
Steven pulang dalam keadaan setengah sadar. Clara dan Jun yang baru saja turun dari masing-masing kamar mereka untuk makan malam segera menghampirinya. Steven dipapah oleh Sindy dan hal itu lagi-lagi membuat hati Clara merasa terganggu. Sebelumnya, Steven tidak pernah mengizinkan sembarangan orang menyentuhnya. Perubahan ini membuat Clara semakin cemas.
"Steven...kenapa kamu mabuk?" tanya Clara lirih. Dia memandang kepergian pria itu yang dipapah Jun naik kekamarnya.
"Maaf Clar ... aku juga perlu membersihkan diri." kata Sindy. Wajahnya tampak kacau dan jelas dia juga minum.
"Kalian dari mana?" tanya Clara.
Sindy berbalik, menatap Clara dengan alis setengah terangkat. Nada bicara Clara terdengar ketus dan wajahnya juga datar. Sindy terkekeh dan mengibaskan tangannya. Tampaknya pengaruh alkohol membuatnya tidak mampu bergerak dengan benar.
"Rekan bisnisnya mengajak minum bersama. Kamu tahu, kesepakatan antar laki-laki ... sedikit senang-senang ... yah ... itu biasa Clar..." jawabnya lalu segera berlalu.
Clara kembali keatas. Dia kehilangan selera makan. Sesampainya diatas Clara melihat Jun sedang melepas sepatu Steven. Melepas jas dan membaringkannya dengan benar. Setelahnya, Steven benar-benar tertidur.
"Kenapa anda disini Nona. Anda harus makan malam dan segera minum obat."
"Jun..." Clara mengalihkan pandangannya dari Steven. "Sedikit bersenang-senang setelah acara minum itu maksudnya apa? mereka melakukan apa?" tanyanya dengan raut sedih.
"Siapa yang mengatakan hal itu?" tanya Jun balik. Tapi Clara tidak menjawab. Tapi tentu saja Jun punya dugaan. "Jangan dengarkan dia, Tuan biasa seperti ini. Tapi untuk melakukan hal diluar batas tentu saja tidak. Tuan selalu setia pada anda, dia tidak pernah menyentuh wanita manapun."
"Lalu tadi apa? dia pulang sama wanita." sahut Clara, lalu berbalik dan pergi. Masuk kekamarnya sendiri dan menguncinya dari dalam.
Jun menghela nafas. Menoleh sesaat pada Steven yang tidur. Ia ikut keluar dan menutup pintu. Tidak pernah tahu bahwa setelah kepergiannya, mata Steven terbuka lebar.
.
Paginya, seperti biasa Steven akan bangun terlebih dahulu dari Clara. Namun saat ia ingin kekamar Clara, dia malah menemukan gadis itu sedang duduk di tepi kolam renang. Beberapa cemilan ada disampingnya. Steven mencari keberadaan Jun namun tidak ada. Sepertinya dia belum naik keatas.
"Kenapa melamun disini?" tanya Steven.
Clara tidak nampak terkejut, ia sedari tadi memang menyadari Steven sudah berdiri dibelakangnya.
"Bersantai, apa lagi. Aku tidak punya keahlian lain." jawab Clara dingin.
"Kamu sudah minum obat?"
"Apa aku akan gila kalau tidak minum obat?" tanya Clara, jelas dia merasa tersinggung saat pertanyaan itu muncul setelah ia bersikap ketus. Meskipun tentu saja Steven tidak berniat apapun.
"Aku tidak berpikir seperti itu, Clar...aku cuma kawatir kamu__"
"Turunlah, jangan biarin kak Sindy menunggu. Kalian akan kekantor kan?" potongnya. Masih sama dinginnya seperti tadi.
Steven tersenyum, lalu menggulung celananya sampai atas. Duduk disamping Clara dan ikut melakukan seperti yang dilakukan gadis itu.
"Kalau cemburu kenapa tidak bilang?" pancingnya.
"Aku tidak cemburu, memangnya kita punya hubungan apa sampai aku bisa cemburu!"
"Tidak perlu ada hubungan untuk bisa cemburu." balas Steven santai.
Clara menoleh dan melempar tatapan galak. Ketika Steven menatapnya balik, dia memalingkan wajahnya kearah lain. Steven hanya tersenyum. Lalu selanjutnya, senyum itu hilang begitu saja. Berganti dengan wajah yang mengeras. Matanya menatap lurus gadis itu.
"Clara ... kalau sikap marahmu karena kamu cemburu ... aku rasa kamu tahu rasanya menjadi aku saat kamu dekat dengan Jun."
