
Tom berdiri dengan Sindy yang tampak sedikit pucat. Seperti kurang istirahat dan harus langsung ke kantor setelah Renjun menelfonnya dini hari. Menyuruhnya kembali dan memerintahkannya untuk mendampingi Tom selayaknya pemilik baru.
"Aku rasa rapat sampai disini. Mulai sekarang__" Tom berhenti bicara.
Semua mata menoleh kearah pintu masuk yang kini terbuka lebar. Steven dan Clara masuk diiringin oleh Renjun,Billi dan Carlos dibelakang. Berjalan kesisi kanan dan mendudukan Clara dibangku kosong. Sementara dia berdiri dibelakang gadis itu.
"Kenapa orang asing ada disini?" sindir Tom dengan wajah angkuhnya, lalu ia melirik pada anak buahnya yang langsung bersikap waspada.
"Tuan Steven, anda datang?" tanya beberapa pemegang saham.
"Kamu sudah datang? aku pikir ini hanya akan berakhir dengan kekonyolan. Tapi melihatmu disini sepertinya tidak." kata Aston yang sejak tadi menahan emosi. "Aku sengaja datang untuk melihat pertunjukan, tapi kamu terlambat?" keluh Aston dengan nada tak suka.
"Maafkan aku... dan terima kasih atas kehadiranmu." sahut Steven acuh. Sudah sejak lama rasa hormatnya hilang, biasanya Steven masih bersikap formal jika didepan orang banyak, tapi tampaknya kali ini tidak.
"Apa yang kalian lihat? seret dia keluar!" suruh Tom pada pihak keamanan yang baru saja datang karena dipanggil.
Atensi semua orang kembali pada Tom yang murka dan panik. Steven tersenyum angkuh melihat 3 orang dari pihak keamanan itu hanya menunduk takut saat Steven menatap mereka.
"Tom...Tom...kenapa kamu tidak belajar dengan tekun sebelum datang padaku? Kalau kamu memohon... mungkin aku akan berbelas kasihan sedikit pada perusahaan kecilmu." kata Steven.
"Jangan banyak bicara, seluruh saham milikmu sudah menjadi milikku! Kamu tidak punya wewenang disini!" kata Tom dengan nada mencemooh.
Steven meletakkan kedua telapak tangannya pada pundak Clara. Memberikan ketenangan pada gadis itu. Kemudian dia melirik Renjun. Renjun yang mengerti segera berjalan ke pintu dan membukanya, mengangguk pada orang yang menunggu diluar. Membiarkan mereka masuk.
Tim kuasa hukum masuk secara bersamaan. Mereka menyerahkan beberapa berkas di atas meja dimana Clara duduk..
"Surat itu tentu saja asli, tapi sayangnya tidak berlaku lagi." kata Steven
Terdengar bisik-bisik dari seluruh pemegang saham. Orang yang duduk di dekatnya bahkan berdiri dan melihat bergantian surat-surat itu.
"Semua sahamku sudah berpindah tangan dua hari yang lalu. Juga seluruh aset bergerak dan tidak bergerak. Seluruhnya milik kekasihku. Jadi...Sayang sekali surat itu hanya sampah yang tak berguna sekarang." kata Steven lagi. Wajah datarnya berubah lembut saat dia menatap Clara yang tampak syok. Dia mengelus pundak Clara, menahan agar dia tetap diam karena Clara hendak berdiri.
"Kamu menipuku!" teriak Tom dengan wajah murka. Menatap Steven seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
Steven tidak menghiraukannya. Atensinya tertuju pada Clara yang kini memutar tubuhnya, mendongak menatapnya untuk meminta penjelasan.
"Wajahmu kenapa manis banget hmm?" goda Steven dalam bahas Indonesia.
Renjun, Billi dan Sindy yang mengerti menatapnya dengan wajah tidak percaya. Clara tidak terpengaruh, dia malah menatap tajam Steven.
