
Aston mengitari ruang peneitian miliknya. Mengamati setiap pergerakan yang dilakukan para peneliti. Seorang remaja masuk dan menghampirinya, menunjukan sebuah layar yang memperlihatkan sebuah pergerakan seseorang yang ditandai dengan titik merah dipeta.
"Beri dia gelombang kejut, serangan jantung ringan. Dia tidak boleh menemui Steven saat ini." Remaja itu mengangguk kecil dan segera pergi.
Aston menatap tangan kanannya, mengangguk kecil untuk memberikan perintah yang tentu sudah mereka rencanakan sebelumnya. Pria berwajah kaku itu segera menuju ruang sebelah yang sepi, menelfon seseorang sebelum kembali pada tuannya.
.
Steven masih dalam penyembuhan, bahkan dua hari ini ia tak mengalami kemajuan, atau seperti itu yang dilihat oleh Clara. Gadis itu terus kawatir saat Steven meringis ketika bergerak, tidak tahu saja itu hanya tipu daya untuk menarik perhatiannya.
Sindy yang masih berada di dalam rumah itu membantu Clara namun tak diizinkan masuk. Sejauh ini ia masih berperan sebagai kakak yang baik. Jun sendiri sudah memberi tahu Steven kemungkinan tujuan Sindy setelah mereka mengetahui hubungan antara mendiang istri Aston dan Sindy. Meski tak ada bukti, Jun dan Steven tentu saja waspada. Menghadapi musuh dalam bentuk wanita licik yang merasa lemah lebih sulit dari pada membunuh puluhan mafia. Hal itu karena ia memanfaatkan Clara. Jika tidak ada Clara, tentu bukan hal yang sulit.
"Kakak dan ayah Irios tidak melakukan pergerakan apapun, Tuan. Semua kasino dimbil alih oleh kakaknya." lapor Jun.
"Mereka hanya memanfaatkan Irios, tak masalah ia hidup atau mati," Sahut Steven, hubungan Irios dan keluarganya mungkin terlihat baik diluar, nyatanya Irios hanya dianggap benalu saat datang. Keluarga mereka yang berebut kekuasaan akan lebih senang ada satu ahli waris yang pergi.
"Tuan Arnold banyak diam dua hari ini. Apa kita harus menolong ayahnya yang bangkrut?"
"Tak perlu, biarkan mereka memperbaiki hubungan sendiri. Lagi pula ... Peter dalam pengawasan Aston." Steven menatap Jun serius. "Selanjutnya kamu akan kembali padaku. Renjun mungkin sudah baik diperusahaan, tapi aku butuh kamu untuk membantunya dan juga menjaga Clara dari apapun." lanjut Steven.
"Bukankah Carlos lebih baik, tuan? saya bisa menjaga anda..." Jun tidak berani melanjutkan saat melihat kilat tak suka diwajah tuannya. "Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan." tegas Jun dengan wajah kaku.
"Besok kita kembali, beri tahu Arnold untuk menemuiku saat ia pulang."
Jun undur diri, saat ia akan keluar, ia berpapasan dengan Clara yang membawa nampan berisi cemilan.
"Jun mau kemana? kami buat cemilan enak, mau ikut makan?"
Jun membeku ditempat, jantungnya berdetak anomali saat menatap mata polos yang memandangnya. Seketika perasaannya jadi tidak enak. Bukan apa-apa, tapi Jun bisa merasakan hawa dingin menusuk dari belakang punggungnya.
"Kamu tidak mau?" tanya Clara lagi.
"Sa...saya harus melakukan sesuatu, Nona. Anda masuklah."
Secepat kilat Jun meninggalkan tempat itu. Tak berani menoleh kebelakang karena tahu Steven sedang memandangnya dengan tajam. Jun merasa kalau ia lebih lama lagi disana dia bisa mendapatkan tembakan yang sama seperti Arnold dulu.
"Padahal aku buat banyak," keluh Clara.
Ia meletakkan nampan berisi kue kering dan kue basah diatas meja. Menaruhnya dipiring kecil dan meletakkan garpu disisinya. Belum sadar bahwa Steven masih mengeluarkan aura mengerikan. Steven selalu tidak suka saat Clara memberi perhatian pada pria manapun meskipun itu adalah teman atau bawahannya.
"Kamu mau kue? bagaimana sakit di tanganmu? masih terasa?"
Steven tidak menjawab, ia diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia bahkan meraih piring kue ditangan Clara tampa ringisan kesakitan seperti biasanya. Membuat Clara bingung sekaligus bersyukur.
"Oh, tanganmu terlihat sudah tidak sakit. Nah, selamat makan. Aku mau mandi karena sudah sore."
