SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 21. Keadaan Kita Telah Berbeda


__ADS_3

Sejujurnya, aku merasa sangat bodoh karena mempertahankan sesuatu yang terus menerus menyakitiku. Mungkin hanya aku yang merindukanmu, meneteskan air mata, dan berharap bertemu secepatnya. Yang pergi akan tetap pergi, walaupun kau telah menjaganya dengan begitu kuat. Yang datang akan datang, walaupun kau tidak menginginkan kedatangannya.Tuhan jika harus aku bersabar dan bertahan, apakah akan ada akhir yang indah untukku dan dia?



Senja merapikan kembali jilbab dan menyapu bedak sedikit ke wajah agar tidak ada yang tahu jika dia habis menangis. Wanita itu tidak tahu, kenapa dia harus menangis. Bukankah Langit sejak 6 tahun lalu juga sudah meninggalkan dirinya. Jika saat ini kenyataan yang dia dapat Langit telah berkeluarga tidak sesakit saat tahu dia mengetahui sedang hamil anaknya pria itu.


Kesakitan yang dia rasakan saat ini tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan sakit saat harus hamil di luar nikah. Dipandang hina, diusir ayah tiri dari rumah dan harus menghadapi kerasnya hidup seorang diri.


Senja berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Ternyata Langit telah menunggu dirinya. Senja berusaha bersikap wajar agar karyawan yang lain tidak curiga.


"Maaf, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Senja, dia berusaha tersenyum.


"Aku masih belum paham dengan laporan keuangan perusahaan. Aku ingin kamu menjelaskan lagi," ucap Langit. Suaranya sedikit dibesarkan agar karyawan lain mendengar dan tidak curiga.


"Baiklah, Pak Langit. Saya siapkan dulu berkasnya," ucap Senja.


"Aku tunggu secepatnya di ruang kerjaku!"

__ADS_1


"Baik, Pak."


Senja lalu mengambil berkas keuangan dan meminta salah satu bawahannya buat membantu mempersiapkan semuanya.


Wanita itu membawa semua berkas keuangan menuju ruang kerja langit. Sebelum mengetuk pintu, Senja menarik nafas dalam buat menetralkan degup jantungnya.


Setelah terdengar sahutan dari dalam, Senja membuka pintu dan berjalan perlahan menuju meja kerja Langit. Mata pria itu tidak berkedip menatap Senja.


"Maaf, Pak. Ini laporan keuangan yang Bapak minta. Bapak bisa periksa semuanya dan jika ada yang kurang dimengerti bisa ditanyakan!" ucap Senja.


Senja menarik nafas dalam. Dia telah mengambil keputusan untuk menjauh dari Langit dengan berhenti dari perusahaan ini.


"Maaf, Pak. Jika ada yang tidak dimengerti bisa tanyakan. Setelah semau Bapak pelajari, saya akan mengundurkan diri. Bapak bisa tunjuk karyawan lain untuk menggantikan saya!" ujar Senja.


Langit langsung merubah duduknya. Dia memandangi Senja tanpa kedip. Pria itu tahu pastilah semua ini karena Mawar. Langit tidak akan melepaskan begitu saja wanuta yang sangat dicintainya ini. Enam tahun dia kehilangan Senja.


"Kenapa kamu ingin berhenti? Apa karena kamu tahu aku telah menikah?" tanya Langit.

__ADS_1


Langit berdiri dari duduknya dan berdiri di dekat Senja. Dia duduk di tepi meja yang ada dihadapan Senja.


"Dengar Senja, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Mawar menikah karena dijodohkan. Aku tidak mencintainya. Jangankan untuk melakukan kewajibanku dalam memberi nafkah batin, berduaan saja jarang aku lakukan jika tidak terpaksa. Kalau ada acara yang mengharuskan aku bersama istri barulah kami bersama."


"Maaf, Pak Langit. Untuk apa Bapak menceritakan kehidupan rumah tangga Bapak. Antara kita tidak ada hubungan," ucap Senja.


Mendengar kata Senja, Langit merasa sakit. Mana mungkin Senja berkata begitu.


"Senja, apakah tidak ada rasa sedikitpun di hati kamu untukku lagi. Apakah kamu telah melupakan semuanya. Perlu kamu tahu, enam tahun ini aku tersiksa di luar negeri sana. Aku mau kembali ke Indonesia tidak bisa, karena paspor aku ditahan. Aku menerima pernikahan dengan Mawar juga karena ingin bertemu kamu. Kedua orang tuaku berjanji akan memberikan satu perusahaan di Indonesia untuk aku pimpin jika aku bersedia menikah dengan Mawar!"


Langit menarik rambutnya, tampak sekali jika dia sangat frustrasi. Pria itu menarik nafas panjang dan dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku berharap dapat bertemu kamu lagi jika aku kembali ke Indonesia. Ternyata semua usahaku tidak sia-sia. Aku bertemu kamu. Dan dengan entengnya kamu meminta kita berpisah?"


"Maaf, Langit. Aku dan kamu saat ini telah berbeda. Suka atau tidak suka, kamu dan Mawar adalah pasangan suami istri. Orang tidak akan mau tahu alasan di balik pernikahan kalian. Apa pun itu, aku akan di cap sebagai perusak rumah tangga orang jika aku tetap berada di samping kamu. Berbeda halnya jika kamu telah berpisah!" ucap Senja dengan suara tegas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2