
Setelah berpikir, akhirnya Senja menerima ajakan Langit untuk menikah. Dia juga tidak ingin mengulang kesalahan lama jika mereka tinggal se atap seperti saat ini.
Setelah dua hari mempersiapkan pernikahan siri yang akan dilakukan di rumah milik Dokter Surya. Dengan mengundang tetangga sekitar sebagai saksi pernikahannya.
Hari ini rumah kediaman yang ditempati Senja dan Langit dipenuhi tetangga untuk menyaksikan pernikahan kedua insan itu. Langit dan Senja tampak bahagia walau hanya pernikahan sederhana.
"Sah!" satu kalimat yang diucapkan oleh beberapa orang yang menyaksikan pernikahan Langit dan Senja siang hari ini terdengar begitu indah di telinga sepasang pengantin baru itu.
Dokter Surya dan pengurus desa setempat yang hadir di sana sebagai saksi bahwa Langit dan Senja memang sudah resmi menikah.
Di hari yang berbahagia ini, Senja begitu senang karena dia resmi menyandang status sebagai istri sah dari Langit. Setelah akta perceraian antara Langit dan Mawar keluar, pria itu akan mendaftarkan pernikahan mereka secara negara.
"Selamat ya, sekarang kalian resmi menjadi pasangan suami istri yang sah." Penghulu yang menikahkan mereka pun juga memberi selamat.
Usai ijab kabul, orang-orang yang datang ke sana pun disuguhi makan oleh pihak penyelenggara acara. Tidak lama, selesai makan juga sudah bubar. Sekarang tinggal sepasang pengantin dan Dokter Surya yang masih ada di sana.
"Ini, sementara kalian bisa tinggal dirumahku di desa sebelah." Sebuah kunci rumah diberikan oleh dokter Surya kepada Langit.
Langit dan Senja sedikit kaget. Mulanya mereka ingin menolak tapi dokter Surya bilang kalau mereka harus sembunyi dulu dari kota ini sampai semuanya aman terkendali.
"Jangan ditolak, kalau nanti kalian kenapa-napa juga malah semakin repot," kata dokter Surya. Meski sedikit memaksa, tapi niat dokter Surya tulus membantu pasangan pengantin baru itu.
"Terima kasih ya, Dokter. Anda sudah baik sekali," ucap Langit sambil menerima kunci rumah yang diberikan oleh dokter Surya.
Dokter Surya hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Dia langsung pamit dari sana dan membiarkan mereka berdua untuk menikmati masa bulan madunya.
Tersisa Langit dan Senja di sana. Senja merasa sedikit canggung, dia masih belum menyangka kalau statusnya sekarang sudah berubah menjadi seorang istri untuk Langit.
"Kita mau ngapain?" tanya Langit bingung.
"Ah, ngapain ya?" Senja malah balik bertanya sambil terkekeh menatap ke arah Langit.
"Mau buka-bukain amplop, tapi kita nggak punya banyak tamu undangan, hehehe ...," kekeh Langit membuat Senja ikut tertawa membenarkan apa yang Langit katakan.
__ADS_1
Senja mengedarkan pandangannya, sekarang pandangan Senja terfokus pada kunci yang diberikan oleh dokter Surya. "Lebih baik kita packing saja. Kita ke rumahnya dokter Surya sekarang, biar kita sembunyinya bisa lebih cepat," usul Senja.
"Ah, benar juga apa kata kamu. Ya sudah, kita packing sekarang," angguk Langit.
Langit dan Senja benar-benar disibukkan oleh barang-barang yang harus mereka bawa. Terutama barang-barang milik Pelangi, tidak ada yang boleh ketinggalan. Beberapa pakaian atau barang lainnya yang sudah tidak kebagian tas pun, akhirnya mereka kemas pakai kardus bekas yang tentunya masih bagus.
"Sudah semua? Tidak ada yang tertinggal 'kan?" tanya Langit sambil melihat-lihat barang di rumah tempat Senja dan Langit menginap beberapa hari ini.
Dokter Surya takut jika ada yang melihat mereka pindah ke sini. Kalau rumah yang akan ditempati Langit dan Senja itu agak berada ke desa lagi. Tempat di mana dulu dokter Surya pernah bekerja.
Senja mengecek lagi tentang barang-barang yang mereka bawa. "Iya, sudah semua. Kita berangkat sekarang?" tanya Senja seraya menatap ke arah Langit.
