SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
52


__ADS_3

Sudah dua hari Clara menerima pesan dari nomor tak dikenal. Pesan dari seseorang yang mengatakan Jun butuh pertolongan. Steven tidak sedang di Amerika. Dia melakukan perjalanan menuju Inggris setelah keberhasilan proyek besarnya.


Clara menoleh pada Carlos yang terlihat selalu waspada setelah hari dimana ia bertemu Raka. Bahkan pengawalannya diperketat. Teman-teman satu kelasnya tidak ada yang berani mendekatinya kecuali Lusi. Mereka hanya menjauhinya seolah ia adalah orang aneh. Tentu saja itu menjadi beban, tapi Lusi selalu menghiburnya. Meskipun penasaran siapa yang ada dibelakang Clara sehingga ia dijaga ketat selayaknya aset negara.


"Nona, tuan menelfon anda. Apakah ponsel anda mati?" tanya Carlos saat Clara baru saja keluar kelas.


"Aku dalam kelas, kan?" jawab Clara sedikit kesal. Dia tahu Steven hanya ingin memastikan dia aman. Pria itu terlalu sibuk untuk mengobrol dengannya.


Ketika ponselnya dinyalakan, lalu Clara mencoba menelfon balik, Steven tidak menjawabnya. Clara kesal, ini bukan pertama kalinya sejak hubungan mereka sedikit membaik. Steven selalu sibuk dan tak punya waktu untuk dirumah. Yang paling membuat kesal adalah perubahan drastis wanita yang dulu dekat dengnnya. Sindy seperti sengaja memprovikasinya. Sengaja menunjukkan kedekatan dengan Steven dihadapannya.


"Clara?"


Clara berbalik, menatap seorang pria yang tidak lebih tinggi dari Carlos. Penampilannya sangat modis dan dari apa yang ia pakai, jelas ia berasal dari kekuarga kaya. Tapi masalahnya Clara tidak memiliki kemampuan menilai orang dari merk pakaian, jadi dia hanya mentap pria itu dengan wajah polos. Berbeda dengan beberapa gadis yang sejak tadi mencuri pandang kearahnya. Sejujurnya, selain apa yang dia pakai, dia sangat tampan.


"Kamu kenal aku?" tanya Clara, melirik Carlos yang mulai lebih waspada.


"Profesor membuat nama kita dalam satu kelompok untuk praktek minggu ini, belum lihat daftar pembagiannya?"


"Oh, aku keluar duluan jadi tidak tahu..."


"Ya, aku datang untuk memberitahu. Tomas scott, panggil sesukamu." sahutnya, lalu mengulurkan tangannya.


"Ooh...oke. Aku pernah ketemu Alex scott, apa itu kakakmu?" tanya Clara, penasaran karena nama marga mereka yang sama.


Tomas tersenyum namun jelas terlihat tidak nyaman. "Ya, dia kakak keduaku lain ibu." jawab Tomas.


"Clara? kekantin?" sapa Lusi yang baru keluar.


"Tomas, aku pergi duluan. Besok kita ketemu di perpustakaan usai praktikum kedua. Sampai jumpa." kata Clara, lalu menggandeng Lusi untuk pergi.


"Semua orang dikelas lagi bergosip tentang kamu. Kenapa keluar duluan? harusnya kamu lihat wajah Pricillia." Lusi mengatakannya sambil nyengir. Terlihat sangat senang.


"Siapa Pricillia? lalu apa hubungannya aku sama dia?" tanya Clara. Bahkan Carlos yang mendengarnya tersenyum gemas. Kagum atas ketidak pedulian Clara akan pergaulan kelas atas yang didambakan semua orang. Carlos bahkan sudah tahu mengenai mereka karena selalu mengikutinya.


Lusi tampak frustasi, ini bukan kali pertama dia mendengar ketidak pedulian Clara pada hal yang dianggap keren oleh anak-anak kampus mereka.


"Sekedar informasi temanku sayang... Tomas adalah salah satu most wanted. Lalu siapapun tahu Pricillia sangat menyukainya. Dia mengakuinya terang-terangan."


