
Senja baru saja sampai di rumah pukul enam sore setelah menyelesaikan semua pekerjaan kantornya, rasanya badannya sangat lelah saat ini. Tetapi, ketika sampai di rumah dia tidak boleh memperlihatkan kalau dirinya sedang lelah. Karena nantinya putri kesayangannya akan mengkhawatirkannya.
Wanita dengan kerudung biru muda itu baru saja melangkahkan kakinya ke ambang pintu, tiba-tiba saja dia sudah mendapatkan sambutan dari putri kecilnya.
"Bunda sudah pulang?" Bocah enam tahun bernama Pelangi itu berlari kecil menghampiri Senja sambil merentangkan tangan.
Melihat hal itu membuat rasa lelah Senja seakan langsung menghilang. Pelangi selalu sukses membuatnya tersenyum. Dengan penuh cinta wanita itu berjongkok untuk menyambut Pelangi ke dalam pelukannya.
"Anak bunda pinter banget udah cantik," puji Senja sambil mengusap lembut belakang kepala putrinya.
"Iya, dong."
"Tadi pulangnya dengan Daddy, ya?" tanya Senja. Pelangi hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Dia takut bundanya marah karena meminta Dokter Surya yang menjemput.
Setelah itu, Senja mengurai pelukannya. Kali ini dia melihat wajah mungil Pelangi, sekilas dia bisa melihat wajah Langit di sana. Apalagi mata bocah kecil itu, persis seperti mata Langit. Dalam keheningan itu, Senja kembali memiliki sebuah angan yang sejak dulu dia inginkan. Andai saja Langit tidak pergi meninggalkannya ke luar negeri waktu itu, mungkin saat ini mereka sudah menjadi keluarga kecil yang sangat harmonis.
Pelangi juga akan mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, tapi semua itu tidak pernah terjadi. Hanya Senja yang merawat Pelangi sejak bayi sampai saat ini usianya menginjak enam tahun.
"Bunda, aku lapar. Ayo makan." Ucapan Pelangi itu langsung membuat lamunan Senja buyar. Wanita itu berkedip tiga kali, kemudian mengangguk.
"Iya, sayang. Bunda mandi dulu, setelah itu angetin makanan, dan kita makan bareng. Oke?"
"Oke, Bunda."
Senja langsung berdiri dari posisi berjongkoknya. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri, sedangkan Pelangi memilih untuk menonton TV sambil menunggu bundanya selesai membersihkan diri.
Pelangi memang selalu diajarkan mandiri dengan Senja sejak kecil, itu sebebnya Pelangi tidak manja jika harus di rumah sendirian. Dia sangat memahami kalau Senja kerja itu untuk mencarikannya uang buat biaya sekolahnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Senja sudah selesai. Tidak butuh waktu lama untuk dirinya membersihkan diri, jika terlalu lama Senja merasa kasihan dengan Pelangi karena bocah kecil itu sudah lapar. Buru-buru dia langsung ke dapur dan menghangatkan makanan yang dia masak tadi pagi.
__ADS_1
Pelangi yang melihat Senja sudah ada di dapur langsung mematikan TV, kemudian bocah kecil itu beralih untuk duduk di meja makan, siap untuk makan. Dia tersenyum sendiri melihat bundanya yang sibuk di dapur. Pelangi memang sangat suka melihat Senja memasak.
"Sebantar ya, sayang," ucap Senja karena merasa tidak enak membuat putrinya harus menunggu.
"Iya, Bunda. Santai aja nggak usah buru-buru gitu, aku siap menunggu, kok."
Mendengar jawaban dari sang putri membut Senja tersenyum. Pelangi memang selalu mengerti dirinya.
Selesai menghangatkan semua masakanya, Senja langsung menatanya di atas meja makan. Tanpak wajah Pelangi semakin bersemangat untuk segera memakan hidangan yang telah disiapkan oleh bundanya. Senja sangat senang karena masih diberikan kesempatan untuk makan bersama anaknya, kadang dia pulang sedikit terlambat dan Pelangi sudah makan lebih dulu.
Mereka berdua makan dalam diam, hanya ada suara sendok dan piring yang beradu. Senja memang membiasakan Pelangi untuk makan dengan tenang dan tidak banyak bicara, bocah kecil itu selalu menyerap ajaran Senja dengan sangat baik.
