SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
40


__ADS_3

Seluruh televisi memberitakan kejadian tragis pada pernikahan billioner Aston. Bagaimana saat kapal sampai di dermaga dan sudah dalam pemgawalan polisi, Aston tampak terekam kamera sedang menangisi istrinya. Aston tampak terpukul saat menggendong mayat sang istri menuju mobilnya. Bahkan ia tidak memperbolehkan polisi memeriksa istrinya untuk melakukan otopsi. Dari kejadian malam itu, ada total 23 orang yang tewas. Sebagian adalah pengawal tamu dan pelayan kapal. Dari pihak tamu hanya terjadi luka-luka saja. Pihak polisi belum merilis kronologi kejadian. Identitas satu pelaku yang mati ditempat juga tidak dipublikasikan.


Steven, Arnold dan Jun duduk dalam ruang kerja rumah Arnold. Mereka baru saja memantau berita kembali setelah membersihkan diri. Keduanya menatap Steven, menunggu tanggapan pria itu.


"Bagaimana menurut kalian?" tanya Steven. Matanya menatap layar televisi.


"Dia mirip sepertimu," kata Arnold yang dihadiahi lirikan tajam. Steven tidak suka tapi tidak memprotes. "Dia mungkin kelihatan sebagai korban tapi ekspresinya mirip kamu saat menang dari musuh. Maksudku...walau ada air mata tapi sorot matanya jelas bahagia." lanjut Arnold.


Steven tersenyum, dua orang dihadapannya ini memang sangat memahami dirinya. Juga situasi disekelilingnya. Mereka berdua sangat peka pada keadaan dan mampu menilai suatu kebenaran.


"Dia tidak menghargai nyawa kecuali berguna untuknya. Sandiwara seperti itu mudah baginya dan polisi dibawah kakinya." kata Steven. Nadanya tenang sekali seolah mereka sedang minum teh ditaman.


"Dia menginginkanmu, dia akan menyingkirkan siapapun, termasuk kami jika kami mengganggu." lanjut Arnold lagi.


"Bagaimana menurutmu, Jun?" Steven menatap Jun yang beralih padanya dimana sejak tadi fokus pada berita.


"Nona dalam bahaya besar, Tuan." katanya datar.


"Ck, kamu lebih menghawatirkan gadis itu dari pada nyawa kita?" sinis Arnold.


Jun menoleh dan mengangguk, wajahnya tetap datar. "Nyawanya bearti nyawa Tuan juga. Dia mati maka__"


"Aku akan menjadi gila..." potong Steven dengan desisan tajam. Auranya menjadi kelam. Arnold dan Jun menatapnya dalam diam. Mereka seperti melihat sosok lain saat ini. Kilat mata penuh aura membunuh.


Sekarang ini politik, dunia bisnis legal maupun dunia penuh kriminal, semua bersinambungan. Mereka pelaku politik dan bisnis saling terhubung satu sama lain bahkan dengan dunia bawah sekalipun. Melawan mereka tak akan pernah habisnya. Karena itu, Steven lebih suka suasana tenang tampa ada keributan. Sekalipun ia harus mendiami kelakuan Aston. Steven tahu, memulai perang dingin dengannya tak akan beakhir baik. Selama Aston masih berada di koridornya, tidak mengusiknya terlalu jauh. Maka dia akan diam.


.


Clara masih diam dikamarnya. Duduk termenung di sudut. Tidak beranjak dari sana sejak Steven mengintimidasinya. Dia berantakan dan wajah sembabnya terlihat menyedihkan. Seorang pelayan wanita masuk dan meletakkan pakaian baru di atas kasur. Wanita paruh baya dengan rambut pirang itu menghampirinya. Berjongkok dan memapahnya bangun.


"Bersihkan dirimu," katanya dengan nada membujuk.