Clara dengan cepat menoleh dan menatapnya dengan wajah penuh tanya. "Apa hubungannya dengan Jun?" tanya Clara.
"Lihat, kamu bahkan membelanya. Lalu apa juga hubungannya dengan temanmu itu?"
"Ini berbeda, Jun orang yang kamu tugaskan untukku."
"Lalu bukankah sama? kamu yang minta aku untuk melindungi temanmu itu bukan?"
"Tapi tidak harus dekat Steve!"
"Nah, Kamu juga tidak harus dekat dengan Jun kan?" balas Steven.
Clara menarik kakinya dari dalam air lalu berdiri. Begitu juga Steven, dengan santai menatap Clara yang sudah sangat marah.
"Jun tidak mencoba dekat denganku untuk sesuatu yang intim!"
"Lalu kamu pikir temanmu merayuku? Kamu curiga dengan temanmu sendiri? lalu kenapa kamu tidak mengusirnya?"
Clara terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Steven berhasil membuatnya bungkam dan merasa bodoh. Akhirnya, yang bisa ia lakukan hanya pergi dan masuk kedalam kamarnya. Menguncinya dari dalam lalu menangis. Dia kesal namun dalam benaknya membenarkan apa yang dikatakan Steven. Tidak seharusnya dia marah seperti ini. Padahal dia yang membawa Sindy untuk tinggal bersama.
Steven tahu dia menyakiti Clara lagi. Dia tentu saja tidak berniat sama sekali membela Sindy. Mana sudi dia melakukannya. Sejauh ini dia hanya meladeni permainan Sindy yang ingin mendekatinya. Ingin melihat sejauh mana wanita itu akan bertindak.
Saat Clara mulai membela Jun, saat itulah emosinya mulai naik. Maka ia hanya membalasnya seperti itu.
Steven mengusap wajahnya kasar. Kalau tidak ada pertemuan penting hari ini dia mungkin akan memilih dirumah dan menyelesaikan pertengkaran mereka. Masalahnya dia tidak bisa melakukannya. Perusahannya membutuhkannya apalagi mereka sedang melakukan proyek besar. Melakukan kesalahan bisa berakibat fatal. Bahkan sekelas Aston tidak akan bisa menyelamatkannya. Karena saat ini, dia berhasil bekerja sama dengan orang nomor satu dunia.
Setelah kepergian Steven, Clara yang masih kesal mengurung dirinya sampai siang. Jun bahkan sudah lelah memanggilnya. Namun gadis itu seperti tidak mendengarnya.
Karena kawatir, akhirnya Jun mengambil kunci cadangan setelah mendapatkan izin dari Steven. Setelah ia masuk, ia melihat gundukan besar diatas kasur.
"Nona, saya membawakan anda makan siang."
Clara menurunkan selimutnya. Keadaannya sangat kacau. Mata sembab dan rambut berantakan. Clara kelaparan, tapi rasa sakit hatinya membuat ia tidak ingin makan. Jun yang jauh lebih dewasa memahaminya sebagai gadis labil yang polos. Jadi dengan sabar dan lembut layaknya seorang kakak, ia membujuknya.
"Aku boleh makan es krim dulu?" tanya Clara, nadanya sangat membujuk.
Jun menarik sedikit bibirnya kedalam, menahan gemas. "Tidak ada es krim sampai anda selesai makan dan minum obat. Saya bahkan terpaksa membatalkan jadwal konsultasi anda." jawab Jun tegas.
"Aku tidak perlu dokter itu lagi." sahut Clara kesal. "Aku mau es krim Jun..." rengeknya. Entah kemana sifat kalemnya dulu. Sepertinya terbiasa dilayani Jun menjadikannya manja. Tapi Jun malah terkekeh dan menilai sikap Clara saat ini sangat lucu dan manis.
__ADS_1
"Saya janji Nona, setelah makan."
"Ke kedai tante kemarin?"
"Ya, kekedai tante kemarin. Tapi untuk itu kita perlu izin tuan Steven." Clara mendengus. Mengingat Steven rasa kesal dan sedihnya muncul lagi.
"Aku pasti gila kenapa masih mau tinggal disini. Aku tidak mengenal diriku lagi." gerutunya sambil menarik piring berisi makan siangnya. "Pastikan tiran itu memberi izin. Kalau tidak aku akan pergi tampa izinnya." kata Clara. Dia masih duduk diatas kasur dan makan dengan sangat berantakan. Jun tahu pernyataan itu hanya asal keluar, mana berani Clara keluar sendirian. Setidaknya untuk saat ini.
