SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 18. Belenggu Masa Lalu


__ADS_3

Kenangan yang pahit atau manis adalah cara terbaik untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Kenangan di dalam hati bisa dilupakan. Namun, sangat sulit untuk dihapus dari hati.


Kenangan pahit biasanya adalah obat, jadikan pelajaran. Kenangan manis bisa menjadi racun. Menghanyutkan. Maka, berhati-hatilah.



Malam ini, Langit sedang duduk sendirian di balkon rumah dengan ditemani secangkir kopi panas. Laki-laki itu sibuk dengan ponselnya, bukan untuk mengurus pekerjaan, melainkan sedang melihat foto Senja yang berhasil dia ambil dengan asal. Meskipun begitu, Langit sangat mengagumi wajah cantik Senja. Dia baru menyadari kalau tidak banyak perubahan di wajah wanita itu, masih terlihat awet muda.


Percakapannya dengan Senja di taman tadi kembali teringat, saat itu memang jawaban Senja sangat dingin kepadanya, bahkan terkesan acuh. Tetapi, Langit bisa melihat dari mata wanita itu sedang menyembunyikan seauatu, dia yakin kalau sebenarnya Seja juga masih merindukannya. Hal itu membuat Langit percaya diri untuk terus mendekati Senja dan meluluhkan hati wanita itu.


"Ternyata kamu di sini." Suara itu langsung membuat Langit mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja.


Mawar datang dengan membawa sepiring biskuit dan secangkir teh. wanita itu duduk di kursi sebelah Langit, lalu tersenyum tipis pada suaminya itu.


Sedangkan Langit sendiri tidak menoleh sedikitpun kepada Mawar, laki-laki itu malah lebih memilih untuk kembali menyesap kopinya. Langit sebenarnya ingin sendirian saja di balkon, tapi Mawar tiba-tiba saja datang, merusak moodnya.


"Aku sendirian di dalam dan tidak tau harus melakukan apa, aku juga belum mengantuk. Jadi, aku memutuskan untuk bergabung di sini dengan kamu," ucap Mawar. Dia meminum teh yang di bawa tadi. "Rasanya kita tidak pernah berduaan seperti ini di balkon, ini pertama kalinya. Meskipun hal sederhana seperti ini, tapi aku sangat menyukainya."

__ADS_1


Langit hanya diam saja, dia menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang. Dalam hati dia sedikit merasa bersalah karena terus mengabaikan Mawar, tapi dia memang tidak ada rasa dengan wanita itu. Saat ini Langit merasa seperti seorang lelaki yang sedang berselingkuh, dia diam-diam ingin kembali dengan Senja padahal jelas-jelas sekarang dia sudah memiliki Mawar dalam hidupnya.


Jika saja Langit berani untuk megatakan yang sebenarnya pada Mawar saat ini juga, tapi dia masih belum siap. Lagipula jika dia mengatakan pada Mawar, wanita itu jelas akan memberitahukan hal ini pada orang tuanya, dan hal itu akan semakin membingungkan. Biar saja hal ini menjadi rahasianya untuk sementara, jika sudah waktunya Mawar akan mengetahuinya.


"Aku membawakanmu biskuit. Rasanya akan aneh jika hanya minum kopi saja, itu sebabnya aku membawanya ke sini." Mawar kembali bersuara, wanita itu sangat berharap kalau ucapannya direspon.


"Aku tidak terlalu suka biskuit," jawab Langit datar.


"Ah, seperti itu. Kamu tidak pernah mengatakan apa kesukaan ataupun ketidaksukaanmu, itulah kenapa aku tidak tau." Mawar mengatakannya dengan tenang, sebisa mungkin dia tidak terbawa suasan sedih karena Langit sangat dingin kepadanya. "Malam ini kita duduk di sini, sedang santai, bisakah kamu mengatakan apa yah kamu suka dan tidak suka? Dengan seperti ini kita bisa semakin saling mengenal. Aku juga ingin membuatkanmu banyak hal, tapi aku takut kalau kamu tidak menyukainya."


