SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
25


__ADS_3

Sindy menyesap kopinya, matanya menatap layar laptop di atas meja dengan saksama. Sindy sudah mulai bekerja di perusahaan ayahnya meski ia baru saja lulus. Ayahnya memang sudah melatihnya sedari dini. Sehingga menunggu waktu memasuki fakultas, ia sibuk belajar.


"Nona, tampaknya tuan Aldo bertindak terlalu jauh."


Sindy mengalihkan perhatiannya pada layar i-pad milik asisten pribadi sekaligus tutornya. Wanita yang memiliki postur tinggi dengan tubuh proporsional. Memiliki rambut pendek potongan lelaki dan sangat tegas.


Sindy menggeser layar dengan jarinya. Beberapa foto aktifitas Aldo yang diam-diam melakukan sesuatu. Menghela nafas sekali dan meletakkan kembali benda itu. Matanya beradu pandang dengan sang asisten.


"Apa yang mungkin akan dilakukannya bisa melukai banyak orang. Terus awasi, kita tidak boleh membiarkannya melakukan kesalahan. Dia hanya sedang terluka karena cintanya."


"Bagaimana dengan anda?"


"Aku kenapa?"


Asistennya menatapnya prihatin meskipun wajahnya datar-datar saja.


"Anda juga terluka, Nona. Bukankah sebaiknya anda mengambil langkah cepat?"


Sindy tersenyum penuh arti.


"Jangan kawatir, sejak awal dia sudah menjadi milikku. Apapun yang dilakukanya hanya akan sia-sia. Terlebih ... anak yang bernama Steven itu ... terlihat berbeda. Kamu sudah mendapatkan info tentangnya?"


"Ya, jika anda mengenal tuan Yuno ... pemegang kendali Grup GGF. Saya tidak tahu hubungan mereka. Tapi orang kita sudah dua kali melihat mereka bertemu."


Sindy termenung, berfikir keras. Sejak pertemuan pertama ia dengan orang yang dekat dengan Clara di sekolah, Sindy sudah mulai meminta orang menyelidikinya.


"Yuno itu asal usulnya kamu bilang tidak jelas kan? Ayah juga tidak menemukan informasi apa-apa mengenainya. Lalu Steven itu anak tunggal. Dilihat dari segi manapun mereka seperti bukan saudara."


"Saya rasa juga bukan. Tuan Yuno yang selalu datang menghampiri. Dilihat dari gekstur mereka bicara, tidak seperti teman juga."


Asistennya menunjukkan dua foto melalui ponselnya. Sindy mengernyit, dikepalanya ia sudah memikirkan sesuatu tapi realita membuatnya ragu.


"Aku pernah mendengar rumor bahwa dibelakang Yuno masih ada seseorang yang memegang kendali. Tapi tidak mungkin ... seorang anak SMA kan?"


"Saya akan menyelidikinya."


Sindy terkekeh, merasa bodoh dengan pemikirannya.


.


Aldo berdiri di hadapan Raga. Mereka berdua bertemu atas paksaan Aldo tentu saja. Aldo sangat tahu cara menekannya karena Raga adalah mantan murid di sekolahnya.


"Tidak berubah ya, kamu suka sekali mendapatkan sesuatu dengan ancaman."


Aldo tidak terpengaruh. Dia malah mengeluarkan amplop dan memberikannya pada Raga. Setelah mengetahui isinya, Raga tersenyum sinis.


"Selalu pakai uang. Yah, tidak masalah. Aku memang suka uang setelah ayahku bangkrut. Jadi apa yang kamu mau?"


"Aku melihatmu di depan sekolah kami beberapa hari yang lalu. Bertemu murid baru. Apa hubungan kalian?"


Raga mengernyit heran. Setahunya, Aldo tidak pernah tertarik mencampuri urusan siapapun yang tidak mengusiknya.


"Apa? dia membuatmu marah?"


Aldo mengeraskan rahangnya, "Jawab saja" katanya dengan nada rendah mengancam.


"Aku sarankan jangan berurusan dengannya. Walaupun dibelakangmu ada kakekmu. Anak itu berbahaya."


Aldo menundukan pandangannya sesaat.


"Kamu terlibat apa dengannya?"


"Aku sudah memperingatkanmu." kata Raga dengan nada serius karena melihat sikap keras Aldo.


"Aku tidak butuh perhatianmu, jadi cepat berikan aku informasi yang kamu tahu!" sahut Aldo cepat.


Raga tampak menimbang-nimbang. Sungguh bukan Aldo yang ia kawatirkan. Dia bahkan tidak peduli anak di depannya itu mati. Dia hanya takut untuk dirinya sendiri. Dia melihat dengan jelas bagaimana Steven menghindari tembakan jarak dekat dengan baik.


"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Saat itu aku cuma diminta mengantarkan seseorang untuk menemuinya."


Aldo bisa melihat raut gusar itu. Dalam benaknya meremehkan Raga yang sama saja seperti kebanyakan anak disekolahnya. Takut pada Steven. Anak yang dalam pandangan matanya hanyalah anak pembuat masalah.


"Siapa?"


