
Setiap manusia akan bertumbuh. Dari anak-anak menjadi dewasa. Dari mental yang labil menjadi matang. Segalanya akan sampai pada waktunya dengan cara yang berbeda-beda. Setiap orang yang berhasil bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi. Karena hidup yang terus berjalan, setiap masalah juga akan hilang dan datang silih berganti. Selama manusia masih bernapas, dia akan memiliki masalahnya masing-masing. Karena itulah, menghadapi dan menyesuikan diri adalah jalan satu-satunya. Bukan lari apalagi bersembunyi. Jika kita bisa mengubah hal buruk menjadi lebih baik, bukankah patut dicoba?
Clara menatap seluruh isi kamarnya. Tidak ada yang berubah. Dia berdiri di depan kaca. Menatap pantulan dirinya yang baru saja selesai mandi dan masih memakai baju mandi.
Mengingat kembali bahwa sepanjang perjalanan pulang hanya Sindy yang mengajaknya bicara. Steven memilih diam. Tampaknya dia masih berusaha menenangkan diri dari emosi dan kekecewaannya setelah apa yang terjadi. Seperti itulah yang yang diliht Clara.
"Apa yang kamu pikirkan? Berpakaianlah, kita akan makan malam bersama Aston dan Sindy." seru Steven dari ambang pintu.
"Steven!" panggil Clara saat Steven akan pergi.
Dia menghampiri Steven dan berdiri tepat dihadapannya. Mendongak menatap pria tegap yang kini menatapnya dalam diam.
"Sejak kembali, aku ingin mengatakan ini. Aku ... aku minta maaf."
Steven mengangkat tangannya, menyentuh wajah Clara dengan pelan. Membungkus sebelah pipinya dengan telapak tangannya yang besar.
"Untuk yang mana?"
Clara mengerjap, tiba-tiba saja menjadi gugup dan takut. Wajah Steven masih sama, datar dan tidak terbaca.
"Untuk ... semuanya." jawabnya pelan.
Steven menurunkan tangannya. "Bersiaplah, aku akan menunggumu di bawah."
Clara menggigit bibirnya, menatap punggung lebar Steven yang tampak tak tersentuh. Sejak sampai kembali ke rumah ini, Steven bersikap sangat dingin. Clara tahu Steven masih marah. Namun dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara membujuknya. Clara sudah memutuskan untuk kembali, namun dia sedikit kecewa karena Steven malah mengabaikannya.
Di dalam mobil, hening seperti sebelumnya. Billi yang menjadi asisten pribadi Steven dan Carlos yang mengawal Clara saling bertukar pandang. Menelan ludah dengan susah payah karena atmosfir yang diciptakan keduanya.
Sesampainya di restoran. Aston dan Sindy sudah ada disana. Tempatnya sangat privat. Sindy bahkan membawa anak mereka.
"Selamat datang kalian berdua." sapa Aston basa basi. Namun diabaikan oleh Steven, sementara Clara tersenyum canggung.
"Kenapa mengundang kami? Mau pamer keluarga bahagia?" sarkas Steven.
Aston berdecak, dia mengeluarkan surat undangan dan menyodorkannya kedepan Steven.
"Kalian akan menikah?" tanyanya dengan nada sangsi. Lalu dia beralih menatap Sindy. "Kamu setuju? Kudengar kamu sangat mencintai Aldo dulu? Sudah bisa move on?"
"Jangan merusak suasana nak," tegur Aston.
Steven tertawa pelan, tawa penuh ejekan sebenarnya. Karena dia sangat iri pada Aston saat ini.
"Kenapa kita tidak melakukannya bersama?" usul Sindy.
"Apa yang bersama?" sahut Aston.
"Menikah? Mereka bisa bergabung. Jadi akan ada dua pengantin."
Clara yang tadi sendang minum tersedak. Steven tersenyum miris melihat reaksinya. Sindy sibuk menepuk-nepuk pelan punggung Clara sehingga tidak memperhatikan wajah Clara yang terlihat canggung.
Ketika Clara sudah tidak batuk lagi, suasana seketika berubah sangat canggung. Aston dan Sindy bertukar pandang setelah menatap Steven dan Clara bergantian.
"Kalian bertengkar?" tanya Aston.
