
Jun berada di dalam sebuh mobil sport berwarna biru gelap. Dia sedang menatap pada satu arah, dimana gedung yang berlambang W besar berdiri kokoh dan tampak sangat berkelas.
Jun mengambil teropong dari kursi sebelahmya, menggunakannya untuk mengamati seseorang yang baru saja keluar dari sana. Lalu dia mengamati sekeliling, seolah sedang mencari orang lain.
Matanya menyipit sedikit ketika melihat dua orang pria mengamatinya. Seperti mengenalinya namun tidak bertindak apapun karena Jun juga tidak melakukan apapun.
West keluar dengan mobil pribadinya. Seperti kabar yang beredar. West lebih suka mengendarai sendiri mobilnya. Meskipun dia dikawal namun dia lebih suka berada sendirian di dalam mobilnya.
Ponselnya berbunyi, Ben menghubunginya. Jun memasang earphone sebelum menjawab panggilan. Dia mulai menyalakan mesin dan mengikuti mobil West dari jauh.
"Apa yang kamu lakukan? mengikutinya secara terang-terangan?"
"Lakukan saja rencanamu, aku juga melakukan rencanaku," jawab Jun datar.
"Kamu berencana membunuhnya?"
"Itu cara kalian, bukan caraku."
Jun memutus sambungan. Dia dihadang oleh anak buah West. Mobil pria tua itu juga tampak berhenti beberapa meter di depan sana. Jun keluar tampa rasa takut sama sekali. Menghadapi dua orang yang menghampirinya.
"Orang Steven?" seru West dari jauh. Perlahan mendekat dan berdiri tepat di depan Jun yang bersandar santai di mobilnya.
"Datang sendirian padaku, kamu pasti punya maksud pribadi."
"Hanya ingin menyampaikan beberapa hal padamu," sahut Jun. Keduanya saling melempar tatapan intimidasi yang kuat.
West menyuruh anak buahnya mundur untuk memberi jarak pada mereka. Sebagai pengusaha yang sudah memiliki jam terbang yang tidak perlu diragukan, tentunya West tahu Jun bukan hanya tangan kanan biasa bagi Steven. Jun memiliki power dan kemampuannya sangat di akui.
"Katakan." West mempersilahkan.
"Hentikan gangguanmu pada perusahaan Steven. Ini cara paling bagus untuk tetap hidup, West. Aku tidak berniat membunuhmu. Tapi seseorang benar-benar akan membuatmu mati dengan mudah jika kamu tetap membuatnya sulit."
West terdiam dengan waktu yang cukup lama. Berdiri mengamati dan memikirkan maksud perkataan Jun barusan.
"Apa orang yang kamu maksud adalah Pixu yang dibelakangnya? Kamu tahu siapa yang ada di pihakku juga bukan?" West mengerutkan kening sesaat ketika melihat ekspresi wajah Jun yang sama sekali bertolak belakang dengan jawabannya.
"Pixu hanya bagian yang lain, ada satu orang yang memiliki ikatan sangat kuat saat ini dengannya. Bukan hanya anda, tuan West. Siapapun bisa mati ditangannya."
Jun berbalik, lalu membuka pintu mobilnya sebelum suara West menghentikan gerakannya yang akan masuk kedalam mobil.
"Apa tujuanmu? Kamu pasti melakukan ini bukan untuk Steven, ini bukan caranya sama sekali."
Jun menoleh, tersenyum kecil sebagai jawaban. Senyum yang penuh dengan teka-teki.
Setelah Jun berlalu dari sana, anak buahnya mendekatinya. "Saya baru saja mendapatkan informasi Tuan, Jika orang yang bernama Jun itu sudah mengundurkan diri dari GGF."
West semakin berpikir keras, tentang maksud Jun memberinya peringatan sementara dia sudah tidak terikat dengan GGF.
"Anak ini ingin bermain-main denganku?" bisik West pada dirinya sendiri.