"Saya baru saja mengirim pesan." kata Jun memberi tahu. Ia mengambil tisu dan mengelap saus yang entah bagimana bisa sampai di pipi Clara.
Jun tersenyum, Clara semakin terlihat manis dimatanya. Menjaganya setiap hari seperti saat ini, membuat ia lebih sering tersenyum. Perlahan ia memperhatikan kamar itu. Karena kali lalu ia hanya melihat sekilas ditengah kepanikannya. Saat ini ia benar-benar memperhatikannya.
"Tuan Steven benar-benar memahami anda dengan baik." katanya, matanya masih memperhatikan setiap interior kamar.
"Huh?" Clara mendongak, lalu ikut melihat-lihat. "Hmm...dia punya selera bagus." katanya acuh.
Setelah ia selesai, Clara turun dari kasur dan akan membersihkan kasurnya. Namun Jun melarangnya dan menyuruhnya segera ganti baju. Clara menurut saja. Jadilah Jun yang membersihkan kasurnya. Memasukkan sprey dan selimut yang terkena kuah makanan dan menggantinya dengan yang baru. Lalu Jun juga yang mengirim sprei kotor itu lewat lift khusus cucian di luar kamar. Benar-benar tangan malaikat. Jun pekerja ganda yang bisa melakukan apapun tampa protes.
Selesai mengirim ia kembali, Clara sudah berganti dan sudah terlihat rapi. Jun melirik meja riasnya yang tampak tak tersentuh.
"Apa? jangan menyuruhku memakai itu. Aku tidak pernah pakai yang seperti itu." tolak Clara.
"Sesekali anda perlu melakukannya Nona." kata Jun.
"Aku tidak tahu cara pakainya."
"Jadi itu alasannya anda tidak memakainya?"
Clara menggeleng, "Tidak juga, aku memang tidak suka."
Jun lalu mengutak atik ponselnya dan memutar sebuah vidio di youtobe. Memberikannya pada Clara. Cara memakai make up untuk pemula.
Clara terkekeh namun tetap menontonnya. "Saya akan kebawah, kalau anda selesai anda bisa menyusul. Kalau perlu bantuan telfon Carlos." Clara hanya mengangguk tampa menoleh.
.
Carlos dan Jun sedang berdiskusi usai makan siang saat Clara turun. Keduanya menoleh dan total terpaku sesaat. Dengan kaku Clara memberikan ponsel Jun.
"Ke ... kenapa? kamu bilang aku harus coba." kata Clara gugup. Dia takut hasilnya jelek. "Apa ... aku kayak badut? Apa sebaiknya aku menghapusnya?" tanyanya dengan wajah kawatir.
"Mereka hanya terpesona Nona, anda sangat cantik. Make up natural cocok untuk anda." itu adalah koki dapur mereka. Tersenyum dan mengacungkan jempol padanya. Begitu juga para pelayan yang mengangguk setuju.
"Te ... terima kasih." ucapnya malu.
"Ayo berangkat." ajak Jun yang sudah berhasil menguasai diri.
"Nona, anda mengalahkan kecantikan artis holliwood." puji Carlos.
"Jangan bercanda!" sahut Clara. Mereka sedang berjalan menuju mobil.
"Kita tidak tahu kalau bukan dokter Frans yang memastikan. Besok tetap harus lanjut konsultasi." katanya tegas.
"Aku tidak..."
"Ini bukan hanya pendapat saya Nona, ini adalah perintah tuan." sahut Jun cepat.
Clara berhenti dan menatapnya kesal. Dengan penuh dendam menendang tulang kering Jun lalu berlalu tampa rasa bersalah. Masuk kedalam mobil. Carlos terkikik geli, mengejek Jun yang meringis sakit.
"Kenapa kaki kecil itu bisa sesakit ini saat menendangku?" tanya Jun dengan nada jahil setelah mereka semua masuk kemobil.
"Mau kutendang lagi, ya?"
Jun tertawa pelan. Reflek mengusak rambut Clara. Carlos yang melihat itu berdehem pelan. Jun segera menarik tangannya dan meminta maaf.
"Kita teman, kenapa kalian sangat serius?" kata Clara santai.
Sesampainya di kedai es krim. Clara menatap sekeliling dengan bingung. Kemarin sangat ramai tapi kenapa sekarang sepi?
Banyak orang yang lalu lalang namun tak satupun yang mampir. Kemarin juga tidak ada tempat duduk dan meja. Karena heran, Clara menghampiri penjual. Namun belum sempat ia bertanya, sebuah suara mengintrupsi mereka.
"Kalian tiba lebih dulu?"
