SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
61


__ADS_3

Dua hari setelah penyerangan itu. Jun sudah menyelidiki mereka dan pelakunya ternyata dari orang yang sama. Sejak awal hanya satu orang. Meskipun Raka masih mengintai, tapi anak itu belum melakukan hal yang berbahaya. Anak ingusan itu tentu saja takut pada para pengawal Jun. Dia mungkin gila tapi dia bukan laki-laki yang menguasai bela diri dengan baik. Dia lebih ke pengguna taktik dan otak, bukan otot. Satu lawan satu bukanlah pilihannya meskipun sewaktu-waktu dia bisa melakukan hal itu. Dia pernah melawan Jun dan saat itu dia terluka parah. Sejak itu dia memilih menghindari satu lawan satu, karena dia tahu dia akan kalah.


Dalam dua hari ini tidak ada kejadian apapun. Setelah peristiwa saat mereka pulang, Steven memang menambah pengawalan untuk Clara disekitarnya. Bahkan Billi kembali ditugaskan menyelidiki semua orang di sekitar Clara. Juga menjadi pengawal bayangan di antara mereka.


Steven mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jari telunjuk. Ia sedang berpikir keras. Aston menyetujui penelitian obat dan penciptaan alat terapi bagi Violet. Sementara ini Violet bersedia di ambil sampel darah dan jaringan tubuhnya untuk di teliti. Dengan imbalan yang membuatnya pusing. Parahnya, beberapa saat yang lalu, gadis itu mengajukan syarat yang membuat Steven ingin mencekiknya segera. Violet meminta untuk menjadi tunangannya. Lalu mengumumkan kepada dunia.


"Tuan... apa tidak sebaiknya anda bicarakan hal ini bersama Nona. Rencana ini akan membuat hubungan anda... Maafkan saya." Renjun berhenti dan segera minta maaf saat Steven mengangkat kepalanya, menatapnya tajam.


"Clara tidak boleh tahu, pekerjaan dengan Aston adalah pekerjaan kotor yang merugikan seluruh dunia. Jutaan ... jutaan orang Ren! Dia ingin aku menemukan cara mengendalikan semua orang di dunia ini." desis Steven.


Dia memijit kepalanya kemudian. Aston lebih gila dari yang Steven bayangkan. Rencananya ternyata jauh lebih jahat. Keinginan besarnya selama ini belum terwujud karena dia belum menemukan caranya. Steven bukan ahli obat-obatan, juga bukan peneliti profesional. Apa yang ia bisa lakukan di sana dalam seminggu ini adalah mempelajari apa yang sedang mereka kembangkan. Lalu dari sana ia belajar, karena memahami ilmu apapun tidak sulit baginya.


Fokusnya terbagi-bagi sehingga Renjun yang lebih banyak membuat keputusan saat Steven menghabiskan waktu mempelajari ilmu pengetahuan baru yang belum pernah ia geluti. Membaca banyak referensi ditengah waktu istirahatnya. Banyak buku kedokteran dan buku mengenai ahli medik laboratorium dan buku bagian farmasi yang ia baca. Steven memiliki otak jenius, tidak sulit baginya mempelajari hal baru apapun. Hal yang di lihat oleh matanya bisa langsung ia ingat dan hanya butuh sepersekian detik untuk mengingatnya saat dibutuhkan.


Selama tim dokter dan peneliti lain bekerja keras dengan penyembuhan Violet. Dia juga harus bekerja keras. Menemukan cara bersama sekelompok tim yang bekerja padanya. Menemukan cara bagaimana mengendalikan manusia dan membunuh mereka sesuka hati tampa melibatkan hukum. Aston ingin meletakkan dunia dalam genggamannya. Dia merasa superior dan ingin mengalahkan kebesaran Tuhan.


Mereka bisa saja menciptakan virus menular jika hanya ingin mengurangi populasi seperti keinginan Aston, membunuh manusia yang lemah. Tapi Aston mengatakan pada Steven bahwa dia tidak suka itu, dia ingin dia yang mengendalikan siapa yang bisa hidup dan siapa yang harus mati. Bukan kematian acak karena wabah.


