SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
57


__ADS_3

Clara duduk dengan lesu dikafe tempat kerja Lusi. Dia masih ditemani oleh Carlos dan ada 5 orang yang berjaga diluar. Setelah Steven mengabari tidak bisa menjemputnya, Clara segera mengiriminya pesan. Meminta izin untuk pergi dengan Lusi ke tempat kerjanya. Steven memang memberi izin, namun dengan tambahan penjagaan. Bahkan pengunjung kafe dibatasi atas permintaan Steven.


"Senang rasanya kerja santai tapi tetap dapat uang banyak." Pemilik kafe, seorang wanita seumuran Carlos duduk bergabung di meja mereka.


"Sangat bagus kalau kamu datang tiap hari, akan ada waktu istirahat untukku dan Lusi dijam sibuk seperti ini." katanya lagi. Lusi melirik Carlos yang tampak tidak nyaman saat mendengar pernyataan itu. Terkikik geli menertawakannya, Carlos duduk di meja sebelah, tentu saja dia bisa mendengar seluruh pembicaraan mereka. Berbeda dengan pengunjung lain yang tempat duduknya di atur jauh dari mereka.


"Eei...bos! Jangan seperti itu, aku takut dengan pawangnya." Mereka berdua tertawa melihat wajah cemberut Clara.


"Nah Lusi milikmu saat ini. Maka aku akan membiarkan kalian." kata wanita itu, bangkit berdiri menuju dapur.


"Jadi, bisa cerita kenapa wajahmu jadi lebih kusut dari yang tadi?" tanya Lusi, menopang dagu dimeja sambil sesekali menyeruput jus jeruknya.


"Apa menurutmu Steven bosan dan mau membuangku? dia jadi lebih dingin sejak pagi..."


"Huh? kalau bosan mana mungkin dia masih protektif. Kenapa, kamu bilang tadi mungkin dia marah, tentang apa itu?"


Clara bergerak gelisah, "Itu ... sebenarnya kami dudah putus lebih dari setahun yang lalu."


"Uhuk Uhuk!" Lusi tersedak.


Menatap horor pada Clara yang mengambilkan tisu untuknya. Lusi melirik Carlos yang masih memasang wajah datar seolah tidak mendengar perkataan mereka.


"Tapi ... tunggu! kamu tinggal dirumahnya?" Clara mengangguk polos. "Tapi kalian sudah putus?" Clara mengangguk lagi.


Lusi terdiam sejenak, dia sedang mencerna dengan otaknya keadaan apa yang sedang ia dengar ini.


"Clara ... apa kalian ... maksudku walaupun putus masih berhubungan, apa kalian hanya menjalankan hubungan ... maksudku kamu tahu?"


"Huh? apa maksudmu, tentu saja. Kami berbicara setiap hari. Makan bersama dan dia selalu menjagaku."


Kali ini bukan hanya Lusi yang ingin tenggelam saja kedasar bumi, Carlos yang duduk tidak nyaman di kursinya memijit kepalanya pelan. Dalam hati mengasihani tuannya karena tidak mendapatkan apapun dari wanitanya. Tidak perhatian dan cinta apalagi sentuhan intim selayaknya orang yang tinggal bersama. Tentu saja cara pandangnya berbeda dengan Clara, dia orang Amerima asli dan mengikuti budaya Amerika. Dimana meskipun tampa pernikahan, orang yang saling mencintai akan melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama.


"Clara temanku yang manis... maksudku tidur..." Clara mengerjap beberapa kali, lalu meneleng bingung. "Tidur Clara! Oh God... kayak pasangan, ***!" tekan Lusi diakhir karena geram akan otak polos Clara.


Seketika wajah Clara memerah. Matanya melebar dengan wajah cemberut. "Apa maksudmu! aku tidak ... aku tidak pernah melakukan hal diluar batas dengannya! kami belum menikah mana boleh melakukan itu!" kata Clara dengan wajah galak.


Lusi tertawa masam, mengangguk beberapa kali dengan wajah seorang ibu yang sedang berusaha memahami curhatan anaknya.


"Aku mengerti, jadi kamu gadis baik yang masih memegang norma orang Indonesia dengan baik, yah... itu memang baik sih."


