
Di tempat lain, kedua orang tua Langit yang sedang menyantap makan malamnya sedang mengobrol mengenai Pelangi yang kemungkinan cucu mereka.
"Pi, apa sudah kamu utarakan keinginanmu pada temanmu di dinas kesehatan itu."
Mami Angel menyuruh Papi Topan untuk meminta tolong temannya yang bertugas sebagai kepala dinas kesehatan agar berpura-pura cek golongan darah di sekolah Pelangi. Setelah sampel darah Pelangi di dapat, mereka akan melakukan tes DNA.
"Besok aku janji bertemu. Kenapa kamu ngotot ingin tahu kebenaran siapa Pelangi itu?" tanya Papi.
"Pi, sejak bertemu dengan anak itu di restoran kemarin, aku tidak bisa melupakan senyumnya. Apa Papi tidak menyadari jika dia sangat mirip dengan putri kita Bulan."
Papi menarik napas dalam, mengingat tentang putrinya Bulan. Kakak Langit itu meninggal saat berusia tiga tahun karena DBD. Dia terlambat di bawa ke rumah sakit karena saat itu Papi Topan dan Mami Angel sedang berada di luar kota mengurus perusahaan mereka.
Sampai di rumah sakit, Bulan telah dalam keadaan kritis. Satu hari di ruang ICU, dia menghembuskan napas terakhir. Dua tahun setelah kepergian Bulan, barulah Langit hadir ke dunia menggantikan posisi kakaknya.Rasa kehilangan Bulan mulai terobati dengan kehadiran Langit.
"Cara bicaranya memang sedikit mirip Bulan," ucap Papi. Dia sangat menyayangi putrinya itu.
"Seandainya Pelangi memang putri kandung Langit, aku ingin mereka tinggal bersama kita. Aku ingin dekat Pelangi terus," ucap Mami dengan lirih.
Kembali Papi menghela napas. Dia yakin itu memang putri kandungnya Langit. Sejak bertemu Pelangi kemarin, sebenarnya ada rasa penyesalan di hati Topan karena pernah ingin mencelakai Senja dan putrinya. Namun, egonya tetap tinggi. Dia pura-pura tidak mau menerima bocah cilik itu.
__ADS_1
Topan sangat berharap Langit akan mendatangi mereka dan memohon untuk dimaafkan. Hanya itu keinginan Papi Topan sesungguhnya.
Papi Topan juga merasakan perasaan berbeda saat bertemu Pelangi kemarin. Anak itu berhasil mencuri hatinya. Egolah yang membuat dia marah dengan Langit. Satu lagi yang masih mengganjal di hati Topan adalah kehadiran Senja sebagai ibunya Pelangi. Seandainya Pelangi lahir dari rahim Mawar pastilah dia akan menerima dengan tangan terbuka.
"Apa kamu yakin dia akan mau tinggal brsama kita. Meminta maaf saja tidak sudi Langit lakukan!" ucap Topan.
"Jika Langit tidak mau juga meminta maaf, biarlah Mami yang akan minta maaf asal Pelangi diizinkan tinggal bersama kita."
Papi Topan tidak dapat berkata apa pun lagi. Dia mengerti perasaan istrinya saat ini. Pasti dia sangat merindukan Bulan. Diakui Topan, bocah kecil yang dikatakan putrinya Langit itu memang sangat mirip Bulan putri mereka.
Sejak kembali dari restoran itu, Topan melihat istrinya sering termenung. Pasti mengingat Pelangi. Akhirnya Topan kembali menghubungi temannya buat menjalankan rencana mereka.
Setelah mendengar percakapan telepon Papi dan temannya secara langsung barulah Mami merasa tenang.
***
Dikediaman Senja, malam ini Langit sengaja masak buat makan malam mereka. Senja dan Pelangi hanya menunggu di meja makan.
Langit memasak sup ayam, oseng tempe dan goreng kerupuk udang. Senja yang merasa mual hanya makan sedikit. Langit yang melihat menjadi kuatir.
__ADS_1
"Sayang, tidak enak ya masakanku?" tanya Langit.
"Bukan nggak enak. Tapi aku sedang nggak ada selera makan. Mau istirahat aja."
"Kalau gitu, kita istirahat aja. Pelangi, kamu makan dengan bibi aja, ya. Bunda sakit kepala. Mau istirahat." Langit berusaha menjelaskan dengan Pelangi.
Awalnya bocah itu kuatir mendengar Senja, bundanya sakit. Langit akhirnya menjelaskan semua itu karena dia akan memiliki adik.
"Jadi aku akan punya adik ya, Pi?" tanya Pelangi.
"Iya, Sayang. Pelangi akan jadi kakak. Jadi harus mulai belajar makan sendiri."
"Oke, Papi," ucap Pelangi semangat.
Setelah membujuk Pelangi, Langit mengajak Senja istirahat. Sebenarnya Senja tidak sampai hati meninggalkan putrinya makan dengan bibi, tapi kepalanya pusing banget.
...****************...
__ADS_1