"Meskipun kita berada di rumah yang sama, tapi jarang berinteraksi, apa itu akan membuat kita saling memahami? Selama ini kita hanya seperti dua manusia asing di dalam rumah ini, kamu memiliki kehidupanmu sendiri. Sedangkan aku? Aku hanya sebagai penonton yang melihatmu melakukan seuatu, berangkat kerja, pulang, dan bersantai. Apa kamu tidak pernah menganggap keberadaanku di rumah ini?" tanya Mawar dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tidak mau menanggapi apa yang dikatakan oleh Mawar, Langit lebih memilih untuk berdiri dari kursinya dan meningggalkam tempat. Tetapi, baru saja tiga langkah dia akan pergi, suara Mawar kembali menghentikannya.


"Kamu selalu seperti ini. Jika aku mengungkapkan keluh kesahku, kamu selalu pergi. Aku mamang selalu tidak dianggap di rumah ini, selama ini aku sudah sangat sabar menghadapi sikap dinginmu kepadaku. Sebenarnya apa yang kamu harapkan dalam pernikaham ini?" Mawar masih duduk di kursi, dia juga tidak menoleh sedikitpun pada Langit. Air mata wanita itu luruh membasahi pipinya, dia sudah sangat lelah menghadapi semua ini.


"Entahlah. Aku hanya inginkan perpisahan. Dari awal aku memang tidak menyukai pernikahan ini," jawab Langit begitu saja. Setelah itu, dia kembali melangkah meninggalkan Mawar di balkon.

__ADS_1


Saat itu juga hati Mawar rasanya seperti diremas kuat, kalimat seperti itu dengan entengnya keluar dari mulut Langit. Mawar bingung harus bersikap seperti apa, berbagai cara sudah dia lakukan untuk mengambil hati Langit. Tapi, tidak ada satupun yang berhasil untuk meluluhkan hati Langit. Entah harus menggunakan cara apa lagi Mawar untuk bisa menghapus jarak antara dirinya dan Langit, laki-laki itu seperti memasang tembok tebal dan besar bagi dirinya.


"Kenapa? Kenapa kamu seperti ini Langit? Apa sebenarnya kekuranganku sampai kamu tidak menerimaku?" monolog Mawar sambil menunduk, tangis wanita itu semakin pecah saat dadanya semakin sesak setelah mengetahui kalau Langit memang tidak mengharapkan dia dalam hidupnya.


Mawar tahu kelau pernikahan mereka memang hasil perjodohan, tapi Mawar yakin kalau dia bisa membuat Langit jatuh cinta kepadanya suatu saat nanti. Tapi, nyatanya sampai detik ini Langit masih belum berubah sama sekali kepadanya, malah sekarang sikapnya semakin dingin dan acuh kepadanya.


Mawar memang mendengar dari mulut Langit sendiri jika dia sudah memiliki wanita lain sebelum dirinya, tapi itu sudah cukup lama. Itu sebabnya Mawar mau menerima Langit, karena yakin kalau laki-laki itu pasti akan melupakan masa lalunya dan memulai hidup baru dengannya. Sekarang Mawar sedikit menyesali keputusannya untuk bersama Langit, jika saja dia bisa memutar waktu dia tidak mau menikah dengan laki-laki itu.


Saat ini dia hanya bisa menerima semuanya, entah sampai kapan. Dia juga masih belum berani menceritakan permasalahnnya ini kepada orang tuanya, dia takut membuat semua orang khawatir. Mawar ingin mencoba sekali lagi untuk bisa membuat Langit berubah, dia masih berpikir positif kalau akan berhasil merubah sikap Langit.


Mawar mengangkat kepalanya, dia mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. Dia tidak boleh lemah disaat seperti ini, dia harus membuktikan kepada Langit kalau dirinya harus dihargai.


"Namaku Mawar, aku tidak mau kalau dipandang remeh dan tidak dihiraukan sama sekali. Aku yakin kalau bisa membuatmu luluh kepadaku, Langit. Aku juga akan membuat dirimu melupakan masa lalu yang menurutmu tidak bisa terlupakan itu, aku sungguh-sungguh mengatakan hal ini," monolog Mawar dengan penuh tekat.


"Jika aku tidak juga bisa memiliki kamu, aku bersumpah apa pun caranya kamu juga tidak akan bisa memiliki masa lalumu itu. Aku harus mencari tahu siapa masa lalumu!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2