"Nanti sayang, sekarang nikmati pertunjukannya." kata Steven dengan tenang, lalu mengalihkan atensinya pada seluruh pemegang saham. Mau tidak mau Clara kembali mrnghadap ke depan.
"Untuk CEO ada yang keberatan tetap aku yang memegangnya?" tanya Steven, nadanya jelas tidak biasa. Penuh karisma dan sedikit intimidasi.
"Aku setuju!" kata Aston tampa beban. Mendengar dia dengan mudah memutuskan hal itu, seluruh orang juga akhirnya mengatakan hal yang sama.
Steven melirik Aston dan tersenyum samar, bentuk ucapan terima kasih. Aston tampak sangat santai, matanya bahkan sejak tadi tidak fokus pada kejadian dihadapannya, melainkan pada Sindy yang berdiri di sebelah Tom dengan wajah pucatnya. Meskipun dia memoles wajahnya dengan makeup, kesan sakit tidak bisa ia sembunyikan.
Tom menggeram marah ditempatnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat semua berkas dan kuasa hukum yang dibawa Steven tidak bisa ia bantah. Dengan kasar ia membanting berkas ditangannya dan hendak pergi. Tapi Billi lebih dulu menahannya. Arnold masuk kedalam bersama dua orang detektif dari kepolisian.
"Apa-apaan ini!" murka Tom.
"Anda ditahan atas kasus penculikan, penipuan, juga kasus kepemilikan senjata api ilegal. Anda juga harus menjelaskan dikantor polisi mengenai kasus di Singapura 5 tahun yang lalu . Karena ada bukti yang mengarah pada anda sebagai pelakunya tuan Crush." kata detektif itu.
"Aku sangat bekerja keras selama 2 hari ini. Kamu tahu?" bisik Arnold saat Tom melewatinya setelah detektif itu memborgol tangannya.
"Bill...awasi mereka. Jangan sampai dia kabur diperjalanan." suruh Arnold.
"Kalian bisa kembali, maaf untuk waktu yang terbuang. Selamat siang!" tutup Steven.
Seluruh peserta rapat keluar. Sehingga yang tersisa hanya Aston dan tentunya orang-orang dipihak Steven.
Karena sudah selesai, akhirnya Clara bisa menyadari ada yang salah saat matanya menangkap wajah Sindy yang pucat. "Kak Sindy... kenapa..." belum selesai Clara bicara, Sindy berlari keluar. Tampaknya ia akan memuntahkan sesuatu.
Aston berdiri, dia menoleh pada Steven dan menepuk pundaknya. "Seorang yang Jenius sangat berbeda. Bukankah saatnya kamu sekarang datang?" katanya.
"Tuan Aston... anda memang sangat berjasa bagiku. Tapi keputusanku tetap sama." jawab Steven tegas.
Aston tersenyum, mengangguk sekali lalu pergi begitu saja. Tentu saja dia tidak puas. "Ada apa dengan kalian? apa yang dia inginkan darimu?" tanya Clara. Sesungguhnya sejak tadi gadis itu mencengkram bajunya dengan erat saat Aston mulai bicara. Namun ia tidak lagi terlalu takut setelah Steven mengambil alih atensinya.
"Gadis manis jangan terlalu banyak berpikir. Biarkan saja mereka. Bagaimana kalau kita kerumah sakit? aku akan menjenguk Jun sebelum kembali." sela Arnold. Siapapun tahu bawa Arnold hanya mengalihkan perhatian Clara. Karena dia sadar Steven tampak tak ingin menjawab hal itu.
"Aku tidak akan pergi denganmu!" ketus Clara.
Steven tersenyum dan mengelus kepalanya singkat. "Ayo kerumah sakit, Ren...awasi pekerjaan. Pastikan semua karyawan kembali bekerja dengan nyaman." suruh Steven.
"Tadi kak Sindy kenapa? dia seperti sedang sakit?" tanya Clara saat mereka sudah keluar dan masuk kedalam lift.
"Aku tidak tahu, kenapa kamu masih peduli?"