Lebih dari itu, dia juga penasaran dengan orang yang dikatakan Jun. Siapa yang bisa membunuhnya dengan mudah sementara dia memiliki orang-orang kuat yang melindunginya. Orang-orang terlatih selalu memgawasinya baik dari dekat maupun jauh. Tapi West melihat keseriusan di mata Jun, bukan hanya gertakan semata. West tahu Jun mengatakan hal yang mungkin saja akan terjadi padanya.
.
Steven menerima laporan dari Billi. Dia bersandar di kursi kekuasaannya. Melihat vidio cctv dirumah saat Jun memeluk Clara. Juga beberapa foto yang menunjukkan Jun sedang berbicara dengan West di pinggir jalan.
Sudut matanya berkedut, dia berpikir keras tentang gerakan Jun yang sedikit janggal ini. Menemui West secara langsung untuk memulai langkahnya. Steven mengenal Jun sejak dirinya masih anak-anak. Beranjak dewasa dengan Jun disisinya. Dia sangat mengenal karakter Jun seperti apa. Steven yakin Jun melakukan sesuatu pada West.
"Ren, siapkan mobil."
"Anda akan makan siang diluar Tuan?" tanya Renjun, bersiap memesan restoran.
"Hmm, Clara di kampusnya bukan?"
"Nona? Satu jam yang lalu Carlos mengabari bahwa Nona sudah tidak ada kelas. Hari ini Nona hanya mengikuti kelas tambahan untuk perbaikan nilai sebelum libur akhir semester."
"Kita kesana," kata Steven sambari bangkit.
Renjun hanya mengikutinya dengan patuh. Mengabari seluruh pengawal agar bersiap. Dia tentu saja juga mengirim pesan pada Carlos.
Sementara itu, Clara sedang menikmati pertandingan basket di lapangan indoor universitas. Bersama Lusi dan teman sekelas lain. Mereka hanya melepas penat setelah belajar. Anak-anak yang bermain juga dari jurusan olahraga, mereka tidak begitu mengenal mereka namun tentu saja tidak dengan mereka. Clara cukup dikenal sebagai wanita milik Steven disana.
"Clar, kapten mereka tampan sekali bukan?" goda Lusi.
Bukan tampa alasan Lusi mengatakan hal itu. Sedari tadi salah satu kapten dari tim basket itu memang terang-terangan melempar pandangan dan senyum pada Clara. Mengabaikan peringatan anggota lainnya.
"Dia memang tampan, tapi tentu saja Steven lebih tampan dimatanya." Kedua gadis itu menoleh, Tomas duduk di kursi kosong tepat di samping Clara.
"Oww, satu lagi pria tampan dan terkenal disini." goda Lusi. Ketiganya tertawa bersama. Sampai-sampai tidak menyadari si kapten basket telah berdiri di pinggir lapangan. Lalu naik ke atas dimana kursi Clara berada.
"Hai cantik, boleh aku mengenalmu?" tanyanya. Ketiganya tentu saja menoleh, baru menyadari atmosfir lapangan telah berubah.
"Pertandingan sudah selesai?" celetuk Lusi.
"Sepertinya belum, hanya istirahat sebentar." jawab Tomas, tidak mengidahkan pria di hadapan mereka.
Clara melirik kiri dan kanan. Merutuki kedua temannya yang terlihat tidak ingin ikut campur.
"Aku Richard, berasal dari inggris. Kamu pasti orang asia kan?" tanya Richard ini.
"Ya, aku Clara." jawab Clara seadanya.
"Aku jarang melihat kalian disini. Dari jurusan mana?" tanya Richard.
__ADS_1
"Wajar saja kamu tidak mengenal kami kalau kamu hanya terus menatap basket dan wanita disini," sindir Tomas.
"Hahaha, bro aku tidak bergosip. Jadi apa kalian cukup populer, semua temanku melarangku memperhatikanmu." jawabnya.