* * *
Senja dan Pelangi akhirnya sudah menyelesaikan makannya. Saat ini Senja sedang mencuci piring, sedangkan buah hatinya itu sudah berada di depan TV lagi. Kali ini dia tidak melihat kartun, melainkan sibuk dengan buku pelajarannya, saatnya baginya untuk belajar.
"Ada, cuma satu aja bunda," jawab Pelangi sambil sibuk sendiri dengan buku-bukunya.
Senja hanya mengangguk sebagai respon, itu artinya dia harus segera menyelesaikan pekerjaanya dan menemani Pelangi untuk menggarap PR-nya. Setelah selesai, Senja langsung menghampiri anaknya yang duduk di lantai dengan menghadap ke meja kecil di depannya.
"Ada PR apa? Apa mau bunda bantuin?" Senja duduk di sebelah Pelangi. Dia memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh putrinya itu.
"Cuma PR menggambar aja kok. Bunda nanti bantuin aku pilih warna saja kalo aku sudah akan mewarnai, kalo masalah gambar aku bisa sendiri," jawab Pelangi dengan semangat. Kemudian dia mulai membuka buku gambatnya dan bersiap untuk menggambar.
"Oke, bos kecil."
Senja terus melihat apa yang sedang Pelangi gambar, bocah kecil itu terlihat sangat teliti saat menggambar. Melihat hal itu tiba-tiba saja Senja teringat dengan Langit, laki-laki itu juga selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat teliti. Ternyata hal itu menurun kepada anaknya, jika saja Langit tahu tentang hal ini pasti sangat senang.
Dalam diam Senja kembali mengingat apa yang diakatakan Langit kepadanya saat di taman tadi. Entah kenapa ingatan itu terus terputar dalam kepala Senja seperti kaset film.
__ADS_1
"Tidak bisakah kita mengulang kisah kita seperti dulu lagi, Senja?"
"Apa kamu tidak merindukan kenangan kita berdua?"
"Tolong maafkan aku, mari kita mulai lagi kisah kita seperti dulu."
"Apa kamu tidak mau bersamaku lagi?"
Kalimat itu terus terulang dalam pikiran Senja. Jika saja dia bisa jujur saat itu, mungkin Senja akan menjawab kalau dirinya juga sangat merindukan Langit dan ingin balik seperti dulu. Tapi, Senja tidak bisa melakukan hal itu. Dia masih belum bisa melupakan kenangan pahit yang pernah dia alami saat ditinggal pergi oleh Langit.
Apa lagi Senja baru tahu, jika kedua orang tuanya Langit ikut andil dalam perpisahan mereka. Hal itu membuat Senja semakin ragu untuk mangatakan yang sebenarnya, tentang keberadaan Pelangi, dia takut kalau hal itu akan membuat dia dan anaknya nanti dipisahkan.
Senja memutuskan untuk menyembunyikan semuanya, selama enam tahun ini dia sudah bisa mandiri, tapi kenapa saat Langit datang dia harus bersikap lemah? Itu sebabnya dia ingin menjadi lebih kuat dan sekarang akan menjaga jarak dengan Langit agar tidak terjadi salah paham.
"Bunda," panggil Pelangi untuk ketiga kalinya karena sejak tadi Senja tidak bisa mendengar panggilan itu.
"Eh, iya kenapa sayang?"
"Bunda kenapa bengong? Dari tadi aku sudah panggil. Gambaran aku sudah selesai, sekarang tinggal mewaranai." Pelangi memperlihatkan hasil gambarannya pada Senja. "Ini gambar keluarga. Di sini ada aku, bunda, sama ... ayah. Sebenarnya aku mau gambar aku sama bunda aja, tapi tugas kali ini harus menggambar keluarga sempurna. Jadi aku tambah gambar laki-laki ini," jelas Pelangi.
Senja hanya terdiam mendengar ucapan putrinya itu. Bukan hanya sekali Pelangi bertanya tentang ayahnya.
"Bunda, aku mau gambar Daddy Surya tapi, kata Bunda Daddy bukan ayahku. Jadi aku hanya menambahkan ayah dari bayanganku saja."
Mendengar hal itu membua hati Senja sedikit ngilu, andai saja dia bisa memberitahu Pelangi kalau ayahnya memang masih ada. Tapi untuk saat ini dia tidak bisa mengatakan hal itu.
"Gambar kamu bagus banget," puji Senja sambil mengacungkan dua jempolnya.
...****************...
__ADS_1