SENSITIF LOVE

SENSITIF LOVE
68


__ADS_3

Violet keluar dari penjara dengan mudah karena pengaruh ayahnya. Sementara Raka dijadikan kambing hitam. Sang ayah sebagai menteri tidak bisa berbuat banyak. Apalagi dia adalah anak dari simpanannya. Anak yang disembunyikan selama ini.


"Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi, bagaimana bisa dia keluar!"


Steven memijit kepalanya, dia benar-benar marah mengetahui Violet bisa bebas dengan mudah bahkan setelah tuntutan dilayangkan.


"Saya akan membalaskannya, tidak peduli dia siapa, dia harus mati." Semua mata menatap kearah Jun.


"Jangan gegabah Jun," sahut Steven. "Ren, minta Aston meluangkan waktu untukku." tambah Steven.


"Anda hanya akan memasukkan dia kepenjara? itu akan sia-sia saja. Polisi sudah dibayar oleh mereka." kata Jun dengan suara yang menahan amarah.


"Aku tahu, karena itu kita butuh Aston."


"Apa rencana anda? dia tidak ada hubungannya, dia hanya..."


"Ada Jun! dia ada!" jawab Steven, dia mendongak untuk menatap Jun yang berdiri di depan mejanya. "Dia ... akan bisa membalaskan dendamku." lanjut Steven dengan sorot mata menyala-nyala.


"Carlos, periksa apakah Clara sudah bangun." suruh Steven.


Setelah Carlos keluar, Steven menatap Jun dan Billi bergantian. "Awasi apa yang dimakan dan diminum oleh Clara. Hindari produk baru yang diluncurkan perusahaan Aston. Aku juga ingin kalian memberi peringatan pada ketiga sahabatku dan Arnold dengan diam-diam. Hanya mereka, jangan sampai mereka memberitahu siapapun. Juga, seluruh pasukan dibawahmu Billi, awasi mereka. Aku ingin Aston tidak memiliki kelemahanku."


"Apa yang ada di dalam produk itu Tuan? racun?" tanya Jun.


"Hanya lakukan perintahku Jun," sahut Steven dengan nada yang tak ingin dibantah.


.


Clara memang sudah bangun saat Carlos menghampirinya di kamar. Selain Jun, saat ini Carlos dan Billi juga diberi wewenang untuk bisa kesana.


"Nona, apa yang anda lakukan? diluar sangat dingin."


Carlos memberikan mantel bulu dan memakaikan sendal bulu pada kaki Clara. Dia hendak memutar kursi roda Clara namun gadis itu menahannya. Menatap Carlos dengan wajah memohon.


"Anda ingin disini?" tanya Carlos.


Clara mengangguk, lalu dia menunjuk keluar balkon. Carlos memutar tubuhnya, melihat apa yang ingin dilihat oleh Clara. Carlos tersenyum lembut dan mendorong kursi roda Clara lebih dekat ke pagar balkon.


"Ini... salju pertama dimusim dingin tahun ini. Ini pertama kalinya anda melihatnya di sini bukan?" tanya Carlos.


Clara yang tidak bisa bicara hanya mengangguk singkat. Dia merapatkan mantelnya. Di dalam benaknya, ada banyak pikiran-pikiran yang ingin ia buang. Clara sungguh lelah dengan hidupnya. Terlihat air mata turun perlahan pada pipinya.


Carlos segera mengirim pesan pada Steven. Saat ini Steven adalah orang yang tepat menemaninya.


Mendapatkan pesan dari Carlos, Steven menyibak tirai jendela di ruang kerjanya itu. Melihat salju yang sudah turun.


"Jun... aku pikir... kita perlu mengundang Aston makan malam." katanya, matanya masih menatap kearah luar.


"Aku ingin menyaksikannya sendiri." lanjutnya, Jun dan Billi yang tidak mengerti hanya mengeritkan kening mereka. Steven akhirnya menoleh, menatap keduanya dengan raut aneh yang mengerikan.


"Proyek besar kami... aku ingin dia mati dengan itu." bisik Steven. Steven dibutakan oleh kemarahan dan dendam. Mengabaikan hati nurani yang selama ini jaga. Sejak awal dialah yang sangat keberatan akan senjata buatan mereka. Namun kini, dia akan menggunakannya demi membalaskan apa yang dilakukan Violet pada Clara.