"Iya, kita berangkat sekarang." Langit masuk ke mobil, begitu pula dengan Senja dan Pelangi.
Mobil milik Langit pun sudah berlalu dari sana. Lelaki itu akan membawa keluarga kecilnya pindah ke lain kota agar ketenangan rumah tangga mereka tidak terganggu oleh Mawar. Jika ini pilihan terbaik buat menyelamatkan orang-orang yang Langit sayangi, maka Langit akan melakukannya.
Selama di perjalanan, Senja dan Pelangi lebih banyak tidur karena mungkin saja mereka kelelahan. Apalagi Senja, perempuan itu pasti sangat kecapaian. Langit juga tidak berniat membangunkan istrinya.
Usai menempuh perjalanan selama beberapa jam, Langit akhirnya tiba di alamat yang diberikan oleh dokter Surya. Langit turun, dia memastikan kalau itu memang rumah yang dia tuju atau bukan.
"Senja, kita sudah sampai." Langit berusaha membangunkan Senja.
Kedua mata Senja bergerak-gerak. Perempuan itu bangun dan dia segera turun dari mobil. Langit menggendong putrinya lalu dia tidurkan di kamar yang terpisah dengan dirinya.
Sepertinya dokter Surya memang sudah menyiapkan rumah ini untuk mereka. Nyatanya, rumahnya bersih dan siap ditinggali. Ini seperti rumah yang setiap hari dihuni karena tidak ada debu sama sekali.
"Barang-barangnya kita bongkar besok saja," kata Langit. Senja setuju, terlebih lagi tubuhnya juga sudah hampir remuk.
Mungkin Langit dan Senja akan tinggal di rumah ini untuk waktu yang belum bisa mereka tentukan. Namun, untungnya mereka memiliki tempat untuk berteduh dan yang paling penting, jauh dari Mawar.
Senja terduduk di atas ranjangnya. Dia dan Langit baru saja selesai mandi. Senja mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamar, sedangkan Langit mandi di kamar mandi luar. Senja menguap tapi dia tidak mengantuk.
"Senja, malam ini 'kan malam pertama kita. Bagaimana kalau kita mulai bikin adek buat Pelangi?" tanya Langit berbisik di samping telinga Senja.
__ADS_1
Senja menolehkan wajahnya ke arah sang suami. Perempuan itu malah nyengir kuda. "Kamu tahu nggak? Badan aku jadi panas dingin dan merinding denger suara kamu," kata Senja membuat wajah Langit memerah.
"Kenapa? Suara aku menggoda ya?" tanya Langit. Kali ini ganti wajah Senja yang memerah karena tersipu malu.
"Iya, bikin jantung aku jadi dag dig dug rasanya di dalam dada," balas Senja.
Walau ini bukan pertama bagi mereka, tapi telah lebih enam tahun mereka tidak melakukan hubungan badan. Baik Langit maupun Senja.
***
Mawar masih belum bisa menerima perpisahannya dengan Langit. Dia masih ingin mendapatkan Langit dan menjadikan Langit sebagai suaminya lagi.
"Aku tidak akan pernah bisa merelakan kamu memilih perempuan itu daripada aku," ucap Mawar penuh emosi.
Mawar membelokkan mobilnya ke arah gang yang bakal membawanya ke jalan terowongan. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sana, jadi Mawar rasa dia akan aman bertemu dengan anak buahnya di sana.
Mobil yang dikendarai Mawar berhenti di sisi jalan. Terowongan itu cukup gelap dan tidak akan ada orang yang bisa melihat mereka. Mawar meminta pemimpin anak buahnya masuk ke dalam mobilnya.
"Cari orang ini!" titah Mawar pada anak buahnya yang paling dia percaya.
Laki-laki itu melihat foto yang dikirimkan Mawar ke ruang obrolannya. "Ini bukannya suami, Bos?" tanyanya.
"Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan." Mawar tidak berniat menjawab pertanyaan anak buahnya itu.
"Siap, Bos!" balasnya seraya menganggukkan kepala.
Seperti biasa, Mawar akan membayar uang muka sebagai tanda jalan. Laki-laki itu berjanji kalau dia akan menemukannya dengan cepat.
"Tumben Bos minta kita ketemu di sini?" tanya laki-laki tadi.
"Aku tidak mau ketahuan datang ke markas kalian," jawab Mawar.
Laki-laki tadi mengerti, dia keluar dan mereka berpisah sampai sana.
__ADS_1
...****************...