Tapi Clara menggeleng. Dia terus bergumam ingin pulang. Pancaran ketakutan jelas terlihat dimatnya. Pelayan itu tentu saja tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Yang ia tahu hanyalah seorang wanita dan dua pria pulang bersama tuannya Arnold. Tampak kacau seperti habis berkelahi. Pagi ini ia baru tahu insiden dalam pesta tadi malam. Karena itu ia sangat prihatin dengan keadaan Clara yang diduganya mengalami trauma.


"Nona...kamu harus membersihkan diri dan makan. Anda harus punya tenaga untuk melakukan apapun yang ingin anda lakukan. Termasuk pulang__" katanya, tampak ragu dengan kata pulang yang ia ucapkan.


Clara kembali meneteskan air mata. Ia menatap pelayan itu dengan mengiba. "Selamatkan aku, biarkan aku pulang...aku tidak mau disini. Mereka semua mengerikan." kata Clara dengan nada frustasi, menggenggam tangan pelayan itu kuat-kuat.


"Tinggalkan dia."


Sebuah suara membuat keduanya membeku. Pelayan itu segera bangun dan menunduk hormat pada Steven dengan wajah ketakutan. Ia segera keluar begitu Steven berjalan masuk.


Clara beringsut semakin ketepi. Memeluk lututnya. Saat Steven berjongkok dihadapannya, ia menunduk dalam. Hampir menenggelamkan kepalanya kelutut.


"Bangun," perintah Steven dingin.


Melihat reaksi Clara yang hanya diam, Steven mengulurkan kedua tangannya. Merengkuh lengan gadis itu kuat dan memaksanya berdiri. Dengan cepat ia menggendong Clara masuk ke dalam kamar mandi.


Tampa membuka pakaiannya ia memasukkan Clara kedalam bathtub. "Mandi, kalau kamu tak segera membersihkan tubuhmu, maka aku yang akan melakukannya. Aku pastikan saat aku melakukannya, itu bukan hanya sekedar mandi." kata Steven datar. Pria itu bangkit lalu keluar.


Steven sedang memainkan ponselnya saat Clara keluar dengan baju mandi dan rambut yang basah. Berjalan pelan mengambil pakaian diatas kasur, tepat dibawah kaki Steven.


"Pakai saja disini," kata Steven saat Clara hendak masuk kembali kedalam kamar mandi.


Clara berjengit saat Steven bangun dan melewatinya begitu saja. Ketika pintu tertutup, barulah ia buru-buru memakai pakaiannya.


Sementara itu, Steven mematung didepan pintu. Reaksi Clara tentu saja tak luput dari penglihatannya. Sikapnya tadi membuat hubungan mereka semakin kacau. Clara semakin takut padanya.


Steven menghembuskan nafas, ia memilih meninggalkan kamar itu untuk pergi keluar. Sebelum pergi, ia memberikan pesan pada Sam untuk menyuruhnya berbicara dengan Clara. Akhirnya ia menyetujui usul Arnold walau sebenarnya ia keberatan Clara berada bersama pria manapun.


"Bagaimana dengan orang tua Arnold? apa yang bisa kita lakukan pada mereka, Tuan?" tanya Jun.


Mereka sedang berada didalam mobil. Steven belum mengatakan tujuannya jadi Jun hanya mengikuti nalurinya untuk menentukan arah pergi.


"Kenapa dengan mereka? bukankah Arnold hanya mau pembunuh adiknya?"

__ADS_1


"Ya, tapi anda tahu orang tua Arnold akan ikut jatuh kalau kita menjatuhkan Irios."


"Bajingan itu tahu kalau si tua Peter ayah kandung Arnold. Karena itu ia mengikatnya untuk melindungi diri." keluh Steven.


"Bagaimana kalau sebar vidionya?" usul Jun.


"Si tua itu bisa dalam bahaya." sahut Steven, "Kecuali Arnold benar-benar tidak peduli sama sekali dengannya. Tapi lihat, dia tidak melakukan apapun selain diam ditempat. Dia menyayangi ayah bodohnya." lanjut Steven jengkel.