.


Jun berhenti mengikutinya tepat ketika Steven masuk kedalam lift. Dia menatap lift itu dengan bimbang. Steven sudah naik ke atas, maka tidak ada ruang baginya untuk sekedar melihat keadaan Clara.


Sejak Clara sadar, Jun memang belum berani menghadapinya secara langsung. Setelah dibawa kerumah tadi pagi, Jun tidak ikut sama sekali menjemputnya. Dia memilih melakukan hal lain.


Clara melirik tangan yang sedang melilitkan syal lembut di lehernya. Membuat ia merasa lebih hangat. Lalu Steven memasangkan sarung tangan dengan hati-hati karena luka ditangan Clara belum sembuh. Tangannya masih penuh dengan perban.


"Kamu suka melihat salju?" tanya Steven, menatap kedalam bola mata hitam Clara.


Clara yang masih terus meneteskan air mata mengangguk pelan. Steven tersenyum, dia memeluk Clara dengan erat dan mengelus kepalanya dengan sayang.


"Maafkan aku, maafkan aku Clara." Hal yang selalu Steven ulang sejak Clara sadar, yaitu meminta maaf kepada Clara.


Steven menghapus air mata itu, ia yang sejak tadi berlutut kini duduk dilantai dan meletakkan kepalanya diatas pangkuan Clara. Ikut meneteskan air mata. Tidak sanggup melihat Clara yang terus menangis. Entah kenapa hatinya terasa amat sakit. Sisi kejamnya bahkan tidak terlihat sama sekali. Steven seperti anak kecil yang kehilangan arah.


Clara yang sejak sadar terus bersikap dingin padanya, perlahan mengangkat tangannya dan meletakannya di atas kepala itu. Steven mendongak, mempertemukan pandangan mereka. Bahkan saat melihat mata dan wajah penuh luka itu, Steven tidak tahan untuk menahan kebenciannya pada dirinya sendiri.


Clara membuang pandangannya kearah lain. Dia menghapus air matanya sendiri lalu menoleh kiri dan kanan. Mencari sosok Carlos yang sudah tidak ada. Ia ingin kembali ke kamarnya.


Karena tidak ada siapa-siapa selain Steven, maka Clara berusaha memundurkan kursi rodanya. Dia meringis tampa suara menahan sakit di buku-buku jarinya yang terluka. Diamana luka akibat pisau Raka yang mengirisnya dengan dalam masih belum kering.


"Aku akan membawamu," kata Steven sembari bangkit berdiri.


Clara tidak menampilkan ekspresi apapun kecuali wajah dingin yang sudah memerah karena menangis. Steven ingin mengangkat Clara kembali ke kasur namun gadis itu menepis tangannya. Dengan tenaganya yang masih lemah dia berusaha berdiri sendiri. Seperti saat bangun tidur tadi, dia juga kembali ke kasur dengan kakinya sendiri.


Clara menyalakan televisi dimana remotnya sengaja di letakkan di samping bantalnya. Dia mencari berita terkini. Karena tidak bisa menekan tombol dengan benar karena perban diseluruh jarinya, Steven mengambil alih dengan lembut. Menukar siaran sambil menatap wajah Clara, melihat siaran mana yang ingin di lihatnya.

__ADS_1


Clara mengangguk pada siaran yang menampilkan berita. Steven duduk di sisinya dan ikut menonton dalam diam. Clara belum bisa menggunakan ponsel karena jarinya luka- luka. Sehingga Steven menggunakan alat tulis elektronik yang memakai pena elektronik juga. Dia menulis sesuatu disana, lalu meletakkannya di atas pangkuan Clara.


Clara menunduk, membaca apa yang tertulis disana. Dia menghela nafas pelan. Lagi, satu kata yang belum bisa ia jawab.


'maafkan aku, kumohon.' itulah yang tertulis disana.


Clara mengabaikan tulisan itu. Dia kembali menatap layar TV. Steven tersenyum masam. Namun pria itu tidak menyerah. Dia kembali menulis sesuatu.


