SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
Jadian


__ADS_3

Aldo sedang duduk bersama keluarganya di meja makan. Hari ini, adalah hari dimana sang tunangan kembali dari Amerika. Tunangannya baru saja menyelesaikan sekolahnya lebih cepat. Mereka direncanakan akan kuliah di tempat yang sama setelah acara pertunangan resmi diadakan.


Aldo melakukan demi kakeknya, orang yang ia sayangi dan orang yang selalu mengatur hidupnya. Ayahnya tidak berkutik sedikitpun, tidak ada kekuatan karena dia hanyalah seorang menantu. Ibunya tidak bisa menjadi penerus kepemimpinan perusahaan karena ia perempuan. Terlebih ibunya memilih melawan kehendak kakeknya dan menikahi ayahnya yang tidak memiliki apa-apa.


"Bagaimana jika kita adakan di rumah ini saja? Rasanya... aku lebih nyaman mengadakan di halaman yang luas," usul kakeknya kepada ke dua orang tua tunangannya.


"Sindy, bagaimana denganmu? Kamu setuju?" lanjut kakeknya.


"Tidak masalah kakek," jawab Sindy dengan sopan.


Semuanya menyepakati hal itu. Mereka melanjutkan obrolan mengenai masalah perusahaan. Aldo hanya menanggapi sesekali dan menampilkan senyum palsunya.


Kini, ia dan tunangannya duduk berdua di taman belakang rumahnya. Menikmati secangkir teh hangat di tangan masing-masing.


"Bagaimana dengan hari-harimu di sekolah? Masih mengekori Clara?"


Sindy memang mengetahui perasaan tunangannya kepada Clara, dulu ia juga bersekolah disana sebelum memutuskan pergi ke Amerika. Sindy ingin memberikan waktu bagi Aldo untuk berusaha akan cintanya. Nyatanya ia tidak berhasil, bahkan sampai hari pertunangan mereka tiba. Hal yang sebenarnya sudah ia duga sebelumnya.


"Ingat perjanjiannya kan? Kalau kamu gagal mendapatkan hatinya?" tanya Sindy lagi.


Aldo menghembuskan napas. Sebenarnya dia sangat menghargai sosok Sindy. Dia bisa bersikap dewasa saat tahu dirinya menyukai gadis lain. Sindy mencintainya, Aldo tahu hal itu. Karena itu ia memilih menunggu Aldo hingga Aldo akan menyerah dan kembali padanya. Karena sejak awal ia tahu bahwa Clara tidak menyukainya sama sekali. Clara bahkan sampai menangis merasa bersalah pada Sindy saat dia pindah ke Amerika.


"Biarkan aku berusaha dulu," pinta Aldo, wajahnya sendu dan tampak sangat sedih. Membuat Sindy merasakan sakit sendiri. Menyedihkan bagi mereka berdua mengalami cinta seperti ini. Tapi Cindy tidak ingin terus jalan ditempat.


"Aku beri kesempatan untuk terakhir kalinya, jika gagal jangan harap aku akan membiarkanmu!" katanya dengan tegas.


Sindy meninggalkannya dengan mata berkaca-kaca. Tentu saja dia merasa sakit hati. Siapa yang bisa tegar melihat orang yang dicintainya mencintai orang lain. Namun dia bisa apa, perasaan tidak bisa dipaksakan. Meski dia tidak harus berusaha akan status mereka nanti, tapi Cindy harus berusaha keras untuk mendapatkan hati Aldo.


.


Sekolah dikejutkan dengan kehadiran Sindy. Dia bergabung dengan geng Aldo saat istirahat sekolah. Clara memeluk Sindy. Ia sangat menghormati Sindy sebagai seniornya dulu. Sindy juga yang mengajarinya untuk menjadi kuat saat pertama masuk ke sekolah ini. Sehingga mereka memang dekat sebagai teman beda umur.


Steven masuk ke kantin dengan ketiga sahabatnya. Dia langsung menghampiri Clara. Meja panjang itu sedikit sesak karena mereka ikut bergabung. Steven bahkan mengusir Fajar yang duduk di sisi kanan Clara, menyuruhnya pindah karena ia ingin duduk di sana.


Sindy yang tidak mengenal rombongan Steven tentu saja sedikit bingung dengan bergabungnya orang-orang ini. Apalagi melihat Steven yang dengan mudah memerintah Fajar. Anak yang cukup berpengruh di sekolah ini.


"Kenapa tidak bersama Sam dan menemuiku?" tanya Steven pada Clara. Steven sudah mengiriminya pesan sebelum istirahat tadi, menyuruhnya pergi dengan Samuel.


