
Steven memiliki kebiasaan baru. Pergi keruang CCTV rahasianya. Lalu menonton cctv area dimana Clara terlihat beraktifitas disana. Seluruh penghuni rumah yang tidak tahu ruang rahasia itu, akan mengira dia hanya ada di kamarnya.
Arnold mendatanginya setelah selesai bekerja. Menatap prihatin Steven yang terdiam duduk di dalam sofa kamarnya. Ada banyak kaset rekaman cctv dikamarnya. Itulah yang Steven tonton saat ini sambil memakan makan malamnya tampa minat. Dia makan hanya untuk mengisi perutnya agar tidak sakit.
"Sampai kapan kamu akan begini?"
Steven tidak menkawab, Arnold menghela napas. Dia yang tadi berdiri di ambang pintu kini duduk disamping Steven, ikut menonton rekaman tampa suara itu.
"Kenapa kamu tidak mencarinya? Mudah bagimu untuk menemukannya dengan seluruh media yang kamu kendalikan di Indonesia."
"Lalu membuatnya membenciku?"
"Bukankah kamu tidak masalah dengan itu? Separuh waktu hubunganmu dengannya bukankah hanya ada kebencian darinya?"
"Benar, tapi aku tahu dia tidak membenciku secara pribadi. Clara membenci apa yang aku lakukan dan dunia yang mengelilingiku. Dia tidak menyukai yang kotor-kotor." bela Steven.
"Yah, kalau dipikir-pikir dia memang langka. Dimana setiap wanita akan dengan senang hati berada dalam genggamanmu, tapi dia memilih pergi."
"Tentu saja, Claraku memang berbeda. Karena itu dia sangat berharga." sahut Steven dengan bangga.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Sampai kapan kamu akan menunggu begini? Clara bisa saja mengubah perasaannya padamu seiring berjalannya waktu. Apalagi Jun bersamanya."
Steven menoleh, lalu terkekeh dengan cara yang aneh. Sorot matanya terlihat seperti dia memiliki rencana dikepalanya.
"Apa kamu sudah mengetahui keberadaan mereka?" tanya Arnold.
"Tentu saja belum." jawabnya enteng, "Aku yakin sebentar lagi. Aston akan menemukannya untukku." lanjutnya.
"Bukankah dia yang membantu Jun?"
"Ya, tapi dia akan membantuku. Dia sudah tahu bahwa keputusannya salah. Dia telah salah dengan menyamakanku dengannya."
Arnold menoleh, melihat senyum sinis dari Steven. Arnold menghela napas karena tidak mengerti apa yang Steven maksud. Dia bangkit berdiri dan meninggalkan Steven sendirian.
Ketika turun, dia bertemu dengan Billi. "Ada perkembangan?" tanyanya.
"Tuan Jun sangat pintar bersembunyi dan menyembunyikan Nona. Kami sudah menyusuri berbagai kota besar. Indonesia begitu luas, kami sudah membayar ratusan orang dan tersebar keseluruh kota."
"Tambah orang untuk menyusuri kota kecil atau desa. Jun pada dasarnya suka ketenangan."
.
Memasuki hari terakhir pada minggu yang ditetapkan oleh Jun. Clara mau tidak mau harus menjawabnya. Jun menjemputnya seperti biasa dan mereka akan mampir untuk makan atau minum sesuatu sebelum pulang.
"Untuk apa kita ke hotel?" tanya Clara.
"Restoran disini cukup terkenal, aku ingin mencobanya." jawab Jun.
Sesampainya di lantai dua dimana restoran berada. Clara dikejutkan dengan apa yang ada disana. Restoran itu telah disewa, ditata sedemikian rupa. Banyak bunga mawar putih dan merah yang ditata sangat indah.
Clara menoleh pada Jun yang sedari tadi menatapnya. "Apa ini?"
"Kejutan," jawab Jun dengan senyum cerah.
Clara dibawah ke tengah dimana dua bangku sudah di tata disana. Di meja sudah ada hidangan berupa cemilan ringan. Clara mulai ragu dan takut. Sampai saat ini, dia belum yakin apa yang harus ia lakukan.