Pekerjaan besar ini membuat Steven stres. Dia terus berperang dengan akal dan hatinya. Dia sudah memiliki satu ide yang keberhasilannya 80%. Masalahnya adalah Steven tidak ingin menjadi salah satu pembunuh jutaan manusia. Dia akan kehilangan segalanya jika Clara tahu. Dia juga akan kehilangan kepercayaan orang tuanya.


"Tuan... sudah waktunya anda pulang." kata Renjun.


"Tinggalkan aku sendiri." perintahnya.


Renjun sama sekali tidak bergerak, Steven berdiri dan menatap gedung-gedung pencakar langit di luar melalui dinding kaca ruangannya. Memasukkan kedua tangannya di saku. Dia sedang fokus pada isi dalam kepalanya.


Seluruh data penelitian muncul satu persatu dalam ingatannya seperti air mengalir. Steven menghubungkan satu dengan yang lain, lalu mengacaknya lagi dan membuat yang baru. Rangkaian anatomi otak manusia berseliweran dikepalanya. Seperti ilustrasi epik yang enak untuk di tonton. Lalu ia beralih pada jantung, paru dan organ-organ lainnya. Bagaimana itu akan bereaksi pada apa yang akan ia masukkan kedalam tubuh manusia. Bagaimana Aston yang selama ini meletakkan sensor pada jantung. Sementara dia harus menemukan cara tampa disadari oleh jutaan korbannya nanti.


Jam menunjukkan waktu tengah malam, tapi Steven masih betah dengan isi kepalanya. Disaat seperti itu Renjun tidak akan berani mengganggunya. Dia sejak tadi hanya berdiri disana. Sambil sesekali membalas pesan Jun yang menanyai keadaan Steven. Bertukar informasi mengenai perusahaan dan keadaan masing-masing orang yang mereka jaga.


.


Paginya, Clara cepat- cepat keluar dan menghampiri Jun yang menyerahkan buku pelajarannya hari itu. Clara memasukkan buku itu dalam tas dan Jun segera mengambil tas itu.


"Steven sudah turun?" tanya Clara saat mengikuti Jun menuju lift. Menoleh kebelakang berharap Steven keluar dari kamarnya.


"Jun? Apa Steven masih dikamar? biasanya dia menungguku."


Jun menekan angka 1 setelah mereka didalam dan lift meluncur kebawah. "Tuan tidak pulang malam tadi. Sampai saat ini dia masih di kantor."


Clara berhenti saat baru dua langkah mereka keluar dari lift. Jun berbalik dan menatap Clara yang juga menatapnya meminta penjelasan.


"Aku rasa dia punya banyak pekerjaan." kata Jun memberi alasan.


Clara menunduk, mengeluarkan ponselnya dan memeriksa pesan. Lalu tersenyum sedih saat tidak ada notif apapun dari Steven. Dengan lesu dia memasukkan lagi ponselnya dalam saku dan mendahului Jun ke meja makan. Jun menghela nafas, dia tidak suka melihat wajah sedih itu. Tapi dia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.


Sesampainya di kampus. Clara segera menghampiri Lusi yang sedang berbicara dengan teman lainnya. Lusi menarik Clara menjauh dari yang lain lalu mengajaknya duduk di salah satu bangku tunggu di lorong.


"Ada apa? kenapa wajahmu seperti itu lagi?"


"Tidak ada, ini karena kamu tidak mau dibujuk."


"Jangan bohong, pembicaraan itu sudah selesai kemarin siang. Jangan mulai lagi." keluh Lusi.


Clara cukup keras untuk memintanya tinggal bersama tapi Lusi menolak. Mereka berdebat antara Lusi yang menyetujui usulan Steven dan Clara yang menolaknya. Jadi saat itu Lusi setuju asal dia punya pekerjaan baru. Tapi Clara tidak mau kalau Lusi bekerja untuknya, itu akan membuat hubungan pertemanan mereka terganggu dan tidak murni lagi.


Jun mengusulkan bahwa Lusi tidak perlu bekerja dan dia akan minta Steven memberikan uang bulanan sebagai ganti tinggal dengan Clara, tapi Lusi yang tidak mau. Dia merasa seperti memanfaatkan Clara. Keduanya tidak ada yang mengalah. Sampai kemarin dimana perdebatan mereka berakhir saat Jun akhirnya kembali ikut campur. Menugaskan seorang pengawal untuk Lusi agar Clara tenang.