"Orang luar, aku tidak tahu. Aku hanya dibayar."

__ADS_1


Aldo mengeluarkan sebuah foto dari sakunya. Itu adalah foto screenshoot dari CCTV di depan gerbang sekolah.


"Orang yang mana?"


Aldo melangkah mendekat, untuk memperlihat kam foto itu lebih jelas. Matanya menangkap ekspresi Raga, anak itu lebih gusar dari sebelumnya hanya untuk menjawab satu pertanyaan. Hal itu memunculkan kerutan kesal wajah Aldo.


"Kawan ... aku sarankan__"


"Tidak usah bertele-tele atau aku akan membuat keluargamu semakin sulit!"


Raga mengumpat dan memaki secara bersamaan, dia kesal berada di tepi dua jurang begini.


"Laki-laki yang memakai jaket hijau dan teman-temannya, aku pergi!"


Raga cepat-cepat meninggalkannya dengan makian kemarahan. Aldo tidak peduli, ia menatap foto itu lama sebelum mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


.


Sekolah berjalan seperti biasa. Clara sedang berkeliling bersama dua anggota OSIS lainnya. Kegiatan senin rutin, pagi berkeliling sekolah. Memastikan tidak ada pelanggaran. Aldo bersama tim lain sedang melakukan inspeksi di depan pintu masuk memastikan tidak ada pelanggaran atribut. Setiap pagi biasanya guru bersama beberapa seksi kedisiplinan. Hanya setiap senin dia dan Clara ikut berkeliling.


"Berhenti." suruhnya datar.


Steven bersama tiga temannya. Lalu menyusul Rafael ikut bergabung karena baru datang juga.


Kedua anak yang sedang menebar bendera perang itu saling melempar tatapan intimidasi. Atmosfir sekitar bahkan terlihat menakutkan.


Mengalihkan pandangan dan melakukan tugas, Aldo memeriksa seragam dan atribut sekolah. Mengabaikan wajah mengejek teman-teman Steven. Bukan untuk Aldo, melainkan aturan sekolah yang mereka anggap menyebalkan dan ketinggalan zaman.


"Aku pastikan Clara akan tahu siapa kamu," bisik Aldo saat melewatinya.


Steven hanya memasang wajah acuh. Tampak tidak terganggu sama sekali.Dia bahkan melanjutkan langkahnya dengan ringan meninggalkan teman-temannya yang masih di periksa.


Steven berjalan santai menuju kelas Clara. Sayangnya ia menemukan bangkunya kosong. Mengingat ini hari senin, maka ia memutar langkahnya, memutari area sekolah untuk menemukannya.


Sementara itu, Clara sendiri sedang menghembuskan nafas saat sedang berhadapan dengan kakak kelasnya. Gerombolan langganan kena hukuman karena merokok.


"Kenapa kalian ini bebal sekali! Sekarang malah menolak ke ruang detensi?!" ucap Sinta kesal.


"Apa aku panggil Aldo saja kesini?" ucap Danu, salah satu anggota OSIS kelas 3.


Ketiganya terdiam. Jelas tersudut, terutama Clara. Danu menghela nafas.


"Kalaupun itu benar protes aja sana sama pihak sekolah. Kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk dia. Tapi kalian__"


"Bukankah itu tidak adil?" sahut salah satu dari mereka.


"Curang, lalu kalau aku anak presiden boleh jadi pengecualian?" tambah yang lain.


"Pergilah! anggap aja tidak melihat kami. Kalau tidak__"


"Kalau nggak apa?" Sebuah suara memotong anak itu begitu saja.


Semuanya menoleh ke arah yang sama. Dimana Steven sudah berdiri disana. Menyandarkan lengannya ke dinding dengan tangan terlipat. Sepertinya dia mendengar percakapan mereka.


Segerombolan anak itu tampak gusar. Mereka bahkan tidak berani mengangkat wajahnya lagi. Sosok Steven sejak kejadian di kantin menjadi sangat menakutkan bagi anak lain.


"Siapa kalian ingin disamakan denganku?"


Datar dan penuh penekanan. Steven berdiri dengan benar dan mulai melangkah ketempat mereka. Berdiri tepat di samping Clara.


"Bahkan kalau kalian anak presiden," Steven menjeda sesaat "jangan meninggikan diri untuk menjadi sama. Otak kecil kalian tidak sama denganku."


Arogan yang sombong, itu nama tengah Steven jika menghadapi orang-orang yang tidak disukainya. Menjadi menakutkan jika mencoba mengusiknya.


"Danu ... Sinta ... bisa bawa mereka?" pinta Clara dengan halus.


Danu dan Sinta mengangguk. Memberi gekstur untuk mengikuti mereka kepada anak-anak itu.


Lebih baik menghadapi guru konseling dari pada Steven, itulah yang ada di benak semua orang. Maka mereka hanya bisa patuh.


"Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi masuk." Clara mencoba mengalihkan kekesalan Steven saat tinggal mereka berdua.


Steven memutar tubuhnya menghadap Clara. Menatapnya lurus dan tajam.


"Keluar dari OSIS," perintahnya.

