
Tahukah kau rasanya saat hatimu begitu sakit sampai kau bisa merasakan darah yang menetes? Sakit ... hati ini sungguh sakit mengingat semua yang pernah terjadi.
Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini. Harusnya aku tahu bahwa cintamu adalah sebuah permainan.
Akhirnya Senja masuk ke ruang bersalin setelah bidan memeriksa dan meyakinkan jika pembukaan jalan rahim telah lengkap.
Dokter Surya di bantu dua orang bidan masuk ke ruang persalinan diikuti ibu Riri. Sebelum mengejan, Senja menggenggam tangan wanita paruh baya yang telah dianggapnya ibu kandung itu.
"Bu, maafkan jika selama kita kenal aku ada salah. Bagiku Ibu telah seperti ibu kandungku. Kebaikan Ibu tidak akan pernah aku lupakan. Aku hanya ingin berpesan, jika aku memang harus pergi, jaga anakku."
"Senja, sudah berulang kali Ibu katakan jika kamu tidak boleh berpikir begitu. Kamu harus semangat. Apa kamu tidak ingin melihat putri kecilmu."
"Tentu saja aku mau. Aku ingin bisa hidup bersama dengannya."
Dokter Surya dan dua bidan telah bersiap. Senja juga telah siap untuk mengedan buat melahirkan putri kecilnya.
Bu Riri berdiri di samping tempat tidur Senja. Tangan wanita itu menggenggam tangannya. Dia memberikan kekuatan dengan Senja.
"Senja, ini sudah saatnya kamu mengejan. Saya hitung sampai sepuluh, kamu bisa menarik nafas kuat kuat dan mulai mengejan setelah hitungan kesepuluh," ucap Dokter Surya.
Dokter Surya lalu memulai hitungan, Senja menarik nafas kuat kuat dan mengejan sekuat tenaga, sampai kepala dan punggungnya terangkat. Tapi anaknya belum juga keluar.
__ADS_1
"Sekarang kamu tahan dulu, Senja. Kita coba lagi. Kamu tarik nafas kuat seperti tadi lalu mengejan ulang," ujar Dokter Surya memberikan intruksi.
Senja menarik napasnya dalam dan panjang, mulai mengejan kembali. Rasanya ingin berteriak sambil menutup mata, tapi tadi Surya telah mengingatkan Senja agar tidak berteriak dan memejamkan mata saat mengedan.
Berteriak tanpa dikontrol dapat membuat sang ibu kelelahan dan kehilangan kendali saat mengejan. Selain itu, berteriak juga bisa menyebabkan pita suara jadi sakit nantinya.
Larangan menutup mata bertujuan untuk menghindari mata mendapat tekanan sehingga pembuluh darah di mata pecah. Maka dari itu, sebaiknya fokuskan diri untuk membuka mata ketika mengejan dan arahkan ke perut.
Senja mencobaengejan kembali, tapi anaknya belum juga tampak keluar, hanya rambutnya yang udah keliatan.
"Bu, aku sudah nggak kuat," ucap Senja akhirnya karena udah beberapa kali mencoba masih gagal. Dia sudah merasa sangat lelah.
Ibu Riri semakin kuatir dan kasihan melihat Senja yang berjuang melahirkan buah hatinya. Yang tambah membuat Ibu Riri semakin kuatir karena Senja yang sering mengatakan akan pergi selamanya.
"Senja, kita coba lagi. Ini rambut anak kamu sudah kelihatan. Tinggal sedikit lagi. Kamu harus kuat, dan semangat," ujar Surya.
Dokter Surya mengarahkan Senja buat mencoba mengejan lagi. Senja kembali menarik nafasnya kuat. Kali ini bidan membantu bayi keluar dengan mendorong dari perut Senja.
Ibu Riri tak bisa menahan tangisnya melihat Senja yang masih terus berjuang melahirkan. Ibu Riri mengelus rambut Senja kembali.
"Ya Tuhan bantu Senja, beri dia kekuatan agar dapat melahirkan bayinya. Biarkan dia melihat dan membesarkan bayinya."
Setelah di bantu bidan dengan mendorong perut Senja, akhirnya bayi wanita itu keluar. Terdengar suara tangisan bayi menggema diruangan itu.
__ADS_1
Ibu Riri yang melihat bayi keluar dari perut Senja tak bisa menahan tangisnya. Wanita paruh baya itu menangis terisak dan langsung memeluk Senja. Ibu Riri tidak lupa mengucapkan syukur.
Ibu Riri sengaja menemani Senja, karena dua bulan lagi dia harus ikuti anaknya ke luar negeri. Seharusnya Ibu Riri harus pergi bulan ini, karena mengingat Senja yang akan melahirkan dia menunda keberangkatannya.
Bayi Senja di bawa ke dalam pelukannya. Diletakkan di atas dadanya. Bidan mencoba mengajari anak Senja menyusui. Senja memeluk tubuh putrinya erat. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Sayang, akhirnya kamu hadir di sini menemani Ibu. Semoga kamu sehat selalu, Sayang," ucap Senja dengan. mengelus punggung putrinya yang mencoba menyusui.
Setelah di rasa cukup, bayi cantik itu kembali di ambil bidan.
"Ibu, bayinya mau kami bersihkan. Ibu nanti akan dibersihkan teman saya," ucap salah satu bidan itu.
"Terima kasih, ya," ucap Senja masih dengan air mata yang mengalir menahan haru melihat putri mungilnya yang cantik.
"Senja aku pamit dulu. Ada operasi," ujar Dokter Surya.
"Mas, apa kamu keberatan jika aku meminta tolong mengadzani putriku?" tanya Senja.
Surya memandangi Senja dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin dia keberatan melakukan itu.
"Tentu aja aku tidak keberatan. Bahkan aku sangat senang. Aku akan mengadzani setelah dibersihkan," ujar Dokter Surya.
Setelah dibersihkan, Senja dipindahkan ke ruang inap. Ibu Riri selalu mendampingi seperti ibu kandungnya Senja.
__ADS_1
...****************...