
Clara didorong kedalam suatu ruangan gelap dan pengap. Bau anyir darah dan bau busuk menyeruak hingga membuatnya mual. Saat lampu menyala, saat itulah dia melihat Jun yang terbaring setengah sadar dengan tubuh penuh luka.
"Aku tidak bohong kan, kak Clara?" Clara yang tersungkur melirik Raka yang berjalan mendekatinya.
Raka berjongkok lalu membuka ikatan di kaki Clara, kemudian perlahan menariknya bangun untuk duduk di sebuah kursi kayu yang ada disana.
Mengikat lagi tubuh Clara dengan cepat. Seluruh tubuh Clara menggigil ketakutan. Traumanya baru saja sembuh tapi dia dihadapkan dengan seorang psikopat yang lebih kejam.
"Ayo mengobrol dulu, aku sangat senang bisa bertemu kakak lagi." kata Raka, lalu menarik kasar penyumbat mulut Clara.
"Wajah yang dihiasi air mata ini sepertinya lebih cantik kalau diukir sedikit," katanya, lalu Raka mengeluarkan pisau lipat kecil dari saku celananya.
"Tahan dirimu, tuan melarang menyakiti wanita itu sampai rencana berhasil." kata seseorang yang baru saja masuk. Sepertinya sejak tadi dia memperhatikan dari luar.
Senyum diwajahnya luntur. Dia bangkit berdiri, berjalan kearah pria itu hingga mereka saling berhadapan. "Setelah dia ... aku akan bersenang-senang denganmu." kata Raka dengan arogan. Ia melewati pria itu untuk keluar.
Pria itu menatap Clara beberapa detik sebelum menutup pintu. Meninggalkan Clara yang menangis dan berusaha melepaskan diri.
"Jun ... Jun kamu dengar aku? Jun...!" panggil Clara.
Jun mendengar suaranya, matanya terasa sangat berat. Sejak tadi dia mendengar percakapan mereka, tapi Jun tidak memiliki tenaga lagi. Lukanya mulai infeksi dan dia sama sekali tidak makan. Mereka tidak benar-benar memberinya makan dua hari terakhir saat Jun tidak bisa lagi bergerak.
"Jun ... bertahanlah kumohon ... hik hik!" isak Clara.
Dengan sisa tenanga yang ada, Jun membuka mulutnya. Memanggil namanya namun Clara tidak bisa mendengarnya. Suaranya hanya seperti bisikan.
Sementara itu, di mension Steven, setelah dia mendapatkan telepon dari Tom, mereka segera menyusun strategi yang dipimpin oleh Billi. Steven sendiri bersama Renjun mempersiapkan berkas yang Tom minta.
"Tuan ... anda yakin akan menyerahkan ini? seluruh kekayaan anda?" tanya Renjun. Mereka sedang diruang kerja Steven.
"Lakukan yang dia minta. Bagaimanapun tikus hanya bisa lari kedalam lubangnya. Maka yang perlu dilakukan memancingnya dengan makanan bercampur racun. Dia akan mati dengan sendirinya."
Setelah membuatnya, Steven menyuruh Renjun memberikannya pada pengacaranya.
"Hanya ... berikan pada tuan White?" tanya Renjun, karena bukan hanya surat pernyataan, seluruh surat bukti kepemilikan asetnya juga disana. Setelah Renjun pergi, Steven mengeluarkan ponselnya dan menelfon Mr.White. Memberinya satu perintah.
"Kali ini aku akan membuat kedua kakimu tidak berfungsi, Tom..." desisnya tajam.
.
Tengah malam, Steven bersama Renjun pergi menuju sebuah gedung tak terpakai jauh disudut kota. Saat mereka sampai, Tom sudah menunggunya. Membawa Clara yang terikat kedekatnya. Tidak ada Raka, entah dimana anak itu bersembunyi. Tom membawa banyak anggotanya.
"Aku menyuruhmu datang sendiri tapi kamu datang berdua." kata Tom. Mereka bertemu dibagian depan gedung.
"Aku tidak tahu kalau kamu sudah memiliki cukup banyak kekuatan. Apa ini puncak kekuatan yang kamu bangun setelah aku hancurkan?" tanya Steven, lalu dia melirik kaki kiri Tom yang tertutup celana bahan. "Apa kaki besimu berfungsi dengan baik? aku bisa minta Aston membuat yang lebih canggih satu untukmu." lanjut Steven dengan penuh ejekan.
