SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT

SENJA YANG MERINDUKAN LANGIT
Bab 76. Cukup Tiga Anak


__ADS_3

Sudah satu minggu Senja melahirkan putra dan putri kembarnya. Saat ini dia telah berada di rumah mereka lagi. Mami setiap hari datang ke rumah Langit untuk membantu Senja menjaga si kembar.


Walau Senja di bantu dengan asisten rumah tangga, tapi mami tetap ingin membantu menjaga si kembar. Setiap pagi mami datang, dan pulang saat Langit telah kembali dari kantor.


Langit selalu membantu Senja mengurus baby mereka sebelum dia pergi kerja. Menyiapkan sarapan dan membantu Senja mandi. Pria itu sangat memanjakan istrinya.


"Mas, aku mau mandi.Mas bisa tolong jagain si kembar? Aku takut mereka kebangun," ucap Senja.


"Aku bantu mandikan kamu aja. Si kembar juga baru tidur. Nggak akan bangun," ucap Langit.


"Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri."


"Aku mau bantu madikan kamu. Baru aku mandi. Aku senang bisa bantuin kamu mandi, Sayang."


"Mas yakin mau bantuin aku mandi?" tanya Senja sambil tersenyum.


"Hhmmm, kali ini aku usahain bisa bantu kamu mandi sampai selesai," ucap Langit cengengesan.


Senja bertanya begitu karena dua hari lalu saat Langit membantunya mandi, pria itu tak tahan dan meminta Senja meneruskan mandinya sendiri. Kepalanya pusing, keluh Langit karena tak tahan menahan nafsunya melihat tubuh polos Senja.


Langit memeluk Senja saat berjalan masuk ke kamar mandi. Dia membantu Senja membuka satu persatu kain yang melekat ditubuh istrinya itu. Langit menyirami tubuh Senja dan menyabunnya.

__ADS_1


"Kenapa, Mas? Kalau nggak sanggup, biar aku mandi sendiri aja!" ucap Senja melihat Langit yang sering menarik napas kasar serta panjang sambil memegang kepalanya.


"Nggak apa apa, Sayang. Sedikit lagi selesai'kan mandinya?"


"Mas pusing lagi?" tanya Senja.


"Setiap malam kepala atas dan bawahku memang pusing, karena membayangkan kamu, Sayang," ucap Langit sambil menahan tawanya.


Senja mencubit lengan Langit mendengar ucapan suaminya itu. Dia mempercepat mandinya. Dia tidak tega melihat raut wajah pria itu yang memerah seperti menahan sesuatu.


Setelah selesai mandi, Langit membantu Senja berpakaian.Saat ini wanita itu duduk di kursi depan cermin.


"Mas, terima kasih."


"Terima kasih buat semua yang telah kamu lakuin dan berikan untukku," ujar Senja.


"Semua yang aku lakuin tidak seberapa dengan pengorbananmu ketika hamil dan melahirkan anak-anak kita," ujar Langit dengan menangkup wajah istrinya dan menghujani dengan ciuman.


Senja membalas dengan mengecup bibir suaminya itu. Dia merasa sangat bahagia karena merasa sangat dicintai Langit.


"Jangan mengecup bibirku lama-lama, Sayang. Aku takut nanti ada yang bangun ditubuhku ini," ucap Langit.

__ADS_1


"Mas, mesum banget," ucap Senja.


Senja tersenyum melihat wajah Langit yang masam karena menahan diri untuk tidak berbuat lebih dengannya. Senja tahu selama satu minggu ini, suaminya itu berusaha menahan hasratnya dengan berolahraga.


"Sayang, sepertinya anak kita cukup tiga saja," ujar Langit.


"Kenapa, Mas. Bukannya kalau punya anak lagi rumah ini pasti akan ramai dengan suara canda dan tawa anak anak kita nanti."


"Aku kasihan lihat kamu hamil dan melahirkan," ucap Langit. Dia meminta Senja duduk di pangkuannya sambil mengecup leher istrinya itu


"Aku senang dan nggak merasa susah saat hamil. Aku bahkan senang karena bisa memberikan kamu keturunan yang banyak dari rahimku ini," ucap Senja.


"Tapi kalau kamu hamil dan melahirkan lagi berarti aku juga ikut menderita, Sayang."


"Menderita? Kenapa jadi menderita, Mas?" tanya Senja heran.


"Menderita karena ketika kamu hamil muda dan habis melahirkan aku tak bisa menyentuh kamu. Nggak bisa main kuda-kudaan dan olah raga malam," ucap Langit lirih.


Senja langsung melayangkan tinjunya di lengan Langit. Dia pikir apa alasan Langit tidak ingin dia hamil lagi, tapi ternyata hanya sebatas hubungan saja yang menjadi alasan utamanya.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2