"Jadi hanya karena dia tidak pulang wajahmu jadi lusuh begini? ckckck, orang yang jatuh cinta memang sesuatu ya?" ejek Lusi setelah Clara menceritakan penyebab dia tidak bersemangat.


Clara memicing lalu membuat ekspresi kesal. Jun yang ada disana hanya menatap Clara dan tersenyum. Menikmati ekspresi lucunya.


"Aku berani bertaruh saat nanti kamu jatuh cinta kamu akan lebih parah dariku!"


"Huh! Menjadi budak cinta tidak ada dalam kamusku. Cinta itu merepotkan Clara. Apa lagi mencintai diam-diam. Aku akan pilih kelain hati saat itu terjadi. Bukan malah menyia-nyiakan hidupku."


"Itu karena kamu belum merasakannya." bantah Clara.


Clara tidak sadar perkataan itu sebenarnya ditujukan Lusi untuk Jun. Bahkan ia terang-terangan melirik Jun yang juga menoleh padanya. Menyeringai saat melihat wajah Jun yang terkejut.


"Kalaupun aku jatuh cinta aku akan tetap waras, tidak seperti kalian." Lagi-lagi Lusi menyindir. Clara yang tidak peka malah mengira itu ditujukan untuknya dan Steven.


"Cih! aku tunggu saat itu tiba." kesal Clara.


Keduanya masuk kedalam kelas setelah melihat dosen mereka dari jauh. Melupakan pembicaraan barusan. Jun mengeraskan rahangnya sesaat. Dia tertawa dalam hati betapa cerobohnya ia saat di dekat Clara. Mungkin Clara tidak bisa menyadari perasaannya, karena dimatanya hanya ada Steven. Berbeda dengan orang lain yang akan langsung peka.


.


Sampai pulang kuliah, Steven masih tidak menghubunginya. Clara menghela nafas dengan kecewa saat lagi-lagi memeriksa ponselnya setelah kelas.


Lusi sudah pulang duluan karena dia harus bekerja sementra Clara memilih berlama-lama duduk di taman untuk beristurahat sejenak dari aktifitas kuliahnya. Malam ini adalah malam puncak acara seni kampusnya, Clara tentu harus pulang lebih awal agar ia bisa istirahat sejenak. Namun entah mengapa dia tidak ingin pulang.


"Nona... anda tidak pulang?" Carlos menghampiri mereka.

__ADS_1


Clara yang suduk bersandar menggeleng dua kali. "Aku malas pulang." katanya pelan. Lagi-lagi dia memeriksa ponselnya, lalu dengan raut kecewa yang kentara, Clara akhirnya mebelfon Steven. Tapi pria itu tidak mengangkatnya. Sekali lagi Clara menelfonnya, tapi hasilnya sama. Steven tidak menjawab panggilannya.


Clara bangun dan melangkah pergi. Jun yang sudah tidak tahan menelfon Renjun. Bertanya dimana Steven. Jawaban yang di dengarnya membuat Jun menatap punggung Clara dengan pandangan campur aduk. Carlos yang berjalan tepat di belakang Clara menoleh padanya. Namun Jun hanya diam dan malah mempercepat langkahnya sehingga ia berjalan disamping Clara.


"Mau refresing ke pantai atau ke suatu tempat? nonton film?" tanya Jun.


Carlos yang mendengar itu tentu saja jadi curiga. Karena sesuai perintah, seharusnya mereka menjauhi kerumunan demi keamanan.


"Kemana?" tanya Clara, dia terdengar tertarik.


"Hari ini aku akan mengabulkan semua permintaanmu, jadi katakan saja."


"Oho... ada apa dengan Jun? apa ini hari ulang tahunmu? atau kamu dapat jackpot?" tanya Clara sambil terkekeh pelan.


Mereka sampai di parkiran dan Jun membukakan pintu. "Besok hari minggu, apa salahnya bersenang-senang dari sekarang. Sebelum acara nanti malam di kampusmu." jawab Jun.


Carlos tentu saja semakin curiga, namun dia diam saja. Setelah mereka keluar dari parkiran, Clara masih menatap ponselnya dalam diam.