"Kak Sindy menelepon dan menyuruhku datang ke kantin," jawab Clara jujur.


"Pulang nanti tunggu di tempat biasa," suruh Steven.


"Kami ada rapat OSIS, festival diadakan lusa. Bukankah kamu harus mempersiapkan diri untuk olimpiade?" Bukan Clara, melainkan Aldo yang menjawab. Steven menoleh pada Aldo yang menatapnya sengit.


"Aku tidak butuh persiapan apapun, yang aku butuhkan penyemangat!" jawab Steven sambil menyeringai, "Dengan ini." Dengan santai Steven mengecup dahi Clara. Tersenyum tipis kala melihat wajah itu memerah. Steven mengusak lembut kepalanya sebelum bangkit. Meninggalkan mereka. Sam yang baru saja duduk mengeluh karena Steven akan pergi lagi, namun dia tetap mengikutinya bersama yang lain. Melambai pelan di depan wajah Clara yang masih syok sebelum pergi. Lalu tertawa karena merasa Clara sangat lucu.


Aldo mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah padam menahan amarah. Hal yang membuat hatinya jauh lebih sakit adalah saat Clara tidak menolak semua perlakuan itu. Aldo bahkan tidak pernah diizinkan untuk memegang tangannya, namun pria lain seenaknya memberikan ciuman di dahinya.


Sindy yang melihat kemarahan tunangannya hanya tersenyum miris. Mengasihani dirinya sendiri yang tampak bodoh disini.


"Apa dia pacarmu?" tanya Sindy, akhirnya memecah kecanggungan yang ada. Fajar bahkan sampai terbatuk mendengar pertanyaan itu, sedikit terkejut akan respon Sindy.

__ADS_1


"Ti-tidak kak. Dia memang suka mengaturku akhir-akhir ini," jawab Clara.


"Tapi kelihatannya kamu tidak keberatan?" itu adalah pendapat Rafael.


"Wajahnya saja memerah, tentu saja Clara juga menyukai si maskot sekolah." Bobi semakin memanasi keadaan.


Brak!!


Kursi yang di duduki Aldo terpental jatuh saat ia tiba-tiba berdiri. Dengan penuh emosi dia meninggalkan mereka. Anak-anak disana bahkan tampak syok melihat ketua OSIS mereka yang murka. Hal yang jarang sekali terjadi karena Aldo terkenal ramah dan tenang. Dia tidak pernah menunjukkan sisi kerasnya selama ini.


"Dia sedang cemburu," kata Sindy dengan nada biasa.


"Kak Sin... Aku dan kak Al tidak_"


"Eeii ... aku tahu adik kecil! dia yang keras kepala. Aku bahkan bisa melihat siapa yang kamu sukai, anak tadi kan?" Sindy terkekeh melihat Clara yang tampak masih merasa bersalah.


"Festival nanti kamu hadir?" tanya Rafael untuk mengalihkan suasana.


"Mungkin, jika diundang," jawab Sindy.


"Tentu saja diundang, kakak tamu istimewa!" sela Clara.


Melupakan yang baru saja terjadi, mereka asik mengobrol sampai-sampai tidak menyadari, ada pertengkaran di belakang sekolah.


Steven dan Aldo sudah dikelilingi oleh banyak murid yang ingin menyaksikan mereka. Sementara Sam, Bob dan Ted berjongkok untuk menonton. Tidak perduli pada keadaan dan tidak berniat melerai. Mereka bahkan tampak menikmati. Ingin tahu apa yang akan dilakukan Steven, mengingat Steven yang tidak suka berbasa basi saat berkelahi.


"Berhenti bermain-main dengannya!" teriak Aldo murka.


"Siapa? Aku?" Steven terkekeh, dia menghindari pukulan-pukulan lemah yang di layangkan Aldo. Steven menendang punggungnya hingga Aldo terjerembab jatuh.


Steven jongkok di depan Aldo yang masih terduduk di tanah. Menatapnya dengan keprihatinan dibuat-buat. Jelas tidak begitu peduli akan ancaman dan perkataan Aldo.


"Clara milikku, kamulah yang harus menjauhinya." Bisik Steven. Dia mengatakannya dengan nada acuh tak acuh seolah semuanya hanya permainan. Aldo yang mendengarnya tentu saja semakin marah.


"Sialan!"


Maka sekuat tenaga Aldo menendang Steven sehingga mengenai bahunya. Ia tidak sempat menghindar karena sudut matanya melihat kerumunan terpecah dan melihat sosok yang sedang mereka bicarakan datang kesana.