"Aku ingin menemui ibuku." kata Steven lagi.


Jun meliriknya, keputusan yang tiba-tiba namun ia tak berani berkomentar. Hanya menjalankan mobil menuju rumah ibunya.


Sesampainya disana, Steven disambut pelayan yang sudah setia bersama mereka sejak ia pindah kesana. Menyambutnya dengan wajah haru dan kerinduan mendalam. Ia sudah menjadi nenek tua dan jelas sangat menyayangi Steven seperti cucu kandungnya sendiri.


"Nenek Molly... dimana mom? apa dia pergi?"


"Ibumu lagi olahraga di belakang, ayo...ayo!" ajak Molly.


Seperti biasa, ibunya sangat pandai menjaga tubuhnya. Ia sedang berolahraga dengan seorang pria muda sebagai instruktur. Masalahnya, Steven bisa melihat dia bukan hanya instruktur biasa. Gerakan mereka terlalu intim dan saling menggoda. Ibunya tak pernah berubah.


"Mom!" tegur Steven saat kedua bibir mereka sudah akan bertemu.


Keduanya menoleh. Ibunya jelas tidak repot-repot menjauhkan diri dari pria itu. Dengan mesra ia malah menggandengnya menuju Steven. Senyumnya cerah diwajahnya menunjukkan dia sedang kasmaran.


"Ibu dengar kamu hadir di pesta tuan Aston. Apa kamu terluka?" tanya ibunya. Steven tidak menjawab, dia malah menatap dingin pria disamping ibunya. "Ooh...kenalkan dia Josh! Hmm...pacar baru mommy." kata ibunya dengan tingkah malu-malu, sangat menggelikan mengingat ia tidak muda lagi.


Steven muak, kalau bukan dengan tujuan khusus dia tak akan mendatangi rumah ibunya. Dia menyayangi ibunya, tapi ia membenci sifatnya.


Melihat wajah anaknya yang mulai mengeras, ia dengan segera tersenyum pada Josh dan menariknya menjauh. Berbicara padanya agar pria itu pulang terlebih dahulu.


Steven duduk berdua di bangku yang berada disana. Jun memilih menunggu dimobil. Rumah ini banyak menglami perombakan, ibunya pembosan sejak dulu. Dia suka mengubah tatanan interior maupun isi rumah. Bahkan itu berlaku pada pasangannya. Sangat beruntung ia dikaruniai wajah cantik dan memiliki uang banyak.


"Kenapa, hmm? jarang kamu punya inisiatif mendatangi mom. Biasanya mommy harus menangis dulu baru kamu datang." tanya ibunya pura-pura kesal dan sedih.


"Bantu aku mengurus sesuatu, mom."


"Ini tentang seorang gadis," potong Steven datar.


"Gadis? yang fotonya tersebar saat ini sama kamu diinternet?" tanya ibunya lagi. Seringaian tersungging dibibir merah itu sesudahnya. "Hahahaha...anak ibu...oh maaf. Tapi hahahaha!" ibunya tertawa keras. Bahagia diatas rasa frustasi anaknya.


"Mom..." tegur Steven jengah.


Ibunya berhenti tertawa. Ia meminum jus jeruk dihadapannya sebelum kembali bicara.


"Apa masalahnya?" tanya ibunya, nadanya mulai serius.


"Dia...ini dimulai saat dia tahu identitas asliku."


Ibunya menatapnya sesaat, wajahnya sangat serius. "Identitasmu yang seorang pemilik GGF? yah...ibu juga awalnya terkejut. Bahkan ikut takut. Ibu seperti tidak mengenal anak ibu sendiri... tapi apa masaahnya? bukankah seharusnya dia senang kamu punya uang dan kekuasaan?"


"Dia berbeda mom...dia tidak suka itu. Dia ketakutan sekarang."