Steven tidak menjawab. Dia hanya memakan kuenya dengan cuek. Tentu saja hal itu menimbulkan kebingungan dan kecurigaan. Namun Clara tidak ingin berpikir lebih, ia memilih meninggalkan kamar Steven. Setelah pintu tertutup, Steven menatap pintu dengan wajah kesal. Clara itu terlalu polos dan tidak peka. Sama saja dengannya soal cinta, sama-sama tidak punya pengalaman. Karena itu dia sama sekali tidak sadar bahwa Steven sedang cemburu padanya.
.
Malamnya, Clara ditahan oleh Jun saat melihat Arnold memasuki kamar Steven. "Kenapa?" tanya Clara bingung. Pasalnya sebelum ini Clara tidak pernah dilarang mendengarkan pembicaraan mereka mengenai perusahaan. Saat ini ia sedang melakukan pekerjaannya, memberi makan malam pada Steven.
"Tuan berpesan agar tidak mengizinkan siapapun masuk saat ini. Anda bisa kembali saat__" Jun berhenti bicara saat Sindy menghampiri mereka.
"Istirahat aja, Clar...biar aku yang gantiin nanti. Kamu pasti lelah, kan?"
Clara menoleh, lalu menggeleng. "Dia tidak mengizinkan siapapun masuk kak, ingat?" terang Clara.
"Oh...iya aku lupa. Ya sudah, aku akan menemani kamu disini." kata Sindy. Clara melirik Jun yang tidak menanggapi sama sekali.
__ADS_1
Clara tahu Jun tidak menyukai Sindy sejak awal. Dia bahkan tidak repot-repot menyembunyikannya. Jun hanya menahan diri agar terlihat sopan saja.
Sementara di dalam kamar, Arnold duduk di sofa dengan kaki menyilang, menatap Steven dengan ekspresi datar. Steven duduk, bangun dari kasurnya. Tangannya yang diperban terlihat sudah tidak sakit. Membuat Arnold akhirnya mendengus jengkel.
"Akhirnya kamu menyudahi sandiwara cintamu. Kenapa? tidak berpengaruh padanya?" Sindir Arnold.
"Jun aku bawa besok, aku butuh dia selama Sindy masih disekitar Clara. Ayahmu ... kamu punya rencana?"
Arnold mendengus, ia bersandar dan mengamati pergerakan Steven yang duduk di sofa lain. Membawa sebuah piring berisi kue dan memakannya tampa menawarinya. Menyebalkan memang, padahal dia menyuruh Arnold yang sudah pasti belum makan malam untuk menemuinya.
"Kamu sungguh tidak akan menawariku, BOS?" tanya Arnold dengan menekan kata terakhir.
Steven melirik Arnold lalu beralih pada kuenya, Jenius memang tapi Steven terkadang masih menunjukkan sifat labil khas pria yang baru saja beranjak dewasa, ia bahkan belum genap 19 tahun. Sementara Arnold adalah pria dewasa berusia 27 tahun.
"Ini milikku," sahutnya acuh.
Ujung bibir Arnold berkedut, merutuki kelakuan pria dihadapannya. Steven kembali menjadi dirinya yang biasa, memberikan pandangan memerintah.
"Kemarin dia datang, tadi juga. Mengemis minta dibantu. mengeluarkan air mata buaya. Ck! dari siapa dia tahu aku anaknya?" keluh Arnold. Ia terlihat marah tapi Steven bisa melihat kesedihan juga dimatanya.
"Dia sudah tahu? kalau begitu maafkan saja," kata Steven asal.
Seperti dugaan Arnold mendengus, "Tak akan, katamu dia kenal Aston, kan? kenapa dia tidak minta tolong sama__"
"Dia tidak sebaik itu pada kelinci percobaannya." potong Steven cepat.
"Ayahku...bagaimana dia kenal sama Aston? kenapa dia mau jadi bahan percobaan?"
"Kenapa kamu tidak tanya langsung?"
Arnold mendelik jengkel membuat Steven menyunggingkan senyum tipis. Arnold tertegun sesaat, pasalnya biasanya ia akan mendapatkan senyum mengejek atau senyum remeh. Steven tidak pernah menunjukkan senyum tulus sejak mereka mulai bertemu. Karena Arnold berbeda dari tiga temannya itu. Arnold selama ini diperlakukan sama seperti Jun dan bawahan lainnya. Hanya saja ia lebih dihargai karena kontribusinya.
Arnold terdiam, Steven benar. Selama ini ia sudah menanam kebencian dihatinya. Dia juga tidak pernah mendapatkan jawaban dari ibunya dulu. Sejauh ini yang ia percayai adalah ayahnya membuang mereka karena lebih mencintai istri kedua. Dia dan adiknya, selalu menganggapnya begitu.