Clara berbalik, Melihat Steven yang baru sampai bersama Sindy dan beberapa pengawal. Begitu Steven berdiri dihadapannya, Clara membuang muka. Dia masih marah apalagi Steven datang lagi-lagi bersama Sindy.
"Kamu dandan?" Clara tidak menjawab. "Cantik, sangat cantik." puji Steven.
Meskipun Clara kesal namun dia tidak bisa mencegah pipinya yang memerah. Steven masih menatapnya, tersenyum lembut.
"Jadi kamu mengusir semua pembeli?"
"Tidak, aku hanya memborong semua es krimnya."
Sudut bibir Clara berkedut karena jengkel. "Dasar sombong." sungutnya. Lalu melangkah menjauh dan duduk di kursi.
"Kakak tidak duduk?" tanya Clara, kedengarannya mengajak namun nadanya yang agak sarkas membuat siapapun tahu Clara sedang kesal.
"Clar ... aku ... sedang diet, kamu saja." jawab Sindy.
Clara memperhatikan tubuh langsing itu lalu melihat tubuhnya sendiri. Jelas dia kurus, tapi mengapa perkataan Sindy seolah menyindirnya. Apa perasaannya saja?
"Ini es krim mu." Steven datang dan duduk disampingnya. "Kamu terlalu kurus jadi tidak masalah makan banyak es krim." lanjutnya. Clara tersenyum, senang karena Steven terdengar mendukungnya. Dia langsung melahap es krimnya penuh semangat.
"Jun! tidak mau?" tanya Clara, sebenarnya dia lebih terlihat ingin menjahili dari pada menawari Jun.
__ADS_1
"Nona ... anda tahu saya tidak suka es krim."
"Kemarin kamu bisa makan ini, tidak ada penolakan!" paksa Clara.
"Tidak untuk kali ini, kemarin anda tahu saya terpaksa." tolak Jun tegas. Lupa kalau ada Steven yang mengawasinya.
"Jun!" tegur Steven dengan suara rendahnya. "Untuk kalian semua ... makan es krimnya. Bahkan untukmu, lupakan dietmu!" kata Steven.
Clara tertawa, merasa terhibur melihat wajah tersiksa para pengawal. Walaupun tidak semuanya, beberapa dari mereka tampak suka dan malah bersemangat. Yang paling membuatnya terhibur adalah wajah tiga orang itu. Jun, Carlos dan Sindy. Padahal dulu Sindy pernah pergi dengannya makan es krim di Indonesia. Entah mengapa wanita itu malah beralasan sedang diet sekarang.
"Kamu senang bisa mengusili mereka?" tanya Steven ketika melihat wajah senang Clara.
Clara mengangguk, sepertinya lupa kalau tadi mereka masih bertengkar. Karena sekarang dia bahkan tidak menolak saat Steven membersihkan mulutnya dengan ibu jarinya.
"Kamu akan kembali ke kantor?" tanya Clara saat mereka sudah akan pulang.
"Tidak," jawabnya. "Kamu kembalilah kekantor. Jun, bawa mobil. Carlos...pimpin pengawalan." perintan Steven.
"Kalian akan kemana?" tanya Sindy, jelas merasa tidak suka saat ia harus kembali kekantor sendiri.
"Apa aku harus melapor padamu?" tanya Steven dengan alis terangkat.
"Oh ... tentu tidak. Kalian bisa pergi. Ayo Kevin." ajak Sindy pada pengawal yang ditugaskan Steven untuknya.
"Wanita itu makin besar kepala," bisik beberapa pengawal yang masih bisa didengar oleh Clara.
Clara menatap punggung Sindy dengan sedih. Dulu mereka sangat dekat dan Sindy adalah orang yang sangat dihargainya. Tapi sekarang hubungan mereka menjadi lebih buruk. Clara mulai tak nyaman dan sedikit muncul rasa benci. Hal itu tidak bisa ia cegah, karena itu ia semakin merasa menyesal.
Clara tersentak kala tangannya digenggam oleh Steven. Dia dibawa masuk kedalam mobil lain untuk segera pergi.
"Kita mau kemana?" tanya Clara.
"Menemanimu jalan-jalan."
"Huh?"
Steven menoleh mengangkat tangannya dan mengelus kepala Clara lembut. "Permintaan maaf karena sudah membuat kamu menangis." katanya.
Clara merengut dan menatap Jun yang pura-pura tidak dengar dengan sengit. Dia malu tentu saja, menangis hanya untuk pertengkaran kecil.
"Aku tidur, tidak menangis!"
"Benarkah? Mungkin Jun salah lihat. Besok kamu tidak boleh meninggalkan konsultasi lagi. Secepatnya kamu harus benar-benar sembuh. Kamu juga harus kuliah."