"Clara?" panggil Jun, kali ini dia duduk di sampingnya.


Clara mengangkat kepalanya lalu menoleh. "Apa?" sahutnya.


"Mau kemana? kamu belum jawab pertanyaan tadi."


"Oh... hmm... aku pikir bermain di pantai asik juga."


"Oke, berikan ponselmu." pinta Jun lalu mengulurkan tangannya. Clara tentu saja tidak setuju, dia malah menatap Jun dengan aneh. "Kamu hanya akan terus terganggu kalau melihatnya. Jadi berikan padaku, tuan sedang sibuk dan dia bahkan tidak sempat melihat ponselnya. Renjun bilang jadwal tuan sangat padat." lanjut Jun.


Clara menunduk, "Ya, tentu aja dia sibuk. Aku... aku akan simpan sendiri." kata Clara, lalu memasukkan ponselnya kedalam ransel dengan wajah sendu.


"Jangan sedih, tersenyumlah." hibur Jun, tangannya reflek mengelus kepala Clara.


"Jadi kita akan ke pantai? Saya tahu pantai terbaik di kota ini." kata Carlos.


"Hmm... dari pada itu... Jun! ajari aku mengemudikan kapal." kata Clara tiba-tiba.


"Ka...kapal?" sahut Jun dan Carlos bersamaan. Clara mengangguk dengan semangat.


"Nona, itu..."


"Jun bilang dia akan mengabulkan permintaanku." potong Clara.


Carlos terdiam, melirik dari kaca spion Jun yang terlihat menyesali perkataannya tadi. Carlos tersenyum tipis, cukup terhibur melihat Jun yang seperti itu.


"Clara... kapal itu cukup sulit. Kamu tidak akan bisa hanya dengan sekali lihat."


"Tidak, itu terlalu ekstrim untukmu. Berbahaya!" tolak Jun, hilang sudah sikap hati-hatinya.


"Ish! apanya yang mau mengabulkan! pembohong!" Clara menggerutu dengan wajah kesalnya.


Jun menghela nafas. Dia mengangguk pada Carlos. Dia tidak punya pilihan lain, Clara tidak boleh memeriksa ponselnya. Sebisa mungkin untuk sesaat Jun harus mengalihkan perhatiannya.


Ketika sampai di pantai dan mereka menyewa Satu speed boat. Clara dengan serius memperhatikan arahan yang di berikan oleh Jun. Dia terlihat sangat antusias. Jun sendiri malah gelisah dalam hati. Kawatir senyum itu akan sepenuhnya hilang beberapa saat lagi.


Setelah mengerti, Clara ingin mencobanya langsung. Dengan gugup ia naik dan Jun menyusul duduk tepat di belakangnya. Hal itu membuat posisi mereka sangat intim. Clara bahkan bisa mendengarkan nafas Jun saat tangannya ikut memegang stir. Sebisa mungkin Jun tidak menempel pada punggung Clara, dia benar-benar takut kalau Clara akan merasakan detak jantungnya yang menggila.


"Jangan terburu-buru. Pelan-pelan saja, aku akan mencontohkan sekali dan perhatikan baik-baik."


Clara mengangguk, tangan Jun ada di atas tangannya, memandunya agar ia mengerti gerakan awalnya. "Posisikan kakimu disini." kata Jun.


Carlos dan pengawal lain memantau mereka dari kapal kecil yang mereka sewa. Mengikuti mereka dari jarak dekat jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang berbahaya.


"Mereka seperti pasangan." celetuk salah satu di antara mereka.


"Tuan Jun terlalu kentara, aku bahkan bisa lihat kalau dia terus menatap Nona dengan penuh cinta. Kenapa Nona tidak sadar juga?" sahut yang lain.


"Jaga ucapan kalian, biarkan itu menjadi urusan mereka." potong Carlos.


"Tentu saja, mana mungkin kami berani. Hanya lihatlah, aku lebih setuju saat Nona bersama Jun." sahut pengawal pertama yang membahas hal itu.


"Ya, mereka terlihat serasi. Tapi Nona hanya suka tuan besar." sahut yang lain lagi.