"Kamu tahu kan ini waktunya? Jujur saja, aku tidak pernah mengatakan ini pada wanita manapun. Kamu adalah orang yang pertama kali membuatku jatuh cinta sedalam ini." Jun menjeda sesaat, sedikit ragu melanjutkan ketika melihat respon Clara. "Aku tahu kamu masih belum bisa memutuskan, tapi aku ingin kepastian. Clara, aku akan menjauh dan meninggalkanmu jika kamu ingin kembali. Tapu jika tidak, maka ayo hidup disini dan menikah denganku."
"Me ... menikah?" Tentu saja Clara terkejut. Apa maksud Jun dengan menikah. Clara tidak yakin tapi dia menduga bahwa keinginan menikah muncul karena Jun ingin mengikatnya. Entah mengapa Clara jadi merasa takut.
"Jun ... menikah terlalu_"
__ADS_1
"Ini untuk melindungimu juga, kita tidak tahu kapan mereka akan menemukan kita. Kecuali kamu ingin kembali. Kamu bisa menolakku."
Clara tertunduk, menatap tangannya yang bertaut diatas meja. Memikirkan pernikahan, dia teringat akan Steven yang selalu mengatakan ingin menikahinya. Namun dia sama sekaki tidak pernah menjawabnya. Pikirannya campur aduk. Dia hanya ingin menikahi orang yang ia cintai. Bagaimana mungkin dia menikah dengan Jun?
"Aku ... aku perlu waktu_"
"Tidak ada waktu, anak buah Aston mulai bergerak. Aston memiliki jaringan lebih luas. Dia akan segera menemukan kita. Aston ... akan menyeretmu kembali pada dunia mereka." potong Jun.
"As ... Aston? Tapi bagaimana? Maksudku dia membenciku sejak awal."
"Ya, aku pikir dia berubah pikiran karena sesuatu. Siapa yang tahu maksud lain dari tindakannya."
Clara mulai bimbang. Dia sungguh ingin bertemu Steven, memastikan dia baik-baik saja. Namun jika harus kembali dia tidak menginginkan hal itu. Dia benci menyadari apa yang dilakukan Aston dan Steven yang membantunya. Dia merasa bersalah pada semua orang walaupun dia tidak melakukan apapun. Menyimpan rahasia kejahatan seseorang membuat Clara tertekan.
"Aku ... aku akan mengikuti caramu. Jika dengan menikah mereka tidak akan bisa membawaku. Aku akan lakukan."
Jun tersenyum lebar, dia bangkit dan memeluk Clara dengan erat. Berbeda dengan Jun yang bahagia, Clara malah meneteskan air mata. Dia memikirkan bagaimana perasaan Steven jika mengetahui dirinya akan menikah dengan orang lain. Clara sangat sadar bagaimana Steven sangat terobsesi dan mencintainya. Selalu melindunginya dan dengan tulus mengurusnya.
"Jangan menangis, kamu akan baik-baik saja. Aku janji tidak akan menyentuhmu tampa persetujuan. Aku akan menunggumu." bisik Jun.
Clara sedih sekaligus terharu, dia juga merasa bersalah pada Jun karena terus membebaninya. Dia merasa Jun sangat tulus namun dia tidak bisa membalas perasaanya.
.
Aston sedang memperhatikan bagaimana telatennya Sindy mengurus anak mereka. Sejak kehadiran bayi mereka, Aston jadi sering tersenyum. Bersikap lembut pada Sindy dan memperlakukannya seperti seorang istri.
"Tuan, orang kita sudah menemukan lokasi mereka."
Bukan hanya Aston, Sindy juga ikut menoleh. "Apa itu tentang Clara?" tanyanya dengan antusias.
"Dimana mereka?" tanya Aston.
"Kota B di provinsi S. Menurut informasi yang di dapat dari teman kerjanya, dia sedang mempersiapkan pernikahan."
"Ini tidak boleh, Clara tidak akan bahagia. Kenpa dia melakukan itu? Menikah dengan Jun?"
