
Kita adalah pengacara yang sangat baik untuk kesalahan kita sendiri, tetapi hakim yang sangat baik untuk kesalahan orang lain. Jangan pernah menilai seseorang dari pendapat orang lain.
Langit akhirnya mengajak Tante Riri dan Senja ke kantin biar lebih enak saat bicara. Beruntung Ibu Riri orangnya sangat pengertian sehingga dia mau diajak untuk mengobrol.
Setelah duduk dan memesan makanan, Langit mulai mengatakan semuanya. Senja hanya diam. Wanita itu telah merasa tidak enak hati sejak mengetahui ibu Riri ternyata tantenya Mawar.
Beruntung Langit masih menyimpan foto semua file yang diserahkan pada pihak kepolisian sehingga dia bisa memperlihatkan pada Tante Riri.
Wanita itu tampaknya mengerti dengan pembelaan Langit, karena bukti-buktinya juga lengkap. Dia jadi tahu kenapa Mawar tidak bisa dibebaskan secara murni.
"Apakah sekarang Tante telah paham kenapa aku menuntut Mawar? Mengenai perceraian kami, itu bukan salah Senja. Tante pasti tahu jika aku pernah ingin membatalkan pernikahan kami. Namun, Mawar mengancam akan bunuh diri jika kami tidak jadi menikah."
Tante Riri masih ingat semua itu.Dia juga dulu tidak mengerti, kenapa orang tua Mawar mengabulkan keinginan anaknya untuk menikah dengan Langit.
"Maafkan aku, Bu. Jika saja aku tahu Mawar itu ponakannya Ibu, pasti aku tidak akan ...."
__ADS_1
"Tidak akan apa? Jangan katakan kamu menyesal menikah denganku setelah tahu Mawar itu ponakan Ibu Riri?" tanya Langit dengan suara sedikit keras.
"Bukan begitu, Mas," ujar Senja pelan.
"Terus apa? Jangan sesali yang telah terjadi, Senja. Ini bukan salahmu. Rumah tangga yang aku jalani dengan Mawar juga tidak sehat. Percuma aku bertahan. Itu akan menyakitkan bagiku dan Mawar."
Senja kembali terdiam dan menunduk. Entah apa yang dipikirkan wanita itu. Langit merasa ucapannya tadi agak menyakitkan, memeluk Senja. Akhirnya tangis istrinya pecah.
"Maafkan, aku. Aku tidak bermaksud membentak kamu. Aku tidak suka jika kamu menyesali pernikahan kita. Aku sangat mencintai kamu, Senja. Aku selalu menjaga cinta ini hanya untukmu."
"Aku merasa tidak enak dengan Ibu Riri. Aku tidak mau Ibu berpikir jika aku yang menyebabkan keretakan rumah tangga Mawar. Maafkan aku, Bu."
"Terima kasih, Bu." Hanya itu yang keluar dari bibir wanita itu.
Bertiga mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Sekian menit sepi. Senja ka;
"Bu, aku telah memikirkan ini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Mungkin hanya ini yang bisa aku bantu."
__ADS_1
Senja lalu menghentikan ucapannya. Dia memiringkan duduknya menghadap Langit.
"Mas, aku berencana untuk mencabut gugatan. Dan memaafkan Mawar. Mungkin ini lebih baik untuk Mawar. Apakah kamu setuju, Mas?" tanya Senja.
Senja berpikir, mungkin dengan dia menarik kembali tuntutan bisa membebaskan Mawar. Mungkin wanita itu bisa sedikit tenang karena telah bebas. Senja kasihan melihat Ibu Riri yang sering kena sasaran kemarahan ponakannya Mawar.
"Terserah kamu saja, Sayang. Jika menurut kamu itu yang terbaik, aku ikuti saja."
"Nggak perlu memaksa melakukan semua itu hanya karena kamu merasa tidak enak dengan Ibu. Mawar pantas di hukum karena dia dengan sengaja melakukan kesalahan itu," ucap Bu Riri.
"Tapi semua ini aku lakukan memang tulus dari hati. Aku kemarin melapor hanya untuk membuat efek jera. Aku berharap hukuman yang telah dia jalani membuat Mawar sadar jika apa yang dia lakukan itu salah!"
Ibu Riri tampak tersenyum. Disentuhnya tangan Senja yang berada di atas meja. Ibu Riri tahu benar bagaimana sikap dan sifat keduanya. Walau Mawar ponakannya, bukan berarti dia membenarkan semua yang dilakukan wanita itu.
"Senja, hampir satu tahun kita bersama. Ibu bisa mengerti dan tahu bagaimana perasaan kamu saat ini. Kamu wanita baik. Jangan pernah merasa bersalah hanya karena kamu tahu Mawar itu ponakan ibu. Antara Ibu dan Mawar adalah dua orang yang berbeda. Jika memang Mawar bersalah, harus tetap dihukum. Jangan karena kamu merasa tidak enak hati dengan ibu, kamu mencabut tuntutan."
Senja langsung menggenggam tangan Ibu Riri. Merasa bersyukur karena wanita itu bisa bijak menerima semua ini. Langit juga merasa senang karena tidak ada yang salah paham, baik Tante Riri atau Senja.
__ADS_1
...****************...