"Dia ... bagaimanapun dia adalah temanku..." Clara tidak melanjutkannya karena Steven mengelus puncak kepalanya.
__ADS_1
"Jangan kawatir, dia tahu apa yang dia lakukan dan aku yakin dia tidak akan mengganggu hubungan kita lagi." Meskipun Clara tidak menangkap dengan benar arti dari kalimat yang Steven ucapkan, namun satu kata membuatnya malah memerah.
"Hu...hubungan apa? Kita kan tidak punya hubungan!"
"Psstt...hahahaha!" terdengar ledakan tawa dibelakang mereka. Ya, Arnold yang sejak tadi mendengarkan tertawa keras.
Steven berdecak malas lalu melayangkan tatapan mematikan yang membuat Arnold akhirnya diam. Clara menggigit bibirnya pelan, merasa bersalah telah mengatakan hal itu. Dia keceplosan, tidak sadar kalau mereka tidak hanya sedang berdua. Akhirnya, selama diperjalanan pria itu hanya diam saja. Bahkan suasana menjadi sangat canggung diantara mereka berdua.
Sesampainya dirumah sakit, Steven tidak turun. "Turunlah, pergi dengan Carlos dan Arnold." katanya. Wajahnya datar namun nada suaranya tetap lembut.
"Kamu tidak jadi menjenguk Jun?" tanya Clara. Tapi Steven hanya menoleh padanya tampa mengatakan apapun. Clara menjadi sangat kikuk, sehingga dia memilih turun.
Dengan ragu melangkah menuju Arnold dan Carlos yang sudah menunggu. Clara menoleh dan menatap lama mobil Steven yang sudah melaju. Sedikit merasa sedih karena Steven pergi begitu saja.
Arnold sepertinya bisa menebak apa yang terjadi. Dia sudah mengenal Steven dan tahu betul karakternya. "Ayo ke dalam." ajaknya. Clara mengangguk dan berjalan dibelakangnya.
Jun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, Keadaannya mulai membaik dan dia juga sudah sadar. Meskipunnbegitu di masih sangat lemah dan memerlukan bantuan orang lain untuk membantunya melakukan segala hal.
Pintu rawat inapnya terbuka lebar. Dua orang yang menjaganya menoleh dengan cepat. Segera berdiri saat Clara masuk. Mereka menunduk hormat sebelum berjalan keluar. Tentu saja tanggapan Clara bingung dan canggung. Sejak kapan orang-orang Steven jadi lebih formal padanya.
"Jangan bingung Nona, sepertinya mereka dilatih seperti itu oleh Billi." kata Carlos menjelaskan.
"Jun tidur?" tanya Clara, saat menyadari Jun menutup matanya.
"Sepertinya begitu" sahut Arnold dengan nada ambigu.
"Mungkin pengaruh obatnya," tambah Carlos. Dia juga agak tidak yakin.
"Hmm... padahal aku ingin bicara dengannya." gumam Clara.
"Hei! Kenapa wajahmu seperti seorang pacar yang sedang kecewa? jadi sekarang kamu lebih memilih Jun dari pada Steven?" goda Arnold.
"Apa maksudmu? Jun temanku. Di sudah menjagaku selama ini. Dia juga tidak punya keluarga lagi. Jadi aku akan jadi kelurganya!" kata Clara penuh keyakinan.
Arnold tertawa pelan, "Tahu dari mana dia tidak punya keluarga lagi?" tanyanya. Clara menoleh ragu, lalu beralih pada Jun yang masih menutup matanya.
"Itu ... karena dia tidak pernah cerita dan kakak laki-lakinya sudah meninggal. Jadi aku pikir...."
"Naif sekali!" ejek Arnold. "Pantas saja kamu mudah ditipu oleh bocah psikopat itu." tambahnya tampa rasa bersalah.
Arnold mengambil kursi dan menyuruh Clara duduk disana, lalu ia menarik kursi lain dan duduk disebelahnya. Tepat disisi ranjang pasien.