"Memangnya kamu tidak? agamaku juga tidak menganjurkan hal itu. Aku ingin melakukannya setelah mengucapkan janji suci didepan pendeta." jawab Clara dengan senyum manisnya.


"Oke lupakan hal itu. Jadi kenapa kalian tidak resmi lagi? maksudku bagaimana kamu bisa tinggal dengannya tapi kalian tidak punya hubungan lagi?"


"Karena... aku tidak punya pilihan lagi. Sangat rumit apa yang terjadi antara kami. Tapi... setelah aku lulus sekolah. Steven memaksaku ikut dengannya kesini... Aku hanya belum bisa menerimanya secara terbuka. Kejadian masa lalu dan keadaan saat ini sudah berubah. Aku...aku hanya merasa tidak bisa menahan rasa sakit saat dia akan bosan dan meninggalkan aku setelah kami kembali terikat. Apa lagi... dia ingin menikah. Kalau tiba-tiba dia bosan, maka aku takut tidak bisa bangkit sendirian. Kedua orang tuaku sudah meninggal, kalau dia juga meninggalkanku... "


Lusi terdiam, dia baru tahu kalau kedua orang tua Clara sudah meninggal. "Karena itu kamu membentengi perasaanmu agar tidak jatuh terlalu dalam?" tanya Lusi dengan lembut. Clara mengangguk dengan lemah.


"Tapi Clara... apa kamu sadar kamu juga menyakiti dua hati? dia dan kamu sendiri. Apa tidak sebaiknya kamu mencoba percaya padanya?"


"Aku tahu, aku juga merasa bersalah,"


"Setidaknya cobalah, jangan menahan diri lagi. Kalau dia benar-benar bosan bagaimana?"


Clara juga memikirkan ini, rasa takut kehilangan menjalarinya namun sisi rasionalnya masih menang dalam dirinya. "Akan lebih baik kalau dia melepaskan aku sekarang. Setidaknya aku belum menyerahkan segalanya. Aku akan bisa bangkit," katanya, nadanya tidak yakin namun terdengar tegas dan kuat.


Carlos yang duduk disebelahnya terdiam. Menatap Clara dengan pandangan yang sulit diartikan. Melihat kehidupan Steven dan seluruh kemewahan yang mengelilinginya, jelas Clara yang bukan siapa-siapa memiliki ketakutan seperti itu. Namun satu hal yang membuat ia kagum pada gadis yang ia jaga ini, bahwa Clara tidak pernah sekalipun tergiur oleh kemewahan yang Steven tawarkan. Lebih kagum lagi perasaan mereka ternyata sangat kuat satu sama lain. Kalau dia yang menjalani hubungan seperti tuannya, dia tidak akan tahan. Hubungan tampa *** bukanlah sebuah hubungan baginya.


Carlos menatap jam ditangannya. Tuannya berkata Clara hanya diizinkan disana selama 1 jam. Saat ini mereka bahkan sudah melewatkan 5 menit dari yang seharusnya.


"Nona... anda harus kembali sekarang."


Clara cemberut, menatap Carlos memohon. "Tidak bisa Nona, maafkan saya. Tapi tuan ingin anda sudah dirumah saat dia kembali. Renjun memberi tahu bahwa dia sudah bersiap untuk pulang."


"Pulanglah, membayangkan dia marah membuatku ngeri." kata Lusi dengan nada bercanda.


"Sampai jumpa besok di kampus." kata Clara. Lusi memeluknya sebelum Clara benar-benar pergi. Memberi teman barunya itu semangat.


.


Malam hari di mension Steven, terjadi sedikit kehebohan saat Aston tiba-tiba datang bersama Sindy yang masih tampak pucat. Selama beberapa hari ini Clara tidak begitu memperhatikannya. Dia tidak bertemu dirumah karena berpikir Sindy hanya sibuk dengan pekerjaannya. Juga saat sarapan juga tidak berpikir jauh saat Sindy tidak ada. Karena Sindy tidak lagi begitu mengusiknya, Clara berpikir Sindy hanya serius bekerja dan sudah bertindak dengan benar.