Tiba-tiba hawa menjadi sangat berbeda. Bisik-bisik tidak terdengar lagi. Suasana lapangan yang dipenuhi mahasiswa itu mendadak hening. Lusi melirik Carlos dan mendapatkan jawaban dari apa yang ia tanyaman. Carlos menunjuk pada arah kiri mereka, dari pintu masuk. Seorang dengan setelan jas mahal masuk dengan aura intimidasi yang sangat kuat.
"Richard, sebaiknya kamu kembali kelapangan." kata Lusi dengan tegas.
Richard mengangkat alisnya, lalu menoleh pada seseorang yang kini menjadi pusat perhatian selain mereka. Sementara Clara hanya duduk santai seolah tidak ada apapun yang terjadi. Dia hanya memasang wajah datar.
"Apa kamu masih akan menonton pertandingan?"
Suara Steven seperti suatu gema yang menyeramkan. Lusi menyenggol lengan Clara yang tidak merespon sama sekali.
"Clara?"
Clara menghela napas, dengan malas dia bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Steven. Menyambut uluran tangannya untuk pergi dari sana.
"Tunggu!" cegah Richard.
Lusi menepuk jidatnya dan teman-teman Richard tampak fruatasi akan sifat Richard yang tak kenal rasa takut.
Steven menoleh padanya, mengangkat sebelah alisnya sebagai isyarat. "Aku belum selesai bicara dengannya." Richard menyambar ponsel salah satu orang yang ada di sana untuk di pinjam lalu menyodorkannya pada Clara.
"Berikan aku nomormu, aku ingin jadi temanmu."
Bukan hanya Clara, Renjun dan seluruh orang terkecuali Steven terkejut mendengar penuturannya. Antara kagum dan mengasihani karena merasa dia melakukan kebodohan. Sebagian lain terlihat tertarik akan reaksi si miliarder muda.
Clara mengulurkan tangannya, mengambil ponsel itu. Lalu mulai mengetik nomornya. Namun Steven dengan cepat merebutnya dan memberikannya pada Renjun. Menarik Clara pergi dari sana dengan wajah tidak senang.
Renjun menghela nafas, memberikan lagi ponsel itu pada Richard.
"Aku tidak tahu kamu ini bodoh atau berani. Tapi aku akan memberikan selamat kali ini karena Tuan Steven tampaknya tidak ingin memperpanjang. Jadi berhati-hatilah lain kali."
Richard menggaruk kepalanya. Lalu berlari kembali kelapangan. Tertawa saat seluruh teman-temannya merutuki kelakuannya.
"Hiburan yang menyenangkan." sindir Steven saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Syukurlah kamu terhibur." sahut Clara dengan ketus. Mengabaikan rasa cemburu yang ditunjukkan Steven.
"Kemana kamu akan membawaku?"
"Makan siang, ada yang ingin kamu makan?"
"Tidak ada, aku tidak ingin apapun selain pergi darimu." sahut Clara.
Steven menoleh, menatapnya dalam diam sebelum berpura-pura tidak mendengarnya.
"Kita ke restoran favoritku saja." kata Steven.
Entah kebetulan atau disengaja, Steven bertemu dengan Pixu dan Aston sekaligus dalam restoran yang sama. Dimana Pixu akan kembali, Aston baru saja datang setelahnya dan ikut menghampirinya.
"Wah wah wah ... apa ada hal bagus hari ini?" kata Pixu memulai. Matanya bergerak dari Steven menuju Clara yang menatapnya tak tertarik.
"Dia pasti gadis yang disukai anakku bukan? Wah...dia memang memiliki selera yang sama denganku. Apa kabar Clara? Kenalkan aku adalah Pixu, ayah angkat Steven dan ayah kandung Jun."
Clara melebarkan matanya. Dengan bingung dan canggung membalas uluran tangan Pixu. Dengan cepat Steven memisahkan tangan mereka.
"Dia ayah Jun? Kejutan yang menyenangkan. Jadi asistenmu itu bukan orang sembarangan ternyata?" sahut Aston, kini berdiri di sebelah Steven. Sehingga mereka bertiga berhadapan dengan Pixu.
