SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 50. Jangan Menangis Senja!


__ADS_3

Langit berjalan tergesa menuju meja pesanannya. Tampak Senja menyuapi Pelang, dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya. Langit berdiri di samping istrinya itu. Mencium mata yang basah itu.


"Jangan menangis. Aku merasa sangat bersalah kalau begini," ucap Langit sambil menghapus air mata istrinya.


Pelangi menatap ibunya. Dia juga ikut menghapus air mata Senja yang jatuh membasahi pipi. Bocah itu memeluk erat Senja. Dari kecil dia sering melihat bundanya itu menangis. Mungkin bukan pemandangan asing lagi bagi Pelangi.


"Kenapa Bunda menangis lagi? Kata Bunda tidak akan menangis lagi karena ada Papi," ucap Pelangi dengan pokoknya. Senja memang pernah berkata jika dia tidak akan pernah menangis lagi karena ada Papi di antara mereka.


Langit yang tidak mau putrinya juga ikut sedih, mengambil bocah itu dari pangkuan Pelangi. Pria itu menggendongnya.


"Dengar, Sayang. Bunda tidak akan pernah menangis lagi. Betul yang bunda katakan itu, karena sekarang ada Papi. Bunda menangis karena senang. Melihat putri Papi sudah besar dan makin cantik," ucap Langit.


Langit mengambil buket bunga yang telah dia siapkan. Lalu memberikan pada Senja. "Coba kamu periksa buket bunga ini. Ada hadiah buat wanita paling sabar dan paling baik sedunia."

__ADS_1


Senja berusaha tersenyum. Dia merasa memang tidak seharusnya menangis dihadapkan Pelangi. Apa lagi Langit telah berusaha membuatnya bahagia. Kenapa dia mengecewakan pria itu dengan merusak kejutan darinya?


Senja mencari kotak yang Langit katakan di dalam buket bunga. Dia mendapati kotak perhiasan. Senja membukanya. Terdapat cincin dan gelang yang bertabur berlian. Bisa Senja pastikan harganya tidaklah murah.


"Kenapa membeli hadiah mahal seperti ini?" tanya Senja. Dia merasa Langit hanya buang-buang uang saja.


"Itu belum seberapa untuk wanita paling berharga dalam hidupku."


Senja berdiri dari duduknya. Wanita itu memeluk Langit dan Pelangi yang berada dipangkuan suaminya itu. Wanita itu merasa bahagia karena Langit begitu mencintainya.


Ketika akan keluar dari ruangan itu, mereka melewati meja kedua orang tua Langit. Tampak Papi dan Mami Langit memandangi putranya. Langit hanya pura-pura tidak melihat dengan tetap menggendong Pelangi.


Setelah Langit dan Senja keluar dan menghilang dari pandangannya, tampak mami menarik napas. Memandangi Papi dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Apa itu memang cucu kita, Pi? Anak kandung Langit," ucap Mami dengan lirih.


Mami Angel masih ingat saat orang suruhannya melaporkan jika Langit berpacaran dengan salah satu gadis kampung. Mami minta orang itu mengikuti Langit. Dia juga mendapat laporan jika putranya itu beberapa kali ke hotel bareng kekasihnya. Itu berarti mereka melakukan hubungan.


"Bukankah Papi pernah mendapatkan laporan jika Langit dan Senja pernah menginap? Bukan hanya sekali'kan?" tanya Mami.


Papi tampak terdiam. Entah apa yang ada dipikiran pria paruh baya itu. Dia bukannya tidak tahu mengenai itu. Karena itulah Papi pernah meminta seseorang menabrak Senja setelah orang suruhannya melapor jika Senja membeli tespek. Orang suruhannya juga menguping saat Senja diusir ayah tirinya.


Topan berharap saat kecelakaan, Senja mengalami keguguran. Jika memang itu putri kandungnya Langit, berarti dia selamat saat Senja mengalami kecelakaan.


"Aku tidak bisa percaya begitu saja. Aku akan minta seseorang untuk menyelidiki ini dulu. Sekalian minta orang itu untuk mendapatkan tes DNA," ucap Papi Topan.


Dia berencana meminta seseorang untuk mendapatkan rambut Pelangi untuk tes DNA.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2