"Huh? Ti ... Tidak!" jawab Clara.
"Lalu kenapa kalian terihat aneh." tanya Aston lagi.
Clara tidak menjawab, dia melirik Steven yang acuh dan memilih makan ketika makanan mereka datang.
"Dia terlihat tenang." kata Clara setelah beberapa saat mereka makan, menatap bayi Sindy yang tertidur di box bayi.
__ADS_1
"Hmm ... aku harap kalian punya anak perempuan agar bisa dijodohkan dengan jagoanku." jawab Sindy dengan senyum penuh keibuan.
Clara tersenyum, dia melirik Steven yang ternyata juga menatapnya. Seketika Clara menjadi gugup.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Aston.
"Jangan tanyakan padaku, kamu harusnya bertanya padanya. Tanyakan juga apakah dia bersedia menikah denganku? Karena selama ini dia menolak namun malah kabur dan ingin menikah dengan pria lain."
"Steve! Bukankah aku sudah minta maaf?" sahut Clara cepat.
"Minta maaf? Kamu bahkan tidak tulus."
"Aku tulus! Aku benar-benar tulus!"
"Benarkah? Kalau begitu buktikan." tantang Steven.
"Bu ... bukti?" ulang Clara dengan bingung.
Aston menatap Steven remeh. Sangat tahu isi kepala Steven saat ini.
Mereka menyudahi pertemuan dengan baik. Clara melihat Sindy yang tampak lebih bahagia. Clarq hanya bisa menduga Sindy sudah bisa menerima Aston dan melupakan Aldo.
Sesampainya dirumah, Steven mengabaikannya begitu saja. Membuat Clara mendengus dengan jengkel. Tadinya ia berniat menyelesaikan masalah mereka, namun lagi-lagi Steven bersikap dingin.
Dengan cepat Clara mengejarnya, sebelum Steven masuk ke dalam kamar, Clara memeluknya dari belakang.
"Ja ... jangan masuk dulu. Ayo bicara!"
Steven tersenyum kecil ketika merasakan jantung Clara yang berdetak sangat kencang, namun buru-buru menghapusnya ketika akan berbalik.
"Bicaralah," suruh Steven, masih bersikap acuh.
"Apa aku harus tertawa untuk menghiburmu?"
"Steve... aku_"
"Bukankah kamu minta maaf? Kalau benar buktikan penyesalanmu karena sudah membuatku menderita selama kamu bersama pria lain!"
"Itu ... Aku dan Jun tidak_"
"Apa kamu tahu aku nyaris gila? Aku bahkan seperti pria gila karena kepergianmu! Alih-alih menyampaikan pendapatmu, kamu malah pergi." potong Steven lagi.
"Itu karena kamu tidak mendengarku Steven, kamu juga tidak jujur padaku. Kamu ... kamu tahu kenapa aku pergi tapi kenapa sekarang aku yang disalahkan?"
Steven melipat tangan di dada. Dia mengutuk dirinya karena salah ucap. Seharusnya dia tidak mengatakan kalimat terakhir. Dia lupa dialah yang menjadi pemaksa.
"Ya, semua salahku. Semua hanya salahku. Selamat malam." serunya, bukan Steven namanya kalau dia kalah berdebat dengan Clara. Pria keras kepala dan pemaksa adalah nama tengahnya kalau tidak salah.
Clara menarik tangan Steven yang ingin berbalik lagi. Lalu memeluknya dengan erat. "Maaf Steven, aku juga salah. Ini salahku juga yang banyak menuntutmu. Kamu juga pasti kesulitan dengan Aston saat itu. Juga dengan pihak West, aku yang tidak mengerti."
Steven tersenyum lebar. Lalu buru-buru menghapusnya lagi. Menarik Clara dan menatapnya lurus-lurus. "Katakan, apa kamu menyukai Jun?" tanyanya.
"Tidak, aku menganggapnya sebatas teman."
"Lalu, bagaimana dengaku?"
"Aku..."
"Angkat wajahmu dan tatap aku Clar," suruh Steven dengan nada dalam yang rendah, "Bagaimana perasaanmu padaku?" lanjutnya setelah pandangan mereka bertemu.