"Ini tempat umum," kata Steven datar, memberi peringatan keduanya.
"Ah, benar. Silahkan lanjutkan acara kalian, sampai jumpa nak." ucap Pixu, sebelum pergi dia melempar senyum aneh pada Clara.
"Pixu itu terlihat tertarik dengan gadismu. Berhati-hatilah, buah biasanya jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pixu itu orang yang gigih dalam masalah perempuan."
"Jangan sembarangan Aston, pergilah dan jangan menggangguku." ketus Steven. Menarik Clara pergi menuju ruang yang sudah mereka pesan.
"Hei, ajaklah Clara menjenguk ibu dari anakku. Dia sudah melahirkan tiga jam yang lalu." kata Aston.
Clara berbalik, menatap Aston degan mata melebar. Tidak sadar tubuhnya mendekati Aston dan berdiri di hadapannya.
"Rumah sakit mana? Kenapa anda tidak menemaninya? Dia dijaga siapa? Apa kak Sindy baik-baik saja?" tanya Clara bertubi-tubi.
Aston tampak terganggu. Bukan gayanya menjawab pertanyaan remeh temeh seperti yang ditanyakan Clara.
"Dia oke, bersama ibunya." Aston melirik Steven yang diam-diam menertawakannya. "Sialan, urusi gadismu nak, aku harus berbicara dengan rekan bisnisku," lanjutnya. Tampa berkata-kata lagi dia meninggalkan Clara dan Steven.
"Aku mau menjenguk kak Sindy." kata Clara saat tiba-tiba berbalik menghadap Steven.
"Makan dulu, Clar."
"Tidak lapar, aku mau kerumah sakit."
Steven menghembuskan napasnya. Mungkin Clara memang tidak lapar, tapi dirinyalah yang saat ini kelaparan. Dia bahkan tidak sarapan tadi pagi.
"Oke, kita kesana sekarang." kata Steven lembut, meraih pinggang Clara untuk pergi dari sana. Tampaknya Clara melupakan sesaat kebenciannya pada Steven karena kelahiran anak Sindy.
.
Clara tidak menglihkan pandangannya dari bayi mungil yang sedang tidur di dalam box bayi. Sindy sendiri hanya diam memperhatikan. Sesekali melirik Steven yang sedari tadi sibuk dengan laptop di pangkuannya.
"Kak ... dia benar-benar sangat tampan. Dia akan jadi jagoan yang tampan." kata Clara, menyudahi acara melihat bayinya.
__ADS_1
"Terima kasih mau datang." kata Sindy dengan lirih. Wajahnya masih pucat, satu-satunya selain orang Steven yang ada di sana hanyalah seorang ibu tua yang sedang mengupas buah untuk Sindy.
"Kakak tidak memberi tahu orang tua kakak?" tanya Clara.
"Tentang apa? Menurutmu apa mereka akan senang anaknya memiliki bayi diluar nikah?" sarkas Sindy.
Clara tertegun, sontak rasa bersalah merasukinya. Dia bangkit dan duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Sindy dan mengucapkan kalimat penghiburan yang nyatanya malah membuat Sindy menangis. Menangis karena keadaannya yang tidak jelas dan merasa telah dibuang oleh keluarganya.
Clara tidak tahu harus apa. Dia bahkan tidak tahu permasalahan sebenarnya antara Sindy dan keluarhanya. Yang dia pahami hanyalah Sindy rela melakukan apapun untuk kelangsungan perusahaan keluarganya.
Clara menatap Sindy yang akhirnya tertidur. Menoleh pada Steven yang entah sejak kapan menatapnya dengan intens. Laptop sudah ada dintangan Renjun dan sebuah roti ditangan kanan Steven. Mulutnya mengunyah namun matanya menatap Clara dalam diam.