"Tentu saja, tuan yang terbaik." sahut Carlos. "Walaupun Jun juga baik, tapi Nona hanya akan bahagia saat bersama tuan." lanjutnya.


"Tuan sering membuatnya sedih akhir-akhir ini. Apanya yang bahagia." sahut pengawal pertama yang tampaknya lebih mendukung Jun alih-alih bos yang menggajinya.


Obrolan mereka terhenti saat salah satu yang lain berteriak heboh. Menunjukkan portal berita dan mengeraskan suaranya. Di sana, Steven sedang mengadakan jumpa pers dengan Violet dan juga West. Mereka mengumumkan bahwa mereka akan segera bertunangan. Sontak membuat mereka semua saling bertukar pandang tidak mengerti.


"Apa ini? kenapa tuan... " Carlos menatap Clara yang masih sibuk belajar. "Itukah alasan Jun bersikap seperti itu?" Carlos menatap yang lain dengan serius.


"Tapi bisa saja ini untuk bisnis. Hanya pertunangan bisnis. Tapi tetap saja hatinya milik Nona."


"Ya, Melakukan pernikahan bisnis lalu punya pacar lain dirumah mereka tidak asing bagi kalangan seperti mereka." sahut yang lain.

__ADS_1


"Jangan sampai Nona tahu hal ini. Setidaknya ... untuk saat ini." ujar Carlos tegas.


Clara tertawa senang, sedikit-sedikit dia sudah bisa mengendalikannya. Jun sudah melepaskan tangannya dan membiarkan Clara menyetir sendiri.


"Jun! kamu cocok sebagai instruktur!" teriak Clara.


"Terserah kamu, fokuslah kedepan." jawab Jun, ikut tersenyum. Dia malah dengan berani membenarkan ikat rambut Clara.


Clara menoleh sedikit namun tidak memprotes. Dia membiarkan Jun melakukannya. "Kita kembali, kamu bisa kelelahan. Berputarlah ke arah kapal." kata Jun. Mereka memang sudah berlatih cukup lama. Clara mengangguk dan segera memutar dengan sangat pelan. Dia masih terlihat sangat berhati-hati.


"Aku harus mencobanya lagi lain kali sampai aku ahli." kata Clara saat mereka sudah naik ke atas kapal.


"Masuk kedalam dan ganti bajumu. Carlos sudah menyiapkannya." suruh Jun.


Setelah Clara masuk, Carlos menghampirinya. Menunjukkan sebuah artikel yang baru saja terbit beberapa menit yang lalu.


"Karena ini kamu membawa Nona untuk bersenang-senang? Bagaimana kalau dia semakin marah karena kita menutupinya?" tanya Carlos.


"Untuk saat ini sebisa mungkin sembunyikan. Buatlah seoalah kapal ini rusak sampai malam sehingga dia tidak bisa menghadiri acara di kampusnya." perintah Jun.


Clara keluar dengan cepat. Menghampiri mereka yang sudah bersikap biasa lagi. Jun tersenyum dan mengambil alat pancing. Memberikannya satu pada Clara.


"Kita akan memancing? wah... ini akan asik!" Clara mengambilnya dengan wajah bahagia.


Jun tersenyum dan mengambil minuman beserta cemilan yang di bawa oleh pengawal lain. Memberikannya pada Clara. Setelah itu dia menyiapkan umpan dan Carlos menyiapkan bangku-bangku. Pengawal lain ikut mengambil pancing dan duduk di posisi masing-masing.


"Oh? kita akan bertanding?" tanya Clara, ikut duduk di samping Jun.


"Boleh juga, kita bagi menjadi dua tim." kata Carlos.


"Yang kalah hukumannya minum jus cabai." usul Clara.


Seluruh orang menoleh padanya, jelas ingin memprotes tapi tidak berani melakukannya. "Setuju." sahut Jun. Membuat mereka pasrah dan ikut mengangguk setuju.


"Aku mau Jun dalam tim ku." katanya lagi.


Clara tertawa, dia tahu semua orang mengeluh dalam hati akan usulannya itu. Jun lagi-lagi mengelus puncak kepalanya. Tersenyum manis karena kejahilan Clara. Seolah Clara tahu bahwa saat dia di tim yang sama, Jun tidak akan membiarkan mereka kalah.


