum ayah beranjak pergi.


Kasih sayang ibu memang sangat terlihat jelas dan sering dia ungkapkan. Namun, berbeda dengan ayah. Sosok pria yang mungkin jarang bicara membahas kasih sayang. Pria yang jarang mengutarakan cintanya kepada sang anak secara langsung.


Akan tetapi hatinya lembut dan penuh dengan kasih sayang.Ayah jugalah orang yang akan maju pertama kali ketika kamu dilukai orang lain. Dia tak akan mampu melihat air matamu itu menetes. Meski matanya tak pernah menangis, tapi hatinya akan hancur jika kamu terluka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2