Melihat roti di tangan Steven, Clara baru sadar bahwa Steven belum makan siang. Clara melirik jam ditangannya. Dia merasa bersalah, namun memilih abai karena Steven juga tidak membahasnya.
Alih-alih mengantarkan Clara pulang, Steven membawanya ikut pertemuan pemegang saham dimana ada West juga di dalamnya. Clara sungguh merasa tertekan meskipun tidak ada yang memperdulikannya. Semua orang penting disana hanya fokus pada layar besar yang menunjukkan keadaan pasar saat ini.
Ketegangan terjadi saat West memojokkan keputusan Steven pada satu masalah. Beberapa ada yang mendukungnya dan yang lain mendukung Steven. Hanya sebagian kecil yang bersikap netral.
West berdiri dan menggebrak meja dengan kuat. Matanya menatap tajam pada Steven yang terlihat tenang dan santai. West jelas kalah debat saat ini. Argumennya tampak diragukan banyak orang.
Bagi Clara yang tidak tahu apapun, berdiri disamping Renjun di belakang Steven memberikan efek menekan yang luar biasa. Apalagi melihat ketegangan yang terjadi, jelas debat yang terjadi sama sekali tidak sehat dan terkesan saling ancam satu sama lain antara Steven dan West.
"Kalian jelas tahu apa yang harus dilakukan bukan? Tidak ada gunanya menentang keputusanku. Proyek ini tidak akan berjalan dengan benar jika kalian memilih opsi lain. Kabari aku jika kalian berubah pikiran." kata Steven, ikut berdiri. Menatap West dengan tatapan tajam penuh permusuhan sebelum meraih tangan Clara dan keluar dari sana.
Saat ini Clara tidak berani menatap Steven. Pria yang kini menggengam tangannya terlihat luar biasa mengerikan dengan aura intimidasi yang masih menyelimutinya.
Dalam perjalanan pulang, Steven masih sibuk menghubungi beberapa orang mengenai bisnisnya. Clara memilih bermain game di ponselnya, dia tidak ingin ditekan dengan hawa menakutkan yang ditimbulkan kekasihnya itu.
Tiba-tiba saja mobilnya berhenti. Steven menurunkan ponselnya dan menatap lurus kedepan. Tangan lain menekan tombol di sisi mobil dan lemari kecil di dinding pintu mobil terbuka. Dia meraih pistol dari sana dan memasukkannya kedalam saku jasnya.
"Sepertinya orang-orang West dari organisasi sebelah Tuan," kata Billi yang bertugas mengawalnya. Renjun yang membawa mobil mengumpat kecil.
"Dimana orang-orang kita?"
"Tepat dibelakang kita Tuan." jawab Billi.
"Fokus pada Clara," kata Steven. Lalu dia keluar dari mobil begitu orang yang menghadang mereka sudah berada di depan mobil.
"Kalian cukup berani." kata Steven.
"Tentu saja, mengurus anak ingusan sepertimu tidaklah sulit bagi kami."
"Kenapa mereka memgirim pemula?" celetuk Renjun yang juga sudah ikut keluar. Sementara Billi masih di dalam mobil mengawasi Clara.
"Mereka bukan pemula, tapi memang tidak mengenal kita dengan baik. Sepertinya West berpikir menyewa pembunuh bayaran dari dunia bawah lebih baik dari pada jasa gengster. Sepertinya dia menghindari pertikaian dini." sahut Steven.
"Banyak bicara," sahut salah satu diantara mereka.
Mereka saling serang satu sama lain. Steven dengan santai mengeluarkan rokok sambil menikmati perkelahian di depannya. Renjun yang ikut menyerang terkena tendangan di dadanya sehingga tersungkur di bawah kaki Steven.
"Tuan, anda terlihat senang." sindirnya saat bangun.
Steven hanya tersenyum simpul. Namun senyumnya hilang saat salah satu di antara musuh mengeluarkan pistol dan melepaskan tembakan padanya. Namun dia tidak terluka sama sekali, Billi ternyata sudah siaga dan menjadikan dirinya tameng. Bahunya terkena tembakan. Renjun memgumpat dan ikut mengeluarkan senjata, menembak musuh mereka sehingga mereka tumbang.