Tom menggeram marah, "Kamu mau aku menghabisi pacarmu segera?" balas Tom, lalu mengacungkan pistol pada kepala Clara yang terus meneteskan air mata dalam diamnya. Gadis itu diikat disebuah kursi.
Steven mengambil koper dari tangan Renjun lalu maju dua langkah. "Serahkan dia," kata Steven.
"Tentu, setelah aku pastikan itu asli." kata Tom, lalu menyuruh anak buahnya untuk mengambilnya.
Steven tentu saja tidak bodoh, dia tidak memberikannya. Hanya menatap mata Tom dengan tajam.
"Lepaskan dia baru kamu bisa bernegosiasi lagi!"
"Aku yang bisa menentukannya disini bajingan kecil!" Tom menempelkan pistolnya ke pelipis Clara lalu menyeringai.
Mau tidak mau Steven menurutinya. Ia memberikan koper itu. Tom tersenyum senang, dia menyuruh anak buahnya membuka ikatan Clara setelah memastikan semua berkas yang diberikan Steven asli.
"Senang berbisnis denganmu, nah...ambil wanitamu kalau bisa." kata Tom dengan seringai jahat. Tom pergi dengan perlindungan anak buahnya.
Sementara itu, Raka muncul begitu saja dari puluhan anak buah Tom, maju dan menggendong Clara. Membawanya pergi begitu saja. Steven tentu saja tidak tinggal diam.
Perkelahian terjadi antara Steven bersama Renjun dengan puluhan anak buah Tom. Keduanya tentu saja memiliki kemampuan bela diri diatas rata-rata. Pasukan Steven yang dipimpin Billi mulai mengepung. Steven dibentengi dan pria itu keluar.
Diluar, Billi sudah mengepun Tom dan masih terjadi pertempuran. Steven mencari Clara yang dibawa oleh Raka. Namun ia tidak melihatnya dimanapun. Steven panik, dia berlari menuju area mobil terparkir. Benar saja, Raka sedang memasukkan Clara kedalam mobil miliknya.
__ADS_1
Dengan cepat Steven menarik anak itu yang akan masuk ke kursi kemudi. Menghempaskan kepalanya dengan kuat kekaca mobil lalu melemparnya agar menabrak badan mobil disebelahnya. Raka tumbang dengan mudah. Anak itu mungkin menguasai bela diri, namun Steven bukan lawan yang imbang. Ditambah tubuhnya yang kecil dan kurus.
"Clara..." kata Steven, melepaskan ikatan diseluruh tubuh Clara lalu memeluknya erat.
"Steve ... Steve aku takut sekali!" isak Clara. Mencengkram baju Steven dengan sangat kuat. Membalas pelukan Steven dengan tubuh bergetar.
"Aku disini...semua aman. Semua akan baik-baik aja." bisik Steven untuk menenangkannya.
Sepuluh menit berlalu, Billi menghampiri mereka. Steven sudah turun dari mobil dengan Clara dalam gendongannya.
"Tom berhasil kabur. Seluruh anak buahnya sudah kami bereskan."
"Jun?" tanya Steven.
Clara yang mendengar nama Jun baru teringat bahwa Jun masih di dalam ruangan gelap itu. Saat ia diseret, Jun sudah tidak sadarkan diri. Maka dia melonggarkan pegangannya dan menoleh pada Billi.
"Tim B berhasil menemukannya di ruang bawah tanah mension Tom. Dia sudah dibawa kerumah sakit."
"Ternyata benar disana." gumam Steven. "Ayo pulang." lanjutnya. Clara tentu saja tidak setuju, dia memberontak kecil. Steven menatapnya datar, tahu pasti apa yang diinginkan gadis itu.
"Kita harus kerumah sakit, aku mau lihat Jun. Kita harus pastikan dia selamat!" pinta Clara dengan suara lirihnya. Pegangan pada leher Steven menguat. Steven menghela nafas, bukannya tidak ingin tapi melihat kondisi Clara, Steven ingin dia istirahat. Sayangnya dia kalah oleh mata berkaca-kaca milik gadis itu.
"Kerumah sakit." kata Steven dengan sabar.
Clara bernafas lega. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Steven di dalam mobil. Duduk diatas pangkuan Steven dan dia hanya merasa aman dengan cara seperti itu. Tentu saja Steven tidak menolak, dia bahkan sangat senang.
"Tuan ...Tom kabur membawa semua berkas itu, dia pasti akan mulai menguasai perusahaan besok." kata Renjun, dia duduk didepan bersama Billi yang membawa mobil.