"Mereka benar-benar menyiksa anak ini sampai nyaris mati." gumamnya namun masih bisa didengar. "Kamu tahu penyebab Jun pergi saat itu?" Arnold tidak menoleh, tapi ia tahu Clara menunduk dan meremas tangannya sendiri.
"Karena Steven marah dan memukulnya. Steven salah paham," Clara menoleh saat mendengar suara tawa Arnold. Wajah pria itu jelas mengejeknya.
"Pantas saja Jun pergi, ckckck!" katanya.
"Apa maksudmu?
Arnold menoleh sesaat tapi tidak segera menjawab. "Nanti juga tahu." katanya dengan senyum aneh diwajahnya.
"Oh...aku lapar sekali. Bisa belikan aku makanan dan kopi? Aku sangat lelah setelah tidak cukup tidur berhari-hari." pinta Arnold pada Clara dengan wajah tampa dosa.
"Tuan, anda tidak bisa menyuruh Nona. Biar saya yang__"
"Aku nggak percaya seleramu, boleh kan? Calon adik ipar?" tanyanya dengan wajah membujuk yang terlihat menggelikan.
"Tapi Nona tidak diizinkan oleh tuan Steven me__"
"Aku akan pergi, tunggu sebentar." potong Clara setengah geli, wajahnya terlihat sedang menahan diri agar ia tidak mengumpat. Geli melihat Arnold yang biasanya berwajah serius dan berkata kejam sekarang malah bertingkah imut didepannya.
Setelah keduanya pergi, Arnold meluruskan tubuhnya dan kembali melipat tangannya di dada. Menatap datar Jun yang masih menutup mata.
"Dia sudah pergi jadi berhenti pura-pura sialan!" katanya.
Perlahan kelopak mata itu terbuka, matanya melirik Arnold sesaat lalu menghembuskan nafas. Terlihat tidak nyaman sama sekali.
"Apa cinta membuatmu jadi lemah dan bodoh? bagaimana bisa sibodoh itu menangkapmu?"
"Diamlah, kepalaku sakit." jawab Jun pelan. Arnold mendengus lalu bersandar.
"Apa ini? Kamu bahkan tidak menyangkal. Jadi benar dugaanku? Gosip beredar bahwa seorang Jun yang dingin bisa tertawa karena seorang gadis labil. Bahkan gadis itu mencarimu ditengah ketakutannya. Apa kalian sedekat itu sekarang?"
"Itu ... terjadi begitu saja. Nona hanya sering mengeluh padaku. Aku hanya terbiasa menghiburnya, tidak tahu akan berkembang menjadi seperti ini. Tapi hanya aku sendiri, perasaan Nona tidaklah sama, dia hanya menganggapku teman. Jadi jangan memprovokasinya dimasa depan." jawab Jun.
"Haruanya Steven tidak menempatkanmu disampingnya." Jun tidak menjawab. Dia seperti larut akan pikirannya sendiri. "Sayangnya memang tidak ada yang seteliti kamu. Carlos bahkan mendapatkan cacat ditelinganya seumur hidup." kekeh Arnold kemudian.
"Apa Nona terluka?" tanya Jun pelan.
"Idiot! masih bisa menghawatirkan orang lain. Lihatlah kamu yang dijadikan umpan!" marah Arnold, dia geram melihat perubahan Jun yang menurutnya menjadi sangat bodoh.
__ADS_1
"Kamu tetap akan keluar?" tanya Arnold lagi.
"Saat itu aku hanya ingin pergi sebentar, ingin menghapus perasaanku. Tidak menyangka akan seperti ini. Melihat banyaknya musuh tuan, aku pikir aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa membiarkannya jatuh ketangan musuh untuk kedua kalinya." jawab Jun.
Arnold menatapnya dengan pandangan berbeda. Seperti tidak mempercayai apa yang dikatakan Jun. Arnold melihat perasaan Jun adalah rasa ingin melindungi yang begitu kuat. Ada perubahan besar yang ia rasakan dari cara dan nada bicaranya.
