
"Aku haus," kata Mawar sambil menghentikan mobilnya di sisi jalan, tepat di depan pedagang kaki lima yang menjual minuman.
Tanpa turun, Mawar memesan minuman itu dari balik jendela mobilnya. Untungnya dia tidak harus mengantre terlalu lama. Jadi Mawar langsung mendapatkan minuman pesanannya.
"Kembaliannya buat Bapak saja, saya malas menunggu terlalu lama," kata Mawar usai memberikan selembar uang berwarna merah kepada pedagang kaki lima tadi.
Mawar pergi dari sana, dia bahkan tidak sampai mendengar pedagang tadi menyelesaikan kata-kata terima kasihnya. Mawar meminum minumannya karena memang tenggorokannya sudah sangat haus.
"Enak juga ternyata," kata Mawar usai meminumnya sampai habis setengah.
Agenda Mawar hari ini setelah bertemu dengan pemimpin anak buahnya, dia akan berkeliling kota. Perempuan itu sedang mencari inspirasi tentang bagaimana caranya dia bisa mencelakai Senja.
"Apa yang harus aku rencanakan untuk menyingkirkan wanita itu tanpa membunuh?" tanya Mawar seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke setir yang sedang dia pegang. Sambil menoleh ke sisi kanan dan kiri, Mawar terus mencari ide yang tepat buat keinginannya menyingkirkan Senja.
"Kalau aku tidak bisa memiliki Langit, maka dia juga tidak boleh mendapatkan Langit," kata Mawar lagi.
Kepergian Mawar kali ini tidak ada tujuannya. Dia hanya berkeliling bagai orang kebingungan. Mungkin memang Mawar sedang bingung karena Langit dan Senja.
"Kenapa otakku tidak mau diajak berpikir?" gumam Mawar penuh tanda tanya.
Ketika Mawar melihat beberapa karyawan toko di sisi jalan sedang melayani pembeli, Mawar tiba-tiba mendapatkan ide mengenai cara memisahkan Langit dan Senja.
"Sepertinya ini bukanlah ide yang buruk," ucap Mawar.
Tangan kiri Mawar bergerak mencari keberadaan ponselnya. Dia menekan salah satu nomor yang ada di dalam kontaknya. Mawar yakin, orang yang akan dia hubungi itu tidak akan menolak ajakannya buat bertemu.
"Hallo, Papi punya waktu? Aku ingin mengajak Papi makan siang bersama," kata Mawar.
"Boleh. Kebetulan Papi juga belum ada agenda buat makan siang," jawab orang di seberang.
__ADS_1
"Ya sudah, aku tunggu di restoran yang aku kirimkan nanti ya, Pi. See you." Mawar langsung menutup sambungan teleponnya.
Mawar yang mulanya berkendara tanpa tujuan, kini dia jadi putar arah. Perempuan itu akan memilih restoran Jepang buat makan siang bersama laki-laki yang sempat menjadi papi mertuanya. Tepat sekali, laki-laki yang dipanggil papi oleh Mawar tadi itu sebenarnya papinya Langit. Mawar akan bertemu dengan mantan papa mertuanya.
Sambil mengenakan kacamata hitamnya, Mawar keluar dari mobil. Dia sudah sampai di depan sebuah restoran formal yang menyediakan japanese food. Perempuan itu langsung reservasi tempat yang tertutup.
Mawar akan menunggu mantan papi mertuanya di dalam ruangan saja.
Segala jenis hidangan mahal sudah Mawar pesan guna menjamu papinya Langit. Tidak sampai setengah jam Mawar menunggu, papanya Langit akhirnya tiba dengan diantar oleh salah satu pelayan restoran.
"Bagaimana kabar Papi? Sehat?" tanya Mawar berbasa-basi.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, Papi sehat," jawab laki-laki itu seraya merentangkan kedua tangannya.
Di tengah-tengah mereka, sudah ada beberapa hidangan. Kebanyakannya itu makanan mentah yang akan dinikmati bersama saus khusus. Mawar mempersilakan papinya Langit buat makan. Begitu pula laki-laki paruh baya itu juga mengajak Mawar mulai menyantap hidangannya.