"Jangan kuatirkan apapun Ren...dia tidak akan bisa melakukan apapun." jawab Steven santai.
"Apa maksud anda, semuanya ada padanya. Anda tidak punya apa-apa lagi selain beberapa properti pribadi." tegas Renjun dengan nada putus asa. "Tuan... saya tidak rela dia menguasainya begitu saja! Anda sudah bekerja keras dan mengorbankan banyak hal." tegasnya lagi setengah merengek.
"Memangnya apa isi koper itu?" tanya Clara, memainkan kancing kemeja Steven. Menerka-nerka apa isi tebusan yang membuat Renjun terlihat frustasi.
"Bukan apa-apa," jawab Steven santai. Mengelus pipi Clara dan merapikan rambut gadis itu.
Billi melirik sedikit kebelakang, "Tuan...mengapa anda melarang saya mengejarnya?" tanya Billi. Dalam kepalanya terbersit kecurigaan namun ia ingin memastikan.
"Karena tidak ada gunanya." jawab Steven. Billi bertanya-tanya apa yang direncanakan Steven sehingga dia terlihat sangat tenang saat ini. Padahal semua kekayaannya sudah berpindah tangan. Billi tahu ada sesuatu, namun dia tidak bisa menebaknya.
.
Mereka sampai dirumah sakit. Jun sedang berada di ruang ICU karena kondisinya. Dokter bahkan berkata kalau mereka terlambat sampai besok harinya, kemungkinan Jun sudah mati karena kondisi tubuhnya yang semakin memburuk. Namun setelah pertolongan cepat di UGD dia sudah melewati masa kritisnya. Segala tindakan pencegahan infeksi dan pemberian asupan makan diberikan padanya.
"Kamu harus istirahat, sudah dengar kata dokter kan?" bujuk Steven. Clara mengangguk patuh, lalu ikut berdiri dan mengalungkan tangannya pada tangan Steven. Sejak tadi dia memang tidak melepaskan Steven jauh-jauh darinya.
"Mau aku gendong saja?" tawar Steven dengan sangat lembut.
"Tidak usah, banyak orang." kata Clara.
Steven mengusap kepalanya dan tersenyum. "Kamu masih takut tapi masih peduli perkataan orang." komentarnya sambil melingkarkan tangannya dipunggung Clara. Mencengkram lengannya lembut tapi kokoh secara bersamaan.
Billi menatap Renjun yang wajahnya sudah sangat kacau. Luka memar dan bibir yang sedikit pecah. "Apa sifat asli Tuan memang begitu? Kenapa yang aku tahu berbeda?" tanya Billi. Pria itu hanya bertemu Steven sekali dulu dan hanya berbicara dengannya melalui telepon beberapa kali. Dia hanya tahu Steven dari Jun itupun tidak banyak.
"Selamat datang dinerakamu, aku harap kamu punya pengalaman dengan gadis, kalau tidak kamu akan tersiksa seperti aku." kata Renjun. Mulai melangkah pergi menyusul Steven dan Clara.
Billi tentu saja bingung, pria itu memanggil salah satu anggotanya dan menyuruhnya menunggu dirumah sakit. Mereka akan bergantian menunggui Jun.
.
Pagi hari, Steven bangun terlebih dahulu. Dengan wajah cerah. Tidak seperti biasanya dia terburu-buru kekantor. Dengan santai dia malah menikmati wajah tidur Clara padahal matahari sudah sangat terang. Dia bahkan melewatkan waktu sarapan karena menunggui Clara yang sangat pulas.
"Cantik, sampai kapan aku menunggu, hmm?" gumamnya. Jarinya sibuk menusuk-nusuk pipi Clara.
Clara yang merasa terganggu membuka matanya, menoleh kesamping. Seketika wajahnya merona karena senyum pria tampan di dekatnya itu sangat mempesona. Dengan cepat dia berpaling lalu duduk.
"Sejak kapan?" tanya Clara, merapikan rambutnya. Meringis kecil saat melihat pantulan dirinya dikaca besar meja rias. Mata dan wajah bengkak efek menangis tadi malam dan terlambat bangun.
__ADS_1
"Kamu tetap cantik." ujar Steven saat melihat Clara yang terlihat malu setelah melihat wajahnya di kaca.
"Keluar steve, aku mau mandi. Aku izin kuliah ya? Aku mau menjenguk Jun, boleh kan?" katanya.
"Setelah kita keperusahaan, sayang. Aku perlu bantuanmu." jawab Steven.
