SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 74. Melahirkan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Malam-malam, Senja merasa perutnya kontraksi. Rasanya sudah sakit dan Senja tahu kalau mungkin sebentar lagi dia akan melahirkan. Perempuan itu membangunkan Langit terlebih dahulu. Untungnya, Langit tidak terlalu sulit saat dibangunkan. Mereka segera bergegas mengambil tas yang sudah disiapkan oleh Senja. Langit juga menyiapkan beberapa berkas yang mungkin nanti dibutuhkan di rumah sakit.


Langit membantu Senja berjalan ke arah mobil. Laki-laki itu juga masuk ke bagian kemudi dan siap melajukan mobilnya.


"Pelangi gimana?" tanya Senja yang baru sadar kalau mereka ke rumah sakit, nanti Pelangi di rumah sendirian.


Mendengar pertanyaan Senja, Langit segera turun. Dia akan menggendong Pelangi dari kamar ke mobil. Tidak mungkin mereka meninggalkan Pelangi sendirian di rumah. Pasti Pelangi akan mencari mereka saat terbangun nanti.


Pelangi sudah berada di dalam gendongan Langit. Lelaki itu mendudukkan putri sulungnya di bagian tengah dan memasangkan sabuk pengaman. Setelah semuanya selesai, Langit segera bergegas ke rumah sakit.


"Sayang, perut aku sakit banget," keluh Senja seraya memegangi tangan kiri Langit.


Langit juga merasa kasihan, dia usap perut buncit istrinya. Berharap kalau rasa sakit yang Senja rasakan bisa berkurang. Kata orang, cara seperti ini memang efektif untuk membuat calon anak mereka lebih tenang.


Karena kondisi malam, jadi jalanan juga tidak terlalu ramai. Langit memacu mobilnya sekencang-kencangnya ke rumah sakit. Tentunya masih dengan memerhatikan keselamatan istri dan putrinya.


Usai menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mobil yang dikendarai Langit telah tiba di rumah sakit. Langit cepat-cepat menggendong Senja dan meminta suster membawakan brankar. Dengan sigap, dua orang suster yang sedang berjaga di bagian IGD, membawa brankar untuk membaringkan Senja.


"Bapak bisa ke bagian pendaftaran terlebih dulu, baru nanti persalinan akan kami proses," kata perawat yang berjaga.


Tanpa banyak kata, Langit pun mengikuti apa kata perawat tadi. Pendaftarannya segera diproses dan Senja sudah dibawa ke ruang bersalin. Setelah itu, Langit mencoba menghubungi Angel dan Topan. Dia akan memberi tahu kedua orang tuanya bahwa Senja akan melahirkan.


"Mami bakal ngajak Papa ke rumah sakit sekarang juga," balas Angel dari sambungan telepon.


"Iya, Mi." Langit langsung mematikan sambungan telepon dengan Angel.


Mulanya Langit akan menyusul ke ruang bersalin, tapi dia kembali ke parkiran karena dia belum membawa tas berisi perlengkapan buat persalinan dan juga Pelangi masih ada di mobil. Langit pun menggendong putrinya dan membawa tas berisi perlengkapan menuju ke ruang tunggu persalinan.


Setibanya di ruang tunggu, Langit membaringkan putrinya ke kursi dan menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Pelangi. Tak berselang lama, seorang dokter yang akan membantu proses persalinan Senja baru saja datang dari ruangan.

__ADS_1


"Dok, tolong selamatkan istri dan calon anak kami," ucap Langit kepada dokter yang akan membantu Senja itu.


"Bapak harap tenang ya, saya akan berusaha semaksimal mungkin," kata dokter tadi sebelum akhirnya dia pun masuk ke dalam ruang bersalin bersama beberapa suster yang akan membantu.


Di depan ruang bersalin, Langit berharap istrinya akan selamat. Tak henti-hentinya, Langit berdoa dalam hati agar semuanya berjalan lancar.


"Senja sudah ditangani?"


Langit menolehkan kepalanya ke arah kiri, ternyata maminya datang bersama Topan. Angel pun tampak khawatir, takut terjadi apa-apa pada menantu dan calon cucunya.