"Kak Aldo!" Clara berteriak lalu menghampiri mereka.


Clara membantu Steven berdiri meskipun sebenarnya ia tidak membutuhkan bantuan. Ketiganya berdiri, saling berhadapan engan Clara yang berada di tengah-tengah.


Sindy yang juga ada disana, sedikit goyah ketika melihat Aldo yang seperti itu. Namun ia memilih tegar. Hal inilah yang tidak ingin ia lihat jika tetap bersekolah disini. Karena itu ia memilih pindah. Dia tidak tahan setiap kali Aldo menyakiti dirinya sendiri karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


"Berhenti kumohon!" lirih Clara, menatap Aldo dengan wajah meminta maaf.


"Aku hanya ingin dia menjauhimu Clar! dia berbahaya dan bisa menyakitimu!"


"Jangan menuduh sembarangan kak!" kata Clara dengan nada memohon.


"Tanyakan padanya sendiri! Apa yang ia lakukan di Singapura sehingga ia harus lari ke sini! Aku hanya ingin melindungimu!" kata Aldo dengan marah, namun melihat ekspresi Clara yang tidak mempercayainya, dia segera pergi dengan wajah kecewa.

__ADS_1


Steven menatap punggung Aldo yang menjauh. Lalu beralih pada ketiga sahabatnya yang saling menggeleng. Steven tahu ada sesuatu yang baru saja diketahui Aldo, sehingga membuatnya bersikeras menjauhkan Clara darinya alih-alih karena cemburu.


"Apa maksudnya?" tanya Clara yang kini menatapnya, "Lari dari apa?"


Anak-anak sudah pada bubar karena perintah Rafael. Kini tinggallah Steven dan Clara yang ada di sana. Saling menatap satu sama lain dengan pandangan berbeda.


"Bukan hal yang harus aku katakan padamu, Cukup percaya padaku saja," kata Steven.


"Kenapa aku harus percaya padamu? kita bahkan tidak berteman," sindir Clara.


Dia jadi emosi karena jawaban Steven. Clara merasa bodoh karena pikirannya sendiri. Merasa bodoh berpikir bahwa hubungan mereka sudah cukup dekat, sampai dia mendengar jawaban Steven barusan.


"Aku memang bukan orang baik, tapi aku tidak akan menyakitimu. Itu janjiku padamu."


"Tidak perlu berjanji, kita tidak memiliki hub__"


Perkataan Clara terhenti saat Steven tiba-tiba menarik pinggangnya dan menatapnya intens.


"Jadi mau diresmikan? Baiklah, mulai saat ini aku milikmu dan kamu milikku. Kita sepasang kekasih dan aku tidak menerima penolakan," kata Steven selancar-lancarnya.


"Si-siapa yang mau jadi pacarmu!" Clara melotot karena terkejut.


"Benarkah? lalu kenapa jantungmu seperti sedang maraton? Apa kamu punya sakit jantung?"


Wajah Clara memerah. Antara malu dan marah. Dia memberontak tetapi tenaganya bukan apa-apa bagi Steven.


"Lepas Steven!"


"Katakan ia baru kulepas,"


"Ish! Lepas!" bentak Clara.


Namun Steven hanya menatapnya sambil tersenyum manis. Clara mendongak dan melemparkan tatapan tajam. Namun tidak beberapa lama, wajah itu malah tampak malu dan salah tingkah karena pesona Steven.


"Yes or yes, baby?" bisik Steven.


Tangan semakin menarik Clara agar lebih dekat. Bisa ia rasakan jantung mereka yang saling bersahutan.


"Ya sudah," lirih Clara sebagai jawaban.


"Apanya?" goda Steven dengan seringai nakal di wajahnya.


"Ish! Iya kita jadi... Jadi..."


"Jadi?" goda Steven lagi.


"Ish jangan tanya-tanya lagi! dasar jelek!."


Clara merasa sangat malu. Di mencubit pinggang Steven dan menenggelamkan wajahnya di dada Steven. Steven tertawa lepas, merasa sangat lucu dengan reaksi Clara.


"Sungguh pemandangan yang menggelikan," ejek Teddy dari tempat mereka. Mereka duduk di sudut bangunan, menunggu Steven selesai dengan wanitanya.

__ADS_1


"Dasar jomblo, iri bilang bos!" ejek Sam.


Bobby dan Sam tertawa, mengejek Teddy yang kini jadi satu-satunya jomblo di antara mereka.


__ADS_2