"Oh..." Clara mengangguk sekilas. "Aku lapar." lanjut Clara kemudian.


Tanggapan Clara membuat Lusi menyesal sudah menjelaskan. Tapi dia sesungguhnya mengagumi sifat Clara yang unik ini.


Saat makan dikafetaria, lagi-lagi Clara mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal. Kalau sebelumnya hanya mengatakan bahwa Jun dalam bahaya. Kali ini dia mengirimkan vidio yang membuat Clara langsung mematung. Perlahan air matanya keluar, sebelumnya dia hanya mengira bahwa itu hanya ulah Raka yang mungkin menerornya dengan rasa takut, tapi begitu ia melihat vidio itu, Clara sangat syok.


"Clara kamu kenapa?" tanya Lusi dengan panik. Dia segera meletakkan sendok dan garpunya lalu meraih ponsel Clara yang sejak tadi dilihatnya. Namun baru beberapa detik, ponsel itu direbut darinya.


Lusi menatap Carlos terkejut. Pria itu membantu Clara bangun dan segera membawanya dengan cara digendong menuju parkiran. Mengabaikan pertanyaan Lusi sepanjang jalan.


"Itu teror kan? siapa yang dividio?" tanya Lusi untuk sekian kalinya. Mereka baru saja sampai di parkiran.


Pengawal lain menghalangi lusi ketika gadis itu hendak menghampiri Clara yang dimasukkan kedalam mobil. Tampa mereka sadari, seorang pria tersenyum dari sebalik tiang. Lalu menghampiri Lusi yang sudah sendirian ketika Clara sudah dibawa pergi.


"Kenapa dengan temanmu?"


Lusi tersentak, terkejut karena tidak sadar sudah ada orang dibelakangnya. Lusi tak mengenalnya dan terlihat bukan mahasiswa kampus mereka.


"Siapa kamu?"


Pria itu tersenyum lalu mendekatinya dengan perlahan. Merasa takut, Lusi segera ambil langkah seribu. Berlari meninggalkan orang itu.


.


Carlos selesai melihat vidio yang ada diponsel Clara. Menyalinnya pada ponselnya dan segera mengirim pesan pada Steven. Clara masih terdiam, terkadang isakan kecil terdengar disela diamnya.


"Carlos ... kita harus selamatkan Jun! Dimana Steven! dia sudah janji mencari Jun tapi lihat apa yang terjadi!" kata Clara dengan suara serak.


"Tenanglah Nona, selama ini tuan mencarinya, hanya saja belum menemukan titik terang. Kami mengira Jun hanya sedang ingin sendiri, tidak mengira ini akan terjadi." jawab Carlos. Pria itu juga terlihat kawatir.


Sementara itu, Steven sedang menghadiri pesta perayaan salah satu rekan bisnisnya di Inggris. Pesta yang biasanya hanya bertujuan mencari relasi dan dukungan pihak yang lebih kuat. Saat itu Steven datang bersama Sindy selaku sekretarisnya. Berkali-kali gosip terselip diantara obrolan rekan maupun saingannya. Steven tentu saja tetap santai. Berbeda dengan Sindy yang bersikap seolah gosip itu benar.


"Kalian baru sampai?" sapa seseorang. Keduanya menoleh, Steven tersenyum seadanya.


"Saya tidak tahu anda menghadirinya, tuan Aston?"


"Oh nak...ini pesta penting. Bahkan Tuan West datang. Bagaimana aku tidak hadir? bagaimana kabarmu? senang mendengar proyek besarmu bersama tuan West sukses besar."


"Sangat baik, seperti yang anda lihat."


Aston melirik Sindy, "Tentu...sangat baik dengan gadis cantik dan seksi disisimu. Dimana pacar kecilmu? aku penasaran apakah dia akan cemburu?" katanya dengan nada jenaka. Seakan sedang bergurau ringan.


"Dia sibuk dengan studynya, lagi pula wanitaku bukan orang yang kekanakan." sahut Steven santai.


Percakapan mereka tentu saja didengar oleh beberapa wanita yang sengaja berada disana untuk mencuri dengar. Hal yang lumrah dimana pria tampan akan dikelilingi pandangan wanita meskipun dia sudah menikah.