"Bersihkan sisanya Ren. Seseorang bawa Billi kerumah sakit, sisanya ikut denganku di belakang." perintah Steven.
Dia kembali kedalam mobil, anak buah yang lain menggantikan Renjun. Steven memeriksa Clara yang terdiam kaku ditempatnya. Gadis itu mengeluarkan air mata namun tidak bersuara sama sekali.
"Maafkan aku, kamu pasti ketakutan." kata Steven setelah membawa Clara kedalam pelukannya. Namun Clara hanya diam saja, tidak memberi respon apapun selain tangan dan kaki yang gemetar.
.
Di lain tempat, Jun yang menerima kabar penyerangan Steven dari Ben menatap seseorang dihadapannya. Dia sedang duduk dihadapan Aston di kantin rumah sakit.
"Seperti yang aku duga, West menyuruh orang membunuh Steven namun tidak melibatkan kelompok Griffin. Dia tidak mengidahkan peringatanku namun cukup pintar untuk tidak melibatkan dua kelompok." kata Jun datar, setelah mematikan sambungan.
"Aku cukup terkejut kamu datang padaku, lebih terkejut lagi dengan latar belakangmu. Kamu sungguh pintar menyembunyikan diri selama ini." Aston tersenyum simpul. Pancaran matanya menunjukkan ketertarikan.
"Buat West masuk rumah sakit sehingga perusahaannya akan goyah, itu akan menyelesaikan semua masalah Steven dengannya."
Aston tersenyum, "Kamu tahu aku lebih suka membunuhnya," jawab Aston.
"Steven akan membencimu, bukankah kamu menyayanginya?" Aston mengernyit mendengar pernyataan Jun. Seolah itu adalah kalimat paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar.
"Kamu mungkin tidak menyadarinya Aston, tapi aku yang berdiri di antara kalian sejak awal saling kenal bisa melihatnya. Kamu melihat refleksi dirimu saat muda pada Steven. Membuatmu menjalin ikatan tak kasat mata dengannya, sehingga kamu menyanggupi apapun yang ia minta. Memberikan tes-tes kecil sebagai ujian, namun perlahan menariknya mendekat dan menempel padamu. Kamu terobsesi untuk membuatnya seperti dirimu. Karena didunia ini, hanya Steven yang bisa menyaingi kepintaran otakmu, bahkan mungkin melebihimu."
Aston tidak menjawabnya, dia masih menatap Jun dengan saksama. Menunggu perkataan selanjutnya. Memikirkan perkataan itu didalam kepalanya dan perlahan membenarkannya.
"Jika itu orang lain, kamu pasti sudah membunuhnya saat dia memukulmu ketika kamu mencelakai gadisnya. Namun karena dia Steven, orang yang kamu kagumi dan sayangi, kamu membiarkannya dengan mudah. Meskipun pada awalnya kuakui kamu hanya tertarik menjadikanny objek penelitianmu. Apa aku salah?"
Aston tersenyum tipis. "Kamu sendiri bukankah sama saja? Mengikutinya seperti anak anjing."
Jun tertawa, "Aku mengagumi bakatnya, kemampuan dan caranya memimpin, itu berbeda denganmu."
"Apa yang aku dapatkan?"
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Jun balik.
"Sayangnya aku tidak menginkan apapun darimu."
Jun memutar otak. Berurusan dengan Aston tentu tak semudah yang dipikirkan. Aston bukan orang yang mudah dimanipulasi, dia mirip dengan Steven.
"Clara. Bukankah kamu tidak menyukainya?"
__ADS_1
Aston tersenyum, Jun sangat tahu sejak dulu Aston tidak menyukai Clara. Bukan karena pribadinya, namun keberadaannya disisi Steven. Karena Clara yang menjadi alasan setiap keputusan dan pilihan yang Steven buat.