"Aku? apa yang bisa aku bantu?" tanya Clara bingung.
Steven tidak menjawab, dia mendorong Clara masuk kedaam kamar mandi. "Aku tunggu dibawah." katanya, lalu keluar dari sana.
.
Clara turun dengan dress manis bewarna putih. Mantel biru yang terlihat serasi dengan dresnya. Ketika dia turun menuju ruang makan, Clara duduk disamping Steven. Memperhatikan sekitar karena merasa ada yang janggal.
"Dimana kak Sindy?" tanyanya, lalu mencari keberadaan Carlos yang mungkin punya jawabanny. Namun dia terkejut saat melihat ada perban ditelinganya.
"Carlos? kenapa sama telingamu?"
Carlos terlihat gelagapan, lalu segera menunduk penuh hormat. "Maafkan saya karena lalai menjaga anda, Nona." katanya dengan wajah penuh rasa bersalah.
Clara melirik Steven lalu beralih pada Carlos lagi. "Apa itu hukuman dari Steven?" tanya Clara.
"Sa...saya pantas mendapatkannya," jawab Carlos dengan tubuh dipenuhi rasa takut. Karena menyadari aura tuannya sudah berubah. Tidak lagi santai seperti tadi.
"Clara, makan sarapanmu." perintah Steven datar. Dia segera memulai sarapannya sendiri. Sarapan yang tentu saja sudah sangat terlambat.
Clara ingin menyela, namun melihat Carlos yang menatapnya memohon, akhirnya dia memilih diam saja. Mengikuti perintah Steven dengan patuh.
Sepanjang jalan Steven sibuk dengan tabletnya. Entah apa yang ia kerjakan. Dia sama sekali terlihat tidak ingin diganggu. Beberapa kali juga Renjun meneleponnya. Memberikan beberapa informasi. Tampaknya Renjun sudah sampai diperusahaan.
Sesampainya diperusahaan, bahkan masih didepan lobi sudah terlihat kekacauan. Para karyawan yang sudah datang sejak tadi tidak berada ditempatnya. Semuanya berkelompok-kelompok. Begitu melihat Steven datang, semuanya menatapnya dengan kebingungan. Beberapa tampak ingin menghampiri dan bertanya, namun Billi dan Carlos segera menghalangi mereka. Renjun yang baru saja turun langsung menghampiri mereka.
"Semua sudah datang?" tanya Steven.
"Semuanya sudah datang Tuan, ini sangat mendadak, bahkan tuan Aston. Saya sejak tadi dikantor anda. Sindy baru saja sampai dan dia ada didalam. Dia melaporkan bahwa saat ini semua pemegang saham tampak terkejut. Tapi melihat bukti, mereka mau tidak mau mengakui Tom mengambil tempat anda."
"Maaf kami terlambat tuan Kim."
Semua orang berbalik, kecuali Renjun yang memang menghadap kearah rombongan yang baru saja datang. Semua orang kecuali Clara dan Billi tentu tahu siapa mereka. Mereka adalah tim hukum perusahaan.
"Sudah kalian siapkan?" tanya Steven.
"Sudah Tuan, sesuai intruksi anda." jawab White, pengacaranya.
"Sungguh menyebalkan terbang dimalam hari, kamu harus bayar aku mahal untuk ini. Oh...hai cantik."
Clara terkejut, tapi dia membalas sapaan Arnold dengan anggukan pelan. Steven melempar tatapan sinis sebelum melihat apa yang ada ditangan Arnold.
"Apa yang kamu dapatkan?" tanyanya singkat. Kedua mata mereka bertemu, Arnold menyeringai lalu mengangkat map coklat yang dia pegang.
"Bukti yang sangat akurat. Ayo ke atas, aku sudah susah payah mengundang musuh abadiku untuk datang." katanya, mendahului mereka masuk kedalam lift yang sudah terbuka.
"Musuh abadi?" ulang Clara bingung.
Steven tidak menjawab. Dia hanya mengelus puncak kepala Clara pelan. Lalu merangkulnya dengan posesif. Menyusul Arnold masuk kedalam lift. Begitu juga semua orang yang ada dibelakang mereka
......................
Terima kasih udah baca sampai chapter ini.
Kalau berkenan baca juga 'cuek itu normal'
😁😁😁😁
kisahnya bukan melulu cinta-cintaan walaupun nyempil juga kebucinan seorang pria tampan yang kejam.
ok see u tomorrow. . .
__ADS_1
ILY readers!