Apa yang di takutkan pengawal lain terjadi. Jun itu sangat ahli, mereka kalah telak dan Carlos ada di tim yang kalah. Menatap Clara memohon.


"Nona... perutku tidak kuat dengan yang pedas-pedas." katanya.


"Hanya seteguk, tenang aja. Hukumannya saat kita sapai rumah. Jadi ayo pulang dan masak ikan-ikan ini sebelum aku berangkat ke pesta kampus." kata Clara.


Pengawal lain yang datang dari dek kapal menghampiri mereka. "Maaf tuan Jun, mesin kapal bermasalah. Sepertinya ini karena kebocoran bahan bakar. Seseorang sudah pergi membeli bahan bakar dengan speed boat dan yang lain memperbaiki kebocoran." katanya.


"Bagaimana bisa? urus secepatnya." jawab Jun, ekspresinya di buat sedikit kesal.


Clara memeriksa jam tangan di pergelangan tangan Jun. Mendesah kecewa karena perjalanan mereka saja cukup jauh. Dia juga membutuhkan waktu untuk bersiap-siap.


"Sudah sore dan matahari mulai tenggelam. Jun aku harus menghadiri acara kampus."


"Tenanglah Nona, saya akan menghubungi dermaga untuk mengirim kapal lain."


"Tidak bisa, kita ternyata sudah terlalu jauh dari pantai dan sinyal sudah tidak ada." kata Carlos.


"Hah? Kenapa bisa kita sejauh itu." tanya Clara.


Jun mengambil ikan yang mereka dapat dan memberikannya pada salah seorang di antara mereka. "Bersihkan ini, kita akan masak ikan ini disini untuk berjaga-jaga. Nona tidak boleh terlambat makan." suruh Jun.


"Sebaiknya masuk Clara, cuaca mendung dan angin mulai terasa dingin." kata Jun.


Mereka masuk kedalam, sementara seluruh pengawal berjaga di luar termasuk Carlos. Jun mengambil jas yang ia gantung tadi dan memakaikannya pada Clara. Dia sendiri masuk ke dalam satu bilik kecil dan mengganti baju di sana.


Saat keluar, Clara tertawa terbahak-bahak melihat penampilannya. Baju khusus pantai dengan celana dan lengan pendek. Baju itu cukup tipis sebenarnya.


"Jun... aku tidak tahu kamu akan sangat lucu dengan baju itu. Kamu tidak beli baju lain tadi?" kekeh Clara.


"Ini baju yang tersisa di dalam. Aku lupa meminta Carlos membelikanku pakaian baru."


"Oke oke! tapi kamu tetap terlihat oke. Tampan seperti biasa. Model kalah olehmu." puji Clara.


Jun memiliki proporsi tubuh yang bagus. Wajah tampan dan putih khas negara asalnya. Tidak heran banyak teman kampusnya terpikat oleh Jun. Dia bahkan punya grup penggemar khusus. Hanya saja Clara tidak memberitahu Jun mengenai hal itu.


Hari memasuki malam dan kapal mereka masih belum bisa di perbaiki, atau seperti itulah yang di kira oleh Clara. Jun menyuruhnya tidur setelah makan malam. Clara yang memang sudah lelah dan mengantuk akhirnya setuju untuk tidur.


Setelah Clara tertidur pulas, barulah Jun mengangguk pada Carlos. Memberi kode bahwa saatnya mereka kembali.


Sesampainya di dermaga, Clara yang pulas tidak terbagun sama sekali saat Jun menggendongnya keluar menuju mobil. Membaringkannya dan menjadikan pahanya sebagai bantalan.


"Tuan Jun... anda seperti kekasih yang romantis." sindir Carlos.


"Oh ya? Apa aku harus jadi seperti yang kamu katakan? Menjadi kekasihnya?"

__ADS_1


"Aku salah bicara, jangan pernah berpikir untuk melakukan itu." sentak Carlos.


Jun tersenyum, tangannya mengelus rambut Clara penuh sayang. Perasaannya semakin lama semakin campur aduk. Dia sangat tidak rela melihat air mata Clara akan jatuh lagi. Nanti atau besok, dia harus bersiap saat Clara tahu mengenai pertunangan kekasihnya sendiri.


__ADS_2