__ADS_1


Tapi semua pikiran itu lenyap begitu saja saat dia datang bersama Aston. Tidak bicara sepatah katapun bahkan saat Clara mengikutinya masuk kedalam kamarnya. Sindy mengabaikan semua pertanyaannya. Dia hanya sibuk mengemas semua barang yang perlu ia bawa, memasukkannya dalam koper dan kembali menghampiri Aston.


Steven juga tidak berkata apapun. Clara hanya menduga dia sudah tahu apa yang terjadi. Sehingga hanya membiarkan mereka pergi begitu saja.


"Apa... apa yang terjadi? kenapa kak Sindy pergi dengan orang itu?" tanya Clara setelah mereka pergi.


Steven meraih tangannya dan menyeretnya kembali ke atas. "Jangan urusi mereka." kata Steven acuh.


"Tapi... tapi kak Sindy..."


Clara meneguk ludahnya susah payah kala Steven menatapnya dalam diam. Mereka sudah di dalam lift. Setelah pintu lift terbuka, Steven menariknya masuk kedalam kamar. Membaringkannya dan menarik selimut untuknya. Steven masih memperlakukannya lembut tapi ekspresi datarnya sangat mengganggu.


"Steven ... kamu tidak mau memberi tahu?"


Steven yang sudah berdiri kembali membungkuk, meletakkan kedua tangannya dikedua sisi kepala Clara. Menatap bola mata itu, seakan ingin menembusnya dan mengetahui apa yang ada di dalam kepala gadis itu.


"Dia sudah menjadi milik Aston." suara Steven menjadi berat dan dalam. Clara tidak bisa lagi mengatasi rasa gugupnya, sehingga ia mencengkram selimut dan memejamkan matanya .


Steven menyeringai. "Kamu tahu kenapa?" Steven menjeda, menurunkan kepalanya hingga bibirnya berada disamping telinga Clara. "Aku berpikir yang sama sekarang, apa aku harus membuatmu hamil juga agar bisa memilikimu seutuhnya?"


Mata Clara terbuka lebar. Dia berusaha mendorong tubuh tegap Steven sekuat tenaga. Steven melepaskannya, dia menarik diri dan duduk dengan santai disisi tempat tidur. Menatap datar Clara yang bangun dan beringsut mundur.


"Tenang saja, selama aku masih memiliki kesabaran yang besar untukmu, kamu tidak perlu menghawatirkan hal itu." katanya, kembali datar.


Lama dia menatap wajah Clara. Membuat gadis itu semakin gugup dan takut. Dia bergerak turun lalu pergi begitu saja. Clara menurunkan kewaspadaannya, dia menatap bingung pintu yang tertutup. Steven benar-benar sangat berbeda. Itulah yang dia rasakan.


.


Steven sedang berada di depan sebuah gedung pencakar langit. Gedung perusahaan milik grup West. Dia ada disana untuk menjemput seseorang. Steven keluar dari mobilnya saat seorang wanita menghampirinya. Membukakan pintu mobil untuknya dan ikut masuk setelah wanita itu masuk.


"Kamu semakin tampan, Kim. Apa ayahku yang memintamu?" tanya wanita itu.


Dia cantik dengan rambut ikal panjang bewarna merah gelap. Memiliki tubuh yang kurus yang terlihat tidak wajar. Kulitnya putih pucat. Meskipun wajahnya terlihat lebih berwarna karena makeup.


"Aku sangat mengagumimu, sudah lama ingin pergi berdua. Apa itu mengganggumu?" tanyanya dengan sopan.


"Kita rekan bisnis, jangan sungkan Nona." jawab Steven.


Steven cukup terganggu, dimana gadis dihadapannya terus menerus menyebut ayahnya. Tentu saja hal itu ia lakukan untuk membuat Steven bersikap ramah padanya. Karena siapapun tahu bagaimana dinginnya ia pada orang luar.


"Baiklah Violet, kemana kamu ingin pergi? aku akan mengikutimu." Alih-alih menemani, Steven lebih memilih kata mengikuti.


Wanita itu, Violet segera tersenyum manis. Meskipun Steven terlihat enggan, tapi dirinya memiliki keinginan yang kuat. Dia menceritakan segala keinginan yang ingin ia lakukan bersama Steven. Mengatakannya dengan riang. Membuat kepala Steven ingin pecah karena dia sangat berisik.