"Aku butuh kalian disini." Tiba-tiba saja Arnold mengutarakan kegelisahannya. "Kepalaku terasa kosong saat kalian tak ada. Sejak adikku mati, aku merasa begitu. Beberapa hari ini terasa lebih hidup..." Arnold mempertemukan pandangan mereka setelah sedari tadi menatap meja. "Bagaimana kalau Jun saja yang disini dan aku yang jadi bodyguard pacarmu? hitung-hitung cuci mata setiap hari. Selama ini aku cuma berinteraksi sama muka datar Jun itu!" keluhnya diakhir.
"Kamu lebih baik dari Jun dalam mengurus perusahaan. Tetap disini dan cepat cari pacar agar hidupmu tidak hambar!" jawab Steven.
Pada awalnya ia sedikit tersentuh dengan perkataan Arnold, tapi saat mendengar nama wanita yang dicintainya dibawa-bawa, sifat posesifnya muncul lagi. Arnold suka menggangunya dan Steven tak ingin Clara terbiasa dan malah jatuh cinta padanya. Itu tidak mungkin ia biarkan terjadi. Arnold itu pembangkang, sementara Jun penurut.
"Aku tidak suka interaksi sama wanita manapun kecuali pacarmu." jawab Arnold, lalu ia menyeringai. Suka sekali memancing amarah Steven.
Steven mengabaikannya, mengalihkan topik pembicaraan. Pembahasan mereka berlanjut ke perusahaan dan masalah-masalah terkait Aston. Sampai pada akhirnya ketukan pintu mengintrupsi diskusi mereka.
Arnold bangun dan membukakan pintu sedikit. Melihat siapa yang mengetuk, ia menyeringai dan membuka lebar pintu dengan wajah senang.
"Ternyata seorang wanita cantik yang mengganggu kami? apa sekarang saatnya bayimu makan malam?" godanya.
Dari perkataan Arnold Steven sudah tahu siapa yang sedang ada di depan pintu. Dia bangun dan melangkah mendekati mereka. Mendorong Arnold keluar sehingga Clara reflek menyingkir kesamping.
"Ck! bos sialan!" umpatnya sambil melenggang pergi.
"Steven melirik Jun dan Sindy yang berdiri tak jauh dari sana. "Jun, bereskan untuk keberangkatan besok." katanya lalu menatap Clara dan troli makanan disampingnya.
"Aku...aku boleh ikut dengan Clara?" tanya Sindy, tiba-tiba sudah berada disisi gadis itu. Sindy jelas bisa melihat perban yang sedikit terlihat dari lengan pendek baju Steven.
"Kamu mau dia ikut?" tanya Steven, tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Clara mengangguk dengan wajah memohon. "Oke, dia boleh ikut."
__ADS_1
"Tuan?" sela Jun, dia sangat kawatir akan keputusan Steven.
"Lakukan saja, Jun." perintah Steven tampa menoleh. Sindy sudah tersenyum senang. Dia mengucapkan terima kasih tapi Steven lagi-lagi tak menjawabnya. "Masuk dan suapi aku, kuemu sudah habis."
Clara mengikutinya, namun Sindy dengan tidak tahu malunya ikut masuk. Sayangnya Jun lebih cepat. Ia menarik lengan Sindy kasar dan segera menutup pintu. Clara yang bingung menoleh kebelakang sesaat, ia tidak tahu kejadian dibelakang punggungnya. Ia hanya terkejut karena suara pintu yang tertutup agak keras.
"Jaga sikapmu, sialan! Sadari posisimu kalau tidak ingin tuan mengusirmu!" desis Jun dengan wajah amat sangat marah.
Sindy membalas tatapan Jun tak kalah sengit, jelas ia meremehkan posisi Jun saat ini. Tidak tahu saja kalau Jun sudah marah ia sebelas duabelas dengan tuannya.
"Kamu cuma bawahan! jangan berani mengancamku apalagi melarangku!"
"Bawahan katamu? aku akan tunjukkan padamu apa yang bawahan ini berani lakukan!" balas Jun dengan wajah menggelap.
Dia menyeret Sindy menjauhi kamar Steven dan membekap mulutnya agar tak menimbulkan keributan. Bukan marah dari tuannya yang ia kawatirkan, tapi Clara yang akan marah padanya jika tahu ia berbuat kasar pada temannya. Steven sama tak menyukainya, kalaupun ia membuat Sindy menghilang tak akan masalah baginya.
Jun memasukkan Sindy dalam ruangan pengap yang gelap. Mencekiknya dan memojokkan tubuh gadis itu kedinding. Sindy bisa merasakan bau debu dinding, ruangan itu seakan tak pernah terjamah. Tidak tahu kenapa ada ruangan seperti itu didalam rumah Arnold.