"Ini tidak ada hubungannya dengan identitasmu kan?" Steven mengalihkan pandangannya sesaat kearah lain sebelum mengangguk pasrah.


"Kami putus setelah kematian ayahnya. Dia menyalahkan keadaan saat itu dan diri sendiri. Terutama menyesal tentang hubungan kami. Lalu...saat ini dia takut karena sadar bahaya mengelilinginya saat bersamaku."


"Kamu memaksanya, ya?" tebak ibunya.


"Terpaksa, untuk keamanannya."


Ibunya menghela nafas. "Dimana dia? bawa ibu padanya."


.


Sam tidak bisa membantu apapun. Itu jelas terlihat saat ia turun dari tangga dengan wajah frustasi. Berpapasan dengan Steven, ibunya dan Jun. Sam memeluk ibu Steven sebagai sapaan.

__ADS_1


"Jangan menemuinya dulu Steve! Aku mau tanya tentang kejadian di pesta, apa kamu pernah meninggalkan dia tampa pengawal?" tanya Sam. Dia sedikit meninggikan nadanya.


"Ada apa?" tanya ibunya.


Steven tidak sempat menjawab ketika mendengar sesuatu yang pecah, dia segera berlari menuju kamar Clara. Penjaga membuka kunci pintunya dengan cepat dan membuka pintu.


Steven segera menarik pinggang Clara yang mencoba turun kebawah lewat jendela yang pecah. Dia bahkan terjatuh kebelakang karena Clara yang memberontak.


Clara berteriak dan memukul tubuh Steven yang terjangkau olehnya. Mengulang kata ingin pulang berulang kali. Steven memeluknya erat. Menahannya ditengah kaca yang berserakan di lantai. Perlahan saat Clara mulai tenang, ia melonggarkan pelukannya dan mengangkat tubuh lemah itu keluar.


Ibunya mengikutinya, begitu pula Sam. Sementara Jun mengurus kekacauan yang terjadi. Sam membawanya berbelok ke kanan dari lorong lantai itu. Dimana kamarnya berada. Menempatkan Clara di atas kasur dengan lembut.


"Steve... biar mommy yang jaga." kata ibunya pelan.


Mengerti maksud ibunya, Steven berbalik dan keluar. Sam mengejarnya cepat. Ketika pintu tertutup, ia menarik Steven menuju area yang lebih jauh dari kamar.


"Steve...apa yang terjadi di pesta tadi malam?"


Steven menatapnya, "Apa yang dia katakan?" tanyanya.


"Clara tidak banyak bicara. Aku susah payah mancing dia untuk itu. Tapi dia malah menuduhku ingin membunuh dia juga." jawab Sam. "Ini aneh kan? dia berkata seolah sebelumnya ada temanmu yang mau membunuh dia." lanjut Sam lagi.


Steven diam sesaat ,dia masih mencerna keadaan. Setelah memahami apa yang mungkin terjadi, kedua tangannya mengepal erat. Wajahnya mengeras.


"Steve?" panggil Sam dengan wajah kawatir.


Steven pergi begitu saja meninggalkannya. Sam mengejarnya namun seorang pengawal suruhan Steven menahannya. Itu artinya Steven tidak ingin siapapun mengikutinya.


Steven masuk kedalam mobil sebelum Jun berhasil mengejarnya. Jun menuju motor Arnold dan mengambil kuncinya dari lemari kecil di sana. Dengan cepat menyusul tuannya. Beberapa orang tentu saja mengikutinya, ikut menyusul Steven yang mengemudikan mobilnya seperti orang gila.


Sementara itu, ibu Steven duduk di sisi kasur. Memperhatikan Clara yang menangis. Ini cukup canggung karena mereka bahkan belum berkenalan.


"Clara, benar?"


Clara meliriknya namun tak menjawab. Ibu Steven tersenyum saat melihat bahwa gadis itu tak mengabaikannya.


"Aku ibu Steven." lanjutnya.