"Ini adalah taman bermain yang sangat aku sukai, dulu sering kesini dengan mendiang ibuku. Aku ingin pergi ketempat yang punya banyak kenangan sebelum mati." katanya dengan wajah sedih.


Steven menoleh sesaat, mengamati ekspresi wanita itu. Meskipun wanita disampingnya ini terlihat menyedihkan, entah kenapa Steven sama sekali tidak merasa kasihan. Terlebih saat mendengar segala perkataannya yang selalu mengasihani diri sendiri, membahas kematian yang akan dia hadapi. Membuat Steven memiliki keinginan liar untuk segera mewujudkan perkataannya, alih-alih mengharapkannya sembuh.


"Steven! kamu punya wanita yang kamu suka? ayah bilang kamu sudah punya... aku cuma mau memastikannya. Karena aku pasti akan membuatnya salah paham. Aku... ingin minta maaf nanti." katanya tiba-tiba.


"Tidak perlu, dia tidak akan salah paham. Kamu hanya perlu menghibur diri dan lakukan yang kamu inginkan." jawab Steven.


"Kenapa kamu masih formal sama aku?"


Steven sudah muak, ini baru beberapa menit dan dia sudah sangat kesal. "Maafkan aku Violet, kita baru kenal dan aku pikir kita memerlukan penyesuaian."


Violet mengangguk, dia terus berjalan dan Steven mengikutinya. Berada di sampingnya.


Setelah makan siang bersama, Steven mengantarkan Violet kembali ke ayahnya. Menyapa Mr. West singkat sebelum turun kembali menuju mobil yang menunggunya di depan lobi.


"Kembali kekantor." kata Steven pada Billi yang bertugas mengawal dan menemaninya saat ini.


Billi tidak menggantikan tugas Renjun seperti biasa, dia hanya menggantikannya karena Renjun sibuk mengurusi perusahaan. Billi hanya sementara di Amerika. Dia harus kembali ke Indonesia membantu Yuno sebagai senjata disana.


"Tuan... Jun keluar dari rumah sakit satu jam yang lalu." lapor Billi.


"Kemana dia pergi?"


"Kembali ke apartement miliknya."


"Sendirian? Clara?" Steven masih bersikap waspada pada Jun. Perkataan Arnold tampaknya sedikit mempengaruhinya.

__ADS_1


"Dia bersama dua anggota yang menjaganya. Nona Clara masih kuliah, Carlos memberitahu jadwalnya sangat padat dan sepertinya dia tidak tahu."


"Putar ke apartement Jun sekarang."


Billi meneguk ludahnya berat. Dia merasa was-was. Billi sudah tahu ceritanya dari Renjun dan Carlos. Dia berharap bos besarnya itu tidak memukul Jun lagi.


Sesampainya di apartement Jun. Billi menekan bel. Dalam beberapa detik pintu terbuka dan Jun berdiri di sana. Menatap Billi datar. Namun saat Steven menunjukkan dirinya, dia segera menunduk dan memberikan jalan untuk masuk.


"Dimana dua orang yang menjagamu dirumah sakit?" tanya Billi.


"Aku menyuruh mereka kembali." jawab Jun.


Keduanya berdiri di sisi kanan Steven yang duduk di atas sofa ruang tamunya. "Duduk, bukankah aku tamu dan kamu tuan rumah?" sindir Steven akan sikap Jun yang seolah masih menganggap Steven bosnya. Hal itu karena mengingat kejadian terakhir kali.


Jun duduk dengan cepat. Billi pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk mereka.


"Katakan! kembali atau pergi?"


Jun mengangkat wajahnya, menatap mata tajam Steven dengan tenang seperti biasa. "Saya akan kembali." jawabnya tegas.


Steven menyeringai, dia tidak terlihat terkejut sama sekali. Seperti sudah tahu apa yang akan dilakukan Jun kedepan.


"Kembali kerumahku, jaga wanitaku dengan benar. Aku perintahkan untuk membunuh siapapun yang menggores kulitnya."


Steven bangkit saat Billi datang dengan dua gelas minuman. Terburu-buru meletakkannya di meja karena harus mengikuti Steven yang akan keluar.