'Aku hanya mencintaimu'


Sayangnya respon Clara masih sama, Clara hanya membacanya tampa merespon.


'Tolong katakan sesuatu' tulis Steven lagi.


Clara menoleh, menatap Steven dengan sorot malas. Dia akhirnya mengambil pena dan menuliskan sesuatu.


'Wanita itu bebas, aku melihatnya di TV.'


Steven terpaku menatap tulisan itu. Dia menatap Clara, mencoba melihat keinginan gadis ini. Namun Clara malah menunduk, lalu mengalihkan lagi matanya pada layar kaca.


"Clara... kamu ingin balas dendam?" tanya Steven.


Clara menoleh, lalu dia menunduk. Menulis sesuatu di papan elektronik. Setelah membaca apa yang ia tulis, Steven tertegun.


'Aku tidak ingin bertemu dengannya, dia akan kesini. Dia tunanganmu, dia akan kembali.'


"Aku pastikan dia tidak akan menyentuhmu lagi. Selain itu... dia bukan tunanganku lagi." jawab Steven.


Clara terlihat tidak percaya. Karena itu, Steven mulai terus terang. Dia tidak ingin Clara marah dan salah paham lagi.


"Pertunangan itu aku lakukan karena sebuah ancaman Clar... mereka memiliki rahasia perusahaanku. Tapi kini... aku tidak peduli lagi. Kalaupun perusahaanku hancur, aku akan membangunnya dari awal."


Clara tertegun, lalu dia menghapus tulisan yang sudah memenuhi seluruh layar. Kemudian menuliskan sesuatu lagi.


'Rahasia apa?'


Steven mengelus kepalanya, mengecup keningnya dengan sangat hati-hati. "Rahasia gelap ketika aku mulai membangun perusahanku. Hanya cepat sembuh sayang. Setelah itu kita akan berjalan bersama kedepan."


Clara menatap Steven yang juga menatapnya. Steven bisa melihat ada banyak pertanyaan dari sorot mata itu. Tangannya yang tadi memegang pundak Clara, beralih menutup mata Clara. Menghalangi pandangan Clara dengan tangan besarnya. Lalu, tampa peringatan apapun, dia menempelkan bibirnya pada bibir Clara dengan lembut. Mencium gadis itu dengan seluruh perasaan cinta yang ia miliki.


Perlahan tangannya ia tarik saat ciumannya semakin dalam. Clara yang terkejut ingin mendorongnya, namun tubuhnya terasa kehilangan tenaga. Dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Aku ... aku ingin es krim." kata Clara tiba-tiba di dalam tulisannya.


Perlahan, Steven tersenyum. Semakin lama semakin lebar hingga menjadi tertawa. Clara menunduk dengan wajah memerah. Perutnya terasa geli seperti ada ribuan kupu-kupu terbang disana.


"Aku akan memesannya untukmu." kata Steven setelah menghentikan tawanya.


Clara mengangkat kepalanya, tidak berani menatap wajah Steven. Dia kembali menonton televisi yang masih menyala. Steven masih tersenyum, lalu memperbaiki posisinya. Duduk disamping Clara sambil mengeluarkan ponselnya. Mengetik pesan pada Carlos.


.


Violet benar-benar mengamuk dirumahnya. Segala ketenangannya selama ini sirna. Bahkan dia mendapatkan tamparan keras dari West sendiri. Ibu tirinya, yang berdiri takut di sudut ruang tamu, terkena lemparan vas bunga darinya. Hal itulah yang membuat ayahnya murka.


Lelah menangis, dia menatap ayahnya dari posisinya yang bersimpuh. "Dad aku ingin Steven menjadi milikku. Lakukan apapun! Tolong dad ... dia tidak boleh membatalkan pertunangan. Hanya aku! hanya aku yang boleh menjadi istrinya!" Violet meraung-raung.


West terlihat frustasi, satu-satunya anak yang dia miliki kini hancur di hadapannya. Sejak penangkapan Violet, seluruh media juga sudah tahu bahwa pertunangan di batalkan. Meskipun Violet bisa bebas dari tuntutan, sangsi sosial menimpanya. Seluruh lini pemberitaan membahas apa yang telah ia lakukan. Bahkan banyak yang menyuarakan rasisme karena polisi membebaskan dalang dari penculikan dan penyiksaan karena korban adalah orang asia.