Steven merasakan getar ponselnya sejak tadi, namun tidak segera memeriksa karena masih berada ditengah aula pesta. Ketika salah satu bawahannya membisikkan sesuatu. Steven segera pergi meninggalkan Aston begitu saja.


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini," kata Aston saat Sindy hendak mengejar Steven. Dia berbalik kembali dan tersenyum gugup.


"Terima kasih atas pujian anda, Tuan."


"Bisakah malam ini kamu datang? aku butuh teman minum." kata Aston dengan senyum penuh arti. Sindy meneguk ludah dengan susah payah.


"Apa saya punya pilihan?" jawab Sindy dengan nada ambigu. Tentu untuk menghindari pandangan dan tanggapan orang-orang. Ia segera meninggalkan Aston dengan wajah kesal.


Sejujurnya ini bukan pertama kalinya Aston memintanya. Aston memiliki perusahaan keluarganya didalam genggamannya sekarang. Karena itu Sindy mau tidak mau harus menurutinya. Karena tahu nyawanya bisa saja terancam saat orang itu marah padanya.


Steven sampai diluar aula pesta, berjalan ketempat sepi dan segera memeriksa ponselnya. Setelah melihat apa yang dikirimkan Aston, ia segera menuju jalan keluar.


"Siapkan pesawat untukku, kita kebandara sekarang." perintah Steven.


"Tuan akan kembali ke Amerika, kamu diminta menyelesaikan seluruh urusan yang tersisa disini." kata seorang bawahan Steven pada Sindy saat ia sudah diluar aula.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Sindy, curiga karena kepergian Steven yang tiba-tiba. "Apa karena Clara?"


"Lakukan saja perintahnya."


Sindy tertawa sinis setelah ditinggalkan begitu saja. Lalu ia kembali kedalam aula pesta.


.


Clara duduk diruang tamu dalam keadaan cemas. Beberapa pelayan menyajikan cemilan namun tak ada satupun yang disentuhnya. Begitu Carlos menghampiri setelah pria itu menerima sebuah kantung, Clara bangkit dengan cepat.


"Ketemu orangnya?" tanyanya.


Carlos menggeleng, dia meletakkan sebuah ponsel diatas meja yang terbungkus plastik. Clara menatap Carlos tidak mengerti.


"Hanya ponselnya saja, Nona. Kami sedang melacak cctv sekitar tempat ditemukannya ponsel ini."


"Apa itu benar ponsel orang yang mengirim pesan padaku?" tanya Clara. Carlos mengangguk ringkas.


"Saat ditemukan anda sedang menelfon kesini. Vidio dan juga pesannya sudah dihapus oleh pemiliknya."


Clara terlihat kecewa. Tadinya ia sudah bersemangat mendapatkan petunjuk. Karena ponsel orang yang mereka cari terdeteksi dikota yang sama dan tidak jauh dari lokasi mereka.


Malam harinya, Clara tidak bisa tidur. Dia kembali menyaksikan vidio yang hanya berdurasi 15 detik itu. Memperhatikan Jun yang terikat dengan luka besar dipahanya, lukanya yang masih baru dan terus meneteskan darah.


Clara tersentak dan langsung duduk dikasurnya saat seseorang merampas ponselnya. Steven berdiri disana, dengan raut cemas menatapnya.


"Sejak kapan?" tanyanya. Lalu memeriksa histori pesan Clara.


"Sudah dua hari dan dua kali. Kenapa kamu diam aja?" tanya Steven lagi, melempar asal ponsel Clara diatas kasur lalu memijit keningnya. Frustasi dan marah. Menatap Clara yang hanya menunduk.


"Kemari!" perintahnya.


Dalam diam Clara menyingkirkan selimut dan beringsut turun. Dengan pelan berdiri dihadapan Steven yang langsung memeluknya.


"Harusnya kamu kasih tahu sejak awal. Bisa saja itu jebakan untukmu Clara,"


"Tapi dividio itu benar-benar Jun!" sahut Clara, menarik kepalanya dan mendongak.