Ada keterkejutan diwajah itu, ibu Steven dapat melihatnya. "Aku juga sama denganmu saat tahu dunia anakku seperti apa. Bahkan aku marah besar karena dia berbohong nyaris sepanjang umurnya. Tapi...dia tetap Steven yang aku kenal. Dia masih sama." Clara masih diam. "Aku juga tahu bagaimana anakku marah. Pada awalnya aku juga takut waktu itu. Tapi aku sadar, anakku menyayangiku Clara. Dia mencintai ibunya. Begitu juga denganmu. Karena itu dia tak akan menyakitimu. Anakku__dia mencintaimu." lanjut ibu Steven. Sayangnya Clara tetap diam. Setelah hening beberapa detik, Clara malah membalikkan badannya dan bergumam ingin pulang. Dia jelas tak mempercayai siapapun lagi. Apalagi orang-orang disekeliling Steven.


"Aku mau pulang...aku mau pulang," lirihnya, suaranya nyaris seperti bisikan.


.


Steven memasuki kawasan restoran mewah. Naik ke lift kelantai 3 dan masuk dalam privat room. Disana, Aston sudah menunggunya. Dimana pria itu duduk dengan dikelilingi beberapa orangnya dalam jarak beberapa meter. Mejanya penuh makanan dan minuman.


Steven membalikkan meja begitu saja. Lalu menarik kerah jas Aston dengan pancaran amarah. Sementara Aston sendiri hanya tersenyum dan memgangkat tangannya, memberikan kode pada pengwalnya untuk diam ditempat.


"Beraninya kamu mau membunuh wanitaku!" desis Steven.


"Tenanglah, Steve...wanitamu yang mana? aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan."


"Kamu tahu apa yang aku katakan, bajingan!"


Steven lebih tinggi beberapa senti darinya dan tubuhnya juga lebih besar. Sehingga dengan mudah ia melempar Aston ke lantai dengan keras.


"Aku tak akan segan padamu kalau kamu melewati batas sekali lagi!" kata Steven dingin. Lalu dengan langkah lebar, meninggalkan tempat itu.


Jun sungguh kawatir sekarang, Aston terlihat marah juga. Ia sampai disana tepat beberapa detik setelah Steven membanting pintu terbuka. Aston bukan hal sepele bagi mereka. Tuannya bisa mati jika bertindak gegabah. Karena itu Jun lebih kawatir jika Clara terluka. Karena tuannya yang bersumbu pendek ini sangat mencintainya.


"Tuan..."


"Kembali ke mension!" katanya tegas.


Maka Jun tak mengatakan apapun lagi. Mereka dengan cepat melaju untuk kembali. Steven jelas frustasi dan marah. Disatu sisi ia ingin membunuh Aston namun disisi lain ia tahu bahwa kekuatan mereka masih satu level dibawahnya. Steven mungkin punya penyesalan sekarang setelah ia membawa Clara padanya lebih cepat. Sekarang, ia harus menghadapi dua masalah yang keduanya tidak menguntungkan. Dibenci orang yang dicintainya, lalu harus menjaganya dengan seluruh kekuasaan yang ada dari tangan Aston, rekannya sendiri. Orang yang memiliki otak jenius yang sama dan lebih berpengalaman berpuluh-puluh tahun darinya.

__ADS_1


Ditempat lain, Aston berdiri dengan wajah tampa ekspresi. Menatap meja makan yang tumbang dan makanan yang berserakan. Tadinya, ia akan menjamu Steven sebagai bentuk perayaan keberhasilan rencannya. Sayangnya Steven sadar lebih cepat atas tindakannya di atas kapal.


Aston terkekeh pelan. Semakin lama semakin kuat lalu terbahak-bahak seperti orang gila. Seluruh anak buahnya seperti sudah hapal tabiat tuan mereka itu. Mereka berdiri dengan was was agar tak melakukan kesalahan.


__ADS_2