Angel dan Topan ikut duduk di kursi tunggu bersama Langit. Mereka berdua tampak kasihan kepada Pelangi yang harus tidur di kursi seperti ini.


"Senja sudah ditangani, Mi. Barusan saja dokternya masuk," jawab Langit. "Minta doanya supaya Senja dan calon anakku selamat ya, Mi," pinta Langit.


"Pasti, Papi sama Mami jelas akan mendoakan Senja dan calon cucu kami," sahut Topan.


Samar-samar, Langit dan orang tuanya mendengar suara teriakan dari dalam ruang bersalin. Ini sudah satu jam mereka menunggu dari dokter masuk ke ruang bersalin. Tak lama, Langit mendengar suara tangisan bayi. Di sana, Langit mengucap syukur karena bayinya sudah lahir ke dunia.


Mereka masih menunggu dokter keluar dari ruang bersalin. Tidak sabar ingin melihat cucu mereka.


"Papa, kita ada di mana?" Pelangi bangun dari tidurnya, dia duduk dan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


Langit memeluk putri sulungnya sebagai tanda bahagia. "Kita sedang menemani Mama di rumah sakit, Sayang. Adik bayinya sudah lahir," jawab Langit.


Pelangi senang mendengar bahwa adik bayinya sudah lahir. Itu tandanya, dia resmi menjadi kakak dan akan ada teman bermain mulai sekarang. Pelangi pun bersorak senang.


Pintu ruang bersalin terbuka, seorang dokter yang membantu Senja pun keluar sendirian. Dia membuka maskernya dan menghadap kepada Langit.


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dok?" tanya Langit penasaran.


"Kondisi Bu Senja baik-baik saja. Anak-anak Bapak juga sehat-sehat semua," jawab dokter tadi membuat Langit masih sedikit bingung.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok. Telah membantu istri saya melahirkan." Langit mengucapkan sambil menahan air matanya agar tidak tumpah membasahi pipi.


"Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi kewajiban kami. Sekali lagi saya ucapkan selamat ya, Pak," kata dokter tadi. "Bu Senja sedang dibersihkan dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat.”


Langit mengucap syukur berulang kali. Dia tidak menyangka kalau buah hati keduanya dapat lahir selamat tanpa halangan. Tak selang berapa lama, Senja dibawa ke ruang rawat. Dua bayi kembar yang Senja lahirkan pun dibawa ke ruang khusus bayi.


"Kenapa adik bayinya nggak bareng sama Mama, Pa?" tanya Pelangi.


"Nanti juga akan bareng, Sayang. Hanya saja, mereka harus di sana dulu buat sementara," jawab Langit.


Langit mengajak Pelangi ke ruang rawat Senja. Sementara Angel dan Topan, mereka lebih memilih melihat dua cucu baru mereka dari kaca luar. Mereka ikut senang mengetahui jika cucu mereka kali ini kembar.


Senja berada di ruang rawatnya. Langit pun datang, dia mengecup kening istrinya dan mengucapkan terima kasih karena Senja sudah mampu bertahan serta memberikan dua buah hati kembar kepadanya.


"Makasih ya, Sayang." Langit tak henti-hentinya menciumi wajah Senja.


Tak selang berapa lama, seorang suster datang membawa dua buah hati Langit dan Senja. Katanya, Senja harus memberikan ASI-nya sekarang untuk kedua buah hatinya.


"Mama, siapa nama adik bayinya?" tanya Pelangi begitu antusias.


"Nanti ya, belum dikasih nama," jawab Senja mencoba memberi pengertian kepada putri sulungnya.


Langit tersenyum simpul, dia sudah menyiapkan nama untuk kedua buah hati kembarnya. Pelangi menatap dua bayi itu yang menggeliat, rasanya dia ingin mencubit pipinya tapi Pelangi tahan karena dia tahu itu tidak boleh dilakukan.


...****************...


Selamat Pagi. Mama mau kabari jika nanti jam 11 siang, novel terbaru mama TAKDIR CINTA mulai rilis. Jangan lupa mampir ya.



__ADS_1


__ADS_2