"Ya, itu memang dia. Tapi berbahaya kalau kamu hanya diam saja. Mulai besok aku yang akan mengantar dan menjemputmu."


"Tolong fokuslah pada keselamatan Jun," pinta Clara, terdengar kesal sekaligus memohon.


"Aku sedang menyelidikimya, cukup dengarkan aku dan jangan pergi kemanapun sendirian!" Clara tidak membantah lagi, dia hanya mengangguk patuh.


"Sudah makan?" tanya Steven dan menghela nafas sesudahnya karena jawaban yang Clara berikan.


Dengan gerakan ringan ia mengangkat Clara dan menggendongnya ala koala. Membuat gadis itu menjerit kecil dan meronta minta diturunkan.


"Steven, turunkan aku!"


Steven tidak menggubrisnya, pria itu membawanya masuk kedalam ruang kerjanya yang ternyata sudah tersedia makan malam untuk mereka. Disajikan diatas troli makanan yang sudah beralih fungsi menjadi meja.


"Aku tidak lapar," tolak Clara saat Steven menyuapinya.


"Jun akan ditemukan! pastikan kamu tetap sehat agar bisa menemuinya!" kesal Steven. "Buka mulutmu!"


Clara cemberut tapi akhirnya membuka mulutnya pasrah. "Kenapa kamu bicara seperti gitu! Seolah Jun adalah pacarku!" ketus Clara dengan wajah masam. Steven menarik sudut bibirnya samar.


"Ooh...jadi bukan? lalu siapa dia, kenapa kamu selalu perhatian padanya?" tanya Steven, sangat santai seolah seorang ayah menanyai anaknya.


"Steven!" Clara memukul bahunya dengan kesal. Mulutnya masih mengunyah tapi alisnya menukik tajam.


"Apa? aku salah?" sarkas Steven dengan tenang. Lalu matanya menatap kedalam bola mata Clara intens.


"Kenapa rasanya kamu terlalu peduli padanya? apa istimewanya dia?" Clara tidak segera menjawab. Setelah menelan makanannya, dia tersedak. Steven segera memberikannya minum dan menepuk pelan punggungnya.


"Aku ... aku kenyang. Tidak mau lagi."


Steven menyuruh pelayan membawa semuanya keluar, juga menyuruh seluruh bawahan dan pelayan lain meninggalkan mereka.


Setelah pintu tertutup, Steven bangkit dengan masih menggendong Clara menuju meja kerjanya. Mendudukkan Clara disamping komputer dan dia mulai berkutik dengan pekerjaannya kembali.


"Kapan kamu istirahat?" tanya Clara.


"Sebentar lagi, aku sedang memeriksa laporan." Clara melirik kekomputer Steven. Melihat apa yang ia baca. Clara mengernyit, sama sekali tidak mengerti karena apa yang ia lihat hanya kurva dan angka.


Steven cukup lama dalam menyelesaikannya, tidak sadar bahwa kepala Clara sudah terhuyung-huyung menahan kantuk. Persis seperti anak TK yang ngantuk dikelas. Ketika Steven mendongak untuk melihatnya, pria itu tersenyum. Lalu dengan tawa pelan mengangkat Clara dan membuatnya tidur diatas pangkuannya.


"Aku mau ke kamar..." rengeknya dengan mata tertutup, kepalanya bersandar dibahu lebar Steven.


"Temani dulu, aku lebih semangat karenamu."


Clara tidak menanggapi kalimat manisnya. gadis itu sudah tertidur. Steven menunduk, lalu mencium pelipisnya pelan sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


Pintu diketuk dua kali, Steven menyahut sambil memperhatikan Clara, memastikan gadis itu tetap tidur. Carlos masuk bersama seorang pria yang berusia 40 tahun.


"Tuan, tampaknya Jun ada di negara ini. Sinyal ponsel terakhir memang didalam kapal tapi kami menangkap sesuatu yang mencurigakan."


"Katakan!"