Pintu terbuka dan mereka akhirnya mengakhiri pembicaraan. Keduanya hanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Jun! kamu sudah bangun!" tanya Clara. Dengan semangat ia menyerahkan burger ukuran jumbo pada Arnold dan duduk. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Clara dengan tatapan minta maaf dan Jun dengan tatapan yang sulit diartikan. Banyak hal yang tersembunyi dari tatapan yang diberikan oleh Jun. Sayangnya Clara terlalu polos untuk mengerti.
"Jun...maafkan aku! gara-gara aku kamu dipukul dan akhirnya kamu diculik. Aku ... aku..." Clara menunduk.
"Anda tidak salah Nona, saya baik-baik saja." Sahut Jun saat melihat Clara tidak bisa melanjutkan perkataanya.
"Terima kasih sudah selamat. Jun ... kamu tidak akan pergi lagi kan?" Clara kembali memandangnya.
"Saya pernah pergi, tuan mungkin tak akan menerima saya lagi." jawabnya lemah.
"Dia juga mencarimu, dia pasti akan menerima kamu lagi." sahut Clara cepat.
"Kamu lupa sesuatu calon adik ipar?" sela Arnold sambil mengunyah burger. Keduanya menoleh, "Seluruh aset dan saham sekarang milikmu. Jadi keputusan ada ditanganmu." lanjutnya.
Jun terkejut sesaat, tidak menyangka Steven akan melakukan hal itu untuk menyelamatkan asetnya. Jun bisa memahami dari kejadian itu, apa yang terjadi dan apa tujuan Tom sesungguhnya selain dendam.
"Apa maksudmu! Steven melakukan itu hanya untuk menipu orang itu! jangan sembarangan mengatakan hal itu!" marah Clara dengan wajah tidak senang.
"Senang kamu berpikir seperti itu, jadi aku tidak repot-repot menyingkiranmu kalau seandainya kamu jadi besar kepala dan berkhianat." kata Arnold santai.
"Tuan..." / "Arnold!" kata Carlos dan Jun bersamaan.
Clara terdiam, dia tidak tahu harus membalas perkataan pedas Arnold yang seolah mencurigainya. Dia juga tidak mengerti kenapa Arnold berkata seperti itu. Bahkan tatapan matanya berbeda dari sebelumnya.
"Aku akan kembali ke kantor Steven, terima kasih makanannya." kata Arnold, dia bersikap seolah tidak terjadi apapun. "Kamu tidak ikut, calon adik ipar?" tanyanya dengan sindiran, seolah keberadaan Clara sangat salah disana.
"Aku ... aku akan disini dulu." jawab Clara.
"Tentu, seperti dugaanku." sahutnya, lalu pergi tampa menjelaskan apa maksud perkataannya.
"Nona ... anda baik-baik saja? perlu saya ambilkan minum?" tanya Carlos kawatir melihat wajah Clara yang menjadi murung.
"Tidak perlu, terima kasih."
"Jangan pikirkan perkataannya. Dia memang seperti itu, Nona." kata Jun.
Lalu mereka melanjutkan membahas hal lain untuk mengubah suasana. Jun selalu sukses melakukannya. Dengan cepat Clara kembali ceria bahkan dengan semangat menceritakan pengalamannya saat kuliah. Carlos yang melihat hal itu baru menyadari mengapa nonanya bisa nyaman dan dekat dengan Jun. Bukan karena Jun yang memang humble dan menyenangkan. Tapi ada ikatan tertentu yang sulit dijelaskan. Jun hanya berubah saat dihadapan Clara dan Clara juga langsung nyaman seperti menemukan sosok keluarga yang dia percayai.
.
Di tempat lain, Sindy sedang terbaring di ranjang kamar pribadi milik Aston. Terdiam menatap kembali hasil pemeriksaan dirinya dari rumah sakit.