"Jantungku ... masih berdetak kuat, aku masih ingin memelukmu. Aku masih ingin melihatmu setiap hari, saat pergi dan jauh darimu ... aku selalu merindukanmu."
__ADS_1
Steven tersenyum, kali ini senyum yang lebar dan tulus. Dia mengangkat tubuh Clara dan menggendongnya dengan gaya koala. Lalu menarik tengkuk gadis itu untuk mendekat. Menempelkan bibir mereka. Memberikan Clara ciuman penuh cinta yang sangat besar.
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Mulai sekarang, aku akan menghindari menyakiti orang lain. Sebisa mungkin aku akan menghindari apa yang membuatmu tidak nyaman." bisik Steven setelah ciuman mereka berakhir.
"Hmm, berjanjilah padaku."
"Aku janji sayang."
Keduanya tertawa bersama.
"Tidur dikamarku?" tawar Steven dengan nada menggoda.
Clara tertawa dan menggeleng. "Nanti setelah kita menikah." tolaknya.
"Kapan?"
"Kapanpun kamu ingin, aku sudah siap."
Steven tertawa lebar, membawa Clara masuk kekamar gadis itu. Membaringkannya diatas kasur dan menyelimutinya.
"Selamat malam, sayang," kata Steven lalu mengecup keningnya.
"Selamat malam juga."
.
Resepsi pernikahan Aston dan Sindy di adakan di dalam sebuah gedung megah dan mewah. Orang tua Sindy datang dari Indonesia. Clara melihat kecanggungan antara mereka, namun tampaknya mereka tidak marah lagi pada Sindy. Terkecuali ayahnya, bukan marah, melainkan seperti enggan karena malu akan sikapnya sendiri. Apalagi menantunya adalah Aston, orang terkaya nomor satu saat ini.
"Tahun depan, aku akan mengalahkanmu." kata Steven ketika menyalami Aston.
"Kamu tidak akan bisa, jangan terlalu banyak bermimpi Nak," jawab Aston.
"Mulai lagi deh," keluh Sindy. Clara hanya tertawa.
Tiga sahabat Steven dan Arnold hadir juga karena diundang oleh Aston. Hal itu tentu saja karena mereka orang terdekat Steven. Kini mereka ikut bergabung setelah menjauh dari tamu yang lain.
"Senang melihatmu menjadi manusia lagi sobat! Aku dengar kamu menjadi mayat hidup terakhir kali," ejek Sam.
"Hahaha! Aku bahkan taruhan dengan idiot ini apakah kamu akan menikahi Clara pada akhirnya atau tidak." sahut Fred.
"Siapa yang menang?" tanya Clara dengan nada sindiran, Steven terkekeh dan mencium singkat bibirnya.
"Tentu saja aku!" jawab Sam dengan bangga.
"Dasar anak labil." ejek Aston.
Semuanya menoleh dan mencibir, lalu serentak mengatakan hal yang sama.
"Dasar pak tua." Lalu semuanya tertawa kecuali Aston yang menatap mereka jengah.
"Aku tahu ini bukan kapasitasku, tapi aku berharap kamu tidak akan membawa Steven pada hal-hal yang melanggar hukum. Kedepannya, jangan menyakiti orang lagi." kata Clara pada Aston.
"Dulu ... mungkin aku akan membunuh orang yang berkata demikian. Tapi saat ini ... aku akan memikirkan kata-katamu." jawabnya dengan tegas.
Clara tersenyum, lalu menoleh pada Steven yang sejak tadi selalu menatapnya. Steven tersenyum dan mengangguk sekali. Menunjukkan kalau dia mendukung apa yang Clara katakan.
Masalah apapun memang selayaknya dihadapi. Bukan lari dan bersembunyi. Karena setiap masalah selalu memiliki penyelesaian. Kuncinya hanya satu, kedepankan maslahat dari pada keegoisan pribadi.
Cinta memiliki pengaruh yang kuat. Karena cinta semua orang bisa berubah ke arah yang lebih baik. Cinta bisa membuat bahagia, tapi tidak jarang menimbulkan rasa sakit. Tapi ingatlah, rasa sakit juga bagian dari cinta. Jadi, nikmati keduanya yang akan datang silih berganti dalam hidupmu.
... And...
__ADS_1