"Aku pikir ini langkah Jun untuk mempertahankan gadis itu. Entah apa triknya sehingga gadis itu setuju."
"Kapan?" tanya Sindy lagi.
"Itu ... kami belum tahu. Mereka berdua merahasiakan tanggal. Mereka hanya melakukan pemberkatan, tidak resepsi. Itulah informasinya sampai saat ini." sahut asisten Aston ketika Sindy meminta jawaban darinya.
Aston menyuruh asistennya pergi. Sindy terlihat kawatir, membuat Aston meraih wajahnya dan menciumnya. Sindy hanya pasrah dan sebisa mungkin membalas. Dia tidak ingin memancing kemarahan meskipun Aston sudah banyak berubah.
"Bagaimana jika kita juga menikah? Apa kamu akan senang?" Sindy terpaku, jarak mereka masih sangat dekat dan kini dia berada diatas pangkuan Aston.
"Me ... menikah?" ulang Sindy.
"Menikah, aku akan membuat resepsi besar-besaran. Orang tuamu bisa datang."
"Orang tuaku?" Sindy terpaku lagi. Mengingat perlakuan ayahnya, juga sikap acuh ibunya sejak mengambil keputusan sendiri. Sindy sedikit ragu, apakah keluarganya akan melihatnya dengan cara yang hormat atau menghinanya. Bagaimanapun juga, orang tuanya masih memegang erat adat ketimuran. Meskipun dia melakukan semuanya agar Aston menyelamatkan perusahaan, Sindy masih ragu bertemu dengan mereka.
"Tidak mau?"
Sindy tersentak, dari ekspresi dan nada bicaranya, Sindy tahu Aston menyimpulkan dia menolak. Sindy sangat tahu Aston paling murka dengan penolakannya. Sehingga dia buru-buru menggeleng.
"Aku ... aku hanya kawatir orang tuaku kini membenciku. Aku ... tidak berani bertemu mereka."
Aston kembali melunak, terkekeh pelan lalu memberikan ciuman kupu-kupu. Dia meraih tengkuk Sindy dan menariknya masuk kedalam pelukannya.
"Bagaimana mungkin mereka membenci anak yang menyelamatkan seluruh hidup mereka? Apakah kamu tahu betapa takutnya keuargamu pada kemiskinan?" kata Aston dengan nada menghina dan terdengar mengancam.
__ADS_1
Aston mengelus kepala Sindy dengan lembut, namun bukannya tenang, Sindy malah merasa takut. Sampai anak mereka menangis, barulah dia punya alasan melepaskan diri.
.
Steven mendapatkan sebuah alamat dari Aston melalui pesan. Dia tersenyum dan segera bergegas menyuruh Billi menyiapkan pesawat. Dia ingin terbang langsung ke kota kecil itu.
"Kenapa kamu menyiapkan banyak senjata?" tanya Arnold saat melihat Carlos menyiapkan satu koper senjata dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Ini perintah Tuan besar." jawabnya.
"Aku yakin Pixu akan melindungi anaknya, jadi aku juga perlu besiap." Steven muncul dari arah belakngnya.
"Atasi masalah disini, Billi dan Carlos akan ikut denganku," seru Steven sebelum meninggalkan Arnold masuk ke dalam mobil.
Ketika masuk ke dalam pesawat, Steven dikejutkan dengan kehadiran Aston dan Sindy. Steven menatap Aston dengan tatapan penuh ejekan sebelum duduk dikursi sebelah.
"Jangan salah paham nak, Sindy bisa berguna untuk membujuk gadismu itu."
"Cih! Alasan apa itu? Kamu semakin jatuh heh?" ejek Steven. "Tampa kalian aku akan bisa membawanya kembali, jadi jangan kawatir." lanjut Steven.
"Oh, katakan itu pada pria yang menangis seperti anak kecil padaku, yang sepanjang waktu menatap layar untuk melihat wanita yang mencampakkannya."
"Dia tidak mencampakkanku sialan! Tutup mulutmu kalau tidak ingin kulempar keluar!" geram Steven mulai tersulut.