West mengalami penurunan disemua bursa saham. Bahkan beberapa di antaranya benar-benar anjlok. West melakukan kesalahan dengan membebaskan anaknya. Rasa sayangnya pada anaknya membuat ia jatuh.


"Masukkan dia kedalam kamarnya." West memerintahkan pengawal pribdi anaknya.


"Hubungi CEO GGF!" perintah West lagi pada asistent pribadinya.


Sementara itu, di rumah Steven, Aston datang bersama Sindy. Steven menyambutnya dengan Clara yang masih berada di kursi roda. Sindy segera menghampirinya dan mendorong kursi rodanya menjauh dari dua orang yang kini menuju ruang tamu.


"Clara ... kamu baik-baik saja?" Sindy menatap Clara dengan iba. Meskipun Sindy pernah melakukan hal jahat karena dendam, jauh dalam lubuk hatinya dia masih menyayangi Clara sebagai seorang adik.


"Aku ... aku minta maaf, karena pada waktu lalu ... mencoba menghancurkan hubungan kalian. Aku ... "


Clara menyentuh tangan Sindy dengan tangan penuh perbannya. Sindy yang mengerti berjalan ke depan Clara, berdiri menghadapnya.


Bibirnya bergerak namun dia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Sontak hal itu membuat Sindy meneteskan air mata. Dia segera menopang tubuhnya dengan lutut dan memeluk Clara dengan erat.


"Apa yang kamu lakukan? itu berbahaya!"


Keduanya menoleh saat Sindy menarik dirinya. Aston melangkah lebar pada mereka dengan wajah mengeras. Segera menarik Sindy bangun. Steven yang menyusul mengeryit heran akan sikap Aston. Beberapa pikiran melintas di kepalanya melihat reaksi dan perlakuan Aston pada Sindy.


"A... aku hanya memeluknya. Perutku tidak apa-apa." kata Sindy.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang?" Aston berbicara pada Steven. Mengabaikan perkataan Sindy.


"Tentu," jawab Steven.


Semua orang tentu saja bingung, termasuk Jun yang tidak mengerti. Tadinya dia berpikir bahwa mereka akan melakukan sesuatu disini, namun nyatanya sekarang mereka pergi?


Jun membawa limosin yang mengangkut seluruh orang ke satu tujuan. Billi dan Carlos mengikuti mereka di belakang bersama pengawal Aston.


Setelah sampai ke tempat tujuan, barulah Jun mengutarakan pertanyaan sebelum membuka pintu mobil untuk mereka. Karena saat ini, pintu mobil terkunci otomatis.


"Untuk apa kita kesini tuan?" suara Jun terdengar tenang.


"Hanya buka pintunya, Jun!" sahut Steven.


"Ada apa dengan anak buahmu? apakah dia menjadi ayahmu sekarang?" sindir Aston. Nada suaranya menunjukkan ketidak sukaan.


"Kita tidak bisa membawa Nona kedalam." jawab Jun, tidak gentar sama sekali. Yang ia pikirkan adalah Clara.


"Kamu pikir aku akan menyakitinya?" desis Aston, tampaknya ia mulai murka.


"Siapa yang tahu, anda pernah ingin membunuhnya." sahut Jun tenang.


Aston terkekeh pelan, lalu dengan santai dia mengeluarkan pistol dari saku jasnya. Clara melebarkan matanya, lalu reflek ingin berdiri menghadang. Namun Steven menariknya kembali karena dia masih sangat lemah.


"Jun, ini tidak berbahaya! buka pintunya. Aston, jangan coba-coba melepaskan peluru pada orangku."


Jun yang sejak tadi mentap mereka dari spion, berbalik ke belakang. Dia menarik sudut bibirnya mendengar penuturan Steven. Maka, dia menekan tombol di dekat kemudi sehingga kunci terbuka. Entah apa yang ada dipikirannya sehingga dia berani melakukan hal itu. Apalagi Aston benar-benar tampak murka padanya.


Billi yang berada di luar pintu membukakannya untuk mereka. Steven turun duluan dengan Clara di dalam gendongnnya. Lalu meletakkan Clara pada kursi roda yang sudah di siapkan Carlos.