"Kalau bukan karena Nona, kamu pasti sudah mati olehku. Jadi...apa bawahan ini sangat remeh dimatamu?" desis Jun dengan suara dalam dan rendah. Wajah datarnya berubah bengis dan mengerikan.
"Akh! le...lepas!" kata Sindy dengan suara tercekat.
"Ini hanya peringatan! kalau kamu berani menyentuh Tuan dan Nona...aku pastikan kematianmu disegerakan. Tidak peduli siapapun dibelakangmu, aku pastikan dia tak akan bisa menghentikanku."
Jun menghempaskan Sindy kelantai. Menatap dingin wajah syok gadis itu sebelum keluar dari ruangan. Perlahan Sindy bangun, meringis merasakan sakit dilehernya. Ia berusaha mengatur nafas, mengubah ekapresinya menjadi biasa sebelum keluar dari sana. Kebencian terpatri dari sorot matanya pada Jun yang hampir membunuhnya.
.
Di tempat lain, disebuah rumah sederhana, seorang pria paruh baya terbaring lemah diatas kasurnya. Istri dan dua anaknya berdiri disisinya. Sang istri tampak sangat dingin. Salah seorang anaknya tampak kawatir dan yang lain cuek dan biasa saja.
Ya, dia adalah Peter yang berusaha bernafas dengan normal ditengah rasa sesak di dadanya. Ia baru saja tiba didepan pagar rumah Arnold sebelum jantungnya terasa sakit dan ia pingsan begitu saja. Anaknya yang kawatir segera membawanya kerumah sakit, namun baru akan turun, ayahnya sadar dan berkata ingin pulang. Dia tidak bisa kerumah sakit manapun. Maka ia menghubungi bawahan Aston untuk membantunya.
"Kamu tidak berhasil menemui tuan Steven?" tanya istrinya.
Mendapat gelengan Peter istrinya kelihatan kecewa. Dia meninggalkan kamar mereka diikuti oleh anak perempuannya. Sementara anak laki-laki yang tadi ikut bersamanya duduk disisinya. Menatapnya prihatin.
"Kenapa ayah tidak mau dibawa kerumah sakit? dokter biasa tidak bisa mengatasi sakit jantung. Ayah butuh spesialis. Kalau soal uang, kita masih punya uang sisa dari penjualan rumah."
Ayahnya hanya menggeleng. Bukan karena tidak ingin, melainkan ia tidak bisa melakukannya. Dia akan langsung mati saat dia sampai di UGD. Bukan karena sakit tapi karena Aston akan membunuhnya. Ini adalah serangan pertama dari Aston. Peter tahu dia melakukan kesalahan dengan datang pada Steven.
.
Paginya, Arnold benar-benar terlihat sangat kesal. Bukan karena ada yang membuatnya kesal. Melainkan karena kepergian Steven. Kesenangannnya seolah diambil paksa darinya.
"Kenapa kalian belum pergi? aku pikir saat bangun kalian sudah menyingkir dari rumahku." Sungguh tipe sundere sesungguhnya, Steven dan Jun hanya mengabaikan. Berbeda dengan Clara yang merasa tak enak hati.
"Maaf, kami banyak merepotkan..."
"Jangan dengarkan dia Nona, anda tak perlu kawatir." kata Jun.
Steven dan Arnold meliriknya, sedikit bingung karena Jun lebih terlihat normal dengan perhatiannya pada Clara. Menyadari pandangan mereka, Jun melirik jamnya. "Kita harus segera berangkat." katanya.
Sindy tersenyum sinis, wanita itu tentu saja sangat peka. Dia menyeringai sebelum berpura-pura ceria, menggandeng lengan Clara dengan semangat menuju mobil yang sudah disiapkan.
Sesampainya dibandara, Steven dan Clara yang satu mobil dengan pengawalan ketat turun. Steven menggandeng tangan Clara dan melindunginya dari banyak tatapan orang-orang. Jun mengamankan situasi sampai mereka memasuki jalur khusus menuju pesawat pribadi milik Steven.
Melihat kekuasaan Steven sejauh ini, tentu saja membuat Sindy lebih terbuai. Ia memikirkan banyak cara dalam kepalanya. Mengingat perkataan Aldo yang meremehkannya, membuat ia semakin berambisi untuk mendapatkan Steven dan menyingkirkan Clara.
"Singkirkan rencana kotormu sebelum aku melubangi kepalamu." ancam Jun saat mendahuluinya naik. Menyadari tatapan penuh ambisi diwajah itu, membuat sisi liar Jun muncul lagi. Tangannya sudah gatal ingin menyiksa Sindy yang ingin mengganggu hubungan tuannya.
__ADS_1
"Munafik, aku akan buat kamu mengikuti langkahku." gumam Sindy pelan. Sehingga hanya ia yang bisa mendengarnya. Ia terlihat sangat yakin akan apa yang ia rencanakan.