"Anak yang berbicara dengan Nona di perpustakaan terlihat masuk kedalam sebuah mension milik musuh lama anda, Tuan." Setelah kejadian Clara keluar dengan ketakutan saat itu, Steven memang menyelidikinya. Mengetahui bahwa Raka yang ternyata berhasil menyelinap kedalam kampus Clara.


"Musuh lama?" ulangnya.


"Ya Tuan, dia juga ada di daftar tamu dalam kapal yang sama yang dinaiki Jun."


"Musuhku...cukup banyak sejak dulu. Siapa yang..." perkataan Steven terhenti kala ia mengingat satu nama yang mungkin memiliki dendam paling besar kepadanya. "Tom crush?" bisiknya.


"Benar Tuan, saat ini dia juga ada di Amerika."


Steven melirik Clara yang masih pulas. "Selidiki mension crush. Juga pastikan psikopat itu jangan mendekati Clara." perintahnya.

__ADS_1


"Tidakkah anda merasa Tom mengincar anda, Tuan? Dia hanya menggunakan Jun..." bawahannya itu berhenti, melirik Clara sekilas segera setelah menemukan pemahamannya. Merasa bodoh karena berani menyela.


"Saya akan menyelidikinya, saya permisi Tuan."


Setelah kepergian pria itu, Steven menatap Carlos yang segera menegang ditempatnya. Jelas dia tahu Steven akan memarahinya karena sudah lalai.


"Carlos ... tidak mudah bagiku untuk percaya pada orang lain untuk menjaganya. Sekali lagi kamu membuat kesalahan, aku akan benar-benar menghukummu." Kemarahan Steven ini mengacu pada Carlos yang kecolongan karena tidak mengetahui ada seseorang yang meneror Clara.


"Maafkan saya Tuan, saya akan lebih waspada."


Steven tidak menjawab lagi. Dengan hati-hati ia mengangkat Clara bridal lalu membawanya keluar. Menuju kamar tidur.


Setelah memastikan Clara tidur dengan nyaman, Steven keluar dan masuk kedalam kamarnya sendiri. Dia mengganti baju lalu kembali memeriksa email di ponselnya sebelum tidur.


.


Clara sampai di depan kampusnya. Ketika Steven hendak keluar, Clara melarangnya. "Kenapa?" tanya Steven sedikit sewot.


"Aku tidak mau kamu membuat kehebohan. Lihat!" kata Clara saat banyak anak menatap kearah mobil Steven. "Mobil mewahmu menarik perhatian."


"Kenapa memangnya, aku punya banyak uang untuk kemewahanku." Clara meliriknya sinis. Lalu dengan cepat turun saat ia melihat seseorang yang ia kenal.


Carlos dan dua pengawal lain segera mengikutinya. "Tunggu!" kata Steven pada supirnya saat melihat siapa yang dihampiri oleh Clara. Dia meraih ponselnya dan menghubungi Carlos.


"Ya Tuan?" tanya Carlos, menoleh pada mobil Steven setelah mengangkat panggilannya.


"Siapa pria itu? kenapa Clara terlihat dekat dengannya?"


Carlos menoleh pada dua orang itu sebelum menjawab. "Anak ke empat keluarga schott Tuan. Dia teman sekelas Nona."


"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"


"Itu ... saya pikir ini tidak terlalu penting, jadi..."


"Laporkan dengan siapa saja Clara bertemu setiap hari." potong Steven dingin.


"Ba ... baik Tuan." Carlos yang malang, dia lupa bahwa tuannya sangat posesif.


"Jalan!" perintah Steven dengan aura suram. Matanya tidak lepas dari Clara yang saat ini sudah menghilang dari pandangan.


Sesampainya dikantor, Steven memijit keningnya pelan, dia gelisah dan sama sekali tidak tenang. Renjun menyerahkan beberapa berkas lalu menyampaikan beberapa laporan penting.


"Tuan, anda mendengar saya?" tanya Renjun. Sadar Steven sama sekali tidak fokus.


"Jun belum selesai sekarang muncul Scott, apa dia suka nempel sana sini sekarang?" gumamnya tampa sadar.


Renjun menatapnya heran. "Tuan?" panggil Renjun lagi.