"Aku masih belum rela pisah sama Langit, Pi. Aku ingin kembali lagi sama Langit, tapi perempuan itu malah menjadi penghalang buat hubungan kami." Mawar mulai bercerita, tentu saja dia dengan sengaja mendramatisir kisahnya agar terlihat menyedihkan di depan mantan papi mertuanya.
Papinya Langit mendesah. Dia kembali teringat pada putranya yang entah sekarang berada di mana. Mawar rasa, usahanya untuk membuat papinya Langit iba kepadanya itu berhasil.
"Papi juga tidak suka pada perempuan itu. Karena perempuan itu, Langit jadi meninggalkan tanggung jawabnya di kantor," sahut papinya Langit. "Lalu, apa rencana kamu sekarang?" tanyanya sebelum menyuapkan potongan daging ikan mentah yang sudah lebih dulu dia beri wasabi lalu dia celupkan ke shoyu.
"Aku sebenarnya punya rencana untuk memisahkan Langit dan Senja, Pi," kata Mawar.
"Jangan sebut nama perempuan itu." Papinya Langit menatap Mawar tidak suka karena Mawar menyebut nama Senja.
"Ah, iya. Maaf, Pi," balas Mawar. Sebenarnya Mawar tersenyum mendengar papinya Langit berkata demikian.
"Apa rencanamu?" tanya Papi Topan.
__ADS_1
"Aku punya rencana yang brilian buat memisahkan mereka berdua. Aku berniat ingin menjebak perempuan itu karena kasus penggelapan dana. Dulu 'kan dia bekerja di kantor Papi, jadi aku butuh dukungan Papi buat melancarkan rencanaku ini." Tak segan-segan Mawar meminta bantuan dari mantan papi mertuanya buat menjebak Senja.
"Dengan tuduhan penggelapan dana itu, maka perempuan itu akan mendekam di penjara. Aku akan membuat bukti-bukti palsu yang bisa dipercaya oleh pihak kepolisian." Mawar bahkan bersedia untuk membuat bukti palsu hanya demi bisa memenjarakan Senja dan supaya Langit bisa kembali ke pelukannya.
"Bagaimana dengan kejaksaan? Lolos di kepolisian, belum tentu lolos juga di kejaksaan," tanya papanya Langit.
"Papi tenang saja, aku yang akan mengurus semuanya. Aku pastikan, Langit akan kembali ke rumah dan kembali menjadi suamiku lagi," balas Mawar. "Papi hanya perlu memberikan dukungan saja buat rencana yang aku buat."
Kata-kata Mawar membuat papinya Langit berpikir sejenak. Namun, tak lama lelaki itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik, Papi setuju dengan ide kamu. Apa pun yang kamu butuhkan, bilang saja. Papi akan mendukung kamu dan membantu kamu," kata papinya Langit.
Mendengar jika dirinya mendapat dukungan dari mantan papi mertuanya, Mawar tampak bahagia. Setidaknya, dia sudah memiliki dukungan yang besar.
"Makasih Pi, karena Papi masih percaya sama aku dan masih mau mendukung aku meski sekarang posisinya aku sebagai mantan menantu buat Papi," ucap Mawar.
"Tidak perlu berterima kasih, Papi melakukan ini juga demi kebaikan Langit. Papi tidak mau dia bersama perempuan itu," balas papinya Langit.
Mereka berdua masih menikmati beberapa makanan yang dipesan oleh Mawar. Sebenarnya hidangan itu terlalu banyak buat dinikmati berdua saja. Namun Mawar tidak peduli pada hal itu.
"Kamu tidak makan lagi?" tanya papinya Langit ketika melihat Mawar meletakkan sumpitnya.
"Aku tidak boleh makan banyak, Pi. Aku harus menjaga penampilanku supaya Langit tetap terpesona padaku," jawab Mawar.
"Lalu kenapa kamu harus memesan makanan sebanyak ini?" Papinya Langit mendesah, tapi Mawar hanya tersenyum tanpa dosa.
"Papi juga harus kembali ke kantor, masih ada pekerjaan lain yang harus Papi tangani segera." Papanya Langit pun pamit setelah selesai makan.
...****************...
__ADS_1