Clara hanya mengangguk sebagai respon. Pikirannya kembali pada saat mereka di Indonesia dulu. Saat mereka masih sekolah. Pertama kalinya mereka bertemu. Bahkan seingatnya, saat itu Steven sudah sangat posesif sebelum mereka menjalin hubungan. Sampai menjadikan sahabatnya sendiri sebagai pengawal untuknya.
"Apa yang ada dalam kepala ini?" tanya Steven. Kembali meletakkan tangannya pada puncak kepala gadis itu dan mengusak rambutnya.
Clara menyingkirkan tangan itu dan merapikan kembali rambut panjangnya. "Ingat saat kita masih sekolah, saat itu ... kamu sudah menyebalkan sekali. Seenaknya sendiri dan pemaksa." sahut Clara. Nadanya biasa tapi Steven tahu gadis itu sedang mengeluh.
"Aku penasaran, sejak kapan Jun kerja sama kamu?" tanyanya lagi, tampaknya sengaja mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin ada perdebatan lagi.
Masalahnya, Steven tak menyukai pertanyaan itu, tapi memilih tetap menjawabnya. "Kenapa penasaran?" tanyanya balik.
"Jun temanku sekarang."
Steven tertawa, "Teman? teman yang bagaimana?" sinisnya.
Clara memberikan tatapan sengit, memperingati untuk jangan memulai perdebatan tak penting. Lalu secepat kilat ia menatap punggung Jun.
"Jun, kalian ketemu dimana?"
"Itu..." Jun terlihat ragu.
"Kami bertemu saat aku mulai mendirikan perusahaanku." jawab Steven. Jun menunjukkan ekspresi lega, Steven tidak mengatakan yang sebenarnya. Karena kenyataannya mereka bertemu dalam situasi yang menyedihkan.
"Aku mencari orang yang bisa aku andalkan karena saat itu usiaku belum legal. Masih midle school kelas 2."
"Waah ... dari mana kamu punya modal untuk merintis perusahaanmu?"
Steven tersenyum penuh arti. Dia menoleh lalu menyeringai. "Ingat! aku jenius sayang. Mengumpulkan uang bukan hal yang sulit bagiku." jawabnya. Clara mencibir mendengar kalimat penuh sombongan itu.
"Uangnya tidak mencuri kan?" tuduh Clara dengan wajah curiga.
"Aku ini polos dan baik saat itu, mana mungkin mencuri."
Sudut bibir Clara naik sedikit, jelas sangat sangsi kalau Steven polos. Dengan otak jeniusnya bahkan Clara percaya kalau pria disebelahnya ini sudah tahu hal dewasa saat masih TK. Kecurigaan Clara memang benar, nyatanya kejeniusan Steven bukan hanya dari segi memahami akademik, tapi dia juga berkembang dengan cepat dan baik dari segi mental. Karena itu saat SD ia menolak melakukan tes IQ.
"Polos apanya. Jun ... aku yakin kamu sudah banyak menderita. Apa dia membayarmu dengan pantas?" tanya Clara, beralih pada Jun yang tertawa tampa suara.
"Pantas katamu? aku membayarnya sangat baik. Dia bahkan punya banyak aset tak bergerak. Simpanannya di bank bisa mendirikan perusahaannya sendiri."
Clara melongo, meski masih cantik tapi tetap saja terlihat konyol. Steven terkekeh, lama mereka mengobrol. Jun hanya menjawab seadanya, karena tidak biasa berbicara dengan Steven diluar pekerjaan. Selama dia mengenal tuannya, Steven memang jarang bicara santai. Dulu mereka sama-sama kaku dan dingin. Mereka berdua berubah hanya setelah ada Clara.
Mobil berhenti disebuah tempat wisata tepi pantai. Meski bukan musim libur, tempat ini cukup ramai oleh pengunjung.
"Kita mau melakukan apa disini?" tanya Clara setelah turun.
"Menurutmu?"
Steven menggenggam tangannya dan membawanya masuk ke dalam sebuah kapal yang tidak terlalu besar. Jun mengambil alih tugas nahkoda, sehingga yang ada diatas kapal hanya orang-orang Steven.
"Kita ... akan memancing?" tanya Clara dengan kening bertaut. Ketika melihat ada beberapa alat pancing disana.
__ADS_1
Steven tidak menjawab. Dia berjalan kedepan dimana Jun sedang mengemudi. Berbicara dalam suara rendah. Entah apa yang Steven perintahkan tapi keduanya terlihat sangat serius.
............