Aston tertawa keras. Sindy menoleh padanya, menatapnya dalam diam untuk mengamati ekspresi pria disisinya. Karena untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa hubungan Aston dan Steven tampaknya telah berubah. Bukan hanya sekedar rekan kerja yang saling memanfaatkan satu sama lain.
"Kenapa, hmm?" bisik Aston.
"Tidak, aku pikir rumor tentangnya benar."
"Rumor?" ulang Aston, mengulurkan tangannya dan bermain di rambut Sindy.
"Hmm, rumor bahwa Steven bisa membuat orang lain yang diinginkannya menjadi loyal dan setia padanya. Aku pertama kali melihat itu pada 3 sahabatnya. Lalu Jun dan seluruh bawahan yang dekat padanya. Sekarang aku melihat anda juga," kata Sindy.
Steven terkekeh pelan. "Aku tidak seperti itu, aku hanya memiliki kemampuan menilai orang dengan baik. Siapa kawan dan siapa lawan. Jika kamu benar, Clara tidak akan pergi dariku."
Keheningan mendadak tercipta antara mereka ketika Steven mengatakannya dengan nada sedih yang kentara. Bahkan Aston menatapnya prihatin.
"Dia tidak meninggalkanmu. Percayalah, dia hanya gadis labil yang belum dewasa. Kehadiran Jun menjadi batu loncatan baginya untuk mengambil kesempatan lari tampa menyadari akibat dari tindakannya. Pikirannya terlalu sederhana. Sejak pertama aku mengenalnya, aku bisa melihat bahwa Clara hanyalah gadis penurut yang baik hati. Dia membenci ketidak adilan, membenci pelaku kriminal. Jika bukan karena ayahnya, aku yakin dia memilih untuk menjadi pengacara. Dulu, saat aku masih satu sekolah dengannya, dia selalu mengatakan akan menjadi pengacara dan membela orang yang haknya dirampas dengan tidak adil dan menghukum para kriminal. Sayangnya, dia jatuh cinta padamu. Orang yang perlahan meruntuhkan dan menginjak-injak keyakinan dan prinsipnya."
"Menginjak-injak katamu!" Steven sedikit emosi, dia melemparkan tatapan tajamnya.
"Tapi karena semua telah berubah, juga semua hal yang telah Clara alami." Sindy balik menatapnya, "Aku pikir Clara sedikit lebih bisa menerima duniamu. Hanya saja, dalam keadaan masih labil seperti itu, Jun datang diwaktu yang tepat." lanjutnya.
"Jadi ini salah Jun?" celetuk Aston.
Mereka kembali menarap lurus kedepan. "Tidak juga, aku minta maaf tapi ... ini salah kita semua, termasuk aku yang pernah mengganggu hubungan kalian berdua." sahut Sindy dengan nada menyesal.
"Sayangnya aku tidak peduli, dia yang lemah. Dunia ini keras, tidak seindah yang ia bayangkan." kata Aston.
"Tutup mulutmu pak tua. Gadisku tidaklah lemah." bela Steven.
Adu argumen berlanjut antara dua pria itu. Saling sindir dan mengejek. Alih-alih marah, tampaknya Aston menikmati bagaimana Steven akan mengutuk dan mengumpat padanya. Dia merasakan rasa hangat yang selama ini hilang dari hatinya. Sindy yang memperhatikannya sejak tadi tertegun dengan sangat lama. Entah bagaimana, ada rasa lega dan senang saat melihat Aston yang seperti ini. Membuat ia tersenyum tampa sadar.
........................................................................
Oke gays... ini sudah hampir ending ya. Mungkin hanya akan ada satu atau dua chapter lagi.
Aku harap semua pembaca suka novel ini. Ini karya kedua aku dan aku memang masih terus belajar.
Tidak bisa up setiap hari karena real life ya, aku juga kerja. So, terima kasih untuk yang mu membaca dan mendukung karya ini.
__ADS_1
Aku harap kalian selalu bahagia.
Aamiin....