Baik Clara maupun Sindy, ini adalah pertama kalinya ia datang ke tempat penelitian Aston. Jun juga sudah lama sekali tidak ke sana. Dia juga tidak pernah masuk ke dalam seperti saat ini. Jun, adalah satu-satunya orang Steven yang diberi izin karena Steven yang menginginkannya.


"Itu adalah dia." kata anak laki-laki remaja yang memang bertugas sebagai pengendali.


"Bisakah kamu meretas cctv dirumah itu?" tanya Steven.


"Akan aku coba." Selagi mereka menunggu, Clara mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan penuh dengan layar monitor itu. Jun yang berdiri di sisi kirinya juga sejak tadi sedang bingung apa yang coba mereka lakukan di tempat ini.


"Dapat!" kata anak itu. Lalu dia mengklik gambar yang menampilkan Violet duduk di tepi kolam renang. Tampaknya ia sudah tenang dan ayahnya membiarkannya berenang.


"Momen yang bagus kan?" kata Aston


"Ya, momen yang sangat bagus." sahut Steven tampa ekspresi.


Clara meneguk ludahnya dengan kasar. Dia jelas merasa takut saat melihat Violet meskipun hanya dari layar.


"Clara ... kamu baik-baik saja?" taya Sindy yang terlihat kawatir.


Jun menunduk, memperhatikan raut wajah Clara. Steven memegang pundaknya, berusaha memberikan ketenangan.


"Tenanglah sayang, sebentar lagi kamu tidak akan pernah lagi melihatnya." bisik Steven.


Mendengar itu, semua orang menatapnya dengan kengerian yang sama, kecuali Aston yang menyeringai senang.


"Lalukan nak ... ambil dia." perintah Aston.


"Yes sir!" jawab si anak remaja.


Dia membuka suatu program di dalam komputer, lalu memasukkan kode pada judul target. Setelah kata enter di tekan. Dalam lima detik, sesuatu terjadi. Layar kembali menampilkan Violet yang sedang berenang. Lalu terlihat dia kehilangan kendali. Dalam beberapa detik, tubuhnya perlahan tenggelam sebelum seseorang terjun ke dalam air dan membawanya ke tepi kolam. Memberikan pertolongan pertama.


"Pertunjukan selesai, apakah kita harus merayakan ini?" tanya Aston.


"Tidak perlu, aku akan kembali bersama Clara. Dia tidak bisa merayakannya sekarang." jawab Steven datar.


Lalu, dengan wajah tampa ekspresi dia membawa Clara keluar dari sana. Aston terlihat sangat senang. Hal yang dia tunggu selama ini dari Steven akhirnya terjadi. Dia bahkan tersenyum dengan lebar.


Sementara itu, Jun menatap punggung Steven dengan perasaan campur aduk. Di dalam hatinya, dia menghawatirkan keadaan mental tuannya. Setelah melihat apa yang terjadi di depan matanya, Jun segera mengerti. Proyek rahasia yang dilakukan Steven bersama dengan Aston. Dimana hal itu juga menjawab pertanyaan mengapa Steven menyuruhnya menghindari produk dari kerja sama itu.


Clara terus menatap kosong kedepan. Tidak tahu memikirkan apa karena dia tidak bisa mengatakannya. Steven tahu Clara pasti terkejut, namun pria itu seperti tidak mengambil pusing. Dia hanya terus memeluknya dan mengelus lembut kepalanya.


..................


Pembaca budiman... aku lagi revisi novel ini. ada beberapa yang di tambah dan dikurangi. jadi aku mohon maaf pada pembaca yang masih setia. Maaf banget aku up nya lama. hehehe...


Aku juga lagi mikirin endingnya gimna, walaupun masalahnya gk berat-berat banget, aku tetap mau endingnya yang agak gimana gitu.


Tulisan aku banyak banget yg berantakan. itu yg sedang aku perbaiki. Maklum, waktu buatnya aku gk review lagi karena faktor real life.


Terakhir... please like komen. komen yg mengkritik juga boleh, untuk bahan pembelajaran buat aku.

__ADS_1


Terima kasih banyak untuk kalian semua. 😘


__ADS_2