__ADS_1


Clara tentu saja terkejut. Dia menghela nafas dan meraih tangan Steven. Menariknya lembut untuk mengikutinya.


Steven seperti ayam yang mengikuti induknya , meskipun kesal nyatanya hanya diam dan menuruti kemana ia dibawa. Semua anak bahkan sedikit terkejut melihat Steven seperti hanya pasrah. Hal yang baru mereka lihat. Biasanya Clara yang akan mengikuti keinginannya.


Sesampainya di depan kelas Steven, Clara melepaskan tangannya dan tersenyum manis.


"Masuklah, aku juga akan ke kelas."


Clara sudah berbalik sebelum kedua bahunya di cengkram dari belakang dan tubuhnya diputar kembali menghadap Steven.


Steven menatapnya lembut, kedua tangannya masih di bahu kecil itu.


"Aku serius untuk menyuruhmu keluar. Menghadapi anak-anak seperti mereka setiap hari, siapa yang tahu apa yang akan kamu hadapi?"


Clara melepaskan diri dan menunduk sesaat, pegal juga lehernya terus mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh. Steven sangat tinggi omong-omong.


"Steve ... aku murid beasiswa, ingat? menjadi anggota OSIS itu keputusan sekolah untuk tetap mempertahankan beasiswa karena nilaiku yang pas pasan. Jadi, tolong ngerti ya, hm? aku bisa jaga diri."


Steven berdecak, sungguh dia sangat tidak suka dibantah. Jika tadi yang membantahnya adalah orang lain, mungkin Steven sudah mengeluarkan aura intimidasinya.


"Aku akan melunasi uang sekolah sampai kamu lulus."


"Mana bisa begitu! Kamu mau pakai semua uang sakumu setahun? Jangan gila! Lag pula kalau nanti kita putus mana mung__"


Clara merutuki bebodohannya. Bisa-bisanya dia menyebut kata putus. Clara bahkan bisa merasakan aura diantara mereka yang langsung berubah drastis. Wajah Steven bahkan sudah mengeras.


"Ma ... maksudku__"


"Jadi kamu tiak serius dan berharap putus dariku?" potong Steven.


Clara menggeleng ribut. Wajahnya panik luar biasa.


"Aku tidak mau putus! aku salah bicara. Maksudku ... kalau nanti kamu tidak menyukaiku lagi dan meninggalkanku__" Steven menghela nafas. Bagaimana mungkin gadis dihadapannya ini bisa bicara sembarangan seperti itu?


Jika itu gadis lain, Steven yakin dia sudah menghabiskan banyak uangnya untuk sekedar membeli ini dan itu.


"Keluar dari OSIS. Hari ini aku akan melunasi semua biaya sekolahmu."


Itu keputusan final. Steven mengucapkannya dengan nada tegas tak terbantah. Dia menelfon Sam dan menyuruhnya menjemput Clara.


"Tunggu Sam di dalam saja," putusnya lagi.


Menarik tangan Clara memasuki kelas, mengundang tatapan seluruh kelas kepada mereka. Clara duduk di kursinya sementara dia berdiri bersandar di mejanya. Fokus pada posel. Dia sedang mengirim pesan pada Yuno.


"Bob! Ted!"


Mendengar nama mereka dipanggil, keduanya yang sedang asik bermain game bersama segera memasukkan ponsel mereka dan menghampiri Steven.


"Why?" tanyanya Bob pelan.


"Tell the principal, Clara is out of student council. Withdraw the scholarship."


Bobby melirik Clara yang sekarang bangkit dan menatap Steven tidak percaya. Mengabaikan Clara, Steven mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya dan memberikannya pada Teddy.


"Go to school administration, pay off the Clara tuition"


"Steve!" protes Clara tidak terima.


Steven meliriknya sesaat sebelum memberi gekstur pada teman-temannya untuk pergi.


"Tidak! tunggu ted! Bob!"


Teddy hanya melambai dengan senyum jenaka sebelum keluar kelas. Bobby hanya mengabaikannya. Tentu saja mereka lebih menuruti Steven.


Clara akan kembali bicara namun Sam sudah berteriak heboh di depan pintu memanggilnya.


"Kembali ke kelasmu," suruh Steven lembut.


Sayangnya Clara bergeming. Sam yang melihat ada yang tidak beres akhirnya masuk dan menghampiri mereka.


"Kita perlu bicara!" tegas Clara


"No, hanya kembali ke kelasmu ... sekarang."


Tegas dan penuh penekanan. Jika Clara keras, Steven jauh lebih keras kepala. Sam bahkan sangat ingin lari dari situasi ini. Keduanya saling melempar tatapan tajam. Ketika bel tanda masuk berbunyi, Sam menarik nafas lega.

__ADS_1


Clara mendengus tidak suka. Dia tidak punya pilihan saat ini sebelum kembali ke kelas. Saat Steven duduk setelah kepergian Clara, suasana kelas kembali biasa. Fajar yang sedari tadi melihat drama antara mereka memilih diam. Bisa ia lihat Steven sedang tidak ingin di ganggu.


__ADS_2