"Ren ... apa hadiah yang biasanya disukai wanita?"


Yang ditanya tentu saja semakin bingung. "Kenapa kamu diam saja?" mata Steven sangat tajam. Membuatnya gelagapan sendiri karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Tuan...kalau ini masalah Nona...saya pikir anda harus bertanya sama ahlinya. Saya..."


"Ck! kamu sama buruknya dengan Carlos soal perempuan." potongnya dengan kesal. "Cari tahu dan carikan aku beberapa hadiah. Serahkan sebelum jam makan siang. Kosongkan jadwalku setelah jam makan siang. Oh ... apa Sindy sudah kembali?"


"Itu ... dia bermalam disana Tuan. Pengawalnya melaporkan bahwa dia diam-diam pergi tepat setelah pesta selesai."


"Kemana dia pergi?"


"Saya pikir ... dia menemui Aston. Karena pengawalnya melihat dia dijemput supir Aston malam itu."


Steven menyeringai, "Selain pengganggu dan penjilat dia juga menjadi ******?" kata Steven dengan nada mencemooh. "Suruh orang kita mendapatkan bukti hubungan mereka. Aku akan sangat terhibur suatu hari nanti." Seringai jahat terukir di bibirnya.


"Dengan senang hati Tuan..." Renjun tenty saja bersemangat untuk itu, sejak awal dia memang tidak menyukai Sindy.


"Cepat urus hadiah yang aku suruh, jangan masuk sebelum kamu menemukannya." Tiba-tiba Steven galak lagi. Renjun hanya bisa pasrah. Dengan lesu keluar setelah menyampaikan laporan pentingnya.


Apa yang dilakukannya selanjutnya adalah menanyai para karyawan. Mendapatkan info dari mereka sebelum pergi menuju mall mencari apa yang harus ia beli.


"Sebenarnya ada apa dengannya? kenapa tuan tiba-tiba lebih agresif?" gumamnya sambil melihat-lihat isi pusat perbelanjaan.


.


Seperti pembicaraan mereka tadi pagi, Clara dan Tomas sedang ada di perpustakaan untuk mendiskusikan tugas mereka. Mencari beberapa referensi sekaligus mulai mengerjakannya.


"Menurutmu apa judul yang cocok?" tanya Clara saat Tomas kembali duduk dengan dua buah buku tebal. Clara sedang memulai ketikannya.


"Kita buat diakhir bagaimana? aku belum punya ide. Lagi pula ... kenapa sedikit sekali referensi buku tentang apa yang akan kita buat? Aku pikir kita harus ke perpustakaan yang lebih besar."


"Itu ide yang bagus."


"Setelah makan siang? kita hanya ada kelas sore setelah ini bukan?"


Clara mengangguk singkat, menyetujui ide Tomas. Lagi pula dia juga belum pernah kemanapun selain bersama Steven dan Jun. Ini akan jadi perjalanan pertama bersama teman seangkatannya.


Setelah dirasa cukup, keduanya keluar bersama. Bertepatan dengan sebuah pesan diponselnya. Clara memeriksanya tepat di depan pintu keluar. Pesan yang membuatnya terpaku.


"Clara, ada yang salah?" tanya Tomas.


Clara tersenyum kaku lalu menggeleng. "Ayo ke kafetaria, temanku sepertinya sudah disana." katanya. Namun Tomas tampak bingung. Clara yang hendak melangkah ikut bingung karena pria itu diam saja.


"Ada apa?" tanyanya.


"Tadi ... kamu bicara apa? aku tidak mengerti bahasamu." Clara menepuk keningnya sambil tertawa pelan.


"Maaf, aku kelepasan berbahasa Indonesia." jawab Clara.


Tomas ikut tertawa, akhirnya mereka sama-sama berjalan beriringan. Clara tahu banyak wanita meliriknya sinis, namun dia memilih abai.


Carlos yang berjalan dibelakang mereka hanya berdoa tidak akan ada yang terjadi. Pasalnya dia baru saja menerima pesan dari tuannya bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju kampus dan tidak mengizinkannya memberitahu Clara.

__ADS_1


__ADS_2