Flasback:
*Sindy berlari ketoilet wanita yang tidak jauh dari ruang rapat mereka. Memuntahkan seluruh isi perutnya. Dia meneteskan air mata saat melihat keadaannya di kaca. Mual itu belum hilang dan kepalanya terasa pusing.
Sebenarnya rasa mual itu sudah ia rasakan sejak bangun tidur dini hari. Namun ia masih bisa menahannya. Namun semakin lama rasa mual itu semakin parah saja. Sejak tadi dia bahkan kesulitan untuk fokus.
Sindy mendengar pintu toilet terbuka. Namun ia masih muntah dan kepalanya semakin pusing. Dia tidak tahu siapa yang kini berada dibelakangnya. Dia hanya merasakan kalau seseorang merengkuh pinggangnya sehingga ia bersandar di dada kokoh orang itu. Setelah itu semuanya menjadi gelap. Dia pingsan disana*.
Flasback and_
Sindy terbangun di rumah sakit. Setelah berbagai pemeriksaan, dokter datang padanya dan memberikan hasil test. Menjelaskan keadaanya dan penyebab dirinya sampai pingsan.
Setelah itu Aston, orang yang masuk ke toilet dan membawanya kerumah sakit, membawanya pulang menuju mensionnya. Pria yang sudah kepala empat itu menunjukkan ekspresi yang berbeda. Sangat berbeda dari biasanya. Sindy bahkan tidak berani mengatakan apapun. Tidak berani memprotes saat Aston menggendongnya masuk kedalam kamarnya.
"Apa yang menarik dari kertas itu? hasilnya tidak akan berubah jika itu yang kamu harapkan."
Sindy menggigit bibirnya, air matanya jatuh untuk pertama kalinya sejak tahu hasil test itu. Dia mendongak menatap Aston yang masih berpakaian lengkap, dia baru saja dari bawah. Mengambil bubur yang dimasak pelayannya dan membawanya sendiri keatas.
"Aku...aku ingin menggugurkannya." isak Sindy.
Raut wajah Aston berubah gelap. Dia yang tadi ingin menyuapi Sindy kini meletakkan kembali piring itu dimeja. Naik keatas kasur lalu mencengkram rahang Sindy dengan kuat.
"Katakan! katakan sekali lagi kamu ingin membunuh anakku maka aku akan menghancurkanmu dan seluruh keluargamu. Pilih sayang ... pilih mana yang kamu inginkan!" katanya dengan nada penuh ancaman, wajahnya benar-benar mengerikan. "Kamu mengira aku sengaja mengeluarkannya di dalam saat kita bercinta tampa tujuan? Itu karena aku menginginkan anak. Dan aku memilihmu dari sekian banyak wanita yang aku tiduri." Aston melepaskan tangannya, lalu menangkup wajah Sindy. Menciumnya paksa dan brutal. Menarik wajahnya sedikit setelah merasa puas.
"Aku bahkan sengaja menukar pil kontrasepsimu, itu karena aku ingin disini ... tumbuh anakku." bisiknya dengan napas memburu. Mengelus perut Sindy pelan.
Sindy tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Dia merasa hidupnya hancur, yang bisa ia lakukan sekarang hanya menangis. Aston melepaskannya, turun dari ranjang dan merapikan penampilannya.
"Mulai sekarang kamu tinggal disini, makan bubur itu dan minum obatmu. Jangan pernah berpikir untuk kabur kalau tidak ingin kakimu kupatahkan."
Aston pergi, meninggalkan Sindy yang masih menangis. Sindy menatap perutnya dengan frustasi. Dia marah pada keadaan yang menimpanya. Bukan ini yang dia inginkan. Tujuannya hanyalah memanfaatkan kekuatan Aston untuk membantu perusahaan keluarganya. Membuatnya perlahan berada diatas dan membalaskan sakit hatinya pada mantan tunangannya. Mengingat Aldo, Sindy semakin terisak. Karena jauh didalam lubuk hatinya, dia masih mencintainya. Dia masih menginginkan Aldo. Sayangnya dia memilih orang yang salah untuk dimanfaatkan.
__ADS_1