"Tuan... bolehkah saya tahu kenapa anda tetap menempatkan saya pada pengawalan Nona? Anda tahu kebenarannya."


Steven menurunkan pandangannya, menatap Jun yang masih duduk di sofa dengan wajah menatap lantai.


"Karena aku tahu kamu akan mempertaruhkan nyawamu demi keselamatannya." jawab Steven dingin.


Pintu tertutup dengan pelan secara otomatis saat Steven sudah keluar. Jun menatap dua gelas teh di atas meja. Mengambilnya satu dan menatap isinya dengan ekspresi dingin.


"Benar, aku akan melindunginya dengan nyawaku. Bahkan jika itu anda... aku akan membunuh siapapun yang menyakitinya." gumam Jun dengan sorot mata yang tajam.


.


Clara pulang dengan tubuh letih dan wajah yang kusut. Tubuhnya terasa lengket. Dia bahkan tidak lagi fokus pada sekitar saat masuk kedalam mension. Carlos memberikan tas dan setumpuk bukunya saat ia akan keluar dari lift. Sementara Carlos turun, Clara melangkah menuju kamarnya. Dia ingin segera berendam dengan air hangat.


"Saya sudah menyiapkan air mandi anda Nona, anda bisa segera berendam."


Clara tersentak saat mendengar suara itu bersamaan tas dan buku yang di ambil dari tangannya.


"Jun! kamu sudah sembuh? kenapa tidak bilang sudah keluar rumah sakit! aku pasti akan menemanimu!" pekik Clara dengan wajah senangnya. Akhirnya Jun kembali kepadanya.


Jun tersenyum dengan sangat lembut, bahkan mungkin jika wanita itu bukan Clara, mereka sudah meleleh melihatnya. Jun tidak kalah tampan dari Steven. Namun aura mereka jelas berbeda.


"Jun... aku akan mandi dengan cepat. Kamu tunggu disini karena aku punya banyak tugas. Kepalaku rasanya akan pecah, kamu harus membantuku." kata Clara.


"Saya akan membantu anda, segeralah mandi dan turun ke perpustakaan. Tuan Steven akan pulang sebentar lagi." jawab Jun.


"Kenapa wajahmu sangat bersinar?"


Senyum manis Jun hilang seketika. Dia segera memberi hormat pada Steven yang berjalan ke arahnya. "Anda sudah pulang Tuan, saya akan menyiapkan..."


"Tidak perlu! turun kebawah." suruh Steven dingin.


Setelah kepergian Jun, Steven masuk ke kamar Clara. Mendengar senandung kecil dari arah kamar mandi, dia kembali keluar dan masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Setelah makan malam, Steven memanggil Jun, Billi dan Carlos. Clara yang tadinya ingin meminta bantuan Jun terpaksa harus mengerjakannya sendiri.


Saat pergi ke perpustakaan Steven dengan laptop dan setumpuk buku. Clara berhenti di sudut persimpangan lorong. Karena kakau ke kanan adalah arah ruang kerja Steven, kalau lurus menuju perpustakaan. Karena penasaran, dia ingin berbelok ke kanan. Tapi langkahnya terhenti saat membayangkan wajah dingin Steven yangbmungkin akan marah kalau diganggu. Dia kembali memutar langkahnya menuju perpustakaan.


"Dia sedang dalam mode menakutkan, lebih baik menyelesaikan tugas." katanya.


Tapi, baru saja dia membuka pintu, Clara menjerit dengan keras. Steven dan yang lain tentu saja mendengarnya. Mereka segera berlari menuju sumber suara tadi.


Saat sampai, Steven segera mengangkat tubuh Clara yang terduduk di lantai dengan wajah syok. Jun memungut buku dan laptop yang berserakan. Keempatnya memandang sesuatu yang tergantung di pintu masuk.


"Cari siapa pelakunya." perintah Steven. Lalu membawa Clara yang sudah menangis kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Nona sangat menyayangi anjingnya. Siapapun pelakunya akan mati ditangan tuan." gumam Carlos. Menatap anjing kecil Clara yang tergantung dengan kepala nyaris putus. Darahnya masih menetes, sepertinya